RSS

PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (COMPETENCY BASED CURRICULUM DEVELOPMENT) SEBAGAI PERSIAPAN PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) dan SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi) di Indonesia

29 Des
PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (COMPETENCY BASED CURRICULUM DEVELOPMENT) SEBAGAI PERSIAPAN PENGEMBANGAN KURIKULUM  BERBASIS KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) dan SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi) di Indonesia

SEKAPUR SIRIH ‘BENANG KUSUT DAN HARAPAN KITA’

Apakah yang menyebabkan kebijakan pengubahan kurikulum dilakukan dalam tempo yang sangat cepat sekali? Bukankah kebijakan seharusnya menjadi rujukan dalam penerapannya? (bukankah tinjauan terhadap pengembangan kurikulum dilakukan dalam tempo 5-10 tahun ?)

Kenapakah reaksi keras terhadap kebijakan pemberlakuan kurikulum baru datang dari segenap lapisan masyarakat ? (dimulai dari murid/siswa, orangtua, guru, kalangan akademis dan non akademis, bahkan sampai pada tingkatan pengambil keputusan ? (bukankah sudah ada mekanisme/prosedur yang mengaturnya ?)

Apakah tidak terjadi komunikasi yang sejalan diantara unsur-unsur yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung terhadap pemberlakuan kurikulum baru ? (sampai-sampai masuk ke ranah politik, dan orang yang tidak berkompetenpun angkat bicara untuk mempengaruhi keputusan terhadap arah kebijakannya)

Dunia pendidikan telah mengenal segmentasi berdasarkan rumpun teknologi dan peringkat (kita lihat rangking perguruan tinggi Indonesia dan berhasil masuk ke peringkat dunia), namun sejauh manakah rangking tersebut dapat mewujudkan pemerataan yang berkeadilan di Bangsa ini ?

Di saat era teknologi berkembang pesat (segala sesuatunya dapat diperoleh dengan cepat melalui mbah Google), masih saja ada perguruan tinggi ‘berkelas-mapan’ yang sungkan untuk berbagi dengan perguruan tinggi ‘berkelas-berkembang’. Beberapa perguruan tinggi yang ada dengan masalahnya sendiri harus memulai sesuatu dengan tertatih-tatih untuk menuju mapan, dan terkadang memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bukankah pendidikan yang sama rasa, sama rata, dan berkeadilan tidak mengenal pengkotakan ? (akankah sekolah yang maju akan semakin maju, dan yang sedang berkembang akan berjalan tertatih-tatih bahkan harus menutup perguruan tinggi / jurusan / program studi-nya ?

Anggaran pendidikan itu terbatas dan berumber dari pembiayaan Negara dan dari rakyat, bukankah sudah sewajarnya perguruan tinggi / jurusan yang sudah mapan dapat membiayai dirinya sendiri ? Sehingga alokasi biaya pendidikan dapat disalurkan kepada yang lebih berhak mendapat perhatian penuh ? (sudah sejak lama dirintis bahwa perguruan tinggi mapan akan menjadi BHP dll, sayangnya………………..)

Kekayaan yang dimiliki bangsa kita membuat iri bangsa-bangsa lainnya, namun relakah kita akan kenyataan bahwa pengelolaannya tidak dilakukan oleh anak bangsa dengan alasan ‘tidak kompeten’ atau ‘tidak bisa bersaing di pasar global ketenagakerjaan’ ? Semua anak bangsa berhak mendapatkan pekerjaan yang layak, walaupun ia tidak bersekolah atau terputus sekolah di tengah jalan, atau tamatan SD sekalipun. Pekerjaan rumah terbesar kita adalah memikirkan jalan keluar bagi mereka (bukan salah mereka dan juga bukan keinginan mereka untuk tidak bersekolah setinggi mungkin)

Bukankah telah diajarkan kepada kita bahwa kejadian alam semesta dan tubuh kita diciptakan secara bertahap ? Bukankah telah diketahui bahwa perjalanan dalam diri manusia juga dilalui secara bertahap dalam wujud jasmani dan rohani ? (Tetap saja melaui media yang ada kita disuguhkan tayangan media berupa santapan kejadian : korupsi, pelanggaran hak hidup manusia, perkelahian antar pelajar, dampak minuman keras dan obat-obatan terlarang, suguhan sex bebas, hiburan lawakan dan gossip artis setiap hari. Bukankah ironis bahwa para pelaku adalah orang-orang yang pernah mengenyam dunia pendidikan ? Bahkan kerapkali pelaku berasal dari orang-orang terpandang di negeri ini ? Bahkan beberapa diantaranya adalah pelaku yang berkecimpung di dunia pendidikan ? Apakah kondisi tersebut merupakan hal lumrah yang dapat kita tolerir sebagai konsekwensi di saat kita sedang belajar berdemokrasi dan bertoleransi ?

Apakah terjadi diskontinyuitas di dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia ? (yang terjadi pada terminal-terminal tingkat satuan pendidikan TK/TPA-SD/Madrasah-SMP/Tsanawiyah-SMU/SMK/Aliyah-PT). Apakah terputusnya ‘jalur benang pendidikan’ di Indonesia mengakibatkan : kita lupa akan jati diri bangsa kita, kita lupa dimana kita berpijak, kita lupa akan kewajiban dan hak sebagai anak bangsa, kita lupa bahwa kekayaan bangsa ini untuk seluruh rakyat kita, dan terakhir kita telah lupa bahwa pada saatnya nanti kita akan kembali kepada Yang Maha Memiliki ? (kata ‘lupa’ sejalan dengan tidak tahu atau tidak sengaja)

Semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini dapat menggugah kita untuk melakukan revolusi mental dan bekerja lebih keras lagi. Minimal menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air dengan segala permasalahan yang ada di Bangsa ini. Baik atau Buruk, kita hidup di bumi tercinta ini, dan keberlangsungannya akan tergantung kepada kita sebagai anak bangsa.

Kenapa penulis memilih tema berkaitan dengan kurikulum ? Karena saya takut dengan label profesi yang saya emban sebagai seorang dosen, dikala masih banyak kekurangan sebagai seorang pribadi yang belum dapat memberikan teladan yang baik sebagaimana mestinya, terlebih sebagai seorang muslim. DAN, saya merasa sektor kurikulumlah yang dapat mengakibatkan deviasi besar yang dapat mengakibatkan bangsa ini terpuruk.

BAGIAN I
DEFINISI TENTANG KURIKULUM DAN KOMPETENSI

Percaya atau tidak percaya, masih banyak diantara kita sesama anak bangsa yang masih belum tepat dalam menginterpretasikan kurikulum. Terlebih jauh terjadi tumpang tindih dan saling mendisposisikan tugas terkait dengan pembuatan dan penerapannya. Setiap orang boleh-boleh saja berbicara dan bersilang pendapat mengenai kurikulum, namun kita semua sepakat bahwa KUALITAS KURIKULUM merupakan faktor penting untuk mencapai keberhasilan mutu pelaksanaan pendidikan dan pencapaian mutu kompetensi lulusan.

• Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman kegiatan belajar mengajar, yang terdiri atas unsur-unsur : Mata kuliah, Kompetensi berdasarkan kebutuhan pelanggan, Bobot (sistem kredit semester) setiap mata kuliah, Deskripsi mata kuliah (sinopsis), yang dilengkapi dengan kepustakaan, Pengelompokkan mata kuliah berdasarkan jenis dan tujuannya, Penyebaran mata kuliah setiap setiap semester, Pengkodean mata kuliah.
• Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan, ketrampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut di tempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

Dalam pandangan modern, kurikulum merupakan sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Pada proses belajar mengajar akan terjadi interaksi antara siswa/murid yang merupakan pengalaman belajar (interaksi sosial maupun fisik). Sehingga kurikulum akan memiliki tujuan, isi, pola belajar mengajar dan evaluasi.

Suatu cita-cita bahwa kurikulum dapat diakses oleh seluruh anak bangsa dan dikelola melalui piranti teknologi informasi yang canggih. Dan tidak hanya dimonopoli oleh diknas, pengguna lulusan, dan institusi pendidikan tertentu, atau dosen dan para pengajar. Semua lapisan berhak untuk mengetahui, dapat mempelajarinya, dapat berbagi bersama, dan dapat memberikan masukan. Tidak semua orang berkesempatan untuk melakukan benchmark, mengikuti pelatihan, ataupun mengikuti proyek terkait kurikulum, dikarenakan keterbatasan waktu, biaya, dan tempat, sehingga dengan kemudahan akses tersebut akan mereduksi waktu dan biaya di dalam pengembangannya bagi siapapun yang berkepentingan dan dimanapun dia berada.

01_Skematik Kurikulum dan Pengelolaan untuk Akses Publik_DA
Gambar 1 Skematik kurikulum dan pengelolaannya untuk akses publik

Umumnya pengembangan kurikulum diawali dengan menentukan kompetensi apa yang akan dicapai. Masalah yang sering terjadi adalah menentukan kompetensi berikut turunan kompetensi (sejauh dan sedalam apa kebutuhannya oleh pengguna lulusan. Tentunya kita ingin mengkolaborasikan juga bahwa pengguna lulusan memiliki rasa tanggungjawab dalam membentuk kompetensi (tidak hanya untuk mendapatkan lulusan terbaik dengan Indeks prestasi tertentu).

Faktor berpengaruh lainnya adalah sejauh mana kita dapat menentukan, mengkolaborasikan kompetensi beserta turunannya untuk menghadapi bursa global ketenagaakerjaan. Pembentukan kompetensi dilakukan secara kontinyu dan bertahap mulai dari tingkat satuan pendidikan terendah sampai dengan tertinggi. Hal tersebut dilakukan secara kontinyu mengingat hasil lulusan pada suatu tingkatan akan menjadi persyaratan awal bagi pendidikan di jenjang berikutnya. Satu pertanyaan yang timbul di benak saya adalah siapakah bagian yang berwenang untuk merajut kekontinyuan kompetensi tersebut ? Jangan-jangan setiap satuan pendidikan memiliki konsep kompetensi yang terpisah, saling tumpah tindih, dan terjadi diskontinyuitas di dalam pelaksanaannya.

02_Kontinyuitas Keterkaitan Kompetensi vs Materi Ajar_DA
Gambar 2 Kontinyuitas keterkaitan kompetensi vs materi ajar

Terkadang suguhan informasi mengakibatkan bias yang kontra tujuan, dan bahayanya jika telah mengakar di masyarakat kita seperti :
• Pelajaran matematika dimulai sejak TK sampai pendidikan tinggi, namun saya pernah mendapatkan bahwa mahasiswa pada tingkat pendidikan tinggi masih sulit untuk menyelesaikan operasi pecahan (padahal selama 12 tahun waktu yang diperlukan untuk belajar matematika).
• Pelajaran Bahasa Inggris dimulai sejak TK sampai pendidikan tinggi, namun saya pernah mendapatkan juga bahwa mahasiswa pada tingkat pendidikan tinggi tidak dapat membaca ataupun minimal menulis untuk kebutuhan laporan (padahal selama 12 tahun waktu yang diperlukan untuk belajar bahasa Inggris).
• Di sisi lainnya kita mendapatkan hasil bahwa berdasarkan Ujian Nasional Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2009 diperoleh hasil sebagai berikut :

03_Hasil Nilai UN 2008-9_Lap BSNP 2009_DA
Gambar 3 Hasil Nilai Ujian Nasional Tahun 2008/9 (Laporan BSNP 2009)

BAGIAN II
PENGEMBANGAN KURIKULUM

BIAYA YANG BESAR DAN WAKTU YANG LAMA

Kurikulum memiliki kandungan tekstual (format) dan kontekstual (isi). Format kurikulum bangsa kita dikenal mayarakat pendidikan dunia dan banyak pengakuan atas kehandalannya. Kehandalannya berupa parameter yang dimilikinya sehingga cross check terhadap berbagai fungsi dan sisi penerapannya sulit untuk dibohongi (baca Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008, Panduan Penilaian BAN-PT, Panduan BSNP).

Esensi dari pengubahan kurikulum dapat ditinjau melalui kedua jenis kandungan di atas, apakah secara tekstual ataupun secara kontektual. Umumnya pengembangan kurikulum dilakukan secara parsial. Apapun perubahannya, wujudnya tetap sama yaitu kurikulum, namun wajahnya dapat berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi yang ada. Walaupun wajahnya berubah-ubah, tetap harus dapat mengakomodir persyaratan dan tujuan dari kurikulum tersebut, yang merupakan perangkat utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Namun kedalaman kajiannya dapat berbeda disesuaikan dengan kadar kemampuan pengelolaan di lapangan.

Pada awalnya akan terasa rumit dengan format yang ada, redundasi penulisan, banyaknya form yang harus dibuat, dan lain-lain (terlebih bagi seseorang yang baru mengetahuinya), namun seiring berkembangnya sistem informasi maka bukannya mustahil untuk mengelolanya secara sederhana dan mudah. Siapapun dapat mengikuti formatnya, namun kandungan isinya perlu pemahaman yang dalam tentang kurikulum untuk menerjemahkannya, terlebih berkaitan dengan kompetensi lulusan.

04_Model Pengembangan Kurikulum Ideal S1-ACS-2000_DA
Gambar 4 Model pengembangan kurikulum ideal bagi S1 di Indonesia

Sebagai salah satu model pengembangan dapat dilihat pada gambar 4, yang dihasilkan oleh program Academic Consultancy Services (ACS) melalui proyek Engineering Education Development Project yang didanai oleh Asian Development Bank (ADB) pada laporan tahun 2000. Laporan lengkap dibukukan dengan judul “Curriculum Development – S1 Engineering Programs in Indonesia” (Dr. Malcom J. Jones/Editor). Dalam salah satu sub-bab, dijelasakan sebagai berikut :

Suatu model kurikulum ideal di Indonesia harus memunuhi beberapa kriteria berikut:
1. Harus dapat melayani kedua pengelompokkan perguruan tinggi dalam katagori ‘mapan/establish’ dan ‘berkembang/developing’.
2. Harus dapat memperbaiki kualitas pendidikan teknik di Indonesia.
3. Harus memperbaiki relevansi pendidikan teknik di Indonesia, Internasional, nasional, dan lokal.
4. Harus memperbaiki akses ke pendidikan teknik di Indonesia.
5. Harus memperbaiki efisiensi pendidikan teknik di Indonesia.

Kata kunci melalui gambar 4 adalah:

1. BAN akan melakukan pengesetan terhadap Kriteria Kurikulum Teknik Nasional dalam bentuk buku pedoman, dan menyediakan contoh bagi kurikulum teknik nasional berdasarkan pedoman yang dibuat. Catatan : Seluruh fungsi terlebih dulu diajukan kepada Engineering Quality Assurance Commission (EQAC), dan sebagai hasil diskusi diantara DGHE dan ADB, harus dilakukan juga oleh BAN (Badan Akreditasi Nasional).
2. Pedoman tersebut kemudian dapat digunakan oleh institusi pendidikan tinggi untuk mengembangkan kurikulum yang dimilikinya dan mengajukannya kepada lembaga akreditasi. Perlu dicatat bahwa akreditasi dilakukan terhadap program dan bukan bagi institusi.
3. Perguruan tinggi dalam tahap pengembangan akan didukung oleh lembaga National Resource Center yang akan mengsupervisi perguruan tinggi tersebut dalam pengembangan kurikulum, silabus detail, sumber daya laboratorium, sumberdaya pengajar, implementasi teknologi baru dan lain sebagainya.

Dalam suatu bentuk model transisi, maka masalah yang akan timbul adalah untuk menjumpai solusi sementara, yaitu untuk berkembang dari kondisi yang ada sekarang menuju bentuk yang lebih kurang mendekati Model Kurikulum Nasional (bergerak ke arah model yang lebih efektif, yang akan memerlukan pertimbangan waktu untuk mengimplementasikannya).

Tiga alternatif utama bagi format Kurikulum Nasional tersedia dalam bentuk :

1. Menggunakan Kurikulum Nasional yang ada, tetapi mengembangkan silabus untuk setiap mata kuliah dengan sedikit lebih dalam.
2. Menyalin kurikulum nasional yang lebih berorientasi kepada kandungan isi dibandingkan dengan subjek mata kuliah, sebagai contoh Panduan Kurikulum Nasional.
3. Model hybrid yang akan mengeset pedoman, tetapi juga termasuk contoh kurikulum berdasarkan pedoman tersebut.

Model yang ketiga direkomendasikan karena akan melayani perguruan tinggi dalam kelompok taraf mapan/establish dan berkembang/development.

Dalam perjalanannya, aturan BAN telah berkembang, termasuk pengembangan Pedoman Kurikulum Nasional untuk individu setiap universitas dan untuk menyediakan program akreditasi. Hal ini akan menyemangati pengembangan kurikulum bagi setiap universitas.

Pendapat saya : Sejauh mana diknas dan BAN telah menyiapkan template kurikulum nasional bagi pendidikan di Indonesia ? Penekanan lebih ditujukan ke format kurikulum atau ke isi kurikulum ? Seringkali, perguruan tinggi berkembang secara sendiri-sendiri dan disesuaikan dengan kapasitas yang dimilikinya. Padahal dalam laporan buku tersebut telah dituliskan dengan sangat bijaksana bahwa template kurikulum itu harus ada, baik berhubungan dengan format penulisan maupun dengan isi. Kenapa sulit sekali dalam melakukan penyeragamannya ? Mari kita mulai dengan penyeragaman format dulu baru ke isi, atau kedua-duanya kita lakukan secara sekaligus bersamaan. Di sisi lain, jiwa terbuka dari setiap perguruan tinggi perlu dibangun untuk menyeragamkan kurikulum, karena tujuan terpenting bangsa ini adalah pembangunan seutuhnya dan merata bagi seluruh anak bangsa.
INSTRUMENT KURIKULUM YANG HANDAL

Berbagai standar acuan telah kita miliki, bahkan pembanding dari sumber luar negeri pun dapat kita akses dengan mudah. Satu hal yang perlu kita fahami, bahwa pengembangan kurikulum yang kita lakukan tidak hanya berpedoman kepada buku panduan penyusunan kurikulum belaka, kita harus melihat beberapa faktor/parameter lainnya yang bersumber dari beberapa badan/institusi yang ada. Silahkan dibuka Standar isi pada BSNP, Standar 5 pada BAN-PT, Bagian 5-Effective Learning & Teaching pada buku TQM in Education. Kita semua dapat melihat bahwa bentuk generic kurikulum adalah sama, dan perbedaan kecil yang ada akan saling melengkapi. Janganlah kita katakan bahwa perbedaan yang ada sebagai pertentangan, namun sebagai suatu kekuatan yang saling mendukung (asalkan kita pandai meramunya).

05_Standarisasi Pendidikan Terkait Kurikulum_DA
Gambar 5 Standarisasi Pendidikan terkait kurikulum

Bagaimanapun keadaannya, pendidikan akan tetap dan terus berjalan. Lantas dengan ketidak sempurnaan yang ada, apakah akan kita biarkan ? Tentunya banyak upaya yang dapat dilakukan untuk memajukan generasi ke depan. Yang sudah terjadi biarlah berlalu, yang terpenting adalah apa yang harus kita siapkan sekarang ini ?

KEMANAKAH KOMPETENSI KITA AKAN BERKIBLAT ?

Dalam pengembagan kurikulum, yang dijadikan acuan adalah sejauh mana kompetensi yang akan dihasilkan bagi seorang lulusan, sejauh mana elemen-elemen pembentuk kompetensi tersebut akan dihasilkan melalui pembelajaran suatu mata kuliah. Bak pepatah ‘gantungkanlah cita-cita mu setinggi langit’, maka dalam merumuskan kompetensi yang diharapkan pun demikian (kita sebagai manusia merupakan suatu titik koordinat yang dapat ditinjau secara institusi, local, nasional, dan internasional). Suatu hal yang fantastis jika kita dapat melakukan pengubahan bertaraf internasional, namun tidak jarang (bahkan sudah merupakan suatu keharusan) bahwa kondisi-kondisi yang berlaku secara internasional lah yang akan memaksa kita untuk melakukan pengubahan (seperti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, naiknya harga bbm, dan bursa tenaga kerja global). Kita tidak bisa lari dari percaturan dunia internasional, dan mau tidak mau kita harus menyiapkan peserta didik kita agar mereka mampu bersaing secara global. Untuk hal tersebut, maka sudah selayaknya dalam menentukan kompetensi dapat kita tinjau bagan berikut:

06_Menentukan Kompetensi & Interaksi Kompetensi_DA

Gambar 6 Menentukan Kompetensi & Interaksi Kompetensi

Sudah selayaknya dalam menentukan kompetensi mempertimbangkan kompetensi-kompetensi lainnya yang berasal dari bidang ilmu lainnya. Karena boleh jadi pada suatu saat tertentu akan terjadi keterkaitan/saling berinteraksi. Salah satu contoh, penerapan teknologi implant di bidang kedokteran yang terkait dengan perkembangan teknologi di bidang teknik mesin. Siapakah yang akan mendisain dan membuat robot camera yang dapat masuk ke pembuluh darah? Apakah piranti tersebut murni didisain dan dibuat oleh lulusan sekolah kedokteran ? Banyak kasus lainnya yang kita hadapi, bahwa suatu saat nanti lulusan di bidang teknik akan saling berinteraksi dengan berbagai disiplin ilmu, dan kita sebagai seorang pengajarpun harus memikirkannya dan menyiapkan suatu kurikulum yang dapat membantu lulusan kita untuk beradaptasi dengan multi disiplin ilmu.

Seringkali perumusan kompetensi hanya dibatasi pada kondisi sebagai berikut : hanya berdasarkan kompetensi yang kita ketahui, atau hanya berdasarkan masukan dari beberapa industri yang kita ketahui, atau hanya berdasarkan bidang studi serumpun. Khusus untuk kasus di Indonesia, pemetaan bidang ketenaga kerjaan belum terinseminasi dengan baik dan secara meluas, sehingga lulusan yang diminati oleh industri adalah lulusan dengan Indeks Prestasi akademis yang tinggi dan harus segala bisa (hanya didasari pertimbangan ekonomis, padahal banyak tujuan-tujuan mulia lainnya untuk membangun bangsa ini). Sebagai contoh pembanding akan dipaparkan penentuan beberapa kompetensi yang telah mapan/diakui banyak lembaga :
INTERNATIONAL STANDARD CLASSIFICATION OF OCCUPATION – ILO

07_Standarisasi Kompetensi-ILO_DA
Gambar 7 Standarisasi Kompetensi-ILO

Memang beda, untuk menjadi seorang pembantu rumah tanggapun, perlu disiapkan kompetensi apa yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya. Karena di negara kita belum memayunginya secara serius, maka kompetensi seorang pembantu banyak sekali dan bahkan melebihi kapasitas yang dimilikinya.

Merekakah yang salah karena tingkat pendidikannya ?, atau Para majikannya kah yang benar karena dia yang membayar upahnya ? (sehingga majikan dapat berlaku semena-mena, bahkan terjadi kasus sampai-sampai melanggar hak asazi manusia). Mungkin inilah yang disebut dengan Negara ½ Demokrasi. Apapun sindiran terhadap bangsa kita, tidak membuat kita patah hati untuk membangunnya, terlebih melalui apa yang disebut dengan kompetensi dan kurikulum. Karena dengan mengetahuinya, maka kita sebagai orang pintar akan pandai menghargai hak-hak orang lain, bukan sebaliknya memintar-mintari orang lain (memiliki konotasi negatif).

TPC TRAINING SYSTEM

08_TPC Training System-Skill Requirement_DA
Gambar 8 TPC Training System – Skill requirement

Dalam perumusan kompetensi beserta turunannya, perlu dipertimbangkan juga karier dari pengemban profesi tersebut. Di sini kita ingin mendudukkan persoalan secara jelas sesuai dengan posisi jabatan yang diemban, berikut kewajiban-kewajiban apa saja yang harus dipenuhi. Suatu kondisi wajar yang dijumpai bahwa pengemban jabatan memiliki kompetensi di bawah persyaratan yang ditentukan, maka sudah selayaknya kita dapat memberikan jalan untuk pemenuhannya. Berdasarkan kompetensi yang diperlukan pada suatu jabatan, maka kompetensi turunan dapat kita peroleh dan akhirnya dapat dirancang mata kuliah pembelajarannya.

METAL & ENGINEERING INDUSTRY COMPETENCY STANDARD

09_Standarisasi Kompetensi-IAPSD_DA
Gambar 9 Standarisasi Kompetensi-IAPSD

Mengingat bursa tenaga kerja global sudah dihadapan mata kita, maka kita harus menyiapkan sumberdaya yang dapat bersaing di pasar global. Tentunya, para penyedia lapangan kerja telah menentukan parameter kompetensi yang harus dipenuhi oleh pelamar pekerjaan.

Tugas kita di bidang pendidikan adalah untuk mendekati parameter kompetensi tersebut dan menerjemahkannya ke dalam system kurikulum yang akan kita kembangkan. Umumnya tidak sedikit dana dan waktu yang dicurahkan untuk melakukan bench marking, pelatihan, atau penelitian bersama (hanya untuk segelintir personal). Maka kedalaman kita untuk mengaji dan mengkaji kompetensi merupakan persyaratan mutlak yang harus dilengkapi (setidaknya penulis pernah membuktikannya bahwa kompetensi dasar di bidang pemeliharaan mesin / Politeknik Manufaktur Bandung, lebih unggul dibandingkan institusi pendidikan atau lembaga pelatihan di Australia dan Belanda).

10_Standarisasi Kompetensi-Metal & Engineering Industry_Duddy Arisandi

Gambar 10 Standarisasi Kompetensi-Metal & Engineering Industry

MASALAH-MASALAH DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM

Pengembangan kurikulum umumnya dilakukan secara sporadis dan dalam waktu singkat, sehingga hasilnya pun sadah dapat ditebak, masa berlaku yang singkat dan seringkali dilakukan tambal sulam untuk menyempurnakannya.

Beberapa prosedur telah ditetapkan berkaitan dengan pengembangan kurikulum (untuk skala nasional maupun institusional). Namun, sebaik apapun kurikulum yang telah kita tetapkan belum tentu pada saat penerapannya akan sesuai dengan apa yang diharapkan. Merupakan tantangan bagi kita semua bahwa pedoman yang kita buat akan dapat diimplementasikan sesuai dengan yang direncanakan, dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Umumnya terdapat hambatan-hambatan dalam pengembangan kurikulum yang diakibatkan oleh ketidaklengkapan perangkat kurikulum yang digunakan dan panduan/arahan dalam pelaksanaannya, seperti :

1. Tidak tersedianya prosedur tertulis bagi suatu institusi untuk mengembangkan kurikulum.
2. Pengembangan kurikulum merupakan tanggungjawab institusi, sehingga keterlibatan seluruh bagian yang terkait secara langsung ataupun tidak langsung, internal maupun ekternal institusi merupakan suatu sistem yang terintegrasi, yang tercermin dalam visi, misi, tujuan, dan sasaran mutunya.
3. Kompetensi yang ditentukan bersifat statis, hanya merujuk kebiasaan yang ditetapkan oleh pengguna lulusan. Kapankah kompetensi sertifikasi profesi yang berlaku secara internasional atau nasional dapat diinsemenasikan secara komprehensif di jantung pendidikan bangsa ini ?
4. Tumpang tindihnya tugas, tanggungjawab, dan wewenang antara jabatan fungsional dosen dan jabatan structural institusi. Sudah sepatutnya seorang dosen taat dan tunduk pada hierarki pendidikan program studi (walupun yang menjabat adalah orang muda yang baru menapak karir di bidang edukasi)
5. Kurikulum hanya didefinisikan dan diterjemahkan dalam selembar kertas distribusi mata kuliah selama mahasiswa mengikuti perkuliahan.
6. Jumlah jam mata kuliah pada suatu silabus dapat berubah-ubah, dan perubahan yang terjadi diakibatkan karena tidakjelasan cakupan tujuan instruksional pembelajaran dan pokok bahasan perkuliahannya.
7. Tujuan instruksional dan pokok bahasan diimplementasikan berdasarkan kemampuan dan kemauan dosen untuk melakukan pengubahan tanpa ada pelaporan yang terdokumentasi.
8. Dalam penentuan pokok bahasan, terjadi ketidaksesuaian yang bersumber dari dosen dan/atau instruktur pengampu mata kuliah yang melakukan rekonstruksi mata kuliah.
9. Terjadi redundan pemberian pokok bahasan pada beberapa mata kuliah dan sub mata kuliah, sehingga terjadi pengulangan materi pada tingkat yang sama maupun pada tingkat yang tidak sama.
10. Beberapa mata kuliah belum memiliki kerangka tujuan instruksional yang jelas, sehingga dosen pengampu mata kuliah melakukan rekonstruksi masing-masing tanpa pertimbangkan keterkaitan antar mata kuliah (jejaring mata kuliah). Selain itu beberapa dosen pengampu mata kuliah melakukan rekonstruksi dengan meningkatkan kedalaman materi perkuliahan yang tidak sesuai dengan predikat satuan tingkat pendidikan yang diemban.
11. Standardisasi jumlah jam perkuliahan memiliki varian yang besar dan belum seluruh mata kuliah mengacu pada penerapan SKS murni.
12. Jadwal perkuliahan tidak baku (setiap tahun ajaran) berubah diakibatkan penyesuaian terhadap kapasitas, pengaruh rekonstruksi materi perkuliahan, dan beberapa faktor pertimbangan lainnya.
13. Terjadi ketidaksesuaian pada saat pengumpulan nilai akhir semester, dimana pengelompokkan sub mata kuliah dapat berubah-ubah dengan tidak menginduk pada inti mata kuliahnya.
14. Untuk satu mata kuliah standard dapat diterjemahkan menjadi beberapa tujuan instruksional yang disesuaikan dengan jenis spesialisasinya.
15. Tidak terintegrasinya mata kuliah praktik yang mendukung penerapan sistem pendidikan berbasis produksi.
16. Tidak stabilnya kapasitas / fasilitas pembelajaran yang diakibatkan bertambahnya jumlah siswa maupun penambahan spesialisasi pada progam studi yang ada.
17. Penerjemahan sistem 1 tahun yang tidak tepat sehingga mengakibatkan tidak memungkinkannya dilakukan evaluasi kenaikan di semester ganjil.
18. Implementasi dari penyusunan kurikulum untuk melaksanakan proses pembelajaran belum konsisten, yang dimulai dari tahap perencanaan awal pendidikan sampai dengan evaluasi akhir dilakukan.
Beberapa ketidakkonsistensian yang terjadi tersebut akan mempengaruhi mutu pelaksanaan pendidikan, mutu kompetensi yang dihasilkan, dan efektivitas serta efisiensi pelaksanaan proses belajar dan mengajar.
BELAJAR DARI AUSTRALIAN COMMITTEE FOR TRAINING CURRICULUM

Secara sepintas dapat kita lihat model sederhana yang diterapkan oleh ACTRAC berikut:

11_Standarisasi Kurikulum-Kompetensi-ACTRAC_DA
Gambar 11 Standarisasi Kurikulum-Kompetensi Actrac

Dari gambar 11 dapat dilihat bahwa kurikulum bersifat komprehensif dan tidak partial. Dia berjujud seperangkat yang terintegrasi.
KOMPETENSI ITU DIMULAI SEJAK DINI DAN SECARA KONTINYU

Dan akhirnya, perlu dicermati bahwa pengembangan kurikulum yang dialakukan harus ditinjau secara Integralistik. Bahwa betul luaran kompetensi akan banyak ditentukan oleh pengguna lulusan, namun kita harus melihat juga bahwa beberapa kompetensi telah dipersiapkan/didapat sejak seorang mulai sekolah dari tingkat TK / TPA sampai dengan perguruan tinggi. Sehingga kontinyuitas penghasilan kompetensi harus dilihat sejak awal dan tidak ditentukan hanya pada muara akhir yaitu setelah luslus perguruan tinggi saja (Pekerjaan Rumah terberat bagi diknas dan terkait dengan sistem teknologi informasi).

12_Kontinyuitas Kelompok Mata Kuliah Sejak Dini_DA

Gambar 12 Kontinyuitas Kelompok Mata Kuliah dimulai sejak dini

Suatu hal yang mustahil bahwa kita dapat mencetak tenaga-tenaga professional dengan hanya menitikberatkan di pendidikan tinggi saja, sementara sifat-sifat bawaan yang mempengaruhinya lebih banyak atau lebih dominan dilalui dalam waktu yang lebih lama yaitu selama mengenyam tingkat pendidikan TK/TPA sampai dengan SMU/SMK/Aliyah (sederhana dapat dihitung berapakah waktu salam satuan tahun yang dihabiskan seorang siswa untuk menamatkan pendidikannya pada satu satuan unit pendidikan).
JANGAN LUPAKAN PERAN GURU/INSTRUKTUR/PENGAJAR/DOSEN

Faktor terpenting lainnya yang tidak kalah perannya (sangat dominan) adalah Dosen/Instruktur/Guru/Tenaga pengajar. Konsep yang ingin kita terapkan adalah Pendidikan Maju secara Sistematik (pergantian orang dikarenakan usia atau pensiun tidak akan berpengaruh banyak terhadap maju/mundurnya dunia pendidikan).

Perlu kita sadari bahwa kepakaran seseorang di bidangnya tidak hanya didapat melalui tingkat pendidikan saja, namun sebagaian besar diperoleh melalui pengalaman keseharian di bidangnya, dan hal tersebut belum tentu sama untuk semua orang (memiliki kesempatan yang sama). Perlu dipahami apa yang menjadi hak, kewajiban, tanggungjawab, dan wewenang seorang pengajar di dalam mengemban tugasnya.

Jika kompensi lulusan siswa yang kita harapkan berkualitas tinggi, maka sudah sewajarnya hal tersebut akan diperoleh melalui bimbingan pengajar yang memiliki kompetensi berkualitas tinggi juga. Kita pahami bersama bahwa tiada gading yang yak retak, namun kalaupun retak sesedikit mungkin, dan tidak merasa hidup bagaikan di menara gading. Kenapa IKIP berubah nama menjadi UPI, dan kenapa persyaratan mengajar AKTA dihilangkan ? Kenapa tidak semua pengajar diwajibkan untuk mengikuti pelatihan PEKERTI, APPLIED APPROACH, dan PENGUKURAN & TEST ? (aku cinta KAU dan DIA)

13_Kompetensi Dosen-BSNP_DA
Gambar 13 Kompetensi Dosen (sumber laporan BSNP 2009)

Sekalilagi ditegaskan bahawa hal ini merupakan Pekerjaan Terbesar Bangsa Ini, dan mari kita mulai dengan apa yang bisa kita mulai dengan KERJA KERAS (jangan pedulikan kekurangan-kekurangan yang ada pada kita, di sekitar kita, atau pada sistem yang ada di kita). Tahun depan adalah tahun dimulainya uji coba atas tulisan ini, dan semoga berbeda dengan apa yang penulis bayangkan dampaknya. Dan, Insyaallah jika penulis diberikan umur panjang untuk menyaksikannya, penulis akan melihat kebenaran pada salinan tulisan sebelumnya berkaitan dengan Indonesia Emas 2020. Waulahu’alaum Bishshsowab.

BAGIAN III
STUDI KASUS
EVALUASI KURIKULUM 2007 Akademi Teknik Soroako

Kurikulum merupakan jalur pacu atau kendaraan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan kompetensi suatu program studi. Kompetensi lulusan dan kurikulum program studi perlu dirumuskan sesuai dengan tujuan pendidikan dan tuntutan kompetensi lulusan, sehingga lulusan program studi tersebut memiliki keunggulan komparatif di bidangnya.

Kurikulum bersifat khas untuk suatu program studi, sebagaimana kekhasan tujuan pendidikan dan kompetensi lulusannya, sehingga diharapkan lulusannya dapat saling melengkapi dan bekerjasama dengan lulusan lainnya yang berasal dari program studi yang berbeda.

Kurikulum memuat 3 pokok pikiran, yaitu:
• Apa yang dirancang untuk mahasiswa,
• Apa yang diberikan kepada mahasiswa, dan
• Pengalaman apa yang akan diperoleh mahasiswa.

Kurikulum juga mengandung 4 elemen pokok, yaitu:

• Isi (content)
• Strategi pembelajaran (teaching-learning strategies)
• Proses penilaian (assessment processes)
• Proses evaluasi (evaluation process)

Analisis dilakukan terhadap penerapan kurikulum berbasis kompetensi di Akademi Teknik Soroako melalui tahapan berikut:

1. Analisis terhadap langkah awal penyusunan kurikulum berupa analisis SWOT dan Tracer Study serta Labor Market Signal.
2. Analisis profil lulusan, yang merupakan peran yang diharapkan agar dapat dilakukan oleh lulusan program studi.
3. Analisis kompetensi lulusan, untuk menentukan apa saja yang harus dimiliki oleh lulusan program studi sebagai outputnya.
4. Analisis kandungan elemen kompetensi.
5. Analisis pemilihan bahan kajian yang akan dipelajari mahasiswa dalam rangka mencapai kompetensi yang telah ditetapkan sebelumnya.
6. Analisis perkiraan dan penetapan beban (SKS) dan pembentukan mata kuliah.
7. Analisis pembentukan mata kuliah. Peta kaitan bahan kajian dan kompetensi ini secara simultan juga digunakan untuk analisis pembentukan sebuah mata kuliah.
8. Analisis penyusunan struktur kurikulum.
9. Analisa pembelajaran dalam kurikulum berbasis kompetensi.
3.1 ANALISIS SWOT SEBAGAI LANGKAH AWAL PENYUSUNAN KURIKULUM
Berdasarkan analisis SWOT yang dilakukan, diperoleh data sebagai berikut:

• Strength (Kekuatan):

1. Kurikulum disusun berdasarkan visi, misi, sasaran, dan tujuan, serta relevansinya dengan tuntutan kebutuhan stakeholder.
2. Kurikulum disusun berdasarkan peraturan pemerintah dengan pengayaan pada empat spesialisasi.
3. Kurikulum mengakomodasi kebutuhan kelompok mahasiswa putri.
4. Kurikulum bersifat general sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri secara luas.
5. Evaluasi kemajuan mahasiswa dilakukan pada proses belajar dan dievaluasi secara berkala.
6. Program praktikum berbasis produksi didukung tersedianya unit produksi ATS.
7. Proses pembelajaran ditunjang perangkat teknologi informasi yang memadai.
8. Adanya kegiatan di mana interaksi antara dosen dan mahasiswa dan tenaga pendukung dapat dilakukan secara rutin.
9. Adanya Buku Panduan Akademik (BPA), peraturan kemahasiswaan, dan peraturan keselamatan kerja menjadi perangkat untuk mengatur interaksi komunitas kampus.
10. Dibentuknya UKM sebagai wadah untuk mengembangkan organisasi minat dan bakat mahasiswa.
11. Pembelajaran dilakukan dengan sistem paket selama 6 semester sehingga mahasiswa dapat lulus tepat waktu dalam 3 tahun.
12. Hampir seluruh dosen telah mengikuti pelatihan Pekerti dan AA.

• Weakness (Kelemahan):

1. SKS mata kuliah praktikum belum terdistribusi secara seragam sesuai jam praktikum.
2. Masih ada mata kuliah teori yang hanya memiliki 1 SKS.
3. Penamaan mata kuliah yang diterapkan belum mengikuti standar untuk kebutuhan konversi mata kuliah ke perguruan tinggi dengan jenjang yang lebih tinggi.
4. Kurangnya sumber daya manusia ATS yang memiliki kompetensi yang baik dalam pengembangan kurikulum.
5. Belum semua dosen menerapkan metode Student-Centered Learning (SCL) dalam perkuliahan.
6. Mahasiswa kurang memahami isi empat spesialisasi yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran.
7. Kemampuan belajar mandiri mahasiswa, terutama mahasiswa baru, masih kurang.
8. UKM sebagai wadah kegiatan mahasiswa masih kurang optimal.

• Oportunity (Kesempatan)

1. Kebersediaan stakeholder dan alumni untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum.
2. Tersedianya Konsorsium Manufaktur sebagai wadah komunikasi dalam penyusunan kurikulum.
3. Bahan ajar dan referensi mudah diperoleh melalui perangkat teknologi informasi.
4. Kesempatan mengikuti kompetisi ilmiah yang diselenggarakan oleh lembaga lain.
5. Kebersediaan Kopertis Wil. IX dalam menyediakan pelatihan bagi dosen.

• Treat (Ancaman)

1. Adanya kebutuhan peralatan praktikum berbasis teknologi tinggi sesuai tuntutan kebutuhan stakeholder yang belum dipenuhi.
2. Tuntutan dunia industri di mana tenaga kerja dituntut mampu belajar mandiri agar tidak tertinggal akibat perubahan teknologi yang cepat.
3. Lingkungan pergaulan di luar kampus dapat mempengaruhi suasana akademik di kampus.

Berdasarkan kekuatan, peluang, kesempatan, dan ancaman berkaitan dengan analisis kurikulum, maka diperlukan strategi untuk memfaatkan kondisi-kondisi tersebut. Strategi tersebut dibuat untuk:

• Menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang (strategi “S”-“O”)
• Menghindari ancaman (strategi “S”-“T”)
• Memanfaatkan peluang yang ada dengan jalan mengatasi kelemahan yang dimiliki (strategi “W”-“O”)
• Meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman (strategi “W”-“T”)
Strategi tersebut dapat dilihat pada gambar 14

Berdasarkan matriks tersebut dapat dilihat bahwa pengembangan kurikulum yang dibuat telah berdasarkan analisis SWOT. Berdasarkan observasi yang dilakukan terdapat prioritas kegiatan yang harus segera ditindaklanjuti. Prioritas tersebut adalah:

1. Kedepannya pengembangan kurikulum perlu mempertimbangkan masukan-masukan dari stakeholder ataupun alumni.
2. Penyeragaman waktu perkuliahan standar baik teori ataupun praktik.
3. Peningkatan kemampuan softskill mahasiswa.
4. Meningkatkan inisiatif dosen untuk memotivasi mahasiswa agar lebih mandiri dan lebih giat dalam proses pembelajaran.

Untuk menjawab tantangan terkini, maka evaluasi diri sebaiknya dilakukan setiap tahun oleh program studi. Hal tersebut dilakukan sebagai tindakan preventif dan korektif terhadap penerapan kurikulum berbasis kompetensi.

14_Strategi SWOT-Pengembangan Kurikulum-ATS_DA

Gambar 14 Strategi SWOT terhadap Pengembangan Kurikulum
(Sumber : Analisis SWOT Program Studi 2010)

3.2 ANALISIS PROFIL LULUSAN

Profil lulusan merupakan peran yang diharapkan dapat dilakukan oleh lulusan program studi di masyrakat/dunia kerja. Melalui penetapan profil ini, perguruan tinggi dapat memberikan jaminan pada calon mahasiswa berkaitan dengan peran yang bisa dijalani setelah mengikuti seluruh proses pembelajaran di program studi.

• Strength (Kekuatan):
1. Lulusan memiliki kompetensi mekanikal dan ditempa dengan disiplin tinggi serta penerapan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja menjadi nilai lebih.
2. Lulusan telah dibekali kompetensi sesuai spesialisasinya.
3. Institusi ATS memberikan layanan uji kompetensi bagi para alumni ATS.
4. Program studi dan bagian kemahasiswaan menyediakan layanan bimbingan akademik dan non-akademik bagi mahasiswa.
5. Institusi ATS memiliki unit penyaluran lulusan Kemitraan & Graduate Placement Center (GPC).
6. Institusi ATS menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri untuk program On The Job Training (OJT) / Program Praktik Lapangan (PPL).

• Weakness (Kelemahan):
1. Profil kompetensi disusun belum sesuai dengan penduan kurikulum berbasis kompetensi.
2. Kegiatan mahasiswa di bidang kajian ilmiah belum optimal.
3. Belum optimalnya kerjasama dari pihak SMA/SMK untuk program promosi kampus.
4. Belum optimalnya pelaksanaan layanan bimbingan akademik dan non-akademik bagi mahasiswa.
5. Persentase drop-out mahasiswa tinggi.
6. Penggunaan perangkat teknologi informasi untuk promosi lulusan belum optimal.
7. Kompetensi bahasa Inggris lulusan masih rendah sehingga menurunkan daya saingnya.
8. Lulusan memiliki minat rendah untuk berkompetisi di luar propinsi Sulawesi Selatan.

• Oportunity (Kesempatan)
1. Peluang kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri untuk mendapatkan beasiswa.
2. Peluang kerjasama penelitian dengan institusi di dalam dan luar negeri.
3. Kebutuhan tenaga lulusan ATS terbuka luas di dalam dan luar negeri.
4. Banyak perusahaan besar di Kawasan Timur Indonesia.
5. Kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri untuk program OJT.

• Treat (Ancaman)
1. Penetapan profil lulusan belum mempertimbangkan seluruh kebutuhan kalangan profesi.
2. Calon-calon mahasiswa baru yang bermutu tinggi terserap oleh perguruan tinggi lain.
3. Turunnya minat pelamar yang terlihat dari jumlah pendaftar.
4. Gencarnya promosi perguruan tinggi swasta lain dalam menjaring mahasiswa.
5. Penghapusan subsidi oleh Yayasan sehingga mahasiswa harus membayar SPP secara penuh.
6. Persentase lulusan dengan IPK di bawah 2,75 yang akan sulit bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lain`masih cukup besar.
7. Tuntutan sertifikasi kompetensi dari perusahaan pengguna lulusan.
8. Persaingan alumni secara global terhadap lapangan kerja yang tersedia.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka disusun matriks strategi SWOT berikut:

15Strategi SWOT-Kompetensi Lulusan-ATS_DA
Gambar 15 Strategi SWOT terhadap Profil Lulusan
(Sumber: Analisis SWOT Program Studi 2010)

Berdasarkan matriks tersebut dapat dilihat bahwa pengembangan kurikulum yang dibuat pada kurikulum ATS versi 2007 belum memuat Profil Lulusan sebagai bagian dari penyusunan kurikulum.

Namun, berdasarkan tracer study yang dilakukan oleh Bagian GPC-ATS (sampai dengan 14-Agustus 2012), diperoleh hasil bahwa lulusan bekerja pada beberapa ruang lingkup area pekerjaan berikut: Instruktur di Bidang Pendidikan dan Pelatihan, Juru gambar (drafter), Juru las (welder), EHS, Kontraktor, Teknisi (mekanik), Penyelia mekanik, Operator, Perencana proses, Penyelia, Logistik. Penulis menyarankan agar GPC-ATS melakukan tracer study dengan dilengkapi dengan deskripsi dan ruang lingkup pekerjaan yang ada, mengingat berdasarkan data tersebut, sebagian besar data hanya menunjukkan bahwa lulusan hanya bekerja pada suatu departemen atau bagian tertentu saja dari suatu perusahaan.
3.3 ANALISIS KOMPETENSI LULUSAN

Profil lulusan merupakan peran yang diharapkan dapat dilakukan oleh lulusan program studi di masyrakat/dunia kerja. Melalui penetapan profil ini, perguruan tinggi dapat memberikan jaminan pada calon mahasiswa berkaitan dengan peran yang bisa dijalani setelah mengikuti seluruh proses pembelajaran di program studi. Struktur kompetensi lulusan dideskripsikan dalam bentuk berikut:

16_Struktur Kompetensi Lulusan-ATS-MM Polman_DA
Gambar 16 Struktur kompetensi lulusan
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Struktur penjabaran kompetensi lulusan pada kurikulum ATS versi 2007 memiliki ciri berikut :
• Keterampilan teknologi (technological skill): Merancang konstruksi mekanik, Merencanakan proses, Melakukan pemeliharaan dan perbaikan mesin, Mengetahui sistem pengendalian pada mesin, Memilih material yang sesuai untuk membuat sukucadang, Memeriksa kualitas produk pada fase proses dan fase produk jadi.
• Pemahaman kemanusiaan (humanistic skill): Berkomunikasi, Menggunakan teknologi komputer, Kemampuan kultur, Bekerjasama,
• Keahlian bisnis (business skills)

17_Penjabaran Struktur Kompetensi Lulusan ATS-MM Polman_DA
Gambar 17 Penjabaran Struktur Kompetensi Lulusan
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Berdasarkan struktur kompetensi tersebut, maka diperlukan penyesuaian berdasarkan tabel matriks hubungan antara Profil dan Kompetensi Lulusan seperti dapat dilihat pada tabel berikut:
Gambar 18 Format Matriks Hubungan antara Profil dan Kompetensi Lulusan
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.4 ANALISIS PENGKAJIAN KANDUNGAN KOMPETENSI

Pada langkah ini akan dikaji untuk mengetahui apakah rumusan kompetensi yang telah disebutkan telah mengandung kelima elemen kompetensi seperti yang diwajibkan berdasarkan Kepmendiknas No. 045/U/2002 & No.232/U/2000. Pada tahap ini, kompetensi lulusan dianalisis untuk mengetahui apakah mengandung satu atau lebih elemen-elemen kompetensi tersebut.

Pada penyusunan kurikulum versi 2007, pemeriksaan dilakukan menggunakan tabel sebagai berikut:

17_Penjabaran Struktur Kompetensi Lulusan ATS-MM Polman_DA
Gambar 19 Matriks Kompetensi Lulusan Program Studi Perawatan dan Perbaikan Mesin (KEPMEN 232/U/2000 & KEPMEN 045/U/2002)
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Pada matriks tersebut dapat dilihat bahwa unsur pemeriksaan dilakukan langsung terhadap pengelompokkan mata kuliah. Matriks tersebut menunjukkan bahwa kurikulum yang diterapkan telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan berdasarkan KEPMEN 232/U/2000 dan KEPMEN 045/U/2002.

Berdasarkan panduan format penyusunan kurikulum berbasis kompetensi, pengelompokkan yang dilakukan harus dapat menunjukkan keterkaitan rumusan kompetensi terhadap pemenuhan legal aspek yang ada. Sehingga penulis menyarankan, bahwa perlu dilakukan revisi dan pengembangan mengikuti format yang mengandung keterkaitan rumusan kompetensi dengan elemen kompetensi, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 20.

20_Matriks Rumusan Kompetensi vs Elemen Kompetensi_KBK PT_DA
Gambar 20 Matriks antara Rumusan Kompetensi dengan Elemen Kompetensi
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.5 ANALISIS PEMILIHAN BAHAN KAJIAN

Bahan kajian merupakan bangunan ilmu, teknolgi atau seni, objek yang dipelajari, yang menunjukkan ciri cabang ilmu tertentu, atau dengan kata lain menunjukkan bidang kajian atau inti keilmuan suatu program studi. Pilihan bahan kajian sangat dipengaruhi oleh visi keilmuan program studi.
Berdasarkan kurikulum program studi perawatan dan perbaikan mesin yang ada :

21_Bidang Keahlian Program Studi PPM-ATS-MM Polman_DA
Gambar 21 Bidang Keahlian Program Studi Perawatan dan Perbaikan Mesin
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Penulis menyarankan agar program studi dapat menetapkan bahan kajian sesuai dengan ciri program studi melalui studi literatur dan sesuai dengan mata kuliah yang diberikan kepada mahasiswa, seperti: Proses pemesinan dan Produksi, Teknologi pembentukan dan material, Konstruksi dan Perancangan, Teknik Pengukuran, Keselamatan & Kesehatan Kerja, Keilmuan dasar (basic science), Keilmuan Teknik (engineering science), Pendidikan Umum (general education component), selain dari Pemeliharaan dan Perbaikan Mesin.

Berdasarkan kurikulum program studi perawatan dan perbaikan mesin, penulis menyarankan agar format pemilihan bidang kajian dapat disusun melalui matriks berikut:

22_Matriks Rumusan Kompetensi vs Bahan Kajian-KBK-PT_DA
Gambar 22 Matriks Hubungan antara Rumusan Kompetensi dengan Bahan Kajian
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.6 ANALISIS PERKIRAAN BEBAN (SKS) dan PEMBENTUKAN MATA KULIAH

Banyak program studi yang hanya menerima SKS dari tahun ke tahun tanpa mengetahui cara penetapannya. Umumnya perkiraan besarnya SKS sebuah mata kuliah lebih banyak ditetapkan atas dasar pengalaman dan terutama menyangkut banyaknya bahan kajian yang harus disampaikan. Akibatnya, besarnya SKS suatu mata kuliah menjadi hak dosen pengampunya, yaitu berdasarkan pada materi yang ia kuasai dan yang harus ia ajarkan. Melalui penerapan KBK, maka penetapan SKS dikaitkan dengan kompetensi yang harus dicapai. Sehingga untuk menetapkannya perlu dilakukan analisa secara simultan melalui beberapa variabel, yaitu:

1. Tingkat kemampuan/kompetensi yang ingin dicapai,
2. Tingkat keluasan dan kedalaman bahan kajian yang dipelajari
3. Cara/strategi pembelajaran yang akan diterapkan.
4. Posisi (letak semester) suatu kegiatan pembelajaran dilakukan.
5. Perbandingan terhadap keseluruhan beban studi di suatu semester.

Sehingga, harus dipahami bahwa: SKS merupakan waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mencapai kompetensi tertentu, dengan melalui suatu bentuk pembelajaran dan bahan kajian.
,
Dalam kurikulum program studi perawatan dan perbaikan mesin versi 2007, belum dicantumkan keterkaitan diantara rumusan kompetensi dengan bahan kajian yang menjadi kerangka kurikulum. Penulis menyarankan agar perlu dibuatkan analisa keterkaitan tersebut mengikuti format berikut:

23_Matriks Bahan Kajian vs Kompetensi-KBK-PT_DA
Gambar 23 Matriks Kaitan Rumusan Kompetensi Dengan Bahan Kajian
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.7 ANALISIS PEMBENTUKAN MATA KULIAH

Proses merangkai beberapa bahan kajian menjadi suatu mata kuliah dapat dilakukan melalui beberapa pertimbangan:

1. Adanya keterkaitan yang erat antara bahan kajian yang bila dipelajari secara terintegrasi diperkirakan akan lebih baik hasilnya.
2. Adanya pertimbangan konteks keilmuan, artinya mahasiswa akan menguasai suatu makna keilmuan dalam konteks tertentu.
3. Adanya metode pembelajaran yang tepat yang menjadikan pencapaian kompetensi lebih efektif dan efisien serta berdampak positif pada mahasiswa bila suatu bahan kajian dipelajari secara komprehensif dan terintegrasi.

Dengan demikian pembentukan mata kuliah mempunyai fleksibelitas yang tinggi, sehingga suatu program studi sangat dimungkinkan mempunyai jumlah dan jenis mata kuliah yang sangat berbeda, karena dalam hal ini mata kuliah hanyalah bungkus serangkai bahan kajian yang dipilih sendiri oleh sebuah program studi.

Untuk menyempurnakan kurikulum versi 2007 yang ada maka perlu dibuat matriks hubungan bahan kajian terhadap kompetensi dalam bentuk mata kuliah seperti yang ditunjukkan pada gambar 24.

24_Matriks Hubungan Bahan Kajian vs Mata Kuliah KBK-PT_DA
Gambar 24 Matriks Hubungan Bahan Kajian dan Kompetensi dalam Bentuk mata kuliah
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.8 ANALISIS PENYUSUNAN STRUKTUR KURIKULUM

Permasalahan yang sering muncul adalah siapa yang harus membuat hubungan antar mata kuliah antar semester? Mahasiswa atau dosen ? Jika mahasiswa, mereka belum memiliki kompetensi untuk memahami keseluruhan kerangka keilmuan tersebut. Jika dosen, tidak ada yang menjamin terjadinya kaitan tersebut, mengingat antara mata kuliah satu dengan yang lain diampu oleh dosen yang berbeda dan sulit dijamin adanya komunikasi yang baik antar dosen-dosen yang terlibat.

Oleh karenanya, kurikulum tidak hanya sekedar dilihat dari dokumen dan struktur kurikulum saja, namun perlu diikuti dengan pembelajarannya. Perubahan kurikulum berarti juga perubahan pembelajaran terutama perubahan perilaku dan pola pikir dari peserta serta pelaku pembelajarannya, agar outcome yang ditetapkan benar-benar tercapai.

Dalam pola penyusunanya ATS telah mempertimbangkan beberapa hal berikut seperti:

1. Taxonomy Skill:

Penentuan berdasarkan:

• Penguraian kompetensi ke dalam kelompok/aspek teknologi, kemanusiaan, dan kewirausahaan.
• Gradasi / tingkat pencapaian kompetensi yang dapat diukur.

Sehingga melalui gradasi tersebut dapat ditentukan: waktu, durasi, dan metode perkuliahan, berikut materi dan fasilitas pendukung yang diperlukan. Taksonomy Skill pada kurikulum ATS 2007 dapat dilihat pada gambar 25.

25_Skill Taxonomy PPM-ATS-MM Polman_DA
Gambar 25 Skill Taxonomy pada Kurikulum ATS 2007

2. Jejaring Mata Kuliah

Jejaring mata kuliah merupakan susunan/urutan pengajaran mata kuliah tiap semester. Pada pelaksanaannya pemberian mata kuliah yang saling terkait dilakukan secara berurutan.

Dalam urutan pemberian mata kuliah akan terlihat / akan ditunjukkan input/prasyarat dan output dari suatu mata kuliah. Jejaring mata kuliah digunakan oleh ATS sebagai dasar penyusunan struktur program pendidikan dan perkuliahan, dan diuraikan berdasarkan sequensial mata kuliah. Maksud dari sequensial tersebut adalah:

• Penyusunan mata kuliah dimulai dari yang bersifat umum menuju spesialisasi
• Mulai dari mata kuliah yang memiliki tingkat kesulitan terendah hingga yang lebih tinggi.
• Mata kuliah yang diberikan berkesinambungan dan terintegrasi satu dengan lainnya.

26_Jejaring Mata Kuliah PPM-ATS-MM Polman_DA
Gambar 26 Jejaring Mata Kuliah spesialisasi Perawatan Mekanik berdasarkan Kurikulum ATS 2007

3. Struktur Program:

Berdasarkan jejaring mata kuliah yang telah ditentukan sebelumnya, maka disusunlah struktur program menurut semester pemberian, dan penentuan durasi serta waktu pemberiannya pun telah sesuai.

. 27_Struktur Program ATS 2007_DA
Gambar 27 Struktur Program spesialisasi Perawatan Mekanik pada Kurikulum 2007

4. Pembobotan mata kuliah:

Pada kurikulum 2007, pembobotan dikonversikan kedalam jumlah jam pembelajaran teori maupun praktik. Berdasarkan data yang diperoleh ditunjukkan terjadi deviasi / ketidakseragaman dalam penentuan jam pembelajaran teori. Terjadi variasi untuk menerjemahkan 1 SKS teori setara dengan 16-19 jam perkuliahan tatap muka, 1 SKS praktik setara dengan 40-80 jam aktual di laboratorium/bengkel. Hal tersebut diakibatkan karena pola pembobotan disesuaikan dengan jumlah minggu perkuliahan dalam 1 semester (dalam hal ini dalam 1 semester terdiri atas 7 minggu perkuliahan teori)

28_Daftar MK Spesialisasi Perawatan Mekanik-ATS 2007_DA
Gambar 28 Daftar MK spesialisasi Perawatan Mekanik (Sumber: Kurikulum ATS 2007)

5. Deskripsi Perkuliahan:

Melalui Deskripsi Mata Kuliah yang pada kurikulum ATS 2007, pembobotan jam perkuliahan dalam satuan jam tidak secara spesifik menjelasakan apakah perkulihan mengikuti MK teori atau MP praktikum. Pada pelaksanaannya, beberapa MK praktik diberikan pada jam perkuliahan teori, hal tersebut didasari asumsi efisiensi proses pembelajaran. Hal tersebut harus dikoreksi.

29_Deskripsi Mata kuliah Program Studi PPM-ATS 2007
Gambar 29 Contoh Deskripsi Mata kuliah Program Studi Perawatan dan Perbaikan Mesin
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Di satu sisi, tujuan perkuliahan dan pokok bahasan bersifat general untuk setiap spesialisasi yang ada, di sisi lainnya pembobotan SKS nya ada yang berbeda walaupun jumlah jam pemberian mata kuliahnya sama. Hal ini akan mengakibatkan bias dalam pencapaian kompetensi untuk seluruh spesialisasi. Dan hal ini akan berdampak ke proses pelaksanaan pendidikan, berikutnya pada saat pembuatan jadwal perkuliahan.

6. Jadwal Perkuliahan:

• Kalender Akademik

Dalam penyusunan jadwal perkulihan, dimulai dengan Kalender Akademik yang memuat Master Schedule Perkuliahan. Kalender Akademik dibuat untuk 1 tahun ajaran pendidikan.

30_Kalender Akademik ATS_DA

Gambar 30 Kalender Akademik 2009/10 (Sumber ATS)

• Jadwal Induk (Master Schedule) Pendidikan

Sistem jadwal perkulihan ATS dibuat berdasarkan sistem Blok. Secara garis besar terdiri atas Minggu Teori (T) dan Minggu Praktik (P). Dalam pembuatan jadwal induk ini, perlu diperhatikan:

i. Keserumpunan mata kuliah antara seluruh spesialisasi yang ada di program studi perawatan dan perbaikan mesin. Kelas paralel (penggabungan 2 spesialisasi pada minggu teori akan memungkinkan untuk diterapkan).
ii. Jumlah fasilitas perkuliahan seperti ruang perkuliahan yang ada dapat dioptimalkan penggunaannya. Dalam 1 semester dapat didistribusikan pelaksanaan perkuliahan teori untuk seluruh kelas atau tingkatan mahasiswa yang ada.
iii. Jumlah fasilitas praktikum seperti mesin. Jika dalam suatu minggu perkulihan terdapat beberapa kelas untuk tingkat mahasiswa yang sama, atau untuk tingkat mahasiswa yang berbeda, maka akan memungkinkan bahwa semua mahasiswa tersebut akan menggunakan mesin pada suatu laboratorium yang sama. Sehingga, pada penyusunan jadwal induk ini, perlu memerhatikan distribusi beban yang terjadi untuk seluruh tingkatan yang ada. Kondisi terburuk yang terjadi adalah penggunaan 1 mesin untuk 5-6 mahasiswa, dimana pencapaian kompetensi individu akan sulit untuk dicapai.

31_Master Schedule Pendidikan ATS_DA

Gambar 31 Master Schedule Kegiatan Akademik TA 2010-2011 (Sumber ATS)

• Jadwal Praktikum

32_Jadwal Praktikum ATS_DA

Gambar 32 Jadwal Praktikum Tahun Akademik 2009-2010 (Sumber ATS)

Jadwal praktikum merupakan penjabaran dari pembelajaran mata kuliah praktikum untuk mencapai suatu kompetensi tertentu. Jadwal ini dibuat berdasarkan pembobotan mata kuliah berikut deskripsi mata kuliah yang ada. Pengecekan dilakukan terhadap kondisi ketersediaan fasilitas mesin / alat praktikum. Pada penyusunannya harus dilakukan secara sequensial bagi beberapa mata kuliah yang memiliki persyaratan awal. (kaitkan dengan analisa beban untuk setiap spesialisasi)

• Jadwal Teori

33_Jadwal Teori ATS_DA
Gambar 33 Jadwal Teori Semester Gasal Tahun Akademik 2010-2011

Jadwal teori merupakan penjabaran dari pembelajaran mata kuliah praktikum untuk mencapai suatu kompetensi tertentu. Jadwal ini dibuat berdasarkan pembobotan mata kuliah berikut deskripsi mata kuliah yang ada. Pengecekan dilakukan terhadap kondisi ketersediaan ruang kelas, dan materi perkuliahan / bahan pembelajaran. Jika pembobotan SKS yang ada tidak seragam (16-19 jam per 1 SKS), maka dapat dikatakan bahwa yang menjadi acuan untuk pembobotan tidak didasari oleh penurunan dari kompetensi yang ingin dicapai, namun lebih bersifat subjektif yang mana target perkuliahan hanya didasari oleh materi ajar yang harus tersampaikan dan bukannya harus dipahami. Pada TA 2009/10 terjadi beberapa penyimpangan dalam penjadwalan teori berupa tidak tercantumnya MK Teori pada jadwal perkuliahan, atau pada kasus lainnya MK Praktik diberikan pada jadwal perkuliahan teori. Hal ini terjadi dikarenakan ketidakjelasan yang terjadi pada deskripsi / sinopsis mata kuliah.

7. Distribusi Beban Perkuliahan terhadap ketersediaan fasilitas:

Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapat bahwa pembobotan mata kuliah (SKS) terhadap jumlah jam teori ataupun praktik, terjadi ketidaksesuaian terhadap acuan yang berlaku. Beberapa deskripsi mata kuliah tidak menunjukkan secara spesifik jumlah jam pengajaran untuk materi perkuliahan yang ada. Sehingga mengakibatkan kesulitan dalam hal penjadwalan, pendistribusian kapasitas. Hal tersebut akan berdampak terhadap mutu lulusan yang dihasilkan.

34_Analisa Ketersediaan Fasilitas ATS_DA
Gambar 34 Tabel Pengecekan Ketersediaan Fasilitas

3.9 ANALISIS RANCANGAN PEMBELAJARAN DAN METODE PEMBELAJARAN

Rancangan pembelajaran dan metode pembelajaran dilakukan mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh program studi. Pendekatan yang dilakukan mengadopsi PEKERTI dan APPLIED APPROACH. Hal tersebut telah diatur melalui suatu prosedur, namun pelaksanaannya terjadi beberapa deviasi seperti yang akan dipaparkan berikut:

1. Pembuatan Tujuan Instruksional

35_Tujuan Instruksional Pembelajaran ATS_DA
Gambar 35 Tujuan Instruksional Pembelajaran

Belum semua Mata Kuliah yang ada dilengkapi dengan Tujuan Instruksional Pembelajaran. Deskripsi mata kuliah yang tercantum di kurikulum 2007 belum memetakan mata kuliah berdasarkan tujuan instruksional pembahasan. Akibatnya seorang dosen / instruktur akan mungkin melakukan rekonstruksi mata kuliah keluar dari ranah kompetensi yang ingin dicapai..

2. Pembuatan Analisis Instruksional

Belum semua dosen dan instruktur memahami pentingnya keterkaitan diantara analisis instruksional dengan pencapaian kompetensi mahasiswa melalui perkuliahan. Pada beberapa mata kuliah terjadi tumpang tindih dalam pokok bahasan perkuliahannya. Sequensial urutan pemberian materi tidak dimulai dari yang mudah ke tingkatan yang lebih sulit (mengingat alur pencapaian kompetensi dimulai dari ranah yang terendah yaitu ‘mengetahui’)

36_Analisis Instruksional ATS_DA

Gambar 36 Analisis Instruksional

3. Pembuatan GBPP

Pada pelaksanaannya, GBPP belum dipandang sebagai acuan pada saan tujuan instruksional khusus akan dicapai. Dosen dan instruktur sering memandang bahwa prosedur pengaturan GBPP hanya persyaratan dokumentasi yang harus dipenuhi saja. Pada sisi lainnya, sangat sulit untuk melakukan revisi atas GBPP dikarenakan acuan pada kurikulum 2007 belum menyatakan dengan spesifik atas Tujuan Instruksional yang ingin dicapai.

37_GBPP-ATS_DA

Gambar 37 Garis-Garis Besar Program Pengajaran

4. Pembuatan SAP

Beberapa dosen masih menganggap bahwa SAP dibuat oleh Pengelola Program Studi dan bukan oleh Dosen pengampu mata kuliah yang bersangkutan. Hal tersebut tidak semata-mata diaibatkan oleh keengganan dosen yang bersangkutan untuk membuatnya, namun dirasakan bahwa sistem dokumen yang diterapkan tidak sistematis. Berdasarkan analisis yang penulis lakukan, keberagaman pandangan tersebut diakibatkan oleh ketidakpahaman fungsi dan tugas sebagai seorang dosen/instruktur, bahwa penerapan KBK sangat dipengaruhi oleh metode dan strategi pembelajaran yang akan diterapkan oleh dosen kepada mahasiswa.

38_SAP-AP-ATS_DA
Gambar 38 Satuan Acara Pengajaran

5. Pembuatan Kisi-Kisi Test

Pembuatan Kisi-Kisi Test tidak berjalan dengan baik, hampir seluruh mata kuliah yang ada belum memiliki kisi-kisi test. Beberapa dosen berpendapat bahwa bentuk pengujian terhadap mahasiswa merupakan hak preogratif dosen sehingga dosen bebas untuk menentukan metoda penilaian yang ia anggap benar. Verifikasi dan validasi terhadap form ini seringkali dimaknai bahwa program studi mengintervensi hak otoritas dosen dalam melakukan penilaian.

39_Format Kisi-Kisi Test ATS_DA
Gambar 39 Format Kisi-Kisi Test

6. Pembuatan Strategi Instruksional

Pembuatan strategi Instruksional Test tidak berjalan dengan baik, hampir seluruh mata kuliah yang ada belum memilikinya. Beberapa dosen berpendapat bahwa bentuk strategi pemberian cukup diberikan melalui metoda tatap muka saja. Sehingga pada perkuliahan diperoleh data bahwa sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa sebaiknya dilakukan pengkajian terhadap cara mengajar dosen. Disisi lainnya, Dosen berpendapat bahwa metoda merupakan hak dosen dalam penentuannya.

40_Strategi Instruksional ATS_DA
Gambar 40 Strategi Instruksional

7. Pembuatan Pedoman Penyekoran

Panduan penilaian telah diatur pada Buku Pedoman Akademik dan Prosedur Pengukuran dan Penilaian Hasil Diklat Program Studi, namun sangat sulit untuk melakukan sosialisasinya. Pencapaian kompetensi melalui ranah tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional belum dipahami secara komprehensif. Pada kenyataannya tidak semua bentuk pencapaian elemen kompetensi tersebut dapat dinilai dalam bentuk test essay, tidak semua elemen kompetensi dapat dicapai menggunakan teknik pengukuran test ataupun ujian. Pedoman yang dijadikan acuan berkaitan dengan nilai akhir kelulusan mahasiswa saja, belum menjadi kebiasaan bagi dosen untuk melakukan analaisa melalui suatu butir soal untuk menilai ketercapaian kompetensi dan tujuan pembelajarannya.

41_Pedoman Penyekoran ATS_DA
Gambar 41 Pedoman Penyekoran

8. Acuan Pemberian Nilai Praktik

Secara umum penilaian kualitas praktikum telah distandardisasikan berdasarkan kurikulum versi 2005 (penilaian praktik bengkel). Namun pada kurikulum versi 2007, panduan ini tidak dicantumkan / mengubah bagian dari kurikulum 2007. Sehingga prodi mengaturnya kembali menjadi suatu prosedur pelaksanaan. Setiap dosen memiliki pola penilaian yang lengkap disesuaikan dengan ciri mata kuliah yang diampuhnya. Namun beberapa elemen penilaian seperti yang dideskripsikan pada bagian berikut sudah tidak dilakukan lagi (sebagai contoh: tidak dijadikannya geometri bentuk dan geometri posisi sebagai bagian dari elemen penilaian praktik).

Acuan Penilaian dijabarkan sebagai berikut:

42_Panduan Penilaian Praktik ATS_DA
Gambar 42 Panduan Penilaian Praktik

9. Kontrak Perkuliahan

Jatuh hati pada pertemuan pertama merupakan konsep yang ingin diterapkan. Kejelasan seluruh piranti pada proses pembelajaran untuk suatu mata kuliah disampaikan. Lebih singkatnya adalah untuk memahami aturan main sesuai tujuan yang ditetapkan oleh mata kuliah. Mahasiswa akan dirangsang untuk belajar dan menyiapkan diri sejak awal mengenai apa-apa yang diperlukan dan menjadi topic pembelajarannya. Dan peserta didik pun pada saatnya nanti akan dimintai pertanggungjawaban berkaitan dengan penilaiannya terhadap dosen pengampu mata kuliah (sesuai dengan persyaratan bagi seorang dosen yang akan mengambil sertifikasi dosen)

43_Kontrak Perkuliahan ATS_DA
Gambar 43 Kontrak Perkuliahan

10. Pedoman lainnya

On The Job Training dan Tugas Semester Akhir merupakan bagian dari mata kuliah, dan pada saat mengimplementasikan akan memerlukan perhatian yang lebih besar daripada sekedar pelaksanaan mata kuliah lainnya, karena akan ada interaksi secara langsung dengan luar institusi pendidikan. Konsep dasar yang ingin diterapkan adalah bagaimana mengaplikasikan dan mengintegrasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh pada tahun sebelumnya. Yang benar adalah menilai ‘tahapan proses apa saja yang telah mereka lakukan’ bukannya ‘produk apa yang telah mereka hasilkan’. Ingat, bahwa kualifikasi pendidikan yang dihasilkan adalah pada jenjang Diploma III (walaupun mereka mampu untuk melakukan beberapa jenis pekerjaan pada tahapan pendidikan yang lebih tinggi).

44_Contoh Pedoman Pelaksanaan OJT-ATS_DA
Gambar 44 Contoh buku pedoman pelaksanaan On The Job Training

Yang terakhir adalah panduan pengembangan kurikulum institusi. Tidak kalah penting dan menjadi dasar bagi integrasi bagian-bagian yang saling terkait dan berkepentingan dengan pengembangan kurikulum.

45_Contoh Prosedur Pengembangan Kurikulum ATS_DA
Gambar 45 Contoh prosedur pengembangan kurikulum institusi

SEBAGAI PENUTUP

  • Jangan pernah menanyakan apa yang akan bangsa berikan kepada kita, baertanyalah pada diri kita sendiri, sumbangsih apa yang bisa kita berikan untuk membangun bangsa ini.
  • Dan sempurnakanlah UKURAN (takaran) bila kamu MENGUKUR, dan TIMBANGLAH dengan TIMBANGAN YANG BENAR. Itulah yang paling utama dan paling baik akibatnya. (Al-Qur’an, surat Al-Isra / Perjalanan Malam, ayat 35)
  • Give FULL MEASURE when ye MEASURE, and WEIGH with a BALANCE that is STRAIGHT. That is the most fitting and the most advantageous in the final determination. (The Holy Qur’an, surah Al-Isra / the Night Journey, verse 35)

Bandung, 28 Desember 2014
Duddy Arisandi / ISTC-88
23113030
Magister Student Smt-3
FTMD-ITB (Solidarity Forever)

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 29, 2014 in Sistem Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

8 responses to “PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (COMPETENCY BASED CURRICULUM DEVELOPMENT) SEBAGAI PERSIAPAN PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) dan SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi) di Indonesia

  1. Robertus Chandrawidjaja

    Januari 27, 2015 at 6:08 am

    Sy komentar dalam beberapa topik:
    1.Senyatanya BAN harusnya bukan di program studi (kalau kita mengacu bhw Prodi adalah pelaksana akademik), seharusnya di Jurusan (klu mengacu bahwa jurusan adalah penyelenggara administrasi pendidikan); jadi DIKTI tidak menetapkan BAN Prodi cukup sampai jurusan saja , implikasinya adalah setiap PT setlah fakultas ada jurusan dibawahnya baru prodi.
    2.Sya kira bukan penyeragaman kurikulum untuk seluruh PT di NKRI, namun konsep dasar dan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik pada setiap jenjang pendidikan, dengan demikian pengembangan tentu sangat dipengaruhi oleh sumberdaya di masing-masing tempat, sehingga tidak menghambat bagi yang bisa melesat dengan kecepatan tinggi, dan tidak memaksa bagi yang hanya mampu dengan kecepatan sedang krn bisa over dosis.
    3. Konsep dasar yang harusnya dikaji oleh dunia pendidikan adalah bahwa kita mau membangun manusia Indonesia seutuhnya.
    4.Kita terbenam pada yang katanya teknologi informasi yang canggih, namun banyak hal kita nampaknya masih belum cukup memiliki sumberdaya.
    5.Mungkin patut kita belajar dari para pendiri bangsa ini, bagaimana mereka bisa dan dapat dan mampu menjadi manusia yang diperhitungkan dalam pergaulan dunia, termasuk pa adam malik misalnya beliau tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi namun beliau salah satu tokoh yang mendunia……….ADA APA dengan bangsa ini?????

     
    • Duddy Arisandi

      Januari 28, 2015 at 12:56 am

      Selamat pagi Bapak Chandra, terimakasih banyak atas komentarnya. Saya sangat tercerahkan sekali Pak. Ijinkan saya mengomentari komentar Bapak Juga :
      1. Akreditasi di BAN dilakukan untuk Institusi dan Program Studi. Ada pesan bahwa Prodi merupakan satuan pendidikan Khas berbasis kelimuan dan kompetensi yang akan dicapai. Seringkali campur tangan institusi mengaburkan tujuan pendidikan itu sendiri (pengembangan tidak didasari kebutuhan program studi). Jurusan umumnya terdiri dari beberapa prodi dan prodi terdiri dari beberapa konsentrasi keilmuan. Menurut pendapat saya jurusan tidak hanya berfungsi sebagai administrasi saja, jurusan akan mengintegrasikan prodi-prodi yang ada di bawahnya, bahkan Kelompok Bidang Keilmuan harus diselaraskan agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
      2. Yang dimaksud penyeragaman oleh saya, adalah platform rambu-rambu minimum yang harus dipenuhi oleh PT (didasari oleh resources dan kebutuhan lokal di sekitar PT). Andai BAN diputuskan sesuai dengan awal rancangannya, maka makna PT Estabish & Development akan terasa kental, yaitu membawa kondisi ideal dimana seluruh PT menjadi Establish.
      3. Konsep membangun manusia seutuhnya adalah benar, dan tertuang di Tujuan Pendidikan Nasional, dan dituangkan dalam bentuk struktur hirarki (yang pertama adalah Imtaq).
      4. Sumberdaya IT di Indonesia banyak sekali Pak, yang sedikit adalah Perancang Integrasi Sistemnya (IT hanya membuat sedangkan template sistem dibuat oleh ahli-ahli di bidangnya).
      5. Sepakat bahwa kita perlu belajar dari pendiri bangsa, namun kenyataannya RUH KEBANGSAAN dan KENEGARAAN telah luluh (dapat dicek kepada putra-putri kita di rumah tentang pelajaran sejarah).
      Mudah-mudahan revolusi mental dan kerja yang sangat keras dapat mengubah kondisi yang ada.
      Wassalam
      Duddy Arisandi

       
  2. wiku

    April 3, 2015 at 1:14 pm

    dahsyat tulisannya….

    alumni GLU, Pontada, Soroako

     
  3. John

    Agustus 26, 2015 at 10:47 am

    Makasih atas infonya , Adria

     
  4. Ratna

    April 13, 2016 at 9:20 am

    Terima kasih untuk tulisannya pak. Saya sedang tertarik dan mendalami hal ini. Tulisan ini membantu saya melakukan mapping tentang pengetahuan yang harus saya dalami dan kembangkan.
    Mohon ijin untuk merefer tulisan ini. Dan kalau boleh, bisakah minta referensi yang digunakan utk tulisan ini?
    Terima kasih sebelumnya

     
    • Duddy Arisandi

      April 14, 2016 at 1:07 am

      Untuk beberapa referensi yang saya gunakan sebagaian besar dalam bentuk slide bu. Saya tidak menggunakan literatur secara khusus berupa textbook. Untuk literaturnya dapat dilihat pada menu : Kurikulum, Kompetensi, dan Prodi pada Blog ini. Kalau ada kebutuhan spesifik terkait literatur, mohon diinformasikan saja ke saya dan mudah-mudahan bisa membantu.
      Wassalam
      Duddy Arisandi

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: