RSS

POLITEKNIK MASA DEPAN (POLYTECHNIC, THE FUTURE), Dari GTM (Gambar Teknik Mesin) Menuju TRIZ (Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadach) / TIPS (Theory of Inventive Problem Solving)

19 Okt
POLITEKNIK MASA DEPAN (POLYTECHNIC, THE FUTURE), Dari GTM (Gambar Teknik Mesin) Menuju TRIZ (Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadach) / TIPS (Theory of Inventive Problem Solving)

SEKAPUR SIRIH “PARADIGMA dan HARAPAN BARU”

Menapaki jalan melalui rangkaian institusi pendidikan yang berbeda telah menyadarkan saya bahwa ada keterkaitan diantara jalur pendidikan professional dan jalur pendidikan akademik. Keduanya saling melengkapi dengan sifat mutualis simbiolisma untuk menghasilkan terobosan baru di bidang pendidikan teknik mesin. Ternyata pemikiran yang bersifat parsial dapat mengakibatkan kaburnya pandangan dan bahayanya dapat mengakibatkan kesalahan arah dalam penentuan kebijakan pendidikan tinggi. Sudah selayaknya kolaborasi dan sifat integralistik yang menembus dimensi ke-empat dilakukan secara nyata untuk membangun negara ini. Mari kita berkaca terhadap kondisi aktual yang terjadi di lingkungan pendidikan tinggi (khususnya teknik mesin) berikut :

  • Seberapa banyak karya cerdas mahasiswa yang dituangkan dalam bentuk tugas akhir, thesis, ataupun disertasi dapat menjadi produk inovatif yang berjaya saing di negeri ini sehingga nilai tambahnya dapat dirasakan dengan nyata ?
  • Seberapa banyak karya tersebut yang dapat diteruskan menjadi produk masal yang digunakan oleh masyarakat bangsa ini dan bernilai jual ? Hampir dapat dikatakan bahwa sebagian besar karya tersebut tertata rapi di rak pada ruang perpustakaan institusi pendidikan, dan tanpa ada kelanjutannya, dan hanya berupa torehan di katalog perpustakaan bahwa penelitian tersebut pernah dilakukan.
  • Seberapa banyak produk rancang bangun atau hasil rekayasa peniruan yang dapat dipatentkan (Hak Atas Kekayaan Intelektual) ? Jangan-jangan karena ketidakberdayaan sistem pendidikan atau dosen pembimbing, produk yang dihasilkan tersebut merupakan jiplakan dari produk yang telah beredar di masyarakat. Bukankah disebut dengan karya intelektual ? (yang seharusnya originalitasnya tidak hanya dilihat dari karya tulisnya semata namun originalitasnya dilihat juga dari sisi apakah melanggar patent yang ada). Dan seberapa banyak produk yang dihasilkan memenuhi gudang untuk siap dibuang atau bahkan di jual dengan harga kiloan (tidak ada added value) ? Jangan-jangan mahasiswa diajak menjalani alur berfikir bahwa pembuatannya hanya ditujukan untuk mendapatkan nilai mata kuliah saja.
  • Bukankah bahasa komunikasi seorang mechanical enginer berupa gambar tenik ? Namun kerapkali dijumpai bahwa bahasa tersebut hanya merupakan bahasa pemanis saja untuk menghadirkan produk hasil rancang bangun ataupun rekayasa peniruan (silahkan dibuktikan sendiri dengan mengambil sekumpulan gambar dan lakukan pengecekan terhadap kondisi datum feature, datum reference frame, pengendalian geometrik, dan lain-lainnya), yang seharusnya mengikuti suatu kaidah seperti Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan ? Kenapa permasalahan ini begitu serius dan terjadi pada multi disiplin ilmu, multi perguruan tinggi, dan multi industri. Dimanakah letak permasalahannya ? Bukankah bahasa tersebut bersifat universal dan menembus tatanan antar bangsa ?
  • Seringkali dijumpai bahwa terjadi segmentasi fungsi pekerjaan bahwa untuk urusan pembuatan serahkan saja pada lulusan diploma, dan untuk urusan perhitungan ataupun analisis serahkan saja pada lulusan akademik. Padahal melalui hasil rancang bangun ataupun rekayasa peniruan yang dilakukan kedua jenis lulusan tersebut memiliki alur proses yang pasti sama (manufacturing process), dan timbul pertanyaan : dimanakah letak garis perbedaannya ? Apakah pengelola pendidikan memahaminya bahwa lulusannya kelak akan berstatus sebagai mechanical engineer ?
  • Sangat memungkinkan terjadi bahwa beberapa spesialisasi program studi akan tertarik pada suatu topik pengembangan produk. Saya jumpai kasus dalam rancang bangun atau rekayasa peniruan terhadap turbin, dimana spesialisasi konversi enerji menghasilkan suatu kajian produk, spesialisasi fluida dinamik menghasilkan suatu kajian produk, spesialisasi perancangan menghasilkan suatu kajian produk, spesialisasi produksi menghasilkan suatu kajian produk. Yang mana semua kajian produk tersebut sama, hanya kedalaman pokok kajiannya yang berbeda, terbesit di dalam fikiran saya : andai kolaborasi itu dilakukan dengan saling mengayakan maka akan lahir suatu produk inovatif yang kompetitif dan menjadi kebanggaan bangsa ini.

Ternyata masalah tersebut dapat dicari penyebab dan penawarnya, dan salah satunya saya dapati pada tulisan lama yang akan saya paparkan berikut : (ditulis oleh beliau yang berjasa bagi pertumbuhan dan perkembangan pendidikan jalur profesional di Indonesia, dan saya selalu menyebutnya dengan Bapak Politekniknya Indonesia yaitu Bapak Hadi Waratama). Semoga pemaparannya dapat bermanfaat dan membuka paradigm / pola fikiran baru yang akan menyadarkan atau mengembangan pendidikan tinggi di Indonesia (yang terkadang tertidur lelap dibuai mimpi-mimpi indah).

POLITEKNIK MASA DEPAN / POLYTECHNIC, THE FUTURE

(ORASI ILMIAH)

Oleh

Ir. Hadiwaratama, M.Sc.

PENGANTAR

Saya tidak akan mengulangi lagi mengapa Politeknik didirikan di Indonesia sejak Politeknik manufaktur Bandung (POLMAN Bandung) dibuka pada tahun 1975 yang lalu, karena khalayak sudah mafhum adanya. Yang lebih penting adalah bagaimana Politeknik akan menapaki masa depannya.

Dengan diundangkannya UU Pendidikan Tinggi No.12 tahun 2012, maka kita semua wajib memaknainya secara visioner dan konsepsional yang komprehensip dan tajam dalam mereka masa depan kita. Tak ayal lagi, pengalaman nyata dalam perjalanan karyanya selama 37 tahun Politeknik, akan merupakan modal yang paling berharga dalam menoreh lintasan dan capaian kurva masa depannya.

Undang Undang Pendidikan Tinggi tersebut membukakan pintu bagi Politeknik untuk menentukan dan membangun kurva barunya yang bukan merupakan kelanjutan, apalagi linier, dari kurva sebelumnya.

Gambar-1_Kurva Masa Depan PoliteknikGambar 1 (kurva masa depan politeknik)

Belum lama kita menyaksikan di Australia, bagaimana TAFE College (~Politeknik Indonesia saat ini) beralih dari suatu model kurva ke model kurva berikutnya, sampai model kurva baru yang ditapakinya saat ini. Mereka ini awalnya merupakan TAFE College, kemudian berubah status jadi College of Advanced Education, yang bermula dari menyelenggarakan pendidikan S1 dan dikemudian hari juga berlanjut sampai jenjang S2 dan dimana akhir-akhir ini berubah status sebagai full university sampai penyelenggaraan pendidikan S3, dengan identitas University of Applied Science, dari yang sebelumnya Institute of Technology.

Gambar-2_Model Kurva TAFE CollegeGambar 2 (perubahan model kurva pendidikan TAFE College)

POLMAN ini juga pernah dicibir sebagai STM+ , karena mungkin ada STM-, tapi dengan tegarnya jalan terus, karena itu yang dikendaki dunia ekonomi.

MIT-Massachusetts Institute of Technology di AS yang merupakan Top-Markotop nya Pendidikan Tinggi Teknologi dunia juga berawal seperti POLMAN ini, dicibir sebagai craft school pula. Kalau saja di AS saat itu ada STM, mungkin dibilang STM+ juga ? Disiplinnya juga sekeras Polman !

Gambar-3_Model Kurva MITGambar 3 (perubahan model MIT)

Seorang insinyur manca Negara, lupa dari mana, saat berkunjung ke POLMAN pernah mengatakan “Suatu saat kelak, Politeknik anda ini pasti akan menjadi Institut Teknologi”. Anda pasti tahu MIT, orang di Negara mana pun pasti tahu, MIT pada awalnya juga persis seperti sekolah anda ini. Saya hanya jawab “terima kasih”, karena hal itu belum pernah terlintas di benak saya. Saya hanya teringat motto POLMAN, Presisi Ciri Kami, itu melambangkan sikap dan hasil sebuah karya, yang ternyata terbukti dan teruji.

Dalam perwujudan apakah itu ? Learning by doing ! Tepatlah Adigium Ki Hajar Dewantara, tokoh kalau bukan Bapak Pendidikan nasional Indonesia : Ilmu tanpa laku/terapan……kosong, Laku/terapan tanpa ilmu…….kerdil. Aslinya dalam Bahasa Jawa : Ngelmu tanpa laku khotong, Laku tanpa ngelmu cupet.

Gambar-4_Learning by DoingGambar 4 (Learning by doing)

GERBANG MENUJU KURVA BARU

UU Pendidikan Tinggi No.12 tahun 2012 merupakan pintu gerbang bagi Politeknik untuk membangun kurva dan lintasan barunya, yang bukan kelanjutan linier dari kurva yang selama ini ditapakinya. UU tersebut secara umum memberikan kesempatan bagi politeknik untuk mengubah statusnya menjadi full university seperti yang terjadi di Australia, yang sebenarnya juga diikuti oleh lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi Fachhochschule di negara-negara berbahasa Jerman di Eropa, bahkan di Inggris telah lebih lama mendahuluinya, politeknik-politeknik yang sekarang berstatus sebagai universitas penuh. Di AS mungkin sedikit berbeda, kita sulit membedakan antara yang namanya University of Politechnic dan Polytechnic Institute dengan University lainnya, bahkan sebagian berperingkat kelas atas dunia, seperti Rensselaer Polytechnic, Brooklin Polytechnic (Polytechnic Institute of New York University), dll. Yang di Australia dan Negara-negara berbahasa Jerman, termasuk Belanda, menyebut perguruan-perguruan tinggi tersebut sebagai University of Apllied Science. Bisa saja di Indonesia juga akan seperti di AS, yang fokus seperti POLMAN ini akan disebut Institut Politeknik, sedang yang melebar multi program sampai ilmu-ilmu non keteknikan disebut Universitas Politeknik. Kapankah itu akan terjadi ? tergantung kesiapan masing-masing, baik dari tenaga dosen maupun infrastruktur yang diperlukan, terutama fasilitas laboratorium, bengkel maupun studionya.

Gambar-5_Negara-Negara dengan Kurva BaruGambar 5 Negara-negara yang memanfaatkan kurva baru

Seperti yang sekarang telah dilakukan dengan program-program D4-nya yang terkesan sebagai lanjutan linier D3 yang add on sifatnya, selama memenuhi jumlah sks (satuan kredit semester) sebanyak 144-160 sebagai persyaratan kelulusan pendidikan D4 yang berhak menyandang gelar SST (Sarjana Sains Terapan). Bilasaja nanti politeknik akan betul-betul membangun kurva barunya, maka sudah selayaknya mendefinisikan ulang visi-misi kedepannya secara visioner-konseptual-dan saksama dalam menerjuni penghidupan masyarakat dunia yang semakin berlandaskan ilmu pengetahuan dengan dinamika perubahan yang semakin cepat saja. Ini benar-benar masalah yang amat sangat serius bila Negara bangsa ini mau maju, dimana Politeknik akan ikut berperan didalamnya, jangan sampai tergoda oleh sekedar jumlah angka sks yang membuat terlena dari hakiki tujuannya. Dengan kurva baru tersebut, masih akan mampukah, lebih tepatnya maukah politeknik menyelenggarakan program D3 secara fokus dan serius penuh dedikasi seperti sampai saat ini ? Sayang dan maafkan kalau saya meragukannya ! Sejarah membuktikan, lembaga-lembaga yang telah berubah statusnya menjadi Universitas penuh seperti di Australia, pendidikan diplomanya menjadi kegiatan halaman belakang dengan mesin-mesin dan peralatan lamanya, yang hampir-hampir tiada technology updating, bahkan tak ada kaitan atau hubungannya sama sekali dengan kegiatan program-program di kurva barunya.

Mereka membangun identitas dan kebanggaan baru sesuai kurva yang ditapakinya. Mari kita bersikap jujur terhadap motivasi kita sebagai manusia berakal dan berjiwa sehat, tak perlu penuh kepura-puraan. Tetapi selama kita masih di kurva yang lama, mari kita lakukan secara bertanggungjawab, fokus penuh dedikasi. Jangan terlena, mentang-mentang ada gerbang baru !

AKADEMI KUMUNITAS

Mungkin sekali nama Akademi Komunitas yang telah diundangkan dalam UU Pendidikan Tinggi tersebut memang terinspirasi oleh Community College di AS, yang saat ini bahkan telah menyelenggarakan program-programnya dari 2 tahun menjadi 3 tahun, seperti D3 Politeknik kita saat ini, bahkan menjadi gerakan nasional yang dimotori oleh pemerintahan Presiden Barack ObamaIndustri Asosiasi Profesi dan unsur-unsur masyarakat lainnya. Ini disebabkan kenyataan bahwa dalam menghadapi persaingan global, industry-industri AS semakin kekurangan teknisi mahir, sehingga industri-industri mereka semakin off-shoring ke negara-negara lain yang melimpah tenaga terampilnya, di samping mendekati pasar produk-produknya. Untuk menarik kembali off shored industries tersebut dilakukan reonshoring, sehingga untuk bisa memberikan kembali kepada rakyatnya, maka AS menggalakkan pendidikan Community College-nya. Beda dengan AS, Australia tetap mempertahankan dan memperkuat TAFE College nya (Technical and Further Education) sebagai sumber pasok teknisi-teknisi mahir sampai D3, terlepas sama sekali dari domain Pendidikan Tinggi, sekalipun mereka mengadopsi seamless education system. Di TAFE College itulah investasi-investasi dan updating teknologi dilakukan untuk pendidikan Diploma, bukan di tempat-tempat yang sudah menjadi Universitas penuh, dimana memerlukan investasi massif yang berbeda.

Gambar-6_Contoh Gerakan Nasional Pendidikan di AmerikaGambar 6 Contoh Community Colege di Amerika

Haruskah khawatirkah kita bila memilih kurva baru kelak ? Tidak…..! Selama Akademi Komunitas bersosok seperti TAFE College atau Politeknik Kurva lama saat ini. Yang justru pantas kita khawatirkan adalah konotasi Akademi itu, yang orang dapat saja memaknainya sebagai kegiatan teoritis akademis-yang penting memberikan D2 ! Pada hal itu harusnya bersosok Community College AS atau TAFE College Australia ! Mudah-mudahan bangsa ini mampu memaknai system yang diciptakannya, dan mampu mencegah tergesernya Akademi Komunitas ke kegiatan halaman belakang rumah tanpa bobot identitas dan kebanggaan. Jer basuki mawa beya ! Tak ada kesejahteraan tanpa biaya. Legitimasi saja tidak cukup. Akademik dan Terapan, agak abu-abu, kalau akademik itu dipisahkan dari terapan, terlebih untuk engineering dan technology, keduanya merupakan kesatuan utuh antara mind dan doing, mind saja ngalamun (kosong), doing saja kerdil, sekalipun paling tidak ada hasil nyatanya yang bermanfaat, tapi sulit untuk berinovasi kompetetif untuk tatanan antar bangsa.

Inilah yang saya maksud Politeknik harus mendefinisikan kembali visi-misi dan tujuannya, manakala kelak mau menapaki kurva barunya, menganalisa kembali kekuatan dasarnya-budaya laku/doing yang sudah solid dimiliki sepanjang sejarahnya, kelemahan yang harus diatasi, kesempatan dan tantangan yang perlu diantisipasi, penuh kecermatan perhitungan, tak perlu nggege mongsa, tergesa-gesa seolah-olah dunia akan berakhir besok.

KURVA BARU POLITEKNIK

Saya pernah menulis Birupun semakin putih – yang biru semakin biru, maknanya pekerjaan-pekerjaan yang tadinya mengandalkan kemahiran tangan itu semakin bergeser ke arah mengandalkan kecerdasan, scientific mind, sedang yang tersisa memerlukan kemahiran atau ketrampilan yang semakin tinggi pula. Lantas di kurva baru nanti, Politeknik pilih yang mana ? Dua-duanya ! Bangun identitas dan kebanggaan baru yang kompetitif-berani tampil beda ! Itulah hakikat kompetitif. Perkuat budaya penalaran/mind dan pertahankan budaya Laku/hand doing.

Gambar-7_Fase Kurva Baru Polman BandungGambar 7 Jenis kurva baru politeknik

Bila demikian halnya, maka apapun yang kita bicarakan di kelas, harus terverifikasi dalam kegiatan experimental laboratorium atupun bengkel, yang selanjutnya diterapkan dalam karya nyata. Karena hanya dari akumulasi ilmu dan lakulah maka inovasi akan terjadi, yang takkan datang tiba-tiba bagai angin lalu di kehampaan ! Politeknik harus selalu berada di bidang pertemuan induktif dan deduktif, itulah makna kedua-duanya di atas. Jadi kurikulum Politeknik di kurva barunya, harus mengacu pada falsafah di atas, jangan sampai hanya merupakan tempelan-tempelan mosaik mata-mata kuliah sebanyak sks yang disyaratkan. Mampukah demikian ? Harus mampu, dulu juga diciptakan dari tiada menjadi ada ! Itu berlaku baik yang untuk S1, S2, maupun S3 Politeknik. Jangan bedakan putih saja dan biru saja, dua-duanya menyatu bila POLMAN ingin tampil beda dalam karyanya. Itulah karakter MIT ! Jeli dalam melihat kecenderungan masa depan industri dan teknologinya, terlebih-lebih bagi POLMAN yang fokus pada ranah manufaktur. Material baru yang dikembangkan pesat itu akan semakin besar perannya dalam sektor manufaktur dan memerlukan teknik-teknik manufaktur baru, substracting technology akan semakin dikurangi perannya oleh additive manufacturing, demikian pula di sektor foundry akan menghadapi paduan-paduan dan sifat-sifat baru. Demikian pula di sektor otomasinya yang akan membuat pemesinan semakin cerdas, cepat, dan flexible dengan precise netshape dan nyaris zero downtime. Tantangan-tantangan ke depan ini tentu memerlukan antisipasi terlebih-lebih dalam kemampuan inovasi. POLMAN harus bersemangat dan berjuang keras untuk tidak hanya menjadi leader dalam manufacturing engineering and technology di tanah air, tapi juga dalam tatanan antar bangsa. Dan itu harus fokus dan tekun, tidak melebar kemana-mana. Semoga !

Wassalam

Hadiwaratama

Disampaikan pada Sidang Terbuka

Senat Politeknik Manufaktur Negeri Bandung

Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2012/13

Bandung, 28 agustus 2012

ANTISIPASI MASALAH SEJAK DINI MELALUI PENGENALAN METODA BARU

Masalah utama yang pertama : Sudah umum terjadi dalam dunia teknik mesin di Indonesia, bahwa rancang bangun / rekayasa peniruan produk ditujukan terhadap pemenuhan fungsi semata, tanpa memperhatikan kaidah tata bahasa / pedoman acuan didalam pembuatan gambar teknik (silahkan dibuktikan apakah betul di dalam gambar produk yang diajarkan / dihasilkan terdapat suatu proses optimasi terhadap kebutuhan pengendalian geometriknya). Kondisi bertambah parah pada saat menular ke dunia industri juga (silahkan dibuktikan sendiri). Gambar teknik merupakan kaidah bahasa yang akan digunakan untuk berkomunikasi bahkan sampai dengan ke tatanan antar bangsa. Bentuk komunikasi ini dijalin mulai fase tahap awal pendisainan, proses analisa, proses manufaktur, proses inspeksi, proses perakitan, sampai dengan uji coba. Sebelum diproduksi secara massal, maka diperlukan gambar teknik yang benar bahkan untuk tujuan yang sama akan terdapat beberapa jenis gambar teknik untuk produk yang sama.

Gambar-8_Masalah Gambar TeknikGambar 8 Masalah Gambar Teknik

Masalah utama yang kedua : Seringkali terjadi bahwa pembuatan produk / rekayasa produk ataupun system dilakukan dengan mencontek apa yang telah ada (entah itu sistemnya, mekanismenya, fungsinya, strukturnya, dan lain-lain). Seolah-olah dinyatakan bahwa solusi teknik mesin akan berasal dari teknik mesin itu sendiri (kita terpaku oleh solusi yang berasal dari domain kita kesehariannya sebagai mechanical engineer). Metoda Inovasi dan Kreativitas hanya didasari oleh apa yang ada di kepala dosen pembimbing ataupun mahasiswa, bahkan system pendidikan pun tidak mengarahkannya (akan sulit berdebat dengan orang yang berpengalaman jika tidak menggunakan suatu metodologi, dan berdebat bukan berarti hanya mengeluarkan apa yang ada di dalam kepala). Akhirnya, produk yang dihasilkan mati suri, tidak layak untuk diproduksi massal bahkan tidak layak untuk dipatentkan (alias sia-sia belaka, kalaupun bermanfaat hanya sebatas bagi urusan nilai akademik semata-mata). Belum pernah terbayangkan oleh mahasiswa (bahkan dosen sekalipun) bahwa solusi dari masalah bisa berasal dari luar bidang teknik mesin, semisal : pemanfaatan pulsanisasi, pemanfaatan gelombang elektromagnetik, perforasi dan lain sebagainya (yang sudah dibuktikan keampuhannya oleh beberapa perusahaan besar seperti : Samsung, P&G, Boeing, Mitsubishi, Toyota, VW BWM dan lain-lainnya). Yang mulai dari kita bangun tidur dikala subuh sampai dengan tidur lagi dikala malam, dibanjiri oleh produk-produk yang menggunakan metoda Inovasi dan Kreativitas.

Gambar-9_Contoh Penerapan TRIZGambar 9 Metodologi Kreativitas dan Inovasi

SOLUSI MASALAH UTAMA YANG PERTAMA

Perbaikan Kualitas Gambar Teknik Sebagai Bahasa Komunikasi antar tatanan bangsa

Akan panjang dan membutuhkan waktu lama untuk menjelaskan tahapan yang perlu dilakukan, untuk menyingkatnya kita mulai dari pemahaman mengani pentingnya gambar teknik bagi suatu organisasi dan tahapan silahkan diunduh di menu blog : Karya Tulisku–>Paper & Slide pemakalah SNTTM 2015.

Gambar-10_Pentingnya Gambar Teknik Bagi OrganisasiGambar 10 Pentingnya Gambar Teknik Bagi Organisasi

SOLUSI MASALAH UTAMA YANG KEDUA

Permasalahan yang kedua akan dipecahkan menggunakan metoda TRIZ (Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadach) atau TIPS (Theory of Inventive Problem Solving), suatu metode yang menjelaskan bagaimana menjadi kreatif dan inovatif dalam pemecahan masalah, yang dikembangkan oleh Genrich Alltshuller dan kelompoknya. Dengan menggunakan teori kontradiksi kita akan dituntun oleh TRIZ ke arah 40 Solusi Inventif. Dan sebagai salah satu contoh, akan saya paparkan salah satu tugas mata kuliah magister FTMD-ITB (MS6069/TRIZ : Creativity and Innovation) yang pernah saya lakukan. Saya masih memerlukan waktu banyak untuk mempelajarinya dan lebih memahaminya sehingga dapat mengaplikasinya di kemudian hari untuk perbaikan di bidang apapun. Tak lupa saya haturkan terimakasih yang tak berhingga kepada bapak Dr.Ir. Taufiq Rochim dan Dr. Ing. Indra Djodikusumo yang telah mengenalkan dan mengajarkannya kepada kami. Saya paparkan contoh kasus sederhana sebagai berikut :

METODA ANALISIS FUNGSI

  • LANGKAH 1 (Mendefinisikan model yang cocok bagi suatu sistem)

LATAR BELAKANG :         Pada saat beroperasi selama 1 tahun terjadi penggantian bantalan bola (deep groove ball bearing single row 6008) sebanyak 4 kali dan terjadi kebocoran pelumas dari dalam kepala tetap mesin bubut (head stock).

PICCO-450 :                       

 Gambar 11_Mesin Bubut Piccolo_PMS Picco-450

Gambar 11 Mesin Bubut Piccolo / PMS Picco-450

MENENTUKAN BATAS – BATAS SISTEM : (Kepala tetap mesin bubut / head stock) :

 Gambar 12_Batas Sistem Kepala Tetap Mesin Bubut

Gambar 12 Batas sistem (kepala tetap mesin bubut / head stock)

 Gambar 13_Gambar Susunan Sistem Transmisi Kepala Tetap

Gambar 13 Gambar susunan (poros transmisi pada head stock)

MENENTUKAN BATAS – BATAS SUB SISTEM : (bagian ujung poros transmisi) :

Gambar 14_Sub Sistem Poros TransmisiGambar 14 Sub sistem poros transmisi

  • LANGKAH 2 (Membuat matriks interaksi fungsi)

Gambar 15_Matriks Interaksi FungsiGambar 15 Matriks interaksi fungsi

  • LANGKAH 3 (Membuat diagram interaksi secara grafis)

 Gambar 16_Diagram Interaksi Fungsi Secara Grafis

Gambar 16 Diagram interaksi fungsi secara grafis

  • LANGKAH 4 (membuat daftar masalah)

DAFTAR MASALAH KEBOCORAN PELUMAS DAN KERUSAKAN PADA BANTALAN :

  1. Terjadi kerusakan pada bearing sebanyak 4 x dalam 1 tahun (berbahaya).
  2. Pelumas yang ditampung di rumah head stock berkurang (berbahaya).
  3. Pelumas keluar dari celah pada bantalan bola dan mengalir keluar rumah head stock (berbahaya).
  4. Penutup yang berfungsi sebagai pelindung bagian dalam rumah head stock terhadap kotoran dari luar, menjadi celah bagi keluarnya pelumas dari dalam rumah head stock ke luar (tak cukup).
  5. Tekanan pada saat pengikatan baut yang tidak seragam dapat mengakibatkan pelumas mengalir ke luar rumah head stock (tak cukup)
  • LANGKAH 5 (mengurutkan daftar masalah)

Tabel 1 Urutan daftar masalah

Tabel-1_Urutan Daftar Masalah

  • LANGKAH 6 (penyelesaian masalah)

 MODEL SUBSTANSI DAN MEDAN : 

Gambar 17_Model Materi dan MedanGambar 17 Model substansi dan medan

ANALISIS SUBSTANSI DAN MEDAN :

 Gambar 18_Analisis Substansi dan Medan Gambar 18 Analisis substansi dan medan (substances-field analysis)

 

 TRIZ 76 STANDAR INVENSI :        

Gambar 19_76 Standard Invensi TRIZGambar 19 Tujuh puluh enam (76) Standar invensi TRIZ (76 Inventive standard)

 

KESIMPULAN (penyelesaian masalah)

  • Mengganti nomor seri bantalan bola sehingga memiliki pelumas mandiri dan penyekat mandiri di dalam bantalan tersebut. Fungsi melumasi bantalan tetap terpenuhi dan dapat mencegah bocornya pelumas pada jenis bantalan sebelumnya.

Gambar 20_Modifikasi Jenis Bantalan BolaGambar 20 Modifikasi jenis bantalan bola

  • Menambah seal / penyekat yang ditempatkan pada penutup rumah head stock. Bantalan akan tetap terlumasi oleh pelumas yang ditampung di rumah head stock, dan pelumas yang melalui bantalan tersebut dapat dihambat oleh seal/penyekat sehingga tidak bocor keluar dari rumah head stock.

Gambar 21_Modifikasi Penutup Sistem TransmisiGambar 21 Modifikasi penutup sistem transmisi

 

 METODA ROOT CONFLICT ANALYSIS (RCA+)

  • LANGKAH 1 (Uraian efek negatif)

Gambar 22_Uraian Sub Sistem TransmisiGambar 22 Sub sistem transmisi

Dengan menggunakan bantalan bola yang dilumasi menggunakan metoda percikan, maka geseekan diantara poros dan rumah kepala tetap dapat dihindarkan, namun bantalan bola tersebut menjadi tempat laluan pelumas dan mengalirkannya ke luar rumah head stock.

Gambar 23_Efek Negatif Penggunaan Bantalan BolaGambar 23 Efek negatif penggunaan bantalan bola

  • LANGKAH 2 (Uraian penyebab efek negatif)

Bagian sisi bantalan bola tidak tertutup, sehingga celah diantara elemen bola menyebabkan pelumas dapat mengalir ke sisi lainnya.

Gambar 24_Penyebab Laluan Pelumas Melalui Bantalan BolaGambar 24 Penyebab laluan pelumas melewati bantalan

  • LANGKAH 3 (Memeriksa kemungkinan penyebab lainnya)

 Gambar 25_Dua Penyebab Efek Negatif (hubungan AND)

Gambar 25 Dua penyebab efek negatif (hubungan AND)

  • LANGKAH 4 & 5 (Mencari penyebab efek positif , penyebab pasangannya atau penyebab pada rantai berikutnya)

 Gambar 26_Efek penyebab positif, Pasangannya, atau Rantai berikutnya

Gambar 26 Efek penyebab positif, pasangannya, atau rantai berikutnya

  • LANGKAH 6 (Memerikas apakah ada penyebab ‘-‘ yang harus dijadikan penyebab pasangan ‘+’ untuk hal lain, atau dicari penyebab pada tingkat di bawahnya)

Gambar 27_Pemeriksaan Pasangan Penyebab atau Mencari Penyebab di Tingkat BawahnyaGambar 27 Pemeriksaan pasangan penyebab atau mencari penyebab di tingkat bawahnya

  • LANGKAH 7 (Membuat table daftar penyebab)

Table 2 Daftar penyebab berdasarkan diagram RCA + (root cause analysis)

 Tabel 2_Daftar penyebab berdasarkan diagram RCA +

 

  • LANGKAH 8 (Penentuan cara penyelesaian akar masalah)

Pada diagram RCA terdapat :

  1. Penyebab Negatif yang memiliki pasangan positif (hubungan AND)à salah satu penyebab dihilangkan maka efek negative dapat dihilangkan.
  2. Penyebab negative yang tidak memiliki pasangan positif dan merupakan penyebab rantai pasangan. Jika penyebab yang berada di atasnya teratasi maka penyebab yang berada dibawahnya akan juga teratasi.
  • LANGKAH 9 (Menggunakan metoda TRIZ untuk menghilangkan kontradikasi)

Table 3 Matriks kontradiksi (contradiction matrix) dan Usulan Solusi (tataran abstrak) Tabel 3_Matriks kontradiksi dan Usulan Solusi (tataran abstrak)

Untuk contoh kasus di atas yang sering muncul adalah Prinsip No. 40. [KOMPOSIT]

Benda padat dari suatu jenis material yang homogeny bias digantikan dengan benda padat berongga yang terdiri atas inti yang dilapis dengan beberapa lapis bahan yang berbeda orientasi/arah serat-seratnya.

Benda komposit selain lebih ringan juga lebih kuat dalam menahan beban daripada benda massif dari suatu jenis bahan.

Permukaan benda (bagian dari benda, atau komponennya) dilapisi dengan membrane atau lapisan yang memiliki sifat seperti yang diinginkan terhadap lingkungan untuk melindungi benda melaksanakan fungsinya dalam suatu sistem.

Gambar 28_Solusi Akhir untuk Mencegah Kebocoaran PelumasGambar 28 Solusi akhir untuk mencegah kebocoran pelumas

Demikian tulisan ini disusun dengan kekurangan dan kelebihannya untuk tujuan memperbaiki diri penulis dan menyongsong hari esok di bumi pertiwi dengan lebih bersemangat lagi dan keinginan untuk berkolaborasi. Penulis tambahkan ilustrasi gambar pada dokumen orasi ilmiah untuk mempermudah mempelajari maknanya bagi penulis. Semoga bermanfaat, dan mohon dimaafkan bila ada kekhilafan yang tersurat atupun yang tersirat yang menyinggung pembaca sekalian.

Bandung, 18 Oktober 2015

Duddy Arisandi

23113030

Teknik Produksi

Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara

Institut Teknologi Bandung

(FTMD-ITB)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 19, 2015 in Pendidikan

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: