RSS

MENGINTEGRASIKAN SISTEM PENDIDIKAN DI YAYASAN PENDIDIKAN MILIK PERUSAHAAN (PENGELOLAAN OLEH SWASTA)

24 Okt
MENGINTEGRASIKAN SISTEM PENDIDIKAN  DI YAYASAN PENDIDIKAN MILIK PERUSAHAAN (PENGELOLAAN OLEH SWASTA)

1.    LATAR BELAKANG

Dalam rangka mengembangkan sistem pendidikan yang ada di daerah pertambangan, maka berbagai aspek perlu dipertimbangkan berkaitan dengan Regulasi penyandang dana, Regulasi pemerintah, Keterkaitan lembaga lainnya yang berinteraksi baik secara langsung maupun secara tidak langsung, dan Masyarakat yang ada di sekitar area kerja pertambangan tersebut.

Dalam era globalisasi ini, akan memungkinkan terjadinya lintas jalur jenjang pendidikan ataupun pengembangan lanjut terkait dengan peningkatan kompetensi maupun jenjang pendidikan yang ada, sehingga pengakuan dan keberterimaan suatu institusi oleh masyarakat global (dalam scope nasional maupun internasional) menjadi suatu persyaratan yang harus dipenuhi.

Mengingat potensi yang dimiliki oleh suatu Yayasan memiliki strength yang lebih dari institusi lainnya (memiliki overall level of educational, dan beberapa hal lainnya yang secara langsung akan mendukung Perusahaan penyandang dana dalam menjalankan business activity), maka penyelarasan pola pendidikan dan pelatihan yang ada akan sangat memungkinkan sekali untuk dilakukan, bahkan dapat dijadikan suatu model simulasi yang dapat diacu oleh institusi lainnya (area industri yang men-triger outcomes set-up pendidikan). Pola tersebut telah dilakukan baik di area nasional maupun internasional, dan sebagai pencetus gagasan adalah negara Jerman dan dewasa ini meluas ke asia, yang pada khususnya di asia tenggara : Singapura, Malaysia, dan Indonesia)

Pada sisi lainnya weakness berupa intersection regulasi antara Penyandang dana, Yayasan, Sekum, dan Perguruan Tinggi perlu pembenahan lebih lanjut. Hal tersebut berkaitan dengan penyelarasan bentuk dan pelaksanaan institusi pendidikan yang ada dengan government regulation & rule (overall legal aspect). Kondisi ini telah lama dijumpai pada community Institusi pendidikan pemerintahan maupun swasta, yang pada saat itu tidak terlalu berpengaruh bagi Institusi pelaksana. Pada kondisi sekarang, hal tersebut tidak dapat dibiarkan mengingat beberapa program akan dinilai berdasarkan Key Performance Indicator yang berlaku secara nasional, dan yang terpenting bahwa alokasi “fund” (source external bagi suatu institusi pendidikan) telah  dipostingkan oleh Depdiknas untuk Program Perkuatan ataupun Pengembangan Sekolah atau Program Studi (pada pelaksanaannya dilombakan dalam bentuk proposal penelitian, mulai dari kelas jutaan sampai dengan milyaran rupiah).

2.    MODEL / SKEMATIC RANCANGAN

Mengingat bahwa Pendidikan yang ada dimiliki oleh Perusahaan Pertambangan (yang dikelola melalui Yayasan), maka set-up system akan dirancang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh Perusahaan Pertambangan tersebut. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Beberapa potential development yang penulis anggap dapat mendukung tujuan business activity Perusahaan Penyandang dana adalah adalah:

Production Supoporting

(Note: Casting part / component sampai saat ini masih diadakan secara outsource oleh Perusahaan penyandang dana, akan sangat menguntungkan sekali jika dikembangkan oleh suatu program studi, ataupun local community yang bergerak di bidang foundry untu meng-cover kebutuhan yang ada di wilayah Indonesia Timur. Untuk saat ini sebagian besar disuplai oleh Vendor asing. Beberapa establish industry berada di pulau jawa: Ceper, PT Pindad, PT Bukaka Forging Industry, dan Polman Bandung).

Human Resources Development:

i. Training:

Sampai dengan saat ini pelatihan telah dijalankan mulai dari level basic skill, intermediate skill, dan advance skill. Beberapa materi pelatihan telah dilakukan pula oleh Perguruan Tinggi milik Yayasan sebagai pelaksana. Untuk meningkatkan spectrum / ruang lingkup yang ada maka dapat dipertimbangkan untuk mengadakan Program Studi baru (dua aspek yang akan didapat adalah Strengthening Perguruan Tinggi yang bersangkutan sebagai lembaga pendidikan dan training provider), yang meliputi:

  • Program Studi Desain Manufaktur (untuk saat ini sebagai bidang spesialisasi).
  • Program Studi Mekatronik untuk Hardware & Software (mengingat PTI menerapkan system Distributed Control System)
  • Program Studi Maintenance (merupakan program penguatan dalam hal implementasi Intermediate Skill dan Advance Skill)
  • Program Studi Otomotif (lebih diarahkan kepada maintenance handling dan component making/repair for automotive purpose).

ii. Pengembangan Jenjang Pendidikan

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian pengguna lulusan D2/D3-Perguruan Tinggi tersebut adalah Perusahaan Penyandang Dana tersebut, dan sebagian besar dari posisi mereka sudah banyak yang berada pada level staff. Secara alamiah akan ada fase dead lock untuk naik ke jenjang karier yang lebih tinggi mengingat persyaratan akademik yang ditetapkan. Tidak menutup kemungkinan pula bahwa karyawan berprestasi level STM yang berada di Perusahaan tersebut akan di-up grade ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (sebagai salah satu award).

iii.      Community Development Program:

Insemenasi Perusahaan Penyandang Dana kedalam masyarakat di wilayah pemberdayaan (khususnya tempat perusahaan tersebut berpijak) dapat dilakukan melalui beberapa metode pendekatan sebagai berikut:

  •  Vocational Training Course, yang mana pelibatan organisasi kepemudaan (semisal Tarka) dapat dilatih untuk memiliki keahlian di bidang tertentu. Namun hal terpenting yang perlu dicermati adalah follow-up untuk menyalurkannya pada dunia tenaga kerja.
  •  Engineering Research for Prototyping,  melalui penggalian sumber daya potensial pada suatu daerah yang miskin akan sentuhan teknologi modern (tidak berarti produk tersebut menjadi mahal harganya, dan akan terjangkau oleh lapisan masyarakat umum / home industry). Pendekatan ini telah dilakukan oleh beberapa Institusi pendidikan tinggi dan masuk kedalam proyek Pendidikan Tinggi.
  •  Local contain product development, diberikan melalui pola pembinaan komprehensif. Hal tersebut tidak didasari oleh pemberian dana saja dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada pengguna. Yang lebih penting lagi adalah membekali mereka dengan wawasan manajerial untuk dapat sustainability (kewirausahaan). Program ini telah digalakan pula oleh Pendidikan Tinggi, yang pada pelaksanaannya akan berinteraksi dengan Pemerintah daerah.
  •  Educational Media for practice, hal ini untuk pemanfaatan “barang-barang” scrap milik Perusahaan tersebut, yang akan diolah lebih lanjut menjadi media pendidikan. Sebagai contoh: akan sangat ironis bahwa di satu sisi bahwa “scrap automotive” akan dinilai sebagai rongsokan yang di-kilo, padahal disisi lainnya bertebaran STM jurusan otomotif yang miskin akan fasilitas praktik. Hal tersebut dapat men-support program community development melalui jalur pendidikan, bahkan suatu saat dapat menjadi potential business seperti yang dilakukan oleh PT Labtech-Batam.

iv. Graduate Placement Center:

Terjadi gap antara Owner (dalam hal ini Perusahaan Penyandang Dana) dengan fihak pelaksana pendidikan. Mengingat kompetensi lulusan Perguruan Tinggi yang ada sangat memenuhi pre-request SDM Perusahaan tersebut hanya untuk level tertentu saja, namun terjadi kondisi sebaliknya bahwa reqruitment belum menyeluruh pada department yang ada di Perusahaan Penyandang Dana. Perlu ditegaskan bahwa Graduate dapat difasilitasi juga oleh Perusahaan tersebut melalui Subkontraktor-Subkontraktor yang ada sebagai penerima lulusan. Atau dapat ditegaskan bahwa Graduate harus bersaing juga di luar area/letak Perusahaan Penyandang Dana, sehingga strengthening pelaksanaan pendidikan dapat difasilitasi oleh Perusahaan Penyandang Dana untuk mendukung tujuan tersebut (termasuk kelengkapan sarana dan infrastuktur yang dibutuhkan).

3.    OUTCOMES PENDIDIKAN

Pola yang diterapkan sekarang telah mengakomodir bahwa kelanjutan jenjang pendidikan yang ada dapat di-extended mulai dari Kindergaten School sampai dengan Diploma degree (bagi ruang lingkup sekolah yang bernaung di bawah yayasan). Perlu dipertimbangkan bahwa suatu saat akan terjadi extended / bridging di luar area perusahaan, yaitu pindah sekolah ke luar area Yayasan (baik didalam negeri ataupun diluar negeri) seperti digambarkan pada pola berikut:

Pada kondisi sekarang hal tersebut terjadi dan tidak ada masalah berarti. Namun untuk kedepannya perlu dirancang bahwa standardisasi perlu diterapkan (semisal Badan Akreditasi Nasional) yang akan memetakan level untuk semua jenjang pendidikan (baik secara nasional maupun internasional), dengan juga memerhatikan (government regulation) walaupun affiliation ataupun sister-method  dilakukan dengan lembaga asing.

4.    PENYELARASAN KEPENTINGAN

Penyelarasan kepentingan perlu dilakukan mengingat pada saat pelaksanaannya terjadi interaksi beberapa unit, dan/atau bagian, dan/atau departemen, bahkan lintas jalur kelembagaan. Semuanya memiliki aturan dan regulasi yang sesuai dengan fungsi kelembagaannya. Apa yang perlu dirancang adalah “keberterimaan dari seluruh aspek tersebut”. Yang pada pelaksanaannya tidak membeda-bedakan antara business oriented, dan educational oriented, dan private or government oriented. Yang kita usahakan adalah bahwa melalui regulasi yang ada kita dapat diterima pada semua lembaga dengan tidak ada pengesampingan atas lembaga lainnya yang kita anggap tidak perpengaruh. Varibelitas yang dijumpai akan sangat beragam, dan merupakan kejelian kita untuk mendapatkan intersection nya. Hal tersebut merupakan ciri program development pada era globalisasi.

 

5.    INTERNAL POTENTIAL IMPROVEMENT

Pada pelaksanananya semua level jenjang pendidikan (mulai dari TK sampai dengan program diploma) memiliki system yang telah diterapakan dan berhasil dalam pelaksanannya. Suatu parameter penting bagi setiap unsur pelaksana pendidikan adalah pelaksanaan Self Assesment yang telah diakui oleh Sisdiknas sebagai salah satu yang akan menentukan “Key Performance Indicator” pada pelaksanan system pendidikan dan pelatihan. Sebagai salah satu upaya maka standardisasi untuk “Education-Internal Audit” ataupun “Self Assesment” dapat diikuti melalui ketersediaan beberapa parameter pada gambar berikut:

Pada real condition, hampir seluruh parameter tersebut dapat dituangkan ke dalam bentuk “penilaian secara kuantitatif” (menghindari sekecil mungkin pengukuran dan penilaian melalui variable kualitatif). Bahkan dalam High Educational Long Term Program, telah mempersyaratkan pola penjaminan kualitas melalui Quality Assurance suatu Institusi pendidikan.

Selain self assessment maka bebearapa potential improvement (sebagai suatu system yang handal) adalah perencanaan untuk pengadaan beberapa system berikut:

a.      COST CENTER

Cost Center yang diterapkan tidak berdasarkan “Kode Departement” saja (umumnya diketahui untuk mengetahu plan bugget ataupun expense yang telah dikeluarkan). Secara lebih detail akan dikodekan berdasarkan kombinasi kode department, kegiatan rinci, dan fasilitas untuk business oriented. Lebih tegasnya lagi pengukuran “hidden factor” akan terlihat, dan akan men-triger set-up policy yang akan ditempuh. Hal tersebut dilakukan mulai dari fase perencanaan, pemantauan, pengendalian (membentuk suatu closed-loop / feedback system). Salah satu model pendekatan ditunjukkan pada table berikut:

i.      Salah satu contoh “detail picture” dalam educational oriented.

 

 ii.      Salah satu contoh “detail picture” dalam business oriented.

iii.      Salah satu contoh “integrated data-based system” dalam business oriented.

b.      COMPETENCY LEVEL

Beberapa standardisasi telah establish dewasa ini, namun apa yang harus kita persiapakan sejak dini adalah bahwa system pendidikan dan pelatihan yang akan kita terapkan dapat sinkron dengan government regulation dan acceptable pada Industri pemakai jasa yang ada.

c.      FUNCTIONAL CARIER LEVEL

Merupakan sesuatu yang confidential berkaitan dengan human resources mapping yang ada, namun jika big picture untuk 5-10 tahun kedepan atas kebutuhan sumberdaya telah dilakukan, maka hasil pelaksanaan pendidikan dan pelatihan yang telah dilakukan (dalam naungan Yayasan) jelas akan dapat memenuhi kuota kebutuhan untuk Perusahaan Penyandang Dana. Piramida yang berlaku secara natural dapat dijabarkan sebagai berikut:

Secara lebih detail lagi kita memahami bahwa posisi untuk jabatan structural sangat terbatas sekali (mengikuti pola piramida di atas), dan sangat tidak mungkin bahwa seluruh karyawan akan bersaing untuk menempati posisi tersebut. Beberapa Institusi Pendidikan yang ada telah berkolaborasi dengan beberapa Industri manufaktur untuk menghasilkan apa  yang disebut dengan  “Jenjang Karir Fungsional” untuk mengantisipasi permasalahan yang ada. Dan beberapa institusi telah berhasil menerapkannya, yang terlebih kompleks variablenya adalah pada Institusi yang menerapkan pola Production Based Education (yang sekarang telah bergeser scope of work-nya menjadi Manufacturing Based Education).

4.         PENUTUP

Akhir kata, kita menyadari bahwa ada beberapa pola bagi untuk melakukan perbaikan yang didasari oleh metoda “integeralisasi” dan “diferensiasi”. Kedua metoda tersebut benar adanya, namun memerlukan pemahaman yang komprenensif dalam penerapannya. Kata kunci kedepannya adalah “Sistem pendidikan terintegrasi” yang dijalankan berbasis Teknolgi Informasi.

Sampai dengan saat ini perkembangan di bidang teknologi informasi telah pesat, namun perlu disadari bahwa belum pernah ada yang dapat menandingi kebesaran Yang Maha Kuasa melalui Nabi Sulaeman. Bukan hanya kumpulan data atau visual berbentuk 2 dimensi saja yang dapat dipindahkan dalam orde kedipan mata, namun pemindahan berwujud fisik 3 D dapat dipindahkannya [dalam Al-Qur’an tercatat: Istana Ratu Bilqist yang dipindahkan dalam sekejap mata]

Soroako, 25-Juni-2007

Duddy Arisandi / ISTC-88

Ka. Bag. Perencanaan dan Pengendalian Produksi

Akademi Teknik Soroako

Yayasan Pendidikan Soroako

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 24, 2011 in Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

14 responses to “MENGINTEGRASIKAN SISTEM PENDIDIKAN DI YAYASAN PENDIDIKAN MILIK PERUSAHAAN (PENGELOLAAN OLEH SWASTA)

  1. admin http://ats-sorowako.ac.id

    Oktober 24, 2011 at 12:21 pm

    masya Allah, you deserve to get more appreciation for such efforts.

     
    • Duddy Arisandi

      Oktober 24, 2011 at 9:38 pm

      Alhamdulillah, we always learn that the events almost the same, day to day, week to week, month to month, year to year. Repeatable condition and I wants to share many things to develop our country, especially at education.

       
      • karim

        Agustus 13, 2015 at 6:00 am

        Yth Pak Dudy, saya ingin berkomunikasi dengan Bapak bisa lewat email atau WA tetang pendidikan kejuruan. Kebetulan saya sekarang jadi ;Profesional Adviser di Dit Pembinaan SMK Kemendikbud Jakarta dan sekarang saya sedang menulis panduan MBS di SMK dan sudah menyelesaikan tulisan tentang Program Pengembangan SMK kurun Indonesia tahun 2025 – 2045. Thanks

         
      • Duddy Arisandi

        Agustus 14, 2015 at 12:32 am

        Salam kenal Bapak Karim, salamat email saya : duddy_arisandi@yahoo.com ; saya tidak memiliki WA Pak. Sangat senang untuk berdiskusi dengan Bapak, saya tunggu emailnya Pak.

         
  2. harman

    Oktober 25, 2011 at 12:30 am

    Tulisan yg sangat menyentuh…cuma penulisx tdk up to date…tapi mantap… lanjutkan…

     
    • Duddy Arisandi

      Oktober 26, 2011 at 9:37 am

      Betul Bung Harman, waktu penuliannya tidak up-to-date (tahun 2007), Insyaallah untuk ide-idenya masih sejalan dengan perkembangan yang ada. Terimaksih atas masukannya.

       
  3. bambang erbata kalingga

    Oktober 25, 2011 at 6:38 pm

    hallo, gw ngak ngeliat ada pendidikan untuk lingkungan sama pertanian, kok semuanya mengarah ke industri doang, nah lingkungan yang di rusak karena di ambil mineralnya, gimana cara recoverynya, memang ada bagiannya tersendiri, itu kata teman gw yang pamannya punya tambang batu bara, dan dia juga mendirikan sekolah juga, tetapi utk lingkungan alam nya ?? dia bilang ngak jalan. lalu ???????
    sory cuma ngeliat kok ngak ada untuk lingkungan.

     
    • Duddy Arisandi

      Oktober 26, 2011 at 9:38 am

      Betul Bambang, untuk industri manufaktur. Namun pertaniannya juga ada yang masuk di Bidang Agroindustri. Mudah-mudahan kedepannya ada yang bisa sharing di bidang pertanian. Thanks you brow, atas masukannya.

       
  4. Muhammad Indra Respati

    November 1, 2011 at 3:00 am

    Hi Kang Dudi,
    saya punya pertanyaan yang rasanya tidak terjelaskan dalam tulisan akang.
    Seberapa sulit merekrut Mahasiswa Baru disana ?
    (mengingat jumlah penduduk disana terbatas dan Jauh lebih sedikit dibanding Pulau Jawa)
    saya rasa ini penting ( ‘sesuatu banget’ kalo kata Syahrini) mengingat object sebuah institusi pendidikan adalah Mahasiswa, dan untuk mendongkrak kinerja Pendidikan diperlukan Mahasiswa Mahasiswa ‘Pintar’ yang umumnya di pilih melalu Seleksi yang ketat dan iklim yang kondusif selama Proses Belajar-Mangajar atau dengan kata lain persaingan antar ‘Mahasiswa Pintar’ akan mendongkrak kualitas pengajaran.
    Sayang aja kalo pengajar dan Sistem pendidikannya sudah bagus tapi, mahasiswanya yang pemalesan.

    salam
    Muhammad Indra Respati
    PMS-ITB angkatan 15

     
    • Duddy Arisandi

      November 4, 2011 at 10:02 am

      Betul Indra, jumlah pelajar yang ada sekitar 1200-1400. Missi kita adalah ‘Meratakan mutu pendidikan’ yang tidak dibatasi oleh dimensi: waktu, tempat, kesukuan dan agama. moto kami sebagai dosen adalah sebagai fasilitator. Kami akan bangga jika ‘orang yang belum pandai membaca’ setelah mengenyam pendidikan maka akan ‘dapat membaca’. Membuat orang yang sudah dapat ‘membaca’ menjadi lebih sensitif menjai ‘membaca dengan fikiran, telinga, dan mata hati’. Itulah tujuan standardisasi pendidikan tinggi (BAN-PT), plat form standard yang berlaku secara universal, yang suatu saat akan diakui di ‘international education area’. BTW, Indra yang dulu pernah jadi mahasiswa saya di Bandung ya?

       
      • Muhammad Indra Respati

        November 4, 2011 at 11:19 am

        Dear Kang Dudi,
        lebih tepat saya dulu adik kelasnya akang. (akang tingkat 3 saya tingkat 1) dulu akang ketua senat, jadi semua adik kelasnya pasti kenal akang.
        waktu akang jadi instruktur D3KT saya masih kuliah disana di Program D3AT, praktis secara real tidak diajar secara langsung tapi kalo diskusi atau minta saran sich pernah juga.

        kembali ke masalah ketersediaan mahasiswa ternyata saya salah berassumsi yach,….1200-1400 untuk 3 tahun (program D3) atau satu angkatan 400an orang bukan angka yang sedikit.
        berarti jumlah penduduk disana ( disamping animo belajar masyarakatnya) sangat banyak.
        baru saya ngerti sekarang kalo di Soroako itu tidak seterpencil Gorontalo termasuk daerah padat penduduk. berarti kekhawatiran saya atas resiko ‘Akademi teknik Soroako kekurangan mahasiswa’ tidak beralasan

        Nuhun kang atas jawabannya,
        Selamat dan sukses ya kang.

         
      • Duddy Arisandi

        November 4, 2011 at 1:01 pm

        Dear Indra, jumlah tersebut mulai dari TK sampai dengan PT, untuk Jumlah mahasiswa PT per tahunnya sekitar 80 mhs (daya tampung untuk bidang keteknikan dibatasi oleh jumlah fasilitas yang ada. Nice to meet you, btw posisi dimana dan di perusahaan mana? Mudah2 an ada yang bisa di share ke kami. Salam untuk keluarga.

         
  5. amri marzali

    November 3, 2011 at 1:41 am

    Suatu hari di tahun 1996, di tengah hutan Tumbang Samba (Kalteng), basecamp perusahaan logging Dwimajaya, saya mendengar dengan penuh haru lantunan suara angklung yg dimainkan oleh anak-anak SD Dwima. Suaranya mendayu di tengah-tengah hutan lebat alam tropika. Di Batu Licin perusahaan logging Korea Kodeco membangun sekolah teknik. Tapi…bagi saya… tidak ada yg sehebat tambang batu bara ombilin. Dia bukan hanya bangun sekolah, tapi bangun kota dengan segala fasilitasnya…Bgm dgn Freeport…? Apakah terlalu mewah…? Tidak membumi?

     
    • Duddy Arisandi

      November 4, 2011 at 9:55 am

      Alhamdulillah, terimakasih Prof. Amri elah berkenan untuk memberi komentar. Nampaknya, program community development tersebut dapat dijadikan percontohan. Jangan sampai kekayaan alam kita ‘ditambang’ oleh investor dari luar, namun mereka melupakan kewajibannya terhadap anak bangsa. Memang sangat sulit memaknai, bahwa kekayaan yang ada di bumi pertiwi ini harus dikelola untuk memakmurkan anak bangsa. Alhamdulillah, akhirnya kami telah terakreditasi ‘B’, berkat bantuan profesor menyemaikan benih sosialisasi BAN-PT.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: