RSS

TUJUAN dan SEJARAH POLITEKNIK di Indonesia

28 Nov
TUJUAN dan SEJARAH POLITEKNIK di Indonesia

Tulisan ini dipaparkan ulang sebagai suatu ringkasan sejarah mengenai lahirnya jalur pendidikan profesional / vokasi di Indonesia (SMK->D1->D2->D3->D4->SP1->SP2). Menurut saya, tulisan ini penting dipahami bagi pengelola pendidikan, dunia usaha ataupun dunia industri, serta para orangtua murid/mahasiswa. Melalui sejarah ini kita dapat memahami bahwa:

  1. Ada benang merah yang merajut keterkaitan diantara jalur pendidikan akademik dan jalur pendidikan profesional.
  2. Ada garis yang tegas yang mengarahkan ke arah mana jalur pendidikan profesional dicita-citakan.
  3. Apa yang kita lakukan sekarang ini tidak lepas dari jasa-jasa pemikir / para ahli pendidikan pada masa sebelumnya.

Tentunya, kita sebagai pengelola satuan pendidikan, dunia industri, dunia usaha, dan masyarakat luas,berkewajiban untuk memajukan pendidikan yang ada di negeri tercinta ini secara bersamaan, utuh, dan tidak membuat suatu pemisahan yang akan menghambat tercapainya tujuan utama pendiriannya.

POLITEKNIK

(Tujuan dan Sejarah)

(Ir. Hadiwaratama, M.Sc.E-Direktur Politeknik Manufaktur -ITB)

1994

 

RINGKASAN

(1) Politeknik sebagai lembaga pendidikan untuk menghasilkan tenaga ahli keindustrian tingkat pengelola menengah maupun untuk kerja mandiri (unsupervised job) mulai dirintis pada bulan Desember 1973 dengan dibangunnya Politeknik Mekanik Swiss – Institut – Teknologi Bandung sebagai realisasi Perjanjian Kerjasama Teknik antara Pemerintah RI dan Swiss, yang mulai menyelenggarakan pendidikan pada bulan Januari 1976 dengan program Diploma III Politeknik.

(2) Sejak tahun 1982 sampai saat ini telah didirikan lagi 25 buah Politeknik dengan bantuan Kredit & Pinjaman Bank Dunia dan ADB serta bantuan teknik negara-negara Swiss, Jerman, Jepang, Australia dan Selandia Baru di:

Universitas:

  • Syah Kuala (Lhok Seumawe)
  • Sumatera Utara (Medan)
  • Andalas (2 buah: Padang dan Payakumbuh)
  • Sriwijaya (Palembang)
  • Lampung (Lampung)
  • Indonesia (Depok)
  • Diponegoro (Semarang)I
  • Brawijaya (Malang)
  • Jember (Jember)
  • Tanjung Pura (Pontianak)
  • Lambung Mangkurat (Banjarmasin)
  • Mulawarman (Samarinda, 2 buah )
  • Sam Ratulangi (Manado)
  • Hasanuddin (Ujung Pandang, 2 buah)
  • Pattimura (Ambon)
  • Udayana (Denpasar)
  • Nusa Cendana (Kupang, 2 buah)

Institut:

  • Teknologi Bandung (Bandung)
  • Teknologi 10 Nopember (Surabaya, 2 buah)

Mandiri:

  • Dili (Timor Timur)

Program studi yang ada ialah bidang Keahlian Rekayasa, Pertanian, Tata Niaga dan Pariwisata.

(3) Seluruh sistem Politeknik negeri sebanyak 26 buah tersebut mempunyai daya tampung sebanyak 23,584 mahasiswa dengan harapan lulusan sebanyak 8,075 per tahun. Untuk investasi perangkat keras maupun lunak dan keperluan penyelenggaraan pendidikan, sejak tahun 1974 sampai saat ini Politeknik telah menyerap dana pembangunan dan bantuan teknik negara-negara tsb: di atas sebesar US$ 350.000.000,-.

(4) Pemantapan Konsep Pendidikan Politeknik dalam sistem Pendidikan di Indonesia dilakukan pada tahun 1986 dengan mempertimbangkan hasil Seminar 10 Tahun Pendidikan Politeknik yang diselenggarakan ITB di Bandung dari tanggal 5-6 Desember 1986.

(5) Dengan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada tanggal 27 Maret 1989, maka sebagai Satuan Pendidikan, Politeknik adalah Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan Pendidikan Profesional disamping Perguruan Tinggi lain yang menyelenggarakan Pendidikan Akademik dan I atau Profesional.

(6) Sesuai dengan sifatnya, pendidikan Politeknik memberikan ketrampilan intelektual dan manual secara seimbang disamping menekankan ketrampilan mental. Untuk maksud tersebut Politeknik memerlukan tenaga pengajar teori maupun praktek yang sama penting dan bobotnya, sehingga diperlukan perangkat peraturan tambahan terhadap peraturan yang sekarang ada (PP 30, tahun 1990) yang masih sangat kurang menyentuh tentang pendidikan profesional bahkan disitu tenaga pengajar praktek tidak dikenal, kecuali dosen. Bila tenaga pengajar praktek tidak diakui dan diberi kesempatan pengembangan karier dengan jenjang terbuka sampai yang setinggi-tingginya, maka pendidikan Politeknik lambat laun akan bergeser (drifted) menjadi pendidikan pseudo Akademik.

(7) Politeknik sebagai multi-discipline school yang menyelenggarakan pendidikan profesional dalam sejumlah bidang pengetahuan I keahlian khusus mempunyai bobot, jangkauan dan ruang lingkup yang luas sehingga diperlukan status kelembagaan dimana pimpinannya memerlukan setidak-tidaknya eselon II ataupun yang setara dengan perguruan tinggi lainnya. Bila eselonisasi tidak akan dipakai maka diperlukan perangkat peraturan tentang jabatan pengelola yang dapat mendukung tercapainya tujuan kelembagaan Politeknik.

(8) Sebagai lembaga pendidikan profesional, Politeknik masih muda dalam usia tetapi sudah banyak pengalamannya dalam memenuhi keperluan industri dalam tenaga keindustrian dan teknologi. Namun demikian masih perlu dipacu konsolidasi Politeknik sehingga mampu mengkristalisasikan jati dirinya untuk lebih mendapatkan pengakuan serta diandalkan oleh dunia usaha dan industri.

(9) Dengan demikian Politeknik dapat mengembangkan kemampuannya bermitra kerja kelembagaan (LINK) dengan dunia usaha dan industri secara saling menguntungkan dan sinergi sehingga Politeknik selalu relevan (MATCH) dengan dunia kerja dan rnendapat pengayaan baik dalam teknologi beserta kecenderungan masa depannya maupun finansial.

(10) Sesuai dengan kecenderungan internasional, Politeknik perlu mengembangkan dan mengamalkan wawasan kewirausahaannya (entrepreneurship) dengan landasan ekonomi pasar. sehingga mampu menggerakkan dana masyarakat, khususnya dari dunia usaha dan industri, untuk menutup keperluan biaya operasional yang cukup besar supaya tidak memberatkan anggaran Pemerintah yang masih terbatas.

Kiranya masih panjang perjalanan Politeknik dalam mengkristalisasikan jatidirinya dan diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan sehingga pendidikan Politeknik dapat berhasil dan berdaya guna bagi pembangunan negara dan bangsa Indonesia.

 Bandung, Juni 1994

 

PENDAHULUAN

Politeknik sebagai lembaga pendidikan pertama kali masuk dalam khazanah pendidikan di Indonesia melalui Perjanjian Kerjasama Teknik antara Pemerintah Republik Indonesia dan Republik Konfederasi Swiss tanggal 6 Desember 1973 tentang pendirian suatu Politeknik Mekanik di Institut Teknologi Bandung.

Tujuan pendirian Politeknik Mekanik di ITB dalam perjanjian kerjasama tsb. adalah untuk menunjang pembangunan industri di Indonesia melalui pendidikan teknik.

Program Pendidikan ini menekankan kepada practical application on industrial technology khususnya dalam bidang Precision Mechanics untuk perkakas produksi (manufacturing tools), Perawatan / Perbaikan Mesin-mesin Produksi dan Gambar Perancangan  permesinan.

Program pendidikan berlangsung selama 3 tahun dan berjenjang dimana 2 tahun pertama untuk tingkat dasar dan 1 tahun berikutnya untuk tingkat lanjut sesuai spesialisasi masingmasing guna menghasilkan teknisi ahli yang trarnpil.

Tamatan program 2 tahun pertama (tingkat dasar) mendapat Sertifikat dan tamatan program tahun ketiga (spesialisasi) mendapatkan Diploma yang diakui oleh Negara.

Politeknik tsb, mulai melaksanakan program pendidikannya pada bulan Januari 1976 dan bernama Politeknik Mekanik Swiss – ITB.

Pengesahan penyelenggaraan pendidikan Politeknik Mekanik Swiss – ITB dilakukan dengan SK Mendikbud. No. 0416/UI1981 tanggal 11 Desember 1981, berlaku surut terhitung mulai tanggal 11 Oktober 1975.

PERKEMBANGAN SELANJUTNYA

Dari keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan operasionalisasi Politeknik Mekanik Swiss – ITB, sesuai acuan dan tujuan yang hendak dicapai, yaitu msndidik teknisi ahli yang trampil bagi pembangunan industri di Indonesia, maka dikembangkanlah 6 buah Politeknik baru dan 1 buah Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik di Bandung dengan bantuan Kredit dari Bank Dunia, melalui IDA Credit Agreement No. 869-IND tanggal 29 Desember 1978 dan efektif mulai bulan Mei 1979, yang disebut Proyek Politeknik I.

Proyek Politeknik I meliputi:

Program pendidikannya meliputi bidang-bidang keahlian Mesin, Elektro dan Sipil dengan total dava tampung untuk program pendidikan 3 tahun sebanyak 4.464 mahasiswa dengan sasaran luaran (output) 1.400 lulusan / tahun.

Keenam Politeknik ini mulai menyelenggarakan pendidikannya serentak sejak tahun akademik 1982/1983.

Sesuai hasil studi kelayakan berikutnya, dengan asumsi laju GDP sebesar 7% per tahun, diperkirakan kebutuhan tenaga kerja per tahun untuk tingkat teknisi ahli trampil pada tahun 1990 adalah:

Untuk mengantisipasi kebutuhan tsb., maka dikembangkan lagi 11 buah politeknik dan perluasan Proyek Politeknik I, melalui Loan Agreement dengan Bank Dunia No. 2290-IND tanggal 22 Juni 1983 dan disebut Proyek Politeknik II.

Proyek Politeknik II meliputi:

  1. Pembangunan Politeknik baru dengan Program Diploma III Politeknik (3 tahun) bidang Teknologi di

  1. Pembangunan Politeknik baru dengan Program Diploma II bidang Teknologi dan Tata Niaga di

  1. Perluasan program DIPLOMA III Politeknik di Proyek Politeknik I, Politeknik Mekanik Swiss ITB dan Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik – Bandung di

Keseluruhan Program Studi Keahlian dari Politeknik meliputi :

• Bidang Teknologi

  1. Teknik Sipil
  2. Teknik Elektro
  3. Teknik Elektronika & Telekomunikasi
  4. Teknik Mesin & Manufaktur
  5. Teknik Tenaga dan Energi
  6. Teknik Tata Udara dan Refrigerasi
  7. Teknik Kimia
  8. Teknik Penerbangan
  9. Teknik Perkapalan
  10. Teknik Pengecoran Logam (Foundry)
  11. Teknik Penggunaan Komputer

• Bidang Tata Niaga

  1. Kesekretariatan
  2. Akuntansi
  3. Perbankan
  4. Pariwisata

Keseluruhan Politeknik tsb. ( 20 ) mempunyai :

Dalam pelaksanaan Pembangunan Politeknik di atas juga didukung oleh kerjasama Teknik antara Pemerintah RI dengan Pemerintah-pemerintah Swiss, Jerman dan Jepang untuk bidang Teknologi dan Pemerintah Australia untuk bidang Tata Niaga dan Pariwisata.

Politeknik-politeknik tsb, sudah melaksanakan program pendidikannya dan sudah menghasilkan lulusan yang terserap oleh pasar kerja.

Politeknik Pertanian

Politeknik Pertanian dengan program Diploma III Politeknik mulai dikembangkan berdasarkan Loan Agreement antara Pemerintah RI dan ADB yang ditandatangani tanggal 11 Januari 1984, meliputi pembangunan 6 buah Politeknik Pertanian dan 1 buah Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik Pertanian di Sandung, yang pelaksanaannya didukung oleh Kerjasama Teknik antara Pemerintah-pemerintah RI dan New Zealand, masing-masing di :

Dengan demikian daya tampung total dan harapan lulusan per tahun 26 Politeknik Negeri di Indonesia adalah :

PEMANTAPAN KONSEP PENDIDIKAN POLITEKNIK

Sesuai dengan rencana pembangunan jangka panjang Republik Indonesia dimana pembangunan ekonomi akan dimotori oleh pembangunan industri dan didukung oleh pertanian yang kuat, maka diperkirakan pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan latihan pun akan mengalami penyesuaian.

Dalam Seminar 10 Tahun Pendidikan Politeknik di Indonesia yang diselenggarakan oleh ITB di Bandung tanggal 15 – 16 Desember 1986, maka atas prakarsa Komite Pengarah dari ITB yang terdiri dari :

Pelindung                 : – Prof. Dr. D. A. Tisna Amidjaja

– Prof. Hariadi P Soepangkat Ph.D.

Ketua                         : – Prof. Ir. Tata Surdia,M.Sc.Met.Eng.

Sekretaris                 : – Ir. Hadiwaratama,M.Sc.E.

merangkap anggota

Anggota                    :

– Prof. Dr. Ir. Sosrowinarso

– Prof. Dr. Samaun Samadikun

– Prof. Ir. Soedarno

– Dr.lng. KT Sirait

– Dr. Ir. Sri Hardjoko Wirjomartono

– Ir. R. Haryoko.M.Sc.

– Drs. Soenaryo,M.Sc.

telah dibahas suatu Gagasan Konseptual dari Komite Pengarah dengan judul Sistem Pendidikan Teknik Masa Depan untuk Pembangunan Industri Indonesia. Inti gagasan konseptual tsb. adalah bahwa merancang tenaga keindustrian tidak dapat dilihat secara terpisah-pisah per jenjang pendidikan tetapi harus dirancang secara integratif sesuai dasar, tujuan dan sasaran industri secara utuh dan diurai menurut tugas, lungsi dan kompetensi masing-masing jenjang serta saling keterkaitannya didalam pelaksanaan tugas-tugasnya.

Diagram 1

Pemikiran integratip yang utuh tsb. pada pokoknya menghasilkan konsepsi : bahwa Pendidikan di Indonesia yang terdiri dari: Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi seyogyanya dibagi masing-masing dalam 2 jalur, kecuali Pendidikan Dasar 6 tahun, yaitu (lihat Diagram 1 dan 2):

Pendidikan Menengah (Pertama dan Atas)   : Umum dan Kejuruan

Pendidikan Tinggi                                       : Akademik dan Keahlian Kejuruan

Pendidikan menengah umum hakekatnya untuk mempersiapkan diri kejenjang pendidikan tinggi baik kejalur Akademik maupun jalur Keahlian Kejuruan. Pendidikan Menengah Kejuruan untuk mempersiapkan diri masuk lapangan kerja disamping untuk memungkinkan melanjutkan karir studi utamanya kejenjang pendidikan tinggi Keahlian Kejuruan. .

Pendidikan Tinggi jalur Akademik utamanya adalah untuk menyiapkan tenaga-tenaga dalam Penelitian dan Pengembangan (R & D), Innovasi dan Kreasi, dan terdiri dari 3 strata ( S1, S2, dan S3) dan bersifat Science -& Broad – Based. Sifat ini dimaksud untuk menghasilkan Scientist Engineer atau Engineer Scientist dengan fungsi utama untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi teknologi melalui Penelitian (Research) dan Pengembangan (Development) disamping fungsi dan tugas-tugas struktural lain sesudah melalui penyesuaian ataupun latihan-Iatihan khusus tambahan.

Diagram 2

Pendidikan Tinggi jalur Keahlian Kejuruan adalah untuk menyiapkan tenaga-tenaga pelaksana dalam mentransformasikan teknologi melalui rekayasa menjadi produk nyata yang mempunyai nilai ekonomi (kornoditas) dengan mengikuti norma dan standard baku yang berlaku secara nasional maupun internasional. Pendidikan jalur Keahlian Kejuruan ini berciri Terapan dan bersifat occupational – ataupun job-spesific. Jalur ini terdiri dari Jenjang Diploma (DI, DII, DIII dan D IV) dan Jenjang Spesialis (SP1, dan SP2).

Kedua jalur pendidikan tsb. sama-sama memberikan ketrampilan intelektual, mental dan phisik, hanya berbeda penekanannya yaitu jalur akademik lebih mengutamakan pada ketrampilan intelektual sedang jalur pendidikan tinggi keahlian kejuruan lebih mengutamakan keseimbangan atuara ketrampilan phisik dan intelektual, dan pendidikan menengah kejuruan lebih menekankan pada ketrampilan phisik.

Jenjang piramida di atas menggambarkan secara umum perbandingan jumlah tenaga-tenaga keindustrian menurut tingkat kompetensi, latar belakang pendidikan dan latihannya. Tingkat kemajuan industri dan teknologi yang dipakai di suatu negara akan menentukan perbandingan jumlah tenaga keindustrian yang berbeda pula (Iihat Diagram 3).

Diagram 3

Negara-negara industri maju dimana industrinya lebih banyak memakai teknologi tinggi yang padat kapital, padat teknologi dan padat ilmu pengetahuan, maka struktur dari tenaga keindustriannya akan berbentuk seperti telur, artinya kebutuhan tenaga tingkat pendidikan tinggi baik akademik maupun keahlian kejuruan akan semakin meningkat. Oleh karena itu pendidikan tenaga keindustrian di Indonesia juga harus mengadakan antisipasi kedepan, terlebih-Iebih dengan berkembangnya pasar global serta kemajuan teknologi informasi, komputer dan teknologi komunikasi satelit.

Kecenderungan negara-negara industri maju ialah makin meningkatnya pemakaian mesin-mesin pintar dan automasi berbasis komputeruntuk menaikkan produktivitas, efisiensi dan flexibilitas industri dalam mengantisipasi pasar global dan parsaingan yang semakin ketat. Industri-industri semacam itu tentunya akan lebih banyak memerlukan tenaga-tenaga tingkat atas yang memiliki kemampuan intelektual dan ketrampilan teknologi yang tinggi dan semakin berkurang keperluannya terhadap tenaga-tenaga tingkat menengah dan bawah yang sebagian besar mudah tergantikan oleh robot-robot, tetapi sebaliknya akan semakin berkembang industri jasa yang padat karya. Oleh karena itu struktur tenaga keindustrian yang berbentuk telur itupun akan berubah menjadi semakin besar bagian atasnya.

 

ALUR KEGIATAN KEINDUSTRIAN

Diagram 4

Hubungan fungsi dan tugas masing-masing jalur dan jenjang tenaga keindustrian (lihat diagram 4) adalah sebagai berikut:

Jenjang S1, S2, dan S3 dari jalur akademik kompetensi utamanya (sesuai sifat pendidikannya) adalah untuk Penelitian, Pengembangan dan Rancangan Konseptual (R & D dan Conceptual Design). Rancangan Konseptual ini sudah masuk dalam domain rancang bangun dan rekayasa (Design & Engineering Domain) di sisi Back End Engineering.

Jenjang pendidikan Diploma mempunyai rentang fungsi & tugas dari Front End Engineering yang berupa engineering details dalam rancang bangun dan rekayasa sampai realisasi pekerjaan / proses sesuai norma dan standard internasional / nasional yang baku untuk menghasilkan produk / barang.

Dalam Diagram 4 ditunjukkan hubungan serta tugas berdasar kompetensi masing-masing jalur dan jenjang sejak dari R&D sampai menghasilkan produk. Jenjang pendidikan tinggi jalur akademik dan keahlian kejuruan bertemu secara komplementer di daerah rancang bangun dan rekayasa, dan jenjang pendidikan keahlian kejuruan bertemu secara komplementer dengan pendidikan menengah kejuruan dalam proses pelaksanaan pembuatan produk.

Diagram 5

Diagram 5 menggambarkan profile kompetensi masing-masing jalur dan jenjang pendidikan tenaga keindustrian.

Dari profil di atas digambarkan bahwa ketrampilan manual dari jalur pendidikan tinggi akademik adalah rendah dibandingkan dengan jalur pendidikan tinggi keahlian kejuruan, karena ketrampilan manual tsb. didapatkan dalam praktikum laboratorium untuk mendukung pembuktian teorinya. Tetapi dalam ketrampilan intelektual maka jalur akademik memberikan tingkat yang tinggi terlihat dari ketrampilan dalam supervisory. planning. design (conceptual), development dan research.

Sebaliknya jalur pendidikan tinggi keahlian kejuruan memberikan secara seimbang antara keahlian / ketrampilan manual dan intelektual (supervisory, planning, detailed design ) tetapi tidak memberikan dasar-dasar kemampuan / ketrampilan dalam research & development khususnya sampai jenjang Diploma IV. Sampai saat ini belum terkonsepkan secara matang untuk tingkat Specialist 1 dan 2 dalam Pendidikan Teknik, berbeda dengan Pendidikan Kedokteran yang sudah lebih mantap keberadaannya.

Satu hal yang menarik ialah adanya Profit Technologist. dimana mempunyai ketrampilan manual yang lebih tinggi dari ketrampilan jenjang lainnya. Ini dikarenakan kebutuhan yang specific sifatnya dan sementara ini dihasilkan hanya oleh Politeknik Manufaktur Bandung (Politeknik Mekanik Swiss-ITB). Diagram 6 lebih memperjelas masing-masing ciri di atas.

Diagram 6

Diagram 6 di atas menggambarkan spektrum ketrampilan teknologi dilihat dari muatan pendidikan, pengalaman dan latihan dari masing-masing jenjang tenaga fungsional keindustrian. Profil masing-masing jenjang akan sangat tergantung dari derajat teknologi yang dipakai di masing-masing negara, namun tendensi global makin menuntut uniformitas dan standardisasi.

Kalau industri mempunyai tendensi untuk semakin menggunakan sarana produksi yang semakin flexibel, produktif dan efisien, demikian juga sistem pendidikan dan latihan dituntut untuk dapat memenuhi perubahan-perubahan dan kemajuan teknlogi yang semakin cepat tsb, dimana saingan global makin memacu produk-produk dengan life cycle yang semakin pendek, semakin pintar, semakin ringan / kecil tetapi semakin kuat, semakin hemat enersi, tidak merusak lingkungan dan dapat didaur ulang.

Diagram 7

Diagram 7 menggambarkan hubungan struktural antar jenjang dalam pelaksanaan tugas keindustrian. Politeknik sebagai Lembaga yang dirancang berdasarkan konsep-konsep tersebut di atas juga diharapkan dapat menjadi Pusat Relevansi Pembangunan bagi daerah sekitarnya maupun dalam Iingkup keahlian Spesifiknya untuk skala nasional.

Dengan demikian disamping tugasnya untuk menghasilkan tenaga-tenaga ahli kejuruan yang relevan pada kebutuhan pembangunan daerah maupun nasional, Politeknik juga diharapkan mengembangkan kemampuan kelembagaannya dalam memecahkan problem-probem teknologi pembangunan yang dihadapi daerahnya maupun dalam lingkup nasional melalui pengkajian, penelitian terapan, innovasi ataupun adaptasi dari teknologi yang ada.

Dengan kata lain Politeknik sebagai Lembaga juga melakukan tugas Tridharma Perguruan Tinggi.

Diagram 8

Bila jalur pendidikan tinggi akademik dengan strata S1, S2 dan S3 dapat dibandingkan dengan sistem serupa di negara-negara Amerika Utara, maka jalur keahlian kejuruan dapat dibandingkan dengan sistem yang serupa di negara-negara yang berbahasa Jerman (Jerman, Swiss, Austria).

Diagram 8 di atas menggambarkan perbandingan tsb.

Di Jerman dan Swiss, tenaga-tenaga menengah kejuruan dihasilkan melalui sistem ganda (dual system) dimana profesionalisme terbentuk dalam berlatih di industri yang terdiri dari 20% latihan dan 80% kerja produktif dan 1 hari teori di sekolah tiap minggu selama 4 tahun dengan rata-rata 46 minggu per tahun, dimana per minggu terdiri dari 40 jam kerja. .

Tamatan program apprentice dengan dual system tsb. merupakan masukan dari Sekolah Tinggi Kejuruan (Fach Hoch Schule / Ingenieur Schule / HTL) di Jerman dan Swiss. Fach Hoch Schule ini (di Belanda HTS) programny.a memerlukan waktu 4 tahun untuk menghasilkan insinyur (Ing), sedang jalur akademik dilaksanakan di Universitas atau Hoch Schule.

Di Jerman dan Swiss juga ada program diantara FH dan FS (Fach Schule / Apprentice) yaitu yang disebut Techniker Schule (TS) yang berlangsung selama 2 tahun.

Untuk sistem Politeknik di Indonesia, dimana programnya mengutamakan keseimbangan antara ketrampilan manual dan intelektual (± 50% praktek / labaratorium dan 50% teori dasar / pendukung) mengingat masukannya sebagian besar masih dari SLTA Umum sedang SLTA Kejuruan masih belum memiliki muatan ketrampilan manual seperti di Jerman / Swiss, maka Politeknik masih banyak harus memberikan ketrampilan dasar dalam program Diploma III nva, sehingga bila dibandingkan dengan di Jerman / Swiss, Diploma ini kira-kira sepadan dengan Techniker (lihat kotak ruster).

Diploma IV di Politeknik diusahakan akan sepadan dengan FH / HTL / HTS 4 Tahun di Jerman / Swiss / Austria / Belanda. meskipun pelaksanaannya dilakukan secara selektif bagi tamatan Diploma III yang sudah mengabdikan keahliannya di industri setidak-tidaknya antara 2 – 5 tahun, dengan demikian sekaligus memberikan jalan bagi pengembangan karier bagi tamatan D III yang potensial tanpa melupakan tujuan Politeknik untuk mengisi kebutuhan tenaga teknisi ahli menengah.

Setengah orang menyatakan bahwa insinyur dari jalur pendidikan akademik adalah white collar engineer. sedang dari DIV Politeknik adalah blue collar engineer.

Masalah-masalah yang masih perlu dimantapkan antara lain tenaga pengajar di Politeknik yang mencakup bidang ketrampilan intelektual dan manual.

Ketrampilan intelektual muatannya berbentuk knowledge sedang ketrampilan manual berbentuk knowhow dimana perpaduan antara keduanya akan menghasilkan do how.

Mengingat kedua ketrampilan tsb. sama penting dan bobotnva, maka diperlukan tenaga fungsional DOSEN dan INSTRUKTUR yang juga sama penting dan bobotnya untuk tercapainya tujuan pendidikan Politeknik.

INSTRUKTUR adalah untuk memberikan ketrampilan-ketrampilan manual berupa berbagai teknik dan metoda pengerjaan serta integrasinya (state of the art), melalui bimbingan, latihan, tutorial. produksi dan supervisi yang terencana di bengkell studio / lab uji serta memberikan penilaian terhadap hasil-hasilnya.

DOSEN memberikan teori-teori terapan dan rekayasa baik berupa teori-teori dasar maupun terapan yang mengikuti norma dan standard baku yang berlaku secara internasional maupun nasional, serta teori-teori pendukung lainnya yang terkait langsung dengan ketrampilan-ketrampilan manual yang diberikan oleh para instruktur.

Program pendidikan Politeknik, kecuali untuk ilmu-ilmu dasar, selalu mengacu pada hal-hal yang norma dan standarnya sudah baku secara nasional maupun internasional baik teori terapan maupun praktek-prakteknya, karena disinilah perbedaan yang nyata antara muatan pendidikan akademik dan keahlian kejuruan, sehingga saling komplenter dalam rnelaksanakan tugas-tugas keindustrian seperti tercermin dalam diagram 4.

LANDASAN HUKUM

Dengan diundangkannya Undang·Undang Republik Indonesia No.2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada tanggal 27 Maret 1989, maka Sistem Pendidikan Nasional akan berlandaskan dan mengacu pada undanq-undanq tsb.

Khususnya untuk Pendidikan Tinggi maka dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 16 sampai dengan pasal 22 Undang-undang tsb., telah diundangkan pula Peraturan Pemerintah RI No. 30 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Tinggi pada tanggal 10 Juli 1990.

UU No.2 tahun 1989

Sesuai jenjangnya, Pasal 12 menetapkan bahwa:

Jenjang pendidikan dalam jalur pendidikan sekolah terdiri atas: Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi.

Sesuai sifatnya,

    • Pasal 15 menetapkan bahwa Pendidikan Menengah terdiri atas pendidikan Umum, pendidikan Kejuruan, pendidikan Luar Biasa, pendidikan Kedinasan dan pendidikan Keagamaan.
    • Pasal 17 menetapkan bahwa Pendidikan Tinggi terdiri atas pendidikan Akademik dan pendidikan Profesional.

Pendidikan Akademik merupakan pendidikan yang diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan, dan Pendidikan Profesional, yang juga dikenal sebagai pendidikan keahlian, merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu. (Ref. Pasal 11 dan penjelasannya).

Sebagai Satuan Pendidikan maka, Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat berbentuk Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut atau Universitas. (Ref Pasal 16).

Akademi dan Politeknik hanya menyelenggarakan pendidikan Profesional. Sekolah tinggi, Institut dan Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/ atau profesional.

Politeknik, sebagai satuan pendidikan, merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan terapan dalam sejumlah bidang pengetahuan /  keahlian khusus. (Ref Pasal 6).

PP No. 30 tahun 1990

Sesuai tujuannya, Politeknik sebagai perguruan tinggi adalah penyelenggara pendidikan profesional dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. (Ref Pasal 6).

Pendidikan profesional terdiri atas Program Diploma (Diploma I, Diploma II, Diploma III dan Diploma IV) dan Program Spesialis (Spesialis I dan Spesialis II) (Ref Pasal 5 dan penjelasannya).

Dengan adanya landasan hukum tsb, maka gagasan konseptual dimuka dapat direalisasikan sesuai dengan maksud dan tujuannya, namun untuk pendidikan Politeknik masih perlu diperhatikan antara lain hal-hal berikut :

  • Perangkat Peraturan yang sampai saat ini ada sebagian besar secara komprehensip baru menaungi pendidikan Akademik.
  • Perlu dikembangkan Perangkat Peraturan yang dapat menaungi secara komprehensip tentang pendidikan Profesional, dimana Politeknik dapat berkembang sesuai sifat dan tujuannya.

Bila Perangkat Peraturan ini tidak dikembangkan maka dengan Peraturan yang ada pendidikan Politeknik akan bergeser (drifted) menjadi pendidikan pseudo Akademik padahal basis pendidikan Politeknik adalah Diploma III.

PENUTUP

Dengan berkembang dan terbukanya pasar global dan harapan laju pertumbuhan industri rekayasa. manufaktur dan proses yang direncanakan untuk menjadi penggerak pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, termasuk industri-industri jasa yang akan berkembang dan tumbuh sebagai pendampingnya, maka pendidikan Politeknik akan menjadi semakin penting dan semakin banyak diperlukan.

Terlebih-Iebih dengan Pemerintah Indonesia telah menandatangani GATT sebagai anggota WTO, maka pengembangan kemampuan daya saing global menjadi sangat penting dimana tenaga-tenaga profesional akan mempunyai andil yang cukup besar untuk mencapainya. Tidak hanya daya saing yang perlu dikembangkan, tetapi juga rambu-rambu global lainnya perlu diatasi seperti jaminan mutu (ISO 9000). lingkungan (cleaner and cleaner products & technologies). ECO labeling, efficiency dalam penggunaan material dan energi terlebih-Iebih untuk yang tak terbarukan, emisi, daur ulang dan lain-lain yang akhirnya harus memenuhi ECO-efficiency, maka dengan paradigma baru ini profesionalisme mutlak diperlukan.

Beberapa hal dapat disimpulkan antara lain:

(1) Dengan didasari pemikiran konseptual, landasan hukum dan peraturan yang ada, sekalipun masih diperlukan pengembangan perangkat peraturan selanjutnya, serta tantangan masa kini dan yang akan datang dan aset yang sudah dimiliki baik perangkat lunak maupun keras untuk seluruh Politeknik negeri yang telah menyerap dana senilai kurang lebih US$ 350.000.000,- maka sudah seyogyanya Politeknik-Politeknik Negeri yang sudah ada dilembagakan secara mandiri terpisah dari universitas / institut induknya. Dengan demikian Politeknik akan mampu mengkristalisasikan jatidirinya untuk memenuhi misinya.

(2) Mengingat bobot, jangkauan dan ruang lingkupnya maka perlu diupayakan status kelembagaan yang betul-betul kondusif bagi Politeknik untuk dapat berperan dan berkembang sesuai misi dan tantangan jamannya. Bila hal itu melalui eselonisasi, maka pimpinan puncaknya setidaknya diperlukan tingkat eselon II, bahkan tidak mustahil dalam perkembangannya diperlukan eselon I. Bila hal itu dilakukan tanpa melalui eselonisasi, maka diperlukan perangkat peraturan yang memungkinkan pimpinan puncaknva melakukan tuqas-tugas kelembagaan secara maksimal kedalam maupun keluar, khususnya dengan industri dan lembaga-Iembaga mitra kerjanya baik swasta maupun pemerintah, nasional maupun internasional, sehingga Politeknik mampu melaksanakan misinya.

(3) Pengajaran knowledge (ketrampilan intelektual) yang berupa pengajaran teori sampai saat ini dianggap statusnya lebih tinggi daripada pengajaran knowhow (praktek / ketrampilan manual) yang akan sangat counter productive bagi pendidikan Politeknik, karena kedua-duanya adalah unsur sejajar yang saling mengisi serta sama bobot dan pentingnya.

Oleh karena itu apapun sebutan tenaga pengajar (dalarn makalah ini masih disebut dosen dan instruktur) bagi masing-masing unsur pengajaran tsb. perlu diupayakan mempunyai hak, kewajiban dan jenjang pengembangan karier kepangkatan terbuka yang sarna sampai tingkat yang setinggi-tingginya. Bila ada perbedaan maka salah satu unsur pengajaran di pendidikan Politeknik tidak akan dapat terpenuhi, karena tenaga pengajar yang kurang hak dan penghargaannya akan beralih kejalur yang lebih dihargai atau meninggalkan pekerjaan dan tugas-tugasnya.

(4) Politeknik untuk dapat melaksanakan misinya dengan baik, memerlukan biaya operasional dan perawatan yang tinggi. Dengan kemampuan anggaran yang terbatas dari Pernerintah, perlu dipacu konsolidasi Politeknik sehingga mampu mendayagunakan dan menghasilgunakan aset dan potensinya untuk menggerakkan dana sebesar-besarnya dari masyarakat, khususnya dari dunia usaha dan industri, melalui kemitraan kerja kelembagaan yang saling menguntungkan dan saling bermanfaat secara sinergi.

Dengan lain perkataan Politeknik harus dipacu untuk mengembangkan sernangat, jiwa dan wawasan kewirausahaan / kewiraswastaannya yang berlandas pada ekonomi pasar. Hal yang demikian itu saat ini sudah merupakan kecenderungan internasional, yang pasti akan lebih berkembang dan meluas lagi di waktu yang akan datang

(5) Berkembangnya kemitraan kerja kelembagaan (LINK) antara Politeknik dengan dunia usaha dan industri akan menumbuh suburkan (enriching) Politeknik dalam hal teknik-teknik dan teknologi-teknologi baru yang relevan (MATCH) dengan pasar kerja dan tantangan serta kecenderungan masa depanrwa, disamping tangible dan intangible benefit lainnya.

Bila ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka akan didapatkan multifacted benefit dan Politeknik akan mampu menjadi Pusat Relevansi Pembangunan di tanah air.

Kiranya masih panjang perjalanan Politeknik dalarn mengkristalisasikan jatidirinya dan diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan sehingga pendidikan Politeknik dapat berhasil dan berdaya guna bagi pembangunan negara dan bangsa Indonesia.

 

Bandung, Juni 1994

Disusun oleh :

Ir. HADIWARATAMA.M.Sc.E.

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada November 28, 2011 in Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

10 responses to “TUJUAN dan SEJARAH POLITEKNIK di Indonesia

  1. Suatmo Martapawira

    April 26, 2012 at 9:25 pm

    Masihkah Pendidikan Politeknik berada di dalam track yang dirancang pendahulunya?

     
    • Duddy Arisandi

      Mei 1, 2012 at 8:15 am

      Insyaallah masih ada Pak Suatmo, beberapa diantaranya masih di dalam track Jalur Pendidikan Professional. Namun beberapa diantaranya juga ada yang sudah pindah jalur ke sistem pendidikan akademis. Main scheme nya, mudah-mudahan masih tetap selaras dengan adanya Bagian yang Mengurusi Politeknik di Dirjen Dikti. Salam kenal Pak Suatmo.

       
  2. Ratna Budiawati

    Oktober 15, 2013 at 10:35 pm

    Salam kena pak duddy
    Politeknik masih perlu digawangi pendidik-pendidik dan pengelola yang kental penjiwaannya dalam penyiapakan tenaga berkualitas di sektor industri dan bisnis. hatur nuhun artikel kutipan maupun point of view…….mari terus kita kembangkan pendidikan profesi (technology) ini.
    wassalam

     
    • Duddy Arisandi

      Oktober 16, 2013 at 12:37 pm

      Terimakasih atas masukannya Ibu Ratna.
      Pendapat ibu betul, mudah-mudahan main stream nya tidak berubah. Ada porsi untuk jalur pendidikan akademik dan jalur pendidikan provesional.
      Wasalam
      Duddy

       
  3. suharto

    Oktober 27, 2013 at 9:00 am

    Yth. Pak Duddy
    saya mengikuti tulisan Bapak, kemitraan dengan Industri menjadi keniscayaan. Sementara itu banyak dosen Politeknik yang melanjutkan jenjang S2 dan S3 jalur akademik sehingga berpengaruh terhadap cara mengajarnya seperti jalur akademik. Pertanyaan saya adalah bagaimanakah model manajemen pendidikan berbasis industri yang layak untuk dilaksanakan dalam keadaan seperti sekarang ini..?
    Terimakasih

     
    • Duddy Arisandi

      November 1, 2013 at 11:01 pm

      Yth Bapak Suharto,
      Yang bapak utarakan benar adanya Pak. Tidak lepas dari regulasi yang ada di negara kita. Dalam sejarahnya dulu, pendidikan di Indonesia belum mengenal D4 (terlebih SP1-SP2). Namun secara bertahap, regulasi itu mulai dituangkan ke dalam PP60. Namun dalam pelaksanaannya ternyata belum semulus apa yang diharapkan (banyak perguruan tinggi ‘terkenal’ di kita belum mengetahuinya bahkan beberapa diantaranya menolak keberadaannya, tidak perlu saya sebutkan satu persatu perguruan tinggi tersebut. Selain itu, provider pelaksana pendidikan SP1 & SP 2 belum siap di negera kita (karena based jalur yang digunakan adalah jalur pendidikan akademis). Sisi lainnya, beasiswa-beasiswa yang tersedia belum membagi celah kepada porsi pengembangan lanjut bagi jalur profesional. Industri-industri / lembaga penelitian yang ada dewasa ini, belum juga mengenal sosok SP1 / SP2.
      Namun, ada berita menggembirakan juga yang beredar saat ini. Satu sisi DIKTI telah memberi celah tersendri bagi pengembangan pendidikan vokasi. Kita mengenal sosok pejabat yang lahir pure dari jalur pendidikan profesional (Bp. Kokok Haksono), mudah-mudahan upaya beliau membuahkan suatu hasil yang bermanfaat bagi pengembangan jalur vokasi. Berita lainnya adalah bahwa semakin sadarnya para mahasiswa-mahasiswa di PT bahwa ‘porsi practical based’ memang dibutuhkan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten. Berita lainnya, Insyaallah untuk pendidikan untuk SP 2 (jalur manufactur / mechanical engineering) akan dibuka pada tahun 2015 ? (mudah-mudahan berita menggembirakan ini cep[at terealisasi).
      Kita kembali kepada topik, bahwa para dosen lulusan S2/S3 yang mengajar di jalur profesinal harus diberi bekal mengenai filosofi jalur pendidikan profesional (pekerjaan ini tidak mudah). Namun, jika kita mencemati (dan mau diikuti oleh seluruh PT jalur pendidikan yang ada), maka DIKTI telah memili program pelatihan berupa : PEKERTI, APPLIED APPROACH, dan PENGUKURAN&TEST. Dari pelatihan tersebut, Insyaallah seorang dosen akan memahami ‘dimana posisi dia berada dan apa yang diharapkan dari keberadaanya” (sayangnya, tidak semua pengelola PT menganggapnya penting, sehingga, jalan sesuai keiingan masing-masing, terlebih coraknya disesuaikan dengan apa yang pernah ia alami / latar belakang pendidikan yang pernah diikuti). Insyaallah saya akan mengirim file model manajemen dalam bentuk global kepada Bapak, dan arsip filenya akjan saya cari.
      Untuk file-file pelatihan dari DIKTI, ada di menu prodi pada blog ini (filosofi penting untuk berkecimpung di dalam dunia belajar mengajar).
      Mohon maaf saya terlambat merespons surat dari Bapak, dan semoga info ini bermanfaat.
      Wassalam
      Duddy Arisandi

       
  4. Yuyun Estriyanto

    April 11, 2016 at 9:26 pm

    Salam kenal Pak Duddy,… Saya sangat tertarik dengan bahasan ini karena kebetulan sedang study Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Dulu waktu menjadi mahasiswa baru ITB (Tahun 1997), saya lupa-lupa ingat pernah dipaparkan gambar-gambar itu di kelas oleh Prof. Djoko Suharto (Teknik Mesin). Tahun-tahun belakangan ini, gambar2 itu muncul lagi dengan kemasan yg lebih colorfull, misalnya pada sosialisasi KKNI. Setiap berbicara penjenjangan kualifikasi SDM, dan penjelasan jalur pendidikan akadmeik dan profesional, maka gambar itu pasti tampil. Saya sendiri kurang yakin, dulu Prof Djoko Suharto merefrence dari sumber yang sama dengan Ir. HADIWARATAMA.M.Sc.E. atau justru salah satu dari beliau merefrence ke salah satu yang lain. Ini yang sedang saya cari2 dan tidak ketemu… Atau mungkin juga beliau berdua pernah berada dalam satu taskforce dalam pengembangan Polman ITB.

    Saya sangat tertarik dengan pandangan pak Duddy,… lebih dari skedar belajar sejarah tentang pendidikan politeknik, akan tetapi saya pengin kita semua paham betapa konsep2 hebat dan terang itu sudah dikembangkan oleh senior-senior kita. Oleh karena itu, pengembangan berikutnya harus lebih hebat… sehebat senior-senior kita itu telah mendahuluinya, supaya pengembangan pendidikan akademik dan pendidikan profesional itu selalu berada di track yang seharusnya. Tidak pseudo,… akibat dari ketidak pahaman dengan kedua jalur tersebut. Sekaligus, supaya masing-masing dari kita sadar di jalur mana kita berada, akan tetapi juga paham ada jalur lain yang memiliki jalur dengan karakteristik berbeda.

    Pak Yuddy,.. Sekiranya Bpk msh memiliki tulisan aseli dari bahasan di atas. Mohon bisa dishare sehingga kita di kalangan akademisi kejuruan bisa merefrent dengan tepat dan yakin, karena tulisan di blog kurang begitu bisa diterima dalam referensi ilmiah (lemah).

    Demikian, Hatur Nuhun!

     
    • Duddy Arisandi

      April 12, 2016 at 12:58 am

      Salam kenal Pak Yuyun, Beberapa team berasal dari ITB (dulu mesin di bawah FTI), beberapa dosen mesin terlibat di team adalah Bapak Sri Hardjoko (tekprod) dan Bapak Tata Surdia (Material). Kemungkinan beberapa staff Dosen Mesin menjadi nara sumber atau team kecilnya Pak. Saya kirim link dokumen terkait (https://drive.google.com/drive/folders/0BxISOQA_AHSeMDdiNGIzMWMtMTg5ZC00ZDk5LTk1ZTUtMjFlMWE1MjY3ZWM3) / bapak dapat mengirim alamat email ke saya (duddy_arisandi@yahoo.com), Insyaallah saya kirim softfilenya.
      Wassalam

       
      • Yuyun Estriyanto

        Mei 21, 2016 at 8:50 pm

        Terima kasih sekali, Pak Duddy. Sudah saya download dari link Google Drive Bapak. Saya sampaikan terima kasih sekali atas bantuannya. Insyaa Alloh nanti saya email Bapak untuk direct contact..

         
      • Duddy Arisandi

        Juni 2, 2016 at 2:37 am

        Alhamdulillah Pak, semoga bermanfaat & emailnya saya tunggu.

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: