RSS

PERUBAHAN PARADIGMA DALAM MENYUSUN / MEREKONSTRUKSI KURIKULUM TEKNIK MESIN BERDASARKAN KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI), SNPT (STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI), DAN LSP-LMI (LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI-LOGAM DAN MESIN INDONESIA), [Studi kasus D3 Teknik Mesin, Program Studi Teknik Pemeliharaan/Perawatan dan Perbaikan Mesin]

20 Feb
PERUBAHAN PARADIGMA DALAM MENYUSUN / MEREKONSTRUKSI KURIKULUM TEKNIK MESIN BERDASARKAN KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI), SNPT (STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI), DAN LSP-LMI (LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI-LOGAM DAN MESIN INDONESIA), [Studi kasus D3 Teknik Mesin, Program Studi Teknik Pemeliharaan/Perawatan dan Perbaikan Mesin]

 

I. PENDAHULUAN

Riwayat pengembangan kurikulum telah melalui tiga fase sejak tahun 1994 (Kurikulum Nasional), tahun 2000/2002 (Kurikulum Inti dan Institusional), kemudian yang terakhir pada tahun 2012 (Kurikulum Pendidikan Tinggi). Tentunya perubahan yang ada merupakan suatu dinamika untuk suatu tujuan mulia yaitu menyiapkan generasi yang professional di bidangnya dan memiliki daya saing global.

Bagi perguruan tinggi yang lahir sebelum tahun 1994 maka akan mengalami 3 fase perubahan tersebut. Suatu upaya yang tidak mudah untuk mentransformasikan kurikulum dari suatu ke bentuk ke bentuk lainnya (sebagian lainnya mengatakan bahwa transformasi kurikulum adalah sangat mudah karena hanya fokus pada format atau narasi dalam penyusunannya). Walaupun dalam penyusunannya telah melibatkan beberapa stakeholder / fihak-fihak yang berkepentingan. Toh, pada akhirnya mata kuliahnya tidak banyak berubah dan perlu penyesuaian sedikit saja (kata sebagian orang).

Namun, pernahkan terfikirkan oleh kita selaku pengajar, atau pengelola perguruan tinggi, atau pengambil keputusan bahwa kurikulum bukanlah hanya secarik kertas yang bisa dihapus atau disusun ulang mengikuti format baru yang ada, ia merupakan seperangkat alat pembelajaran yang mengintegerasikan berbagai sumberdaya untuk mengolah masukan menjadi luaran yang memiliki nilai tambah. Sehingga ada konsekwensi di dalam pemberlakuannya. Apakah kita semua bisa menjawab bahwa dengan pemberlakuan kurikulum baru maka akan meningkatkan daya serap lulusan oleh lapangan pekerjaan ? Ataukah, dapat menaikan Indeks Prestasi Kumulatif lulusan mahasiswanya ? Ataukah, dapat memetakan posisi perguruan tinggi kita dengan rumpun ilmu sejenis ? Tentu semua pertanyaan tersebut akan sulit kita jawab, karena tidak ada patokan resmi untuk mengukurnya secara numeris. Yang ada hanyalah patokan normatif yang tertera pada butir penilaian borang akreditasi perguruan tinggi. (mudah-mudahan pendapat saya tidak salah).

Dapat dikatakan juga bahwa acuan baku isi kompetensi pada kurikulum yang diterjemahkan ke dalam perangkat pembelajaran tidak sepenuhnya ada, sehingga apa yang terjadi adalah bahwa pengubahan kurikulum akan tergantung dari pengalaman dan pemahaman team penyusun kurikulum saja, atau akan tergantung juga dari para pemangku kepentingan yang ada, ataupun mencontek dari program studi yang telah lahir duluan (tanpa mempertimbangkan aspek-aspek yang mempengaruhinya). Tidak jarang pemunculan atau penghilangan suatu mata kuliah demi tujuan prestise saja (karena issue nasional ataupun melebarkan sayap kompetensi tanpa fokus pada program studi yang ada). Bahkan tidak jarang, muatan inti pembelajaran yang ada telah bergeser jauh dari program studi yang ada. Hal ini terjadi karena beberapa faktor eksternal dan faktor internal di institusi pendidikan yang ada, walaupun rambu-rambu normatif telah ada.

Konsorsium perguruan tinggi yang ada lahir karena kesamaan sifat rumpun ilmu. Karena sifatnya sama maka budaya tiru-meniru kurikulum pun terjadi (bukan merupakan kekeliruan), namun jika ditilik lebih detail lagi maka akan berbeda karakteristik program studinya karena fasilitasnya berbeda, dosennya berbeda, mahasiswanya berbeda, perbedaan budaya dan pendanaannya. Yang terjadi adalah bukannya saling mengisi kekosongan untuk membangun negara lewat pengayaan program studi, namun persaingan normatif, yang menurut hemat saya akan sulit untuk mengejar perbedaannya karena beberapa karakteristik dan parameter yang berbeda. Sehingga pola pendekatan yang saya usulkan adalah keanekaragaman program studi dalam satu rumpun ilmu melalui penguatan karakteristik kompetensi lokalnya. Pola pendekatan ini tidaklah baru karena jalur pendidikan SMK telah memulainya terlebih dahulu (padahal dari sejarah lahirnya yang seharusnya menerapkannya terlebih dahulu adalah jalur pendidikan diploma). Pola pendekatan ini tidak bersifat slogan atau normatif, karena bisa diukur melalui suatu nilai numeris untuk memetakannya. Alat ukurnya sudah ada di Indonesia melalui LSP-LMI, yang secara kebetulan sudah saya ikuti sejak tahun 2001 lewat proyek IAPSDP / Indonesia Australia Partership for Skill Development Program  (merupakan team kecil yang ada di Politeknik Manufaktur Bandung). [Dapat dibuka pada menu kompetensi blog ini] :

https://drive.google.com/drive/folders/0BxISOQA_AHSeNzI3YjBlZTktNDU4Ni00Y2EyLTgxODAtMTI2MzdjZWE1NDgz].

Gambar-00_Standar Kompetensi Bidang Keahlian Logam dan Mesin

Gambar-0 Standar Kompetensi Bidang Keahlian Logam dan Mesin

Pernah saya mendapat suatu pertanyaan dan sulit untuk menjawabnya. Apa perbedaan SMK dan Tingkat D3 untuk kualifikasi kompetensinya ? padahal mesin yang dimiliki sama canggihnya, beberapa pelajaran memiliki pola yang sama, jumlah praktikumnya pun hampir sama. Bahkan kondisi tragis yang terjadi adalah penghargaan yang sama bagi lulusan SMK dan lulusan D3 untuk rumpun sejenis pada beberapa perusahaan. Sekarang pertanyaan tersebut mudah-mudah-sulit dijawabnya, karena berdasarkan level KKNI sudah jelas posisinya berbeda, namun apakah sama halnya secara level kompetensi ? Tidak mudah untuk dijawab dan perlu pembuktian yang benar lewat suatu alat yang disebut dengan kurikulum.

Hal tersebutlah yang menyemangati saya untuk menulisnya, memberanikan diri walaupun dengan pengalaman dan pengetahuan seadanya yang jauh dari kemampuan para pakar-pakar di bidang kurikulum. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan tidak lupa saya haturkan terimakasih banyak kepada para pembaca yang telah memberikan masukan pada tulisan sebelumnya yang bertemakan “Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi”, demikian juga harapan yang sama agar pembaca dapat memberikan masukan yang membangun untuk tulisan ini.

 

II. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN PARADIGMA

II.1 KONDISI INDUSTRI DAN TEKNOLOGI YANG ADA DI INDONESIA

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia, dengan jumlah penduduk nomor 4 terbanyak di dunia. Disisi lainnya, negara ini merupakan negara ke-3 dalam urutan terbanyak pemakai sepeda motor. Namun sampai dengan saat ini, belum seluruh sektor transportasi darat, laut, dan udara yang menggunakan produk andalan bangsa ini. Akankah kita menjadi tuan rumah produk buatan Indonesia di negeri sendiri ? Sejauh manakah keterlibatan unsur-unsur terkait di negara ini yang serius untuk membicarakan dan merealisasikannya ? Kapankah program studi teknik mesin yang ada di Indonesia akan memberikan solusi dan bahkan dapat menempati peringkat terbaik di dunia di bidang teknik mesin ?

 Gambar-01_Kondisi industri alat transportasi di IndonesiaGambar-1 Kondisi industri alat transportasi di Indonesia

Penulis pernah membaca suatu buku yang berjudul “Makalah dari Bumi Cipulir” yang dibuat oleh Perwira-Perwira TNI-AL (disusun puluhan tahun ke belakang). Yang isinya lengkap menyangkut Ideologi, Politik, Sosial, Ekonomi, Pertahanan dan Keamanan Nasional. Melalui makalah tersebut dijelaskan potensi kekayaan alam yang dimiliki oleh bangsa ini, demikian juga ancaman-ancaman menyangkut integritas bangsa Indonesia dari dalam dan luar negeri. Sampai dengan saat ini penulis melihat bahwa beberapa ancaman tersebut memang benar adanya. Namun yang penulis sayangkan adalah langkah antisipasi apa yang dapat kita lakukan ? Kita bukanlah merebut kekayaan orang lain, namun kita menjaga apa yang menjadi hak milik kita. Karena menyangkut integritas bangsa dan negara, sudah selayaknya abdi bela negara dilakukan oleh seluruh elemen bangsa, yang notabene di dalamnya adalah perguruan tinggi yang dapat berkontribusi melalui pengembangan teknologi tepat guna. Gambar di bawah menunjukkan permasalahan yang ada di sektor industri ‘alutsista’ di Indonesia.

 Gambar-02_Kondisi industri militer-alutsista di IndonesiarGambar-2 Kondisi industri militer / alutsista di Indonesia berikut ancaman negeri

Indonesia memiliki keanekaragaman kekayaan hasil tambang. Namun jika dilihat sebagian besar perusahaan yang ada adalah milik asing. Untuk membangun pabrik, bahkan beberapa alat operasi yang digunakan masih berasal dari luar. Kontrak karya pertambangan umumnya memakan waktu puluhan tahun, dan selama masa itu pula teknologi yang digunakan untuk berproduksi berikut pemeliharannya diserahkan kepada penyelia produk-produk asing. Karena yang umum berlaku adalah bendera siapa yang masuk, maka ia akan membawa perusahaan-perusahaan sekutunya untuk mendukung kegiatannya (termasuk di dalamnya produk dan teknologi). Tentunya kita menginginkan bahwa pasokan sukucadang yang berasal dari luar dapat diputus mata rantainya, dan menggantinya dengan menggunakan produk-produk lokal yang notabene bisa dibuat di dalam negeri. Alih teknologi dapat diadaptasi dengan suatu kecepatan melalui sentuhan-sentuhan teknologi yang lahir dari perguruan tinggi.

 Gambar-03_Kondisi industri pertambangan di IndonesiaGambar-3 Kondisi industri pertambangan di Indonesia

Dewasa ini issue yang sedang hangat adalah mengenai energy terbarukan dan ramah lingkungan. Beberapa pembangkit listrik dimiliki oleh bangsa ini dan memerlukan mesin-mesin pendukung untuk menjalankan operasinya. Umumnya, mesin-mesin penunjang yang ada masih menggunakan produk buatan luar negeri. Salah satu contoh kasus adalah penggunaan turbin. Banyak sekali perguruan tinggi di Indonesia melakukan rekayasa peniruan atau merancang untuk merealisasikannya, bahkan beberapa diantaranya rela menelitinya di luar koridor kompetensi program studi yang ada. Namun dapat kita lihat sendiri sampai dengan saat ini, adakah produk turbin karya anak bangsa yang menjadi kebangkaan dan digunakan secara menyeluruh, minimal untuk lingkungan PLN (Perusahaan Listrik Negara) ? Para investor lebih suka menggunakan produk buatan luar negeri dengan alasan, lebih simpel, dapat dihandalkan, layanan purna jualnya, dan mungkin ‘management vee-nya’. Merupakan suatu tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi, bahwa apa-apa yang diteliti melalui TA, Thesis, Disertasi ternyata belum banyak yang memiliki nilai layak jual dan dapat digunakan secara ekonomis untuk kebutuhan masyarakat di dalam negeri.

Gambar-04_Kondisi industri energy di IndonesiaGambar-4 Kondisi industri energy di Indonesia

Sektor industri manufaktur merupakan sektor industri yang paling ramai di bangsa ini. Hasil kerjanya digunakan untuk melayani seluruh kebutuhan sukucadang ataupun jasa bagi industri-industri lainnya. Namun, sampai dengan saat ini, mulai dari kebutuhan pompa air yang ada di rumah tangga sampai dengan kelas industri manufaktur pembuat kapal terbang masih didominasi oleh merk-merk luar negeri. Pernah ada suatu mesin CNC-5axis yang dibuat oleh karya anak bangsa bernama Ahmadi (ITB) yang menurut saya adalah suatu mesin yang lahir dengan teknologi amat canggih, namun ujung-ujungnya belum bisa juga untuk menguasai pasar manufaktur yang ada di Indonesia. Berbeda kondisinya dengan di luar negeri, para raksasa-raksasa mesin bersatu untuk meraih pangsa pasar dunia dengan kombinasi teknologi canggihnya. Salah satu contohnya adalah dengan lahirnya perusahaan DMG-Mori seperti yang terlihat pada Gambar-5 di bawah.

 Gambar-05_Kondisi industri manufaktur di IndonesiaGambar-5 Kondisi industri manufaktur di Indonesia

Di jaman pemerintahan orde lama, pembangunan jangka panjang diterjemahkan menjadi Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Arah dan kebijakan pembangunan ini jelas sekali dan sangat terarah. Namun apa daya, untuk merealisasikannya ternyata tidak semudah apa yang dibayangkan. Keterlibatan pendidikan tinggi lewat tridharma perguruan tingginya sampai dengan saat ini masih belum bisa menunjang sektor pertanian dan industry yang ada. Masih sering kita lihat saudara-saudara kita yang ada di pedesaan, bekerja ala kadarnya menggunakan otot dan tidak tersentuh oleh teknologi yang ada di perguruan tinggi. Kenapa inseminasi teknologi yang lahir dari perguruan tinggi terasa amat berat untuk menyusup di kegiatan keseharian masyarakat kita ? Terlalu jauhkan gap yang terjadi antara perguruan tinggi dan masyarakat kita ?

 Gambar-06_Kondisi industri pertanian di IndonesiaGambar-6 Kondisi industri pertanian di Indonesia

 

II.2 PERLUNYA REGULATOR DI BIDANG PENDIDIKAN DAN TEKNOLOGI

Melihat kondisi sektor-sektor industri yang ada ada serta permasalahan umum yang terjadi di Indonesia, maka diperlukan suatu regulator yang akan membuat kluster-kluster di bidang teknologi sesuai dengan peta industri yang ada. Hal yang berat bagi suatu program studi baru untuk bersaing secara teknologi dengan program studi yang lebih dahulu berdiri. Berbagai penyebab yang secara umum terjadi adalah berkaitan dengan sumber dana bagi institusi pendidikan yang berasal dari pemerintah ataupun industri itu sendiri. Tidak dapat disalahkan bahwa penyerapan dana yang berasal dari pemerintah beberapa diantaranya diperoleh dengan sistem kompetisi (prasyarat jenjang pendidikan), dengan beberapa persyaratan yang belum tentu dimiliki oleh program studi yang berumur muda. Sehingga suatu hal yang arif bagi perguruan tinggi yang telah mapan dapat mengelompokkan diri dengan melibatkan perguruan tinggi lainnya, unsur pemerintah daerah, dan unsur industri. Untuk tertibnya regulator kluster yang ada, pertanyaan berat muncul, siapakah yang berkewajiban menjadi regulator ? apakah setiap perguruan tinggi yang ada dibiarkan secara sendiri-sendiri untuk melakukan pengembangannya ? Bagaimana jika pengembangan yang ada tidak terstruktur dan terjadi secara acak ? Akankah kondisi ini dapat menjawab permasalahan kondisi industri dan teknologi yang ada di Indonesia ?

 Gambar-07_Perlu regulator kluster-kluster pendidikan di bidang kompetensi dan teknologiGambar-7 Perlu regulator kluster-kluster pendidikan di bidang kompetensi dan teknologi

 II.3 SULITNYA MENDAPATKAN PETA KEBUTUHAN KARYAWAN DI INDUSTRI

Pengubahan besar terjadi di bidang pengolahan data yang ada di DIKTI, melalui Pusat Pangkalan Data Perguruan Tinggi, sesuatu hal yang terkait dengan kondisi tridarma perguruan tinggi telah tersedia termasuk di dalamnya data lulusan perguruan tinggi. Namun kondisi sebaliknya terjadi di dunia ketenagakerjaan. Demikian sulitnya untuk menemukan data kompetensi dan rencana kebutuhan sumberdaya manusianya. Kalaupun ada, data tersedia secara parsial dan tidak terintegrasi secara nasional. Padahal data tersebut kita perlukan untuk melakukan penyelarasan dengan piranti pendidikan yang ada di perguruan tinggi.

 Gambar-08_Timpangnya data jumlah lulusan dan kebutuhan lulusanGambar-8 Timpangnya data jumlah lulusan dan kebutuhan lulusan

 

II.4 MASTER PLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI) WILAYAH SULAWESI

Tertulis bahwa kooridor pengembangan di Sulawesi adalah terkait dengan Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan, serta Pertambangan Nikel nasional. Dengan adanya koridor ini maka memberikan peluang kepada program studi untuk melakukan pengembangan yang disesuaikan juga dengan kooridor kompetensi program studi yang ada. Tidaklah mudah melakukan pengembangan terhadap kurikulum untuk mengantisipasi tuntutan yang ada, namun hal tersebut tetap harus dilakukan, karena sudah tergambar secara umum mengenai deskripsi tuntutan kebutuhan lulusan yang diperlukan. Hal lain yang menjadi penting adalah sejauh mana program studi yang ada melibatkan diri atau mengaitkan diri di master plan tersebut. Perlu upaya serius dari institusi yang bersangkutan untuk menggaungkan keberadaan dan kesiapan program studi yang ada untuk menjadi bagian dan berperan aktif di master plan tersebut. Suatu hal yang perlu dipertimbangkan bahwa peran aktif tersebut tidak hanya sebatas oleh satu perguruan tinggi yang ada saja, tetapi lebih geratif merupakan peran dari kluster-kluster yang ada untuk saling melengkapi kompetensinya.

 Gambar-09_Master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi (MP3EI) wilayah SulawesiGambar-9 Master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi (MP3EI) wilayah Sulawesi

 

III. PEMAHAMAN KARAKTERISTIK BIDANG LOGAM DAN MESIN

Kompetensi di bidang logam dan mesin erat kaitannya dengan Sistem Produksi atau lebih luas lagi dengan Sistem Manufaktur. Secara generik aktivitas di bidang teknologi manufaktur terdiri atas : mengumpulkan informasi dan melakukan analisa, merancang, merencanakan proses, proses pengecoran logam, pemesinan, pembentukan dan pengelasan logam, perakitan (mekanik, listrik, pneumatic-hidrolik, kontrol), pengujian akhir, memasarkan dan menjual, membuat laporan. Secara umum yang disebut dengan lulusan teknik mesin (apapun jenjang pendidikannya) harus mengetahui alur tersebut, yang dijabarkan pada ranah terendah kedalaman pembelajaran berupa ‘pengetahuan’. Program studi-program studi yang ada dapat menggelutinya menjadi ciri spesifik suatu program studi berdasarkan kedalaman kompetensi yang ditujunya sesuai dengan salah satu atau beberapa aktivitas tersebut. Namun perlu disadari juga, bahwa pemilihan ciri program studi tersebut akan membawa konsekwensi serius, yaitu terkorelasi atau tidaknya kompetensi yang dituju melalui deskripsi mata kuliah yang ada. Tidak banyak program studi rumpun mesin yang melakukan verifikasi berdasarkan LSP-LMI, sehingga penulis akan melakukan simulasi model untuk membuktikan apakah suatu program studi fokus terhadap kompetensi yang ingin dicapainya.

 Gambar-10_Aktivitas bidang manufaktur sebagai penciri program studiGambar-10 Aktivitas bidang manufaktur sebagai penciri program studi

Disisi lainnya teknologi proses berkembang pesat juga, berbeda dengan sistem yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa sistem pada gambar di bawah memiliki ciri kental pada penguasaan teknologi pemrosesan, atau teknologi sistem produksi yang digunakannya. Sebagai salah satu contoh adalah pada pemrosesan nikel yang memiliki alur proses tersendiri dan menggunakan beberapa mesin spesifik yang tidak terdapat pada jenis pemrosesan lainnya. Program studi dapat mengeset kompetensi berbasiskan proses yang spesifik, namun disisi lainnya perlu dipertimbangkan juga apakah ada suatu jaminan bahwa lulusan pasti diserap oleh industri yang bersangkutan ? Jika ragu, maka program studi yang bersangkutan akan merentangkan (melebarkan) kompetensi mahasiswanya dengan mengurangi tingkat kedalaman pencapaian pembelajarannya, supaya lulusannya memiliki peluang yang lebih lebar untuk diserap di industri sejenis semisal pemrosesan timah, pemrosesan emas, yang memiliki bentuk generik teknologi pemrosesan namun berbeda di dalam hal kespesifikan pemrosesannya.

 Gambar-11_Skema sederhana pemrosesan nikelGambar-11 Skema sederhana pemrosesan nikel

Karakteristik teknologi produk dan teknologi proses yang ada akan dibuat spesifik oleh program studi melalui penjabaran mata kuliah untuk mencapai kompetensinya. Secara kasat mata kespesifikan program studi dapat dilihat dari jumlah pencapaian kompetensi sesuai dengan mata ajar yang diperolehnya. Seringkali terjadi bahwa penamaan suatu program studi ternyata tidak sesuai dengan kespesifikan kompetensi yang ingin dicapai lewat pembelajaran mata kuliahnya. Suatu hal yang perlu dicatat bahwa dengan banyaknya ragam materi ajar yang diberikan akan berdampak terhadap kedalaman pencapaian kompetensi. Sehingga untuk pengembangan kurikulum kedepannya perlu dilakukan suatu kajian yang seragam terhadap bidang logam dan mesin.

 Gambar-12_Konsentrasi dan penamaan program studi terhadap kespesifikan jenis kompetensinyaGambar-12 Konsentrasi dan penamaan program studi terhadap kespesifikan jenis kompetensinya

 

IV. PEMAHAMAN KARAKTERISTIK PERAWATAN/PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN MESIN (SUB BIDANG KOMPETENSI LOGAM DAN MESIN)

Untuk mendukung pengembangan di teknologi produk ataupun teknologi proses, maka diperlukan aktivitas pemeliharaan mesin. Beragam jenis teknologi produk ataupun proses, namun beberapa diantaranya memiliki keterkaitan dalam hal elemen mesin yang digunakan sebagai pembentuk atau penunjangnya (bentuk generiknya sama). Secara umum pola aktivitas pemeliharaan mesin adalah : mengumpulkan data dan informasi pemeliharaan mesin, membuat jadwal rencana pemeliharaan tahunan, membuat jadwal rencana pemeliharaan bulanan atau mingguan, melakukan pemeliharaan mekanik, melakukan pemeliharaan listik/control, melakukan pemeliharaan pneumatic/hidrolik, melakukan perbaikan terhadap mesin/komponen yang rusak, melakukan pengujian akhir, melakukan pemasaran dan penjualan jasa pemeliharaan, membuat laporan. Setiap aktivitas utama tersebut memiliki beberapa persyaratan kompetensi seperti yang dapat dilihat pada Gambar

 Gambar-13_Urutan kegiatan pemeliharan-perawatan dan perbaikan mesin berikut persyaratan kompetensi turunannyaGambar-13 Urutan kegiatan pemeliharan/perawatan dan perbaikan mesin berikut persyaratan kompetensi turunannya

Mengingat rentang teknologi di bidang pemeliharaan/perawatan dan perbaikan mesin luas sekali, maka pengklasifikasian dapat juga dilakukan berdasarkan peralatan produksi. Sebagai salah satu contoh pengklasifikasian dilakukan oleh HP Gaarg (judul bukunya ‘Industrial Maintenance’) : mesin perkakas, alat angkat / pemindah, mesin pengecoran logam, mesin dan perlengkapan hidrolik, mesin dan perlengkapan listrik. Tentunya teknologi ini akan berkembang terus seiring dengan pengembangan di bidang teknologi produk dan teknologi proses. Pertanyaan kita sekarang adalah sejauh mana kesanggupan program studi untuk menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru dengan rentang waktu penghasilan lulusan yang terbatas (untuk D3 setara dengan 3 tahun masa perkuliahan).

 Gambar-14 Pengklasifikasian mesinalat produksi untuk kegiatan pemeliharan-perawatan dan perbaikan mesinGambar-14 Pengklasifikasian mesin/alat produksi untuk kegiatan pemeliharan/perawatan dan perbaikan mesin

Berdasarkan kondisi yang ada tersebut, maka akan terjadi interaksi multi dimensi bagi seorang mahasiswa selama terlibat di dalam kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi. Ia akan berinteraksi sesuai dengan aktivitas proses yang dilakukan, dengan dosen, dengan sesama mahasiwa, dengan karyawan, dan dengan Sang Penciptanya juga. Disisi lainnya kita lihat perkembangan dahsyat terjadi di berbagai bidang keilmuan, seperti : diciptakannya mesin-mesin untuk kebutuhan medis. Tentunya hal tersebut adalah trend yang ada di bangsa ini. Di satu sisi, lahirnya teknologi baru perlu diketahui oleh mahasiswa, dan di sisi lainnya untuk mengisemenasikannya ke dalam kurikulum bukan perkara mudah. Negoisasi yang dilakukan adalah tercermin di dalam arah pengembangan program studi melalui pengembangan kurikulumnya (kata kuncinya : fokus).

 Gambar-15_Interaksi Mahasiswa dan adaptasi teknologi mahasiwa program studi teknik  pemeliharan-perawatan dan perbaikan mesinGambar-15 Interaksi Mahasiswa dan adaptasi teknologi mahasiwa program studi teknik pemeliharan/perawatan dan perbaikan mesin

Pada saat pengembangan terhadap program studi teknik perawatan/pemeliharaan dan perbaikan mesin dilakukan, umumnya tidak ada acuan baku untuk melakukannya. Perbedaan mencolok hanya didasari oleh perbedaan jumlah dan jenis mata kuliahnya. Seringkali dijumpai bahwa pengembangan tersebut didasari oleh produk apa atau teknologi apa yang sedang menjadi trend saat itu, seharusnya pengembangan tersebut dilakukan secara jangka panjang, berkesinambungan, dan jelas kompetensi apa yang hendak dituju. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan transformasi kurikulum sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, dan persiapan terhadap perangkat-perangkat turunan lainnya yang dibutuhkan. Selain itu tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada lulusan D3 teknik pemeliharaan/perawatan dan perbaikan mesin yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Program studi harus dapat juga mengantisipasi kompetensi apa yang harus disiapkan melalui pembelajaran mata kuliahnya, jangan sampai lulusan yang melanjutkan kuliah tidak dapat mengikuti sama sekali pembelajaran mata kuliah di tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Pengembangan program studi yang ada sebaiknya diprogramkan pada rencana strategis perguruan tinggi, sehingga memudahkan penyusunan program kerja dan anggaran untuk mencapainya. Pengembangan yang ada dapat saja berupa pembuatan program studi baru, menaikan jenjang pendidikan yang ada, atau kespesifikan kompetensi mahasiswa lulusannya. Pemetaan program studi lainnya dalam satu rumpun ilmu perlu ada, untuk meratakan dukungan terhadap industri yang ada di wilayah geografisnya. Rumor yang beredar adalah membuat program studi baru yang murah biaya pengadaannya (walaupun hal ini tidak salah), namun mari kita berfikir dalam kerangka pemetaan industri global yang ada di Indonesia. Kedepannya akan memungkinkan bahwa penyelarasan program tersebut bersumber dari biaya pemerintah dengan tujuan memperkuat MP3EI (tentunya melibatkan DIKTI)

 Gambar-16_Pengembangan program studi teknik pemeliharaan-perawatan dan perbaikan mesin mengacu pada rumpun ilmuGambar-16 Pengembangan program studi teknik pemeliharaan/perawatan dan perbaikan mesin mengacu pada rumpun ilmu

 

V. PROFIL LULUSAN D3 TEKNIK MESIN TERHADAP TUNTUTAN JABATAN LAPANGAN PEKERJAAN

Pada saat pemberlakuan kurikulum versi KKNI dan SN DIKTI ditetapkan, hampir dalam waktu yang bersamaan juga direspons oleh seluruh Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. Mereka berupaya melakukan transformasi/rekonstruksi kurikulum yang ada untuk memenuhi tuntutan perundang-undangan, selain itu untuk persiapan persyaratan akreditasi seperti yang dilakukan oleh BAN PT. Terlihat bahwa inseminasi suatu kebijakan baru dilakukan secara serius dan intensif di bidang pendidikan.

Namun tidak demikian halnya yang terjadi dengan standardisasi jabatan ataupun persyaratan kompetensi yang umumnya dicantumkan pada lowongan pekerjaan, sebagai salah satu contoh yang diterbitkan oleh Kerangka Kualifikasi Sertifikasi Logam dan Mesin yang membagi level kualifikasi menjadi enam tingkatan (I sampai dengan VI). Hal tersebut terjadi untuk berbagai jenis lapangan pekerjaan, baik sektor swasta ataupun BUMN. Apakah hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya koordinasi diantara bagian-bagian yang terkait (pendidikan, ketenagakerjaan, sertifikasi profesi) ? Saya ingat betul bahwa yang boleh menerbitkan sertifikat profesi adalah lembaga-lembaga kredibel termasuk diantaranya Tempat Uji Kompetensi yang tersertifikasi. Dikarenakan tidak semua perguruan tinggi memiliki legalisasi untuk menerbitkan sertifikat kompetensi maka dibuatlah padanannya yaitu Surat Pendamping Ijazah. Hal ini tentunya menjadi masukan bagi fihak-fihak terkait di Indonesia seperti lembaga pendidikan, lembaga ketenagakerjaan, lembaga sertifikasi profesi untuk menyinergikannya.

Tabel-1 Deskripsi lowongan pekerjaan dan jenis lapangan kerja D3 Teknik Mesin Tabel-1_Deskripsi lowongan pekerjaan dan jenis lapangan kerja D3 Teknik Mesin

Peluang kerja yang tersedia untuk lulusan teknik mesin beragam dan berbagai jenis jabatan yang ditawarkan. Andai suatu perusahaan dapat memastikan bahwa setiap lulusan suatu program studi akan diterima langsung bekerja di perushaan tersebut, maka program studi yang bersangkutan tidak akan memiliki masalah untuk menyusun kurikulum berdasarkan kompetensi yang diinginkan perusahaan. Namun sayangnya kondisi tersebut jarang atau bahkan hampir tidak pernah dijumpai, sehingga program studi yang ada akan berupaya keras untuk memetakan kemungkinan profil lulusan sesuai keanekaragaman jabatan yang ada, kemudian berusaha dengan keras juga untuk menentukan kompetensi (Capaian Pembelajaran) yang ada, kemudian berupaya dengan keras juga untuk menerjemahkannya ke mata kuliah yang ada (upaya kerja keras yang berlapis-lapis).

Tabel-2 Peluang kerja lulusan teknik mesin pada bursa online [Apri Nuryanto, UPN, 2007] Tabel-2_Peluang kerja lulusan teknik mesin pada bursa online [Apri Nuryanto, UPN, 2007]

 Seperti kondisi sudah jatuh tertimpa durian itulah yang terjadi dengan kondisi industri yang ada di Indonesia. Pada awal tulisan telah dijelaskan berkaitan dengan sektor-sektor industri yang ada serta permasalahannya, sehingga suatu peumpamaan sarkasme saya tuangkan : “Kita Negara yang kaya akan sumberdayanya yang ada, Namun, kekayaan tersebut dikelola oleh perusahaan milik negara asing, menggunakan sebagian besar mesin atau fasilitas yang berasal dari negara asing, bahkan menggunakan sukucadang yang umumnya buatan negara asing. Pertanyaan bagi saya, apa yang disisakan untuk bangsa yang memiliki kekayaan yang melimpah ? sanggupkah anak cucu kita menanggung beban berat yang diakibatkan kondisi yang ada saat ini ?

Namun demikian kita harus tetap optimis, biarlah yang tersisa bagi kita adalah sumberdaya manusianya untuk mengisi perkerjaan yang ada. Namun dewasa ini, ancaman juga mengarah ke sumberdaya manusia bangsa ini, yang tidak boleh mengerem laju sumberdaya asing yang akan ikut bekerja di Indonesia. Salah satunya adalah dengan disepakatinya MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) / AEC (Asean Economy Community). Suka atau tidak suka kita harus menjalankannya, mengingat nota kesepakatan kerjasamanya telah disetujui. Dengan adanya KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) / IQF (Indonesian Qualifications framework) berikut kerangka Kualifikasi negara-negara lainnya, maka terjadilah kesetaraan pemetaan kompetensi tenaga kerja. Persaingan berat terjadi pada sektor-sektor penghasil kompetensi lulusan.

Gambar-17_Implementasi AEC (Asean Economy Community) 2015 dan berbagai National Qualifications Framework Gambar-17 Implementasi AEC (Asean Economy Community) 2015 dan berbagai National Qualifications Framework

Siapkah kita untuk menerapkannya ? Jawabannya adalah mau tidak mau harus siap. Namun sejauh manakah peran BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) untuk mengantisipasi kondisi yang ada ? Saya masih belum jelas mengenai ketergantung industri-industri yang ada di Indonesia terhadap BNSP. Apa buktinya ? Saya belum pernah melihat bahwa industri yang membutuhkan tenaga kerja (lulusan siap pakai) tersebut benar-benar berani memasang patokan Level Qualifikasi untuk bidang logam dan mesin. Para industri hanya tertarik memasang persyaratan Indeks Prestasi di atas 3.00, TOEFL di atas 450 (sebagai contoh saja), dan kualifikasi jenjang pendidikannya. Jangan-jangan industri sendiri tidak mengetahui level kualifikasi di bidang logam dan mesin. Tentunya hal ini akan menyulitkan perumusan kurikulum berikut penerjemahannya di dalam kegiatan belajar mengajar.

Namun saya tetap optimis dengan melihat satu pola yang diterapkan oleh sektor MIGAS berkaitan dengan SKKNI Bidang Perawatan Mekanik (Gambar-18). Hal tersebut akan sangat membantu dunia pendidikan dalam merumuskan kurikulumnya, dikarenakan terdeskripsi dengan jelas berkaitan dengan kompetensi ataupun elemen kompetensi untuk suatu level kualifikasi tertentu di bidang perawatan mekanik. Sebaiknya hal ini menjadi program kerja BNSP atau fihak-fihak lainnya yang berhubungan dengan dunia pendidikan sebagai penghasil lulusan.

 Gambar-18_Contoh implementasi SKKNI sector Migas untuk bidang perawatan mekanikGambar-18 Contoh implementasi SKKNI sector Migas untuk bidang perawatan mekanik

Dengan melihat berbagai permasalahan yang ada, bagaimanakah suatu program studi dapat memformulasikan kurikulum berdasarkan rambu-rambu yang telah ditetapkan sebelumnya ? Sampai dengan saat ini kita hanya bisa mendeskripsikan (lebih tepatnya membayangkan) apa yang diinginkan oleh industri berkaitan dengan kompetensi yang harus dimilikinya. Tentunya ada rambu-rambu yang jelas dan bersifat mutlak, dan ada yang sifatnya ‘abu-abu’ yang banyak ditentukan oleh team perumus kurikulum di program studi. Kedepannya yang kita inginkan adalah sosok deskripsi yang jelas, tepat, mudah dilakukan (bukan berdasarkan karangan atau daya nalar semata).

Andai uraian kompetensi yang dibutuhkan oleh industri lengkap, maka hal tersebut akan membantu program studi di dalam menyusun kurikulumnya. Tidak mengawang-awang atau tidak mencoba mereka-reka apa yang dibutuhkan sesungguhnya oleh industri. Di sisi lainnya juga, jika pengalaman team penyusun kurikulum sangat mahir di bidangnya dan memiliki wawasan yang sangat luas, maka kondisinya bisa terbalik karena boleh jadi tuntutan kompetensi yang ideal lahir dari institusi pendidikan. Pada Gambar-19 ditunjukkan salah satu jabatan, elemen kompetensi, dan batasan penilaian kompetensi yang ada.

 Gambar-19_Contoh peta kompetensi yang dibutuhkan program studiGambar-19 Contoh implementasi SKKNI sector Migas untuk bidang perawatan mekanik

VI. PENYUSUSUNAN / REKONSTRUKSI KURIKULUM YANG ADA BERDASARKAN KKNI, SNPT, dan LSP-LMI

VI.1 PENETAPAN PROFIL LULUSAN

Namun demikian, regulasi telah ditetapkan dan kita berkewajiban untuk mengikutinya. Saya mencoba memetakan profil lulusan bagi program studi D3 pemeliharaan/perawatan dan perbaikan mesin berdasarkan kondisi riil yang pernah saya hadapi dan beberapa informasi tingkat jabatan yang ada. Sangat disayangkan sekali bahwa level kualifikasi sertifikasi untuk bidang logam dan mesin tidak ada yang bisa saya peroleh satupun karena keterbatasan akses saya. Kemudian ada satu ketidaklaziman yang saya tambah pada baris bawah yaitu profil lulusan kembali sebagai Mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataannya banyak sekali yang setelah lulus dari suatu jenjang pendidikan kemudian akan melanjutkan lagi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi (sebagai contoh adalah diri saya sendiri yang telah mengikuti pendidikan D3-S1-S2). Hal ini tetap harus diakomodir di dalam penetapan profil lulusan, mengingat kita harus mengantisipasi keadaan juga dimana lulusan akan melanjutkan kuliah lagi dan mudah untuk menyesuaikan diri dengan pembelajaran di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kita tidak boleh menutup mata karena beberapa kualifikasi jabatan yang lebih tinggi di industri ada yang mempersyaratkan bahwa entry point nya ditinjau dari level pendidikan (walaupun bukan tujuan utama kita bahwa lulusan diploma akan melanjutkan studi yang lebih tinggi). Karena tuntutan tersebutlah, Dikti membatasi pelaksanaan pola perkuliahan jarak jauh.

 Gambar-20_Profil Lulusan D3 Teknik Pemeliharaan Mesin Gambar-20 Profil Lulusan D3 Teknik Pemeliharaan Mesin

Kenapa kita harus mengaitkannya dengan LSP-LMI ? Merupakan suatu tujuan BNSP bahwa lulusan-lulusan perguaruan tinggi pada saat lulus tidak hanya dilengkapi ijazah dan transkrip nilai, namun harus dilengkapi juga dengan sertifikasi profesi yang valid. Sayangnya belum banyak perguruan tinggi yang menjadi Tempat Uji Kompetensi, dan untuk menerbitkan sertifikat kompetensi tidak sembarangan bahkan dipayungi oleh Undang-Undang yang memberikan sangsi terhadap pelanggarannya. Karena itu muncullah inisiatif membuat Surat Keterangan Pendamping Ijazah (masalah yang timbul menurut saya dikarenakan aspek legalitas). Surat Pendamping Ijazah yang dibuat oleh perguruan tinggi pun bukan asal-salan dengan menonjolkan kompetensi yang diperoleh karena kepemilikan fasilitas atau aktivitas yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lainnya (seumpama menggunakan alat ukur dan mesin yang canggih / berharga mahal). Tetap surat pendamping ijazah harus dibuat mengacu pada suatu standar profesi tertentu yang diakui secara nasional ataupun internasional, dan jika saatnya datang maka akan otomatis surat tersebut akan berfungsi sebagai sertifikasi profesi yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang (walaupun menurut saya masih lama karena membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang tidak sedikit).

 

VI.2 MODIFIKASI LANGKAH PENETAPAN CAPAIAN PEMBELAJARAN

Rambu-rambu untuk menetapkan capaian pembelajaran telah distandarkan oleh KKNI dan SN DIKTI untuk lulusan pendidikan D3. Terjadi integrasi penetapan capaian pembelajaran seperti yang ditunjukkan pada Gambar-21. Saya nyatakan bahwa tidak mudah untuk membuat capaian pembelajaran, karena harus bersumber dari data-data yang akurat yang nota bene sebaiknya distandarkan untuk rumpun bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya kode-kode jabatan yang ada yang mengacu kepada LSP-LMI. Jika kita mencoba menerjemahkannya tidak secara serius, maka efek kesalahannya akan fatal, yang akan merembet seperti efek domino ke proses pembuatan kurikulumnya berikut proses-proses turunan yang ada di dalamnya.

Saya berpendapat bahwa perumusan capaian pembelajaran tidak dilakukan secara parsial per profil lulusan, namun harus secara integral yang melingkupi seluruh profil lulusan yang ada. Kenapa hal ini saya utaran ? mengingat pola pendidikan yang ada di D3 umumnya merupakan sistem paket / block dan rentang waktu penyelesaian studi tepat waktu 3 tahun (walaupun mungkin ada di beberapa perguruan tinggi lainnya yang membebaskan Mahasiswa untuk mengambil mata kuliah pilihan sehingga memiliki konsekwensi lulus lebih dari 3 tahun). Ada juga satu program studi yang menetapkan beberapa jalur spesialisasi berdasarkan sasaran profil lulusannya. Hal tersebut sah-sah saja, namun harus dipertanggungjawabkan dengan muatan mata kuliah yang berbeda secara kental (bukan beda-beda tipis ji).

 Gambar-21_Rambu-rambu Capaian Pembelajaran untuk lulusan D3 versi KKNI dan SN DIKTIGambar-21 Rambu-rambu Capaian Pembelajaran untuk lulusan D3 versi KKNI dan SN DIKTI

Parameter deskripsi sikap dan ketrampilan umum telah dinyatakan, dan program studi harus mematuhinya. Ruang gerak diberikan pada parameter ketrampilan khusus dan pengetahuan (ada suatu kewajiban tertulis yang dijadikan panduan untuk melakukan analisis). Jika ditilik secara cermat, kewajiban tersebut sangat berat sekali namun harus dilakukan oleh program studi. Kekuatan utama ada pada wawasan dan ketajaman fikiran program studi (termasuk team kurikulum). Khusus untuk satu hal, saya mengutarakan apakah yang telah disepakati oleh kolegium/konsorsium keilmuan/prodi sejenis ? Apakah ada event-event nyata yang dilakukan saat ini sampai dan menghasilkan butir-butir kesepakatan ? Siapakah yang bertanggungjawab atas hal ini ? Saya lebih melihat bahwa banyak prodi-prodi sejenis berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya kolaborasi. Yang sering terjadi adalah budaya copy-paste terhadap penentuan kurikulum untuk prodi sejenis (dengan sedikit modifikasi), dan bahayanya adalah manakala yang dicopy-paste salah maka kesalahan tersebut akan menjalar kemana-mana, dan sejujurnya perlu disadari bahwa berbagai sumber daya dan sistem yang dimiliki oleh setiap program studi adalah berbeda. Seharusnya konsep yang dianut adalah keberagaman yang memiliki tujuan sama dalam ruang lingkup bidang logam dan mesin, untuk mengisi kekosongan gap antara prodi-prodi yang ada dalam pembangunan industri di bangsa ini.

Sebelum capaian pembelajaran ditentukan, ada baiknya kita mengevaluasi kondisi kesesuaian jenis program studi terhadap tuntutan kompetensi berdasarkan bidang logam dan mesin (LSP-LMI). Kita akan mengetahui korelasi antara profil lulusan, capaian pembelajaran, dan kurikulum yang telah dijalankan. Kenapa ini dilakukan di awal ? Andai nantinya dijumpai suatu penyimpangan di dalam kenyataannya, maka perbaikan dapat dilakukan secara sekaligus mulai dari penetapan profil lulusan, capaian pembelajaran, sampai dengan turunannya. Bahkan program pengembangan jangka panjang dan jangka pendek program studi dapat diukur secara numeris berdasarkan capaian pembelajaran yang ada. Saya mengistilahkannya dengan kombinasi antara forward dan backward evaluation.

Kata kuncinya adalah Capaian Pembelajaran sebaiknya fokus, tidak lari kemana-mana. Kemampuan isi kepala mahasiswa terbatas. Boleh merupakan suatu strategi pilihan bahwa : banyak pengetahuan dengan kedalaman kajian sedikit, atau fokus dengan jumlah pengetahuan yang terbatas namun kedalaman kajian sampai ke akarnya, dan juga perlu disadari bahwa rentang waktu pembelajaran dibatasi oleh jumlah SKS dan waktu kuliah. Sehingga dalam penyusunannya berjenjang tidak bisa sekaligus jadi, perlu waktu karena akan terlibat dengan anggaran biaya, perencanaan program pengembangan untuk mengantisipasi dinamika kuat terhada tuntutan yang cepat berubah-ubah.

Sebaiknya industri / perusahaan harus dilibatkan secara nyata dalam hal penentuan kompetensi penyerapan tenaga kerjanya, tidak hanya institusi pendidikan saja yang melakukan perubahan. Ingat kalimat Bapak Bernard Sihite (Politeknik Manufaktur Bandung) di depan pemilik perusahaan besar pada saat monitoring OJT (on the job training) tahun 1993-an : “You sebagai pemilik perusahaan jangan mau enaknya saja ingin telur yang bulat (maksudnya kualitas mahasiswa yang bagus), bantu kami-kami dong di bidang pendidikan untuk membuat telur tersebut bulat.”

Sebagai suatu ilustrasi bahwa prodi teknik mesin sama dengan bangun struktur mesinnya itu sendiri (bukan merupakan sastra mesin), terdiri dari berbagai jenis teknologi mesin, ada tahapan dalam membuat mesin, dan ada perkembangan teknologi pembuatannya. Bagus kalau pengadaannya dikaitkan dengan rencana pengembangan pemerintahan, untuk mendukung sentra-sentra BUMN atau sektor swasta yang ada di Indonesia (dengan melihat kondisi dan permasalahan yang ada di sektor industri di Indonesia). Sehingga pemilihan mesin tersebut umumnya bukan ditentukan dari dalam institusi kita saja, namun lebih ditentukan oleh market, yang umumnya di Indonesia menerapkan asas ekonomi “dengan uang sesedikit untuk mendapatkan keuntungan sebesar mungkin” (tugas kita adalah meluruskan falsafah berikut mengingat bahwa harga mesin akan sebanding dengan kualitas yang akan dibeli)

 

VI.3 EVALUASI KURIKULUM YANG ADA MENGGUNAKAN ALAT “LSP-LMI”

Bidang logam dan mesin telah memfokuskan kompetensinya menjadi 18 cabang bidang keahlian yang masing-masing memiliki unit dan pembobotan kompetensi. Setiap program studi terkait teknik mesin wajib untuk mengetahuinya, sehingga dapat mengukur sendiri apakah penamaan program studi telah sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Alat ini akan berfungsi juga untuk mengukur kekhasan suatu program studi.

Sebelum evaluasi dilakukan ada baiknya dibuka link berikut karena akan mempermudah pemahaman di dalam penyusunannya :

  1. Analisa unit kompetensi (https://drive.google.com/open?id=0BxISOQA_AHSeWnRXZk5GZW1GU0U)
  2. Evaluasi kurikulum Akademi Teknik Soroako(https://drive.google.com/open?id=0BxISOQA_AHSea3VrUGhCSE80VzA)

Gambar-22_SKKNI Bidang Logam dan MesinGambar-22 Standar Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Logam dan Mesin

Bidang industri dan logam memiliki karakteristik level kualifikasi menjadi 6 level dengan persyaratan pembobotan yang harus dicapainya. Suatu kewajiban bagi prodi teknik mesin untuk memetakannya dengan jalan membandingkan kesepadanan bobot kompetensi dengan mata kuliah yang ada. Tentunya untuk mencapai kualifikasi tertinggi yaitu Level 6 akan memerlukan suatu perencanaan yang sangat matang, dan kesemuanya itu tertuang di dalam kurikulum.

 Gambar-23_Karakteristik level kualifikasi Bidang Logam dan Mesin

. Gambar-23 Karakteristik level kualifikasi Bidang Logam dan Mesin

Karena istilah karakteristik level kualifikasi bidang logam dan mesin tidak popular diakibatkan tidak intensnya inseminasi ke perguruan tinggi maka jarang institusi pendidikan yang mencanangkannya sebagai visi atau misi atau tujuan yang harus ditempuh (tertulis secara nyata dalam dokumen institusi). Andai DIKTI mempersyaratkannya, maka setiap institusi akan berlomba untuk mencapainya dan hasilnya dapat dibayangkan berupa lahirnya lulusan dengan kompetensi yang bagus dan siap bersaing di bursa bebas. Evaluasi ini dilakukan dengan jalan mengecek butir per butir terhadap elemen kompetensi yang harus dicapai berdasarkan SKKNI bidang logam dan mesin terhadap TIU / TIK yang ada pada setiap mata kuliah. Dengan munculnya profil seperti gambar di bawah, maka akan jelas posisi setiap program studi teknik mesin yang ada di Indonesia. Sehingga langkah perencanaan kedepannya mudah dilakukan mulai untuk tujuan program studi, institusi pendidikan, sampai dengan kerangka nasional.

 Gambar-24_Skema Pengembangan Kurikulum berdasarkan SKKNIGambar-24 Skema Pengembangan Kurikulum berdasarkan SKKNI

Gambar berikut merupakan hasil analisa melalui penggunaan matriks-1 dan matriks-2 untuk kurikulum yang ada di Akademi Teknik soroako.

 Gambar-25_Matiks yang harus dibuat untuk evaluasi kurikulum berdasarkan SKKNI. Gambar-25 Matiks yang harus dibuat untuk evaluasi kurikulum berdasarkan SKKNI

 Hasil akhirnya diperoleh matriks rekonstruksi kurikulum untuk program studi di Akademi Teknik Soroako

Tabel-3 Hasil evaluasi kurikulum program studi Akademi Teknik Soroako Tabel-3_Hasil evaluasi kurikulum program studi Akademi Teknik Soroako

 VI.4 MENENTUKAN CAPAIAN PEMBELAJARAN (HASIL ANALISA)

Strategi CP umumnya ditetapkan terhadap bursa tenaga kerja yang ada dan masukan berdasarkan tracer study yang dilakukan. Unsur lainnya perlu ditambahkan mengingat tujuan kita melakukan pendidikan salah satunya adalah agar lulusan mudah dan cepat diserap oleh pengguna lulusan (Gambar-26 dan 27). Tahap ini telah dijelaskan secara detail dan secara rinci oleh DIKTI.

  Gambar-26_Rumusan Capaian Pembelajaran Sikap dan Tata Nilai Lulusan D3 Teknik Perawatan MesinGambar-26 Capaian Pembelajaran Sikap dan Tata Nilai untuk lulusan program studi D3 Perawatan Mesin

 Gambar-27_Rumusan Capaian Pembelajaran Ketrampilan Umum Lulusan D3 Teknik Perawatan MesinGambar-27 Capaian Pembelajaran Ketrampilan Umum untuk lulusan program studi D3 Perawatan Mesin

 Khusus untuk capaian pembelajaran ketrampilan khusus, kita peroleh dari hasil analisa yang telah dilakukan sebelumnya

 Gambar-28_Rumusan Capaian Pembelajaran Ketrampilan Khuhus Lulusan D3 Teknik Perawatan MesinGambar-28 Capaian Pembelajaran Ketrampilan Khusus untuk lulusan program studi D3 Perawatan Mesin

Capaian pembelajaran pengetahuan untuk program studi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan trend teknologi yang sedang berkembang sesuai dengan ciri program studi atau untuk menerjemahkan profil kompetensi di luar bidang logam dan mesin.

  Gambar-29_Rumusan Capaian Pembelajaran Pengetahuan Lulusan D3 Teknik Perawatan MesinGambar-29 Capaian Pembelajaran Pengetahuan untuk lulusan program studi D3 Perawatan Mesin

 Gambar berikut menunjukkan Capaian Kompetensi keseluruhan untuk D3 Teknik Mesin Program Studi Perawatan mesin. Sasaran dibuat general untuk memperluas pasar tenaga kerja, tidak difokuskan terlalu spesifik, karena belum ada jaminan dari industry untuk menerima sejumlah karyawan dalam waktu tertentu. (https://drive.google.com/open?id=0BxISOQA_AHSeeVdiTEc4OXNUdTA)

Gambar-30_Profil Lulusan & Capaian Pembelajaran D3 Teknik Pemeliharaan Mesin

Gambar-30 Profil Lulusan & Capaian Pembelajaran D3 Teknik Perawatan Mesin

VI.5 MENGEMBANGKAN DAN REKONSTRUKSI BAHAN AJAR DAN MATA KULIAH

Setelah capaian pembelajaran ditetapkan, maka langkah berikutnya adalah melakukan rekonstruksi atau pengembangan terhadap kurikulum yang ada berdasarkan analisa yang telah dilakukan sebelumnya. Rekonstruksi dapat berupa : penyesuaian jumlah jam, mata kuliah yang harus dihilangkan/diadakan, menambahkan/menghilangkan pokok bahasan, distribusi mata kuliah dan lain-lain. Sebagai salah satu contoh adalah :

  • Mata kuliah terkait bidang otomotif dan pengantar sistem kendali ditiadakan,
  • Mata kuliah thermodinamika dan pengantar sistem kendali diganti dengan mata kuliah terkait dengan sistem pemeliharaan hidrolik
  • Mengadakan mata kuliah terkait dengan Hukum Perburuhan dan ketenagakerjaan
  • Menambah mata kuliah terkait dengan penguatan Ipoleksosbudhankamnas seperti yang telah dipersyaratkan oleh Undang-Undang
  • Mengadakan mata kuliah berkaitan dengan tantangan bidang perawatan mesin kedepannya seperti Distributed Control System, Retrofit System, CNC Maintenance System, Total Quality Management, Maintenance Control System
  • Lihat catatan pada matrik maka kuliah untuk rekonstruksi detail yang harus dilakukan.

Khusus di bidang perawatan mesin, pengembangan telah dirintis sejak tahun 1990 an, hal ini tidak lepas dari sosok Bapak Kokok Haksono (Pejabat DIKTI untuk jalur vokasi). Beliau telah memfasilitasi program studi serumpun di bidang perawatan mesin agar seragam di Indonesia. Mulai dengan mendatangkan Mr. Feldman dari Swiss Contact yang menelorkan buku Manajemen Pemeliharaan sebagai pengganti Hand Book of Maintenance untuk Politeknik se Indonesia. Hal lainnya adalah kerjasama antara P5D dan lembaga Fontys dari Belanda yang merencanakan bahawa modul untuk basic skill maintenance harus seragam untuk politeknik sejenis di Indonesia, termasuk adalah pembuatan beberapa media ajar standard yang telah diditribusikan ke beberapa politeknik yang ada di Indonesia. Alhamdulillah, saya ikut terlibat di kedua projek tersebut dan mendapatkan pengalaman berharga yang menjadi bekal saya sampai dengan sekarang.

 Gambar-31_Bahan Kajian dan Mata Kuliah Teknik Pemeliharaan Mesin Gambar-31 Bahan Kajian dan Mata Kuliah Teknik Pemeliharaan Mesin

 VI.5 BELAJAR DARI METODA PEMBELAJARAN DI BIDANG PEMESINAN DARI ORANG AMERIKA

 Ada satu perubahan mendasar yang terjadi di dunia D3 teknik mesin yang berdampak kurang baik terhadap pengembangannya. Yaitu adanya asumsi jika kita akan melakukan praktik pemesinan atau yang lainnya, maka hal tersebut dapat dilakukan setelah mesin ada, benda kerja ada, pelaku ada, dan buku ada. Hal tersebut diakibatkan sempitnya pandangan para pelaku pendidikan dan pelaku industry yang ada di Indonesia. Hal ini terjadi secara turun temurun dan sulit untuk memutuskan rantainya.

Kenapa terjadi penurunan kualitas terhadap Mahasiswa lulusan D3 teknik mesin ? Hal ini diakibatkan karena tidak seragamnya metoda pendidikan yang ada. Tanpa berpanjang lebar, mari kita bandingkan dengan pola pembelajaran pemesinan yang dilakukan oleh Negara Amerika Serikat jaman dulu (sumber : Basic Fundamental Machining). Sebelum seseorang melakukan praktik langsung pada area pemesinan, beberapa tahap berikut dilakukan :

  1. Mahasiswa atau pekerja harus mengetahui jenis pekerjaan, ruang lingkup, dan tanggungjawabnya.

 Gambar-32a_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Klasifikasi Pekerjaan Gambar-32A Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Klasifikasi Pekerjaan

  1. Mahasiswa atau pekerja harus mengerti gambar teknik dan ruang lingkup keselamatan dan kesehatan kerja yang ada di area kerjanya.

 Gambar-32b_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Gambar Teknik & Keselamatan Kerja Gambar-32B Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Gambar Teknik & Keselamatan Kerja

  1. Mahasiswa atau pekerja harus mampu melakukan pengukuran dimensi dan geometri, serta dapat melakukan penandaan/tata letak komponen.

Gambar-32c_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Pengukuran dan Tata Letak Gambar-32C Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Pengukuran dan Tata Letak

  1. Menguasai penggunaan beragam perkakas tangan.

Gambar-32d_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Perkakas Tangan

Gambar-32D Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Perkakas Tangan

  1. Mahasiswa atau pekerja harus mengetahui seluk beluk ilmu yang terkait dengan proses pemesinan tersebut seperti : klasifikasi mesin, spesifikasi geometric dan ketelitian mesin, komponen mesin berikut fungsinya, mekanisme transmisi, perhitungan, dan lain-lainnya seperti ditunjukkan pada gambar.

  Gambar-32e_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Pemesinan dan FabrikasiGambar-32E Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Pemesinan dan Fabrikasi

Kita melihat bahwa tahap sesungguhnya terkait proses pemesinan baru dilakukan pada tahp ke-7 setelah semuanya terpenuhi, dan di tahap ke-7 banyak cakupan pembelajaran yang harus dipenuhi. Dan saya sekarang mengerti mengapa bangsa Amerika bisa mendaratkan manusia di bulan. Contoh bagus buat kita sebagai warga teknik mesin, sehingga dapat menerapkan pola yang sama pada setiap kegiatan mata kuliah praktik sejenis bagi Mahasiswa.


VI.5 BELAJAR DARI PENGALAMAN MASA LALU : PERKEMBANGAN JALUR PENDIDIKAN VOKASI TEKNIK MESIN DAN INTEGRASI PENILAIAN KOMPETENSI

Tentunya semua program studi yang ada berkeinginan agar seluruh fasilitas turunan dari kurikulum lengkap untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Namun perlu disadari juga bahwa dalam pengadaannya akan membutuhkan biaya yang besar (berbeda dengan program studi non teknik). Sehingga inovasi di dalam pengadaannya diperlukan, terlebih untuk menjamin sustainability suatu institusi pendidikan.

Program studi yang ada harus mulai jeli untuk melihat peta kemampuan yang ada untuk menerjemahkan kompetensi Mahasiswa lewat pengadaan produk terintegrasi (dapat mengukur banyak elemen atau bidang kompetensi lewat suatu mata kuliah pembelajaran). Akan lebih terasa lagi maknanya jika produk yang digunakan sebagai praktik Mahasiswa memiliki nilai jual yang laku di pasaran. Pola pendidikan semacam ini dikenal dengan nama Pendidikan Berbasis Produksi / Production Based Education.

 Gambar-33_Product melalui Pendidikan Berbasis Produksi-PBE

Gambar-33 Product melalui Pendidikan Berbasis Produksi / Production Based Education

Karena muncul tuntutan Surat Pendamping Ijazah, maka konsekwensinya akan berdampak juga kepada penilaian yang dilakukan. Seorang dosen / instruktur harus mampu melakukan penilaian secara komprehensif terhadap persyaratan kompetensi, bidang kompetensi, dan elemen kompetensi. Dengan kata lain, fihak yang memiliki othorisasi untuk menerbitkan sertifikat kompetensi akan convidence bahwa lulusan yang dihasilkan benar-benar telah memenuhi sertifikasi jenjang tertentu, dan minimal ditunjukkan kesetaraannya pada Surat Pendamping Ijazah..

 Gambar-34_Metoda Penilaian Berbasis Kompetensi

Gambar-34 Penilaian berbasis kompetensi

Media pendidikan ataupun buku ajar yang digunakan untuk mengecek kompetensi tidak bisa dibuat secara umum, harus spesifik dan mendukung terhadap pencapaian kompetensi yang dihaerapkan melalui media tersebut. Beberapa contohnya dapat dilihat pada link : https://drive.google.com/drive/folders/0BxISOQA_AHSeMWQ1YTI4YjEtZmM1MC00ODQzLWJmYjctMWNlNWQ3YWEzZWU0

 Gambar-35_Fasilitas Pembelajaran-Modul ajar dan Media AjarGambar-35 Buku ajar atau modul berbasis kompetensi

 Langkah berikutnya adalah menerjemahkan mata kuliah menjadi turunan perangkat pendidikan. Penulis sangat menekankan agar mulai menerapkan standard pembelajaran DIKTI : Pekerti, Applied Approach, Pengukuran dan Test. Kenapa hal ini saya tekankan ? Menyampaikan isi pembelajaran berbeda dengan menyampaikan teknologi. Seringkali calon dosen yang baru pulang dari luar negeri dating langsung mengajar tanpa dibekali dengan ilmu pedagogi / metodic-ditactic. Kita harus menyadari bahwa ilmu yang mempelajari bagaimana cara kita mengajar sangat penting, dan boleh jadi kualitas pendidikan di bangsa ini sedang turun diakibatkan hal ini. Beberapa literature terkait ini dapat dilihat pada link berikut (bersumber dari team pengajar Kopertis IX), dan dapat dilihat pada link berikut.

https://drive.google.com/open?id=0BxISOQA_AHSeMDdiNGIzMWMtMTg5ZC00ZDk5LTk1ZTUtMjFlMWE1MjY3ZWM3

Pola selanjutnya dapat dilihat pada tulisan saya sebelumnya terkait “Pegembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi”.

 VII PENUTUP

Tiada gading yang tak retak, penulis mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika ada isi yang tersurat ataupun tersirat telah menyinggung perasaan beberapa fihak. Mengingat keterbatasan pengetahuan yang ada di bidang kurikulum, dan banyak rekan-rekan yang lebih mengasainya. Mohon dimaafkan. Penulispun berkeinginan untuk berdiskusi dengan rekan-rekan lain dari prodi sejenis dan tidak sejenis untuk membangun pendidikan bangsa ini lewat perbaikan kurikulum. Tak tak lupa penulis ucapkan terimakasih yang tak berhingga kepada Bapak Suryadi (sesudah pensiun dari Politeknik Manufaktur bandung bergabung di Politeknik Indorama) dan Bapak Toto Sukmanto (sesudah pensiun dari Politeknik Manufaktur Bandung bergabung di SMK Prakarya Internasional Bandung) atas pengajarannya di bidang kurikulum, kompetensi, dan Lembaga Sertifikasi Profesi), dan juga kepada Bapak Jasman selaku Direktur Akademi Teknik Soroako yang menugaskan saya selepas selesai sekolah Magister untuk melakukan evaluasi terhadap kurikulum versi 2012 ATS.

 

Soroako, 19 Februari 2016

Dosen Akademi Teknik Soroako

Ir. Duddy Arisandi, S.T., M.T.

 

 

 

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 20, 2016 in Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

8 responses to “PERUBAHAN PARADIGMA DALAM MENYUSUN / MEREKONSTRUKSI KURIKULUM TEKNIK MESIN BERDASARKAN KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI), SNPT (STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI), DAN LSP-LMI (LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI-LOGAM DAN MESIN INDONESIA), [Studi kasus D3 Teknik Mesin, Program Studi Teknik Pemeliharaan/Perawatan dan Perbaikan Mesin]

    • Duddy Arisandi

      Februari 24, 2016 at 3:33 am

      Terimakasih kembali Bapak Hasdiansah, semoga bermanfaat. Jangan lupa kalau ada masukan atau koreksi untuk kedepannya Pak, dengan senang hati akan saya terima dan pelajari.
      Wassalam
      Duddy Arisandi

       
  1. hasdiansah

    Februari 24, 2016 at 3:03 am

    terima kasih pak, infonya penting banget

     
    • Duddy Arisandi

      Maret 14, 2016 at 2:24 am

      Sama-sama Bapak Hadiansyah. Semoga dapat membantu.
      Wassalam
      Duddy Arisandi

       
  2. wahyono

    Maret 12, 2016 at 3:33 am

    Bagaimana dg lembaga/yayasan pendidikan tingkat menengah yg sebagian peralatan untuk mendukung kompeten pd LM kurang memadai bahkan tidak ada, bisakah terwujud selaras dg paparan LMI.Kiranya masih butuh waktu dan sarana yg menunjang. Terimakasih, sukses buat LSP LMI.

     
    • Duddy Arisandi

      Maret 14, 2016 at 2:24 am

      salam kenal Pak Wahyono, betul Pak bahwa pelaksanaan untuk TUK (Tempat Uji Kompetensi) akan memerlukan fasilitas dan biaya yang tidak sedikit. Semoga menjadi perhatian DIKTI dan DIKBUD untuk memfasilitasinya. Akan berat sekali jika fasilitator tersebut tidak dipermudah.

       
  3. Ari Kurniawan

    November 18, 2016 at 9:35 am

    Dear Pak Duddy….salam kenal, ini kunjungan saya yg sdh kesekian kalinya, sangat menggugah & mengginfirasi saya, banyak sekali ilmu yg bapak bagi….terima kasih…mohon ijin saya utk mendownloadnya (yg entah kapan saya akan bisa membacanya satu persatu…hehe), mohon sekiranya bapak berkenan…utk membagi saya file tulisan yg bapak tulis ini, karena isinya sangat membantu saya untuk ikut andil dalam pengembangan kurikulum prodi. teknik mesin di kampus saya, sehat & sukses selalu Pak Duddy….

     
    • Duddy Arisandi

      November 23, 2016 at 12:38 am

      Terimakasih mas, barusan saya akan coba kirim file wordnya (supaya gambarnya bisa diperbesar sendiri).
      Namun besar filenya 17.502 KB, melebihi batas kapasitas pengirimannya.
      Punya solusi untuk pengirimannya ? Google drive atau Dropbox?
      Salam kenal dan amin atas doanya, sukses selalu juga.
      Wassalam
      Duddy

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: