RSS

TIPS DALAM MENYIAPKAN SERTIFIKASI DOSEN BERDASARKAN RENCANA BEBAN KERJA DOSEN (BKD) & PENGEMBANGAN KEPROFESIONALAN DOSEN INDONESIA [DAN MASUKAN UNTUK REVISI MATRIKS PENILAIAN KONSISTENSI DI BUKU-2 SERDOS]

TIPS DALAM MENYIAPKAN SERTIFIKASI DOSEN BERDASARKAN RENCANA BEBAN KERJA DOSEN (BKD) & PENGEMBANGAN KEPROFESIONALAN DOSEN INDONESIA  [DAN MASUKAN UNTUK REVISI MATRIKS PENILAIAN KONSISTENSI DI BUKU-2 SERDOS]

Sekapur Sirih

Dewasa ini pelaksanakan suatu aktivitas yang sesuai dengan bidangnya akan memerlukan pengakuan oleh lembaga yang memiliki wewenang untuk menguji dan menerbitkan sertifikatnya, dan berlaku juga bagi seorang dosen.

Beragam dosen memiliki latar belakang kultur dan pendidikan yang berbeda pula seperti : lulusan perguruan tinggi dalam negeri / luar negeri, lulusan perguruan tinggi teknik dan non teknik, lulusan perguruan tinggi terakreditasi A sampai dengan C, dan lain-lain.

Berdasarkan data dosen yang disertifikasi (Gelombang-1 2014): Dari 6036 DYS yang telah memiliki akun di Serdos, sebanyak 1435 orang DYS tidak menyelesaikan penyusunan portofolionya (belum diajukan PTU), dari 4601 DYS yang telah diajukan oleh PTU, sebanyak 177 DYS tidak dapat diajukan untuk penilaian oleh PTPS karena Skor TKBI atau Skor TKDA tidak lengkap, dan bermasalah dengan status “dosen tetap” di PDPT.

Terkadang salah dalam memaknai ‘lulus sertifikasi’, pada saat sertifikasi dilakukan maka dosen akan berupaya untuk mengubah behaviour agar dapat dinilai baik oleh rekan sejawat, atasan, mahasiswa, dan diri sendiri, eh-eh-eh setelah lulus sertifikasi kembali ke behaviour asalnya. Adanya juga yang lupa akan tugas, tanggung-jawab, dan wewenangnya sebagai dosen karena ‘merasa’ sudah senior, terlalu lama duduk di bangku struktural,  alergi terhadap kritikan-kritikan yang masuk. Memang hal tersebut tidak bisa disalahkan karena belum ada yang mengatur pengukuran kinerja secara kontinyu dan berkesinambungan seperti pola sertifikasi dosen.

Ketika budaya santun dalam berkomunikasi lewat media masa secara perlahan telah menyurut, hampir di setiap group FB yang saya menjadi anggota di dalamnya (termasuk beberapa diantaranya group dosen) sering terjadi pertentangan / silang pendapat yang mengarah ke arah perpecahan dan saling menyinggung terkait berita politik (walaupun mungkin hal ini dianggap sebagai suatu selingan/hiburan semata). Rasanya, tergerak hati ini untuk mengetahui apa yang menjadi penyebabnya jika dikaitkan dengan pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia (walaupun bukan tujuan utama dalam penulisan ini).

Terbayang, bahwa rata-rata seseorang untuk menamatkan pendidikannya di Indonesia akan memerlukan waktu sekitar minimum 18 tahun (jika lulus S1) sekitar 28,6 % dari rata-rata usia pada umumnya (63 tahun). Terlebih lagi untuk lulusan S2 dan S3. Dengan waktu pendidikan yang sedemikian lama apakah belum cukup untuk menghasikan kualitas sumber daya manusia yang sesuai dengan yang diamanatkan oleh UU tentang tujuan pendidikan nasional ?

Seorang dosen merupakan bagian masukan (input) pada proses Tridharma PT yang melakukan tiga aktivitas penting di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat, untuk menghasilkan suatu luaran (output) yang terukur. Tentunya untuk menjalankan semuanya itu akan memerlukan kompetensi minimal yang harus dimiliki oleh seorang dosen. Dan kompetensi tersebut harus dipelajari, diulang-ulang sampai menjadi suatu kebiasaan, dan lebih dalam lagi akan masuk ke alam bawah sadar kita sehingga merupakan refleksi / renspons atas suatu kejadian (sehingga terpancarlah inner beauty).

Dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua untuk membangun negara tercinta Indonesia lewat pendidikan, dan dengan saling hormat-menghormati dan menghargai prinsip-prinsip dasar di dalam masyarakat kita, serta mengenyampingkan perbedaan pendapat / pandangan yang bukan prinsip untuk mencegah perpecahan. Hasil dari metoda pendidikan yang dulu diterapkan adalah kita-kita sekarang ini sebagai salah satu contoh produknya, yang belum mengenal istilah sertifikasi dosen, dan dengan ditetapkannya sertifikasi dosen dewasa ini, semoga hasilnya  akan membawa perubahan signifikan pada bangsa yang kita cintai ini dan mungkin hasilnya daru dapat kita rasakan setelah 10-20 tahun kedepan.

 I. LATAR BELAKANG

Sebelum tulisan ini dipaparkan, ada baiknya kita mencermati apa-apa yang menjadi pembicaraan di Rubik Suara Anda  pada ‘Portal Sertifikasi Pendidik Untuk Dosen Tahun 2016” (http://serdos.dikti.go.id/). Beberapa diantaranya saya rekam dan dapat saya paparkan dalam bentuk grafik berikut :

gambar-1_distribusi-suara-anda-di-portal-sertifikasi-pendidik-untuk-dosen-tahun-2016

Gambar- 1 Distribusi Suara Anda di Portal Sertifikasi Pendidik untuk Dosen Tahun 2016

Distribusi tersebut diperoleh melalui 130 komentar dosen yang diklasifikasan menjadi 30 jenis kelompok pendapat, untuk memudahkan penafsirannya saya mempersempit lagi menjadi 8 kelompok besar yang terkait atas: system perangkat lunak, tentang asesor, tips dari peserta dosen lainnya, cara menggunakan perangkat lunak, edit terhadap data isian yang sudah divalidasi, aktivitas setelah kelulusan, masalah server, dan lain-lain.

gambar-2_klasifikasi-suara-dosen-di-portal-sertifikasi-pendidik-untuk-dosen-tahun-2016

Gambar- 2 Klasifikasi Suara Dosen di Portal Sertifikasi Pendidik untuk Dosen Tahun 2016

Berdasarkan informasi yang diperoleh (kebun serdos/Bapak Fitra Jaya), Monitoring secara nasional, khusus DYS dari kopertis 09 yang lengkap portofolionya, diajukan oleh PTU-09 (status menuggu proses PTPS) sejumlah 321 DYS (43,20 %) dari 743 DYS di Sesi II. Hal tersebut diakibatkan ketidaklengkapan ataupun kesalahan selama proses pengisian data awal / portofolio DYS.

Untuk mengetahui penyebab yang mengakibatkan DYS tidak lulus sertifikasi dosen, maka dapat dilihat dari data penyebab ketidaklulusan DYS tahun 2014 di Indonesia (Slide Sosialisasi Serdos 2015) :

gambar-3_penyebab-ketidaklulusan-sertifikasi-dosen-dys-2014

Gambar- 3 Penyebab Ketidaklulusan Sertifikasi Dosen DYS 2014

Berdasarkan Sosialisasi Serdos Wilayah XIII Aceh Tahun 2016 ditunjukkan bahwa  berdasarkan fakta empiris penyebab ketidak-lulusan dikarenakan ketidakjelasan bagi DYS tentang proses Serdos itu sendiri, baik dalam segi teknis maupun substantif.

Dan hasil evaluasi Sesi-1 ditunjukkan bahwa : Dari 6036 DYS yang telah memiliki akun di Serdos, sebanyak 1435 orang DYS TIDAK MENYELESAIKAN penyusunan portofolionya (belum diajukan PTU), Dari 4601 DYS yang telah diajukan oleh PTU, sebanyak 177 DYS tidak dapat diajukan untuk penilaian oleh PTPS karena Skor TKBI atau Skor TKDA tidak lengkap, dan bermasalah dengan status “DOSEN TETAP” di PDPT.

Berdasarkan beberapa data yang dipaparkan tersebut saya mencoba untuk memaparkan suatu metoda yang berisi langkah-langkah persiapan yang sebaiknya dilakukan oleh calon peserta sertifikasi dosen (DYS) berikut apa-apa saja yang harus dipersiapkan sejak jauh hari sebelum proses sertifikasi dilakukan.

Meskipun buku pedoman, buku panduan, slide sosialisai telah tersedia dengan cukup banyak dan dapat diunduh dengan mudah, saya mencoba akan memaparkannya dengan sesuatu cara yang berbeda namun tetap mengacu kepada sumber-sumber referensi tersebut, ditambah suatu pengalaman tak berhingga yang saya peroleh dari Kanda Fitra Jaya (Dosen UMI dan Staff di Kopertis Wilayah 9 Makassar) pada saat dilakukannya sosialisasi sertifikasi dosen dan juga berkomunikasi lewat ‘medsos’. Tentunya, saya tidak dapat membalas segala ilmu yang telah diberikan kepada saya selain memanjatkan doa untuk beliau agar keluarganya diberkahi, dimudahkan urusannya, dimudahkan rizkinya, dipanjangkan umurnya, dan diberi kesehatan.

Selain itu, pada tulisan ini terdapat link (tautan) terkait dengan contoh soal untuk membantu DYS lainnya dalam mempersiapkan TKBI (Tes Kemampuan Bahasa Inggris) dan TKDA (Tes Kemampuan Dasar Alami).

 

II. BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPELAJARI SEJAK AWAL / SEBELUM PENGISIAN PORTOFOLIO :

2.1 HUBUNGAN INSTRUMENT PORTOFOLIO DENGAN BEBAN KERJA DOSEN- BKD

 Sebelum sertifikasi dosen dilakukan, suatu hal yang penting bagi dosen untuk memahami apa yang disebut dengan BKD (Beban Kerja Dosen), yang setiap semester direncanakan dan dilaporkan ke PDPT-Data Dosen. Perlu dicatat juga, bahwa pelaporan BKD tidak hanya dilakukan secara normatif saja (memenuhi jumlah 12-16 SKS saja) namun lebih ditekankan pada perencanaan awal sebelum semester berjalan yang dibuat oleh dosen yang bersangkutan dan ditetapkan oleh Prodi. Dosen dan Prodi akan diajarkan bagaimana cara merencanakan suatu beban, melakukan pemantauan, dan pengendaliannya, termasuk di dalamnya rekaman dokumen yang menyertainya. Pelaksanaan beberapa bidang kinerja ini (Pendidikan, Pengabdian pada masyarakat, Penelitian, dan Penunjang) akan menjadi dasar dalam penyusunan portofolio pada sertifikasi dosen. DYS harus mengetahui dan memahami indikator-indikator di setiap bidang tersebut, mengarsipkan apa-apa saja yang telah dilakukan terkait dengannya sehingga akan memudahkan pengisian portofolio.

gambar-4_hubungan-beban-kerja-dosen-bkd-dengan-sertifikasi-dosen

Gambar- 4 Hubungan Beban Kerja Dosen-BKD dengan Sertifikasi Dosen

 2.2 SISTEM DAN MEKANISME PENGUKURAN PADA SERTIFIKASI DOSEN

Inti dari pelaksanaan sertifikasi dosen adalah untuk memastikan bahwa seorang dosen harus memenuhi 4 buah kompetensi di bidang : pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian pada saat melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi (aktivias bidang kinerja pada BKD) .

Untuk menguji keempat jenis kompetensi tersebut dibuatlah suatu metoda pengukuran dengan jalan penyusunan portofolio yang terdiri atas penilaian: 1) persepsional, 2) deskripsi diri, 3) jabatan/kepangkatan akademik-jenjang pendidikan tertinggi-golongan ruang/kepangkatan, 4) kemampuan berbahasa inggris, 5) kemampuan test potensi akademik-dan/atau sertifikat AA-dan/atau sertifikat PEKERTI.

Variabel 3), 4), dan 5), dapat diketahui secara langsung melalui tabel atau setelah test dilakukan. Sifat skor perlu waktu lama untuk perbaikannya dan terkait dengan beberapa regulasi dalam sertifikasi dosen.

Variable 1) dan 2), merupakan variable pengendali yang dapat diupayakan semaksimal mungkin hasilnya, umumnya dapat dipersiapkan dalam waktu yang sangat lama sebelum batas akhir pengumpulan portfolio, bahkan sebelum DYS disertifikasi.

Melalui portofolio yang dibuat ditentukanlah indikator-indikator kompetensi yang akan dinilai, sebagai salah satu contoh adalah Deskripsi Diri yang memiliki 5 Unsur dan 24 buah komponen. Penting untuk memahaminya bahwa dalam penyusunan deskripsi dalam suatu unsur (contoh Unsur-A) memiliki keterkaitan diantara komponen-komponen satu sama lainnya, sehingga pada saat menyusunnya dapat digunakan beberapa contoh pengalaman yang sama untuk setiap komponen dalam satu unsur (sehingga terlihat kontinyuitas dan keterkaitannya).

gambar-5_sistem-pengukuran-kompetensi-dosen-dan-indikator-kinerja

Gambar- 5 Sistem Pengukuran Kompetensi Dosen dan Indikator Kinerja

 2.3 STATUS DAN NILAI KELULUSAN

 2.3.1 NILAI GABUNGAN

 Peserta dinyatakan lulus jika nilai gabungan (NGB) > 4.00. Perlu strategi untuk mendapatkan nilai kelulusan berdasarkan NGB, yang diurutkan sebagai berikut :

  • NAP: Skor berdasarkan jabatan akademik dan pendidikan tinggi (diperoleh langsung dari tabel).
  • NKP: Skor berdasarkan golongan (diperoleh langsung dari tabel).
  • NBI: Skor Test Bahasa Inggris (contoh oleh PLTI)
  • NPA: Skor Test Potensi Akademik (contoh oleh PLTI)
  • NPS: Skor Persepsional (oleh atasan, sejawat, mahasiswa, DYS)

 Kondisi minimum yang harus dipenuhi bagi DYS (Lulusan S2, Asisten ahli, Golongan IIIa), adalah jika jumlah skor NBI dan NPA sebesar 6 (dapat diperoleh dari komposisi 5&1; 4&2, 3&3, 2&4, 1&5). Andai jumlah skor NBI dan NPA sebesar 5, maka untuk mencapai skor NGB = 4 akan memerlukan NPS = 7 (nilai fantastis, walaupun belum lulus karena untuk lulus perlu skor NGB > 4.00).

gambar-6_syarat-kelulusan-nilai-gabungan-ngb-sertifikasi-dosen

Gambar- 6 Syarat Kelulusan Nilai Gabungan-NGB Sertifikasi Dosen

 2.3.2. NILAI PERSEPSIONAL

 Nilai persepsional merupakan variable penentu kelulusan yang sifatnya spesifik di NGB. (Terkadang diasumsikan dapat disetel untuk mencapai syarat NGB walaupun belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada). Syarat kelulusan untuk NPS (Nilai Persepsional) adalah:

  • Jangan sampai ada salah satu nilai individu 3 (seperti ditunjukkan pada gambar), walaupun secara rerata komponen > 4.00 dan rerata total instrument > 4.50.
  • Nilai rerata komponen > 4.00
  • Nilai rerata total instrument > 4.50 (katagori sedang / 64,29%)

 Seorang dosen yang dinyatakan lulus akan memiliki katagori persepsional sedang atau tinggi, katagori rendah dipastikan tidak lulus karena tidak memenuhi persyaratan rerata komponen dan rerata total instrument.

gambar-7_syarat-kelulusan-nilai-persepsional-nps-sertifikasi-dosen

Gambar- 7 Syarat Kelulusan Nilai Persepsional-NPS Sertifikasi Dosen

2.3.3. NILAI DESKRIPSI DIRI

Penilaian deskripsi diri tidak berhubungan dengan nilai Gabungan NGB, dinilai secara terpisah namun berpengaruh terhadap Penilaian Konsistensi yang memiliki dua elemen berupa : Hasil penilaian persepsional dan Hasil Penilaian Deskripsi Diri. Dari seluruh elemen penilaian yang ada di sertifikasi dosen, hanya elemen penilaian Deskripsi Diri ini yang sulit diprediksi hasilnya, bahkan setelah pengumuman kelulusan diterbitkan, elemen penilaian ini tidak diketahui pencapaiannya. Kedepannya perlu dipertimbangkan oleh DIKTI agar hasil dari penilaian diri oleh Asesor dapat diberikan kembali kepada DYS (sebagai bahan masukan andai DYS dinyatakan tidak lulus, layaknya seorang dosen yang memberikan hasil ujian kepada mahasiswa yang disertai dengan catatan-catatan perbaikan).

Seorang DYS dinyatakan lulus jika Nilai Akhir deskripsi diri dari kedua asesor (NADD) > 4 , yang termasuk ke dalam katagori “Sedang” dengan prosentase 57,14 %.  Sehingga sudah dapat dipastikan jika Nilai NADD tidak boleh berada di katagori rendah, karena pasti tidak akan lulus.

gambar-8_syarat-kelulusan-nilai-deskripsi-diri-dd-sertifikasi-dosen

Gambar- 8 Syarat Kelulusan Nilai Deskripsi Diri-NADD Sertifikasi Dosen

 2.3.4. NILAI KONSISTENSI

Penilaian konsistensi dilakukan untuk membandingkan antara skor ‘persepsional’ dengan skor ‘deskripsi diri’ (saya mengistilahkannya “validasi kesesuaian antara kemampuan ungkap diri dengan penilaian oleh orang lain dan diri sendiri”). Berdasarkan tabel kriteria kelulusan konsistensi yang ada pada buku-2 Tahun 2015(Tabel 2.6 hal 12) ditunjukkan bahwa seseorang akan lulus jika mendapatkan skor persepsional atau skor deskripsi diri berada dalam katogori rendah, asalkan memiliki nilai konsistensi yang berada di katagori sedang atau tinggi.

Saya melakukan revisi atas status kelulusan nilai konsistensi dengan pernyataan bahwa penilaian konsistensi ini merupakan validasi terakhir pada kelulusan sertifikasi DYS. Sehingga sebelum masuk ke penilaian konsistensi, kelulusan pada komponen persepsional dan deskripsi diri haruslah ditentukan lebih dahulu. Setelah dinyatakan lulus dari komponen persepsional dan deskripsi diri, barulah penilaian konsistensi dilakukan. Sebagai salah satu konsekwensinya, maka tabel pada gambar 9-I yang berasal dari buku-2 Tahun 2015 (Buku Pedoman Sertifikasi Pendidik Untuk Dosen (Serdos) Terintegrasi, sebaiknya direvisi menjadi Gambar 9-3. Makna yang terkandung di dalamnya adalah mempersempit rentang katagori penilaian persepsional dan deskripsi diri. Dengan kata lain, hanya katagori sedang persepsional dan katagori sedang deskripsi diri, yang akan diteruskan untuk penilaian berikutnya yaitu penilaian konsistensi, sehingga untuk mendapatkan nilai konsistensi yang memungkinkan adalah nilai konsistensi sedang atau tinggi.

gambar-9_revisi-kelulusan-berdasarkan-penilaian-konsistensi-buku-terintegrasi-serdos-2015

Gambar- 9 Revisi Kelulusan Berdasarkan Penilaian Konsistensi Buku Terintegrasi Serdos 2015

 

2.4. PENGETAHUAN DI BIDANG KOMPUTER DAN KREATIVITAS

 Mengingat sertifikasi yang dilakukan berdasarkan computer-based, maka sudah selayaknya beberapa hal terkait pengetahuan dan pemahaman di bidang komputer harus diketahui juga oleh DYS, seperti :

2.4.1 Pastikan status kedosenan DYS benar-benar up-to-date di Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT). DYS dapat meminta bantuan kepada administrasi kampus untuk mengecek apakah persyaratan dosen telah dipenuhi semuanya, seperti : Status kelulusan minimum (S2), kepangkatan akademik, dosen aktif/sedang tugas belajar, SK in-passing bagi yang baru menyelesaikan studi lanjutnya. Jika semuanya terpenuhi maka Status DYS akan layak untuk disertifikasi.

2.4.2 Untuk mempercepat pengisian portofolio dan mempersiapkan dengan matang penulisan deskripsi diri, maka penulisan dilakukan menggunakan Notepad (.txt document). Untuk menghitung jumlah kata dapat dilakukan dengan meng-copy dan paste ke MS Word (karena memiliki fasilitas Word Counting dan memastikan tulisan minimum 150 kata). Tulisan pada Notepad ini yang kemudian dicopy-paste ke perangkat lunak isian sertifikasi dosen.

2.4.3. Penilaian persepsional dilakukan oleh beberapa PIC terkait dengan user password yang berbeda-beda, maka sebaiknya pada saat penilaian on line dilakukan menggunakan komputer yang berbeda (IP address) dan ada jeda waktu pengisian, dan memperhatikan lama waktu pengisiannya. Hal ini untuk menghindari pendapat bahwa pengisian dilakukan hanya oleh satu orang saja atau dilakukan dengan jalan berdiskusi.

2.4.4. Beberapa lampiran dibutuhkan dalam bentuk dokumen dengan ekstensi .pdf dan .jpg, dengan persyaratan ukuran file yang telah ditentukan. Sebaiknya DYS mengetahui cara mengubah ukuran file yang telah discan sebelum proses upload Jika upload dokumen dalam bentuk .pdf maka akan memungkinkan satu file yang terdiri atas beberapa lembar dapat diupload sekaligus. Jika upload file dalam bentuk .jpg (image) maka hanya file yang berjumlah satu lembar saja yang dapat diupload. Jika jumlah file 2 buah akan diupload, maka akan terjadi proses penimpaan dokumen (dokumen pertama yang diupload akan terhapus dan tergantikan oleh upload dokumen yang kedua).

2.4.5. Perangkat lunak serdos menyiapkan juga fasilitas untuk repository-link (untuk makalah/jurnal/paper) berdasarkan pertemuan ilmiah yang dilakukan. Untuk mengetahui alamat repository-link, sebaiknya DYS menghubungi panitya seminarnya atau dapat juga dengan jalan mengetik lengkap judul penelitian di google search. Tautan/link alamat tersebut dicopy ke format isian serdos, dan kemudian dicek dengan jalan mengkliknya (akan secara langsung menuju ke alamat yang dimaksud).

2.4.6. Proses unggah/upload dokumen bisa dilakukan dalam waktu sebentar, namun untuk menampilkan kembali atau melihat hasil dokumen tersebut akan memerlukan waktu yang tidak sebentar dan dapat memakan waktu 1 hari atau beberapa hari. Contoh kasus yang terjadi adalah : upload bukti fisik penelitian, upload foto DYS, dan sinkronisasi antara data PLTI (hasil TKDA & TKBI dengan perangkat lunak serdos). DYS tidak perlu mengkhawatirkannya, karena hal ini diluar kendali DYS dan panitya pelaksana pun memakluminya. Termasuk pada saat server-down selama satu hari, maka fihak penyelenggara akan mengganti waktu tersebut dengan jalan memperpanjang watu batas pengisian portofolio.

2.4.7. Terkadang kreativitas manual dilakukan juga seperti dokumen akhir validasi isian oleh Pimpinan PT. Pada Serdos Gelombang 2 tahun 2016, download dokumen menghasilkan 2 buah lembar. Setelah approval manual dilakukan, kemudian dilakukan scan dengan extension .jpg. Upload dokumen ke sistem hanya bisa dalam bentuk .jpg (dan hanya satu lembar saja). Artinya DYS harus bisa membuat dokumen yang tadinya 2 lembar menjadi 1 lembar. Hal ini bisa dilakukan menggunakan perangkat lunak adobe, visio, dll. Atau DYS dapat melakukannya secara manual menggunakan gunting, lem, tip-ex. Kemudian di scan dalam bentuk extension .jpg (menghasilkan hanya satu lembar), kemudian diupload ke sistem.

gambar-10_pengetahuan-di-bidang-komputer-dan-kreativitas

Gambar- 10 Pengetahuan di Bidang Komputer dan Kreativitas

2.5. MEMPERSIAPKAN DESKRIPSI DIRI JAUH HARI SEBELUM PROSES SERTIFIKASI DOSEN DILAKUKAN

Dapat dikatakan bahwa Deskripsi Diri merupakan jantung penilaian pada sertifikasi dosen. Identitas diri, penilaian persepsional akan terkait seluruhnya dengan deskripsi diri, dan DYS akan diuji kemampuannya untuk menyampaikannya dalam bentuk tertulis. Bagi DYS yang tidak terbiasa untuk menulis, maka tahapan ini merupakan siksaan yang cukup berarti, dan sering kali terjadi pengulangan kata ataupun kalimat di dalam penyusunannya (termasuk jika terjadi plagiatisme). Hal ini akan terdeteksi oleh perangkat lunak pemeriksanya, sehingga boleh jadi kata yang telah diketik berjumlah lebih dari 150 kata, namun pada saat data disimpan akan terjadi pengurangan (syukur jika pengurangan sampai mencapai jumlah kata 150, namun jika terjadi kurang dari 150 kata maka akan merugikan DYS / terkait dengan skor yang diberikan oleh asesor. Jangan lupa DYS dapat membuat persiapannya dalam perangkat lunak MS Notepadàisian serdos (copy-paste). Sebagai langkah antisipanya adalah DYS harus mempersiapkan beberapa aktivitas yang akan diceritakan sesuai dengan pengalamannya (jangan hanya satu aktivitas/pengalaman saja). Akan lebih baik, mempersiapkannya dalam bentuk matriks yang mencantumkan pokok ide yang akan diceritakan pada deskripsi diri. Matrik dan korelasi antar isian akan dijelaskan secara terpisah pada bagian berikutnya dari tulisan ini.

III. TES KEMAMPUAN DASAR ALAMI / TKDA (POTENSI AKADEMIK) DAN TES KEMAMPUAN BAHASA INGGRIS / TKBI

3.1. MEMPERSIAPKAN DAN MELAKSANAKAN TEST TKDA & TKBI

Langkah awal yang dilakukan adalah DYS melakukan pendaftaran keanggotaan di Https://member.plti.co.id, langkah berikutnya mengunduh dokumen panduan pelaksanaan dari PLTI, yaitu :

  • Panduan pendaftaran tes PLTI Tahun XXXX
  • Panduan pemilihan jenis tes dan tempat test PLTI Tahun XXXX
  • Panduan pembayaran tes TOEP dan TKDA PLTI Tahun XXXX

Persiapan administratif diakhiri dengan dicetaknya kartu peserta test, dan setelah tes dilakukan maka hasil tes dapat diketahui secara langsung (pelaksanaannya menggunakan computer based dan dilakukan secara online)

gambar-11_tes-tkda-dan-tkbi-oleh-plti

Gambar- 11 Kartu Peserta dan Sertifikat Test TOEP & TKDA

Persiapan untuk melakukan tes TOEP dan TKDA umumnya (seperti yang saya alami) tidak dapat disiapkan hanya dalam waktu yang singkat, akan memerlukan waktu bulanan dan tergantung dari kesiapan DYS. Sistem Kebut Semalam atau Sistem Kebut Seminggu akan mengakibatkan hasil pencapaiannya tidak maksimal, disebabkan varian soalnya yang beragam. Selain itu, sangat perlu untuk melakukan pengukuran mandiri di dalam latihan soal secara individu. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengukur sejauh mana laporan kemajuan atas upaya yang telah kita lakukan.

 3.1.1. TIPS PELAKSANAAN TOEP (TKBI)

Jenis tes yang dilakukan adalah : Listening dan Reading. Sumber latihan dapat berasal dari buku yang dibeli di toko buku, down load gratis dari internet, ataupun CD yang dapat dibeli pada provider pelaksana tes TOEFL / TOEP. Bagi saya, latihan terukur dalam orde mingguan tidak berpengaruh banyak pada kemampuan TOEP saya, seharusnya dilakukan lebih telaten lagi dalam orde bulanan. Namun, suatu hal spesifik yang saya jumpai adalah, hasil latihan terukur yang saya lakukan sesuai dengan hasil sertifikasi TOEP yang saya peroleh. Sehingga dapat saya simpulkan bahwa latihan secara terukur sangat signifikan relasinya terhadap hasil TOEP. Dan kesimpulan penting lainnya adalah saya perlu belajar banyak lagi secara terjadwal dan terukur untuk kedepannya.

gambar-12_metoda-latihan-test-kemampuan-bahasa-inggris-toep

Gambar- 12 Metoda Latihan Test Kemampuan Bahasa Inggris-TOEP

Beberapa tautan berikut dapat diunduh secara langsung dan akan bermanfaat bagi DYS untuk mempersiapkannya :

 3.1.2 TIPS PELAKSANAAN TKDA

Jenis tes yang dilakukan adalah : Verbal, Numerical, Figural. Deskripsi test secara jelas dapat diunduh dengan nama file :  Lampiran-4_Deskripsi TKDA-Himpsi di PLTI (Nomor, Katagori, Kelompok soal, Jumlah soal, dan Waktu pengerjaan). Pada prinsipnya, persiapan dapat dilakukan secara terjadwal dan terukur juga. Sebaiknya dilatih juga untuk kedua sistem pengujian, yaitu paper based dan computer based (walaupun metoda pengujian menggunakan sistem computer based). Semakin sering kita berlatih, umumnya akan semakin cepat kita mengerjakan soalnya (berpacu dengan waktu), sehingga dapat disimpulkan semakin beragam jenis soal yang kita kerjakan akan sangat bermanfaat untuk sertifikasi TKDA. Skor akhir dapat dilihat dari jumlah total jawaban benar di bagi 3 : Verbal 65 (591) + Numerikal 67 (644) + Figural 70 (701) = 202 : 3 =67à Lihat ke table skala 6.

gambar-13_metoda-latihan-test-kemampuan-dasar-alami-tkda-tpa

Gambar- 13 Metoda Latihan Test Kemampuan Dasar Alami-TKDA-TPA

Untuk melatih ‘endurance limit’, sebaiknya dicoba untuk mengerjakan soal-soal gabungan dengan durasi yang lebih lama. Terkadang proses ujian yang cukup lama akan menguras banyak tenaga dan menurunkan tingkat konsentrasi kita. Kusus jenis soal figural, sebaiknya dicoba beberapa soal seperti yang tertera pada gambar di bawah karena frekuensi soal tersebut lumayan banyak, dan akan menyulitkan membayangkannya tanpa melakukan latihan terlebih dahulu.

gambar-14_metoda-latihan-test-gabungan-kemampuan-dasar-alami-tkda-tpa

Gambar- 14 Metoda Latihan Test Gabungan Kemampuan Dasar Alami-TKDA-TPA

Beberapa tautan berikut dapat diunduh secara langsung dan akan bermanfaat bagi DYS untuk mempersiapkannya :

 

IV. TIPS TAHAPAN PENGISIAN PORTOFOLIO DYS

Pengisian portofolio menggunakan referensi : Slide Penyusunan Portfolio DYS Serdos-2015, Slide Sosialisasi dan Pelatihan Serdos Online Kopertis Wilayah XIII Aceh Tahun 2016, Buku-1 Naskah Akademik 2015, Buku-2 Penilaian Portofolio Serdos 2015, Buku-3 Prosedur Operasional Baku Tatalaksana SERDOS Terintegrasi 2015. Tahapan dijabarkan dalam bentuk bagan berikut :

gambar-15_pengisian-portofolio-sertifikasi-dosen

Gambar- 15 Pengisian portofolio sertifikasi dosen

4.1. MESNYIAPKAN DATA-DATA DI FOLDER KOMPUTER

Mengingat isian yang dilakukan merupakan upaya untuk menyampaikan apa-apa yang sudah dilakukan (rekam jejak dalam melakukan tridharma perguruan tinggi), maka hal tersebut akan bergantung pada sejauh mana arsip yang kita rekam tersedia atau dapat diingat kembali sesuai dengan dokumen penguat yang ada. Untuk mempermudah pelaksanaan sertifikasi dosen secara keseluruhan, maka suatu langkah yang baik untuk menyiapkan seluruh persiapan atau dokumen yang diperlukan secara terstruktur dan rapih. Kita tidak ingin direpotkan dengan bolak-balik mencari data/dokumen yang kurang pada saat pengisian dilakukan, terlebih jika lokasi dokumen yang dibutuhkan berada pada unit lain di dalam suatu institusi.

gambar-16_menyiapkan-struktur-data-folder-di-komputer

Gambar- 16 Menyiapkan Struktur Data Folder di Komputer

 4.2. ISIAN BIODATA DYS

Pengisian portofolio akan lebih mudah dilakukan jika DYS membuat checklist terhadap seluruh data yang akan diisi, termasuk memberikan keterangan apakah diperlukan dokumen pelengkap yang prosesnya dilakukan dengan jalan diunggah (upload).

gambar-17_checklist-untuk-isian-portofolio-sertifikasi-dosen

Gambar- 17 Checklist Untuk Isian Portofolio Sertifikasi Dosen

Checklist diisi berdasarkan beberapa dokumen pendukung seperti : Surat Keputusan institusi terkait pelaksanaan tridharma perguruan tinggi; sertifikat pelatihan; sertifikat seminar, laporan kegiatan; dokumentasi kegiatan dll.

Untuk mempermudah pengisian, saya membuatnya dalam bentuk file excel dan kemudian mengkopi (Ctrl-C) dan paste (Ctrl-V) di isian portofolio sertifikasi dosen.

4.3. DESKRIPSI DIRI

 Penilaian terhadap deskripsi diri didasari atas pembobotan setiap elemen unsur. PENTING UNTUK DICATAT bahwa semua elemen dalam unsur penting dan TIDAK BOLEH DIKOSONGKAN. Namun kita juga diajarkan matematika untuk menentukan urutan prioritas berdasarkan pembobotannya. Kita ingin bahwa di setiap elemen unsur bisa mendapatkan nilai yang full performance, namun terkadang terkendala berbagai hal, sehingga strategi kita ubah dengan jalan memberi “perhatian lebih” pada elemen / unsur yang memiliki pembobotan tinggi.

gambar-18_prosentase-bobot-penilaian-unsur-deskripsi-diri

Gambar- 18 Prosentase Bobot Penilaian Unsur Deskripsi Diri

Setiap unsur memiliki beberapa elemen, sebagai salah satu contoh adalah Unsur-A (Pengembangan Kualitas Pembelajaran), yang memiliki 5 buah elemen yaitu: Usaha kreatif, Dampak perubahan, Disiplin, Keteladanan, Keterbukaan terhadap kritik. Untuk memudahkan pembuatan deskripsi diri pada unsur A, sebaiknya ada beberapa upaya usaha kreatif yang dilakukan (beri contohnya minimum 3 buah), dan selanjutnya ketiga contoh tersebut dijelaskan keterkaitannya terhadap penjelasan elemen-elemen lainnya (jika ditunjukkan ada korelasinya secara terkait sesuai pengalaman DYS yang ingin diceritakan).

gambar-19_strategi-pembuatan-deskripsi-diri-melalui-rambu-rambu-skor

Gambar- 19 Strategi Pembuatan Deskripsi Diri Melalui Rambu-Rambu Skor

Untuk mempermudah menulis deskripsi diri sebaiknya dibuatkan matrik pokok pikiran utama. Hal ini akan memudahkan DYS merangkai kata dan memenuhi jumlah minimum kata sebanyak 150 kata. Dan dalam menentukan pokok pikiran utama akan mengacu pada matriks penilaian elemennya dan apa-apa yang sudah kita lakukan dan terekam di dalam pelaporan Beban Kerja Dosen (BKD).

gambar-20_matriks-pokok-pikiran-utama-isian-deskripsi-diri

Gambar- 20 Matriks pokok pikiran utama isian Deskripsi Diri

V. PENGEMBANGAN KEPROFESIONALAN DOSEN [FITRA JAYA]

gambar-21_pengembangan-keprofesionalan-dosen

Gambar- 21 Pengembangan Keprofesionalan Dosen

5.1. SISTEM PENGEMBANGAN PROFESIONALISME DOSEN

Penjamin mutu menghadapi tantangan perkembangan IPTEKS dimaksudkan untuk menjaga dan meningkatkan mutu produk Serdos. Peningkatan mutu produk dapat dilakukan melalui kegiatan pembinaan profesionalisme sebelum ataupun setelah serdos.

Maka program ini dapat dilakukan, baik untuk mengikuti sertifikasi (bagi dosen yang belum menempuh Serdos), mengikuti sertifikasi ulang (bagi dosen yang telah menempuh Serdos tetapi belum lulus), maupun untuk menjaga dan meningkatkan prefesionalisme (bagi semua dosen). Kesemuanya itu dilakukan dalam rangka peningkatan profesionalisme/mutu dosen.

Sistem Pengembangan Profesionalisme Dosen merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu perguruan tinggi, melalui pengembangan profesionalisme yang diaplikasikan pada pengelolaan pembelajaran mahasiswa. Pengembangan profesionalisme dosen dilakukan melalui kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi pedagogic, professional, kepribadian dan sosial, yang diaplikasikan dalam kegiatan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan pembelajaran yang dimaksud di sini adalah kegiatan-kegiatan :

  1. Menemukan kekurangan kompetensi pada diri sendiri secara reflektif;
  2. Menyusun rencana pengembangan diri;
  3. Melaksanakan rencana pengembangan diri;
  4. Mengevaluasi hasil pengembangan diri, dan;
  5. Menetapkan tindak lanjut

Pembiasaan melakukan kegiatan itu akan membentuk kemampuan belajar sepanjang hayat.

5.2. JENIS-JENIS KOMPETENSI YANG PERLU DIMILIKI OLEH DOSEN UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT PENDIDIK

5.2.1. KOMPETENSI PEDAGOGIK

A. KEMAMPUAN MERANCANG PEMBELAJARAN

Batasan

Kemampuan tentang proses pengembangan mata kuliah dalam kurikulum, pengembangan bahan ajar, serta perancangan strategi pembelajaran

Sub Kompetensi

  • Menguasai berbagai perkembangan dan isu dalam sistem pendidikan
  • Menguasai strategi pengembangan kreatifitas
  • Menguasai prinsip-prinsip dasar belajar dan pembelajaran
  • Mengenal mahasiswa secara mendalam
  • Menguasai beragam pendekatan belajar sesuai karakteristik mahasiswa
  • Menguasai prinsip-prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi
  • Mengembangkan mata kuliah dalam kurikulum program studi
  • Mengembangkan bahan ajar dalam berbagai media dan format untuk mata kuliah tertentu.
  • Merancang strategi pemanfaatan bahan ajar dalam pembelajaran
  • Merancang strategi pembelajaran mata kuliah
  • Merancang strategi pembelajaran mata kuliah berbasis ICT

B. KEMAMPUAN MELAKSANAKAN PROSES PEMBELAJARAN

Batasan

Kemampuan mengenal mahasiswa (karakteristik awal dan latar belakang mahasiswa), ragam teknik dan metoda pembelajaran, ragam media dan sumber belajar, serta pengelolaan proses pembelajaran

Sub kompetensi

  • Menguasai ketrampilan dasar mengajar
  • Melakukan identifikasi karakteristik awal dan latar belakang mahasiswa
  • Menerapkan beragam teknik dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mahasiswa dan tujuan pembelajaran
  • Memanfaatkan beragam media dan sumber belajar dalam pembelajaran.
  • Melaksanakan proses pembelajaran yang produktif, kreatif, aktif, efektif, dan menyenangkan
  • Mengelola proses pembelajaran
  • Melakukan interaksi yang bermakna dengan mahasiswa
  • Memberi bantuan belajar individual sesuai dengan kebutuhan mahasiswa

C. KEMAMPUAN MENILAI PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN

Batasan

Kemampuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses dan hasil belajar dengan menggunakan alat dan proses penilaian yang shahih dan terpercaya, didasarkan pada prinsip, strategi, dan prosedur penilaian yang benar, serta mengacu pada tujuan pembelajaran

Sub Kompetensi :

  • Menguasai standard dan indicator hasil pembelajaran mata kuliah sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  • Menguasai prinsip, strategi, dan prosedur penilaian pembelajaran.
  • Mengembangkan beragam instrument penilaian proses dan hasil pembelajaran.
  • Melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan.
  • Melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran secara berkelanjutan.
  • Memberikan umpan balik terhadap hasil belajar mahasiswa.
  • Menganalisis hasil penilaian pembelajaran dan refleksi proses pembelajaran
  • Menindaklanjuti hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.

D. KEMAMPUAN MEMANFAATKAN HASIL PENELITIAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN

Batasan

Kemampuan melakukan penelitian pembelajaran serta penelitian bidang ilmu, mengintegrasikan temuan hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dari sisi pengelolaan pembelajaran maupun pembelajaran bidang ilmu.

Sub Kompetensi

  • Menguasai prinsip, strategi, dan prosedur penelitian pembelajaran (instructional research) dalam berbagai aspek pembelajaran.
  • Melakukan penelitian pembelajaran berdasarkan permasalahan pembelajaran yang otentik.
  • Menganalisa penelitian pembelajaran.
  • Menindaklanjuti hasil penelitian pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.

5.2.2. KOMPETENSI PROFESIONAL

Batasan

Profesionalisme merupakan sikap yang lahir dari keyakinan terhadap pekerjaan yang dipegang sebagai sesuatu yang bernilai tinggi sehingga dicintai secara sadar, dan hal itu nampak dari upaya yang terus menerus dan berkelanjutan dalam melakukan perbaikan yang tiada hentinya. Jadi kompetensi profesional adalah suatu kemampuan yang tumbuh secara terpadu dari pengetahuan yang dimiliki tentang bidang ilmu tertentu, ketrampilan menerapkan pengetahuan yang dikuasai maupun sikap positif yang alamiah untuk memajukan, memperbaiki dan mengembangkannya secara berkelanjutan, dan disertai tekad kuat untuk mewujudkan sikap (attitude) dan perilaku (behavior) ke arah menghasilkan peserta didik yang mempunyai hasrat, tekad, dan kemampuan memajukan profesi yang berdasarkan ilmu dan teknologi. Dengan sikap dan perilaku, dosen melakukan perbaikan yang berkelanjutan, meningkatkan efisiensi secara kreatif melalui peningkatan produktivitas dan optimalisasi pendayagunaan sumber-sumber yang ada di sekitarnya. Penelitian dan pengembangan merupakan salah satu bentuk proses kreatif dosen dalam memajukan horizon ilmu pengetahuan dan teknologi yang seyogyanya membawa pengaruh kepada kebudayaan dan peradaban. Hasil dari penelitian, eksperimen dan pengembangan itu diperkenalkan oleh dosen kepada masyarakat sebagai bentuk pelayanan pemecahan masalah masyarakat,  peningkatan efisiensi dunia usaha dan industri, serta perbaikan mental masyarakat yang menunjang pembangunan watak dan kesejahteraan bangsa. Pengabdian kepada masyarakat merupakan suatu upaya penyebarluasan dan penerapan hasil penelitian dosen sebagai kegiatan pengembangan untuk memajukan kebudayaan dan peradaban masyarakat melalui kemajuan teknologi, kiat, ataupun kebijakan yang berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dosen. Melalui kompetensi profesional, dosen secara dinamis mengembangkan wawasan keilmuan, menghasilkan ilmu, seni, dan teknologi berdasarkan penelitian, dan menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat dari hasil penelitian, dan pada akhirnya mengembangkan kebudayaan dan peradaban masyarakat sebagai pemangku kepentingan.

Sub Kompetensi

A. PENGUASAAN MATERI PELAJARAN SECARA LUAS DAN MENDALAM

Penguasaan dosen terhadap materi pelajaran dalam bidang ilmu tertentu secara luas diartikan sebagai kemampuan dosen untuk memahami tentang asal usul, perkembangan, hakikat dan tujuan dari ilmu tersebut. Sementara itu, penguasaan yang mendalam berarti kemampuan dosen untuk memahami cara dan menemukan ilmu, teknologi dan atau seni, khususnya tentang bidang ilmu yang diampunya. Selanjutnya, dosen juga mempunyai kemampuan memahami nilai, makna dan kegunaan ilmu terutama dalam kaitannya dengan pemanfaatan dalam kehidupan manusia, sehingga mempunyai dampak kepada kebudayaan dan peradaban.  Bersamaan dengan itu keterbatasan serta batasan materi pelajaran, dalam kaitannya dengan etika ilmu, tradisi dan budaya akademis merupakan yang perlu dikuasai dosen sebagai landasan moral untuk menghindari kerancuan dan kemudaratan (hazard) yang mungkin ditimbulkannya. Dengan demikian, penguasaan materi yang luas dan mendalam dalam suatu bidang ilmu tertentu sangat erat berkaitan dengan filosofi bidang ilmu yang ditekuni. Dalam hal ini, diharapkan dosen akan menyadari :

  • Pentingnya memiliki pengetahuan yang sangat mendalam dalam suatu bidang ilmunya, dan terus menerus terpacu untuk mencari lebih banyak pengetahuan yang berkenan dengan bidang ilmunya.
  • Pentingnya bergabung dan mengukur diri di dalam kelompok atau asosiasi profesi, berpartisipasi aktif di dalamnya, sebagai wahana untuk mengembangkan diri secara profesional.
  • Pentingnya kemampuan menempatkan diri sebagai seorang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan bidang ilmu dan seninya, dan siap mengambil langkah inisiasi untuk pengembangan maupun pemecahan masalah.

B. KEMAMPUAN MERANCANG, MELAKSANAKAN, DAN MENYUSUN LAPORAN PENELITIAN

Kemampuan ini berkaitan dengan pemahaman dan ketrampilan dosen tentang metodologi ilmiah, rancangan penelitian dan atau percobaan, serta kemampuan mengorganisasikan dan menyelenggarakan penelitian bidang ilmu dari perumusan masalah, menyusun hipotesis, perancangan data dan alat yang akan digunakan, serta metoda analisis yang mendasarinya. Selanjutnya dosen mampu menerapkan rancangan, metode dan analisis tersebut dalam melaksanakan penelitian, sehingga tujuan penelitian dapat dicapai.  Akhirnya semua itu dapat dituliskan dalam suatu laporan yang sistemik, bahkan dapat dikembangkan sebagai bahan utama dalam menyusun karya ilmiah untuk pertemuan ilmiah dan atau jurnal ilmiah.

C. KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN DAN MENYEBARLUASKAN INOVASI

Dosen harus mampu mengembangkan hasil penelitian ke dalam bentuk yang dapat diterapkan untuk kepentingan tertentu, misalnya berupa teknik, kiat, dan kebijakan. Seorang dosen seyogyanya mempunyai motivasi untuk menyebarluaskan temuan dan hasil penelitiannya itu. Oleh karena itu kemampuan dalam bidang ilmu teknologi dan/.atau seni yang berdasarkan penelitian seseorang dapat diukur dari kegiatan kesarjanaan dan menunjukkan kemampuan yang berkesinambungan dengan ketertarikan yang nyata terhadap kegiatan akademis dan intelektual. Hal itu Nampak dari berbagai karyanya, antara lain berupa penulis bersama (co-authorship), serta memberi sumbangan yang bermakna dalam hal-hal kajian dan laporan yang bersifat kependidikan, makalah kajian telaah atau tinjauan (review), menulis buku ajar atau sebagai bab dalam suatu buku ajar, melayani kegiatan penyuntingan (editorial), pendayagunaan media elektronik dalam menyebarkan hasil penelitian, surat kepada penyunting majalah ilmiah (jorurnal), menyusun bahan silabus berdasarkan hasil penelitiannya, serta mengelola pertemuan ilmiah khusus dan laboratorium.

D. KEMAMPUAN MERANCANG, MELAKSANAKAN DAN MENILAI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Hasil penelitian yang diperoleh lazimnya tak dapat langsung diterapkan melainkan perlu dikembangkan lagi agar dapat diterapkan di kalangan masyarakat. Untuk itu seorang dosen yang profesional perlu mempunyai kemampuan untuk melakukan pengembangan sebagai bagian kelanjutan dari penelitian. Dalam hal ini, dosen diharapkan memiliki kemampuan melaksanakan rancangan penerapan tersebut baik dalam tingkat percobaan maupun dalam tingkat penyebaran secara masif. Hasil penerapan selanjutnya harus dapat dinilai oleh dosen untuk perbaikan lanjutan maupun sebagai bahan penelitian selanjutnya. Evaluasi dua arah tersebut memainkan peranan penting bagi pengembangan wawasan dan kompetensi dosen yang bersangkutan, serta mendorong terjadinya perbaikan ke arah optimalisasi dan efisiensi yang memajukan teknologi masyarakat dan berdampak terhadap perkembangan kebudayaan dan peradaban.

5.2.3. KOMPETENSI KEPRIBADIAN

Batasan

Kemampuan melakukan hubungan sosial dengan mahasiswa, kolega, karyawan dan masyarakat untuk menunjang pendidikan

Sub Kompetensi

  • Kemampuan menghargai keragaman sosial dan konservasi lingkungan
  • Menyampaikan pendapat dengan runtut, efisien dan jelas
  • Kemampuan menghargai pendapat orang lain
  • Kemampuan membina suasana kelas
  • Kemampuan membina suasana kerja
  • Kemampuan mendorong peran serta masyarakat

5.2.4. KOMPETENSI SOSIAL

Batasan

Sejumlah nilai, komitmen, dan etika professional yang mempengaruhi semua bentuk perilaku dosen terhadap mahasiswa, teman sekerja, keluarga dan masyarakat, serta mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa, termasuk pengembangan diri secara professional.

Sub Kompetensi :

  • Empati (empathy): Meletakkan sensitifitas dan pemahaman terhadap bagaimana mahasiswa melihat dunianya sebagai hal yang utama dan penting dalam membantu terjadinya proses belajar.
  • Berpandangan positif terhadap orang lain, termasuk nilai dan potensi yang dimiliki: Menghormati harga diri dan integritas mahasiswa, disertai dengan adanya harapan yang realistis (positif) terhadap perkembangan dan prestasi mereka.
  • Berpandangan positif terhadap diri sendiri, termasuk nilai dan potensi yang dimiliki: Mempunyai harga diri dan integritas yang baik, disertai dengan tuntutan dan harapan yang realistis (positif) terhadap diri
  • Genuine (authenticity): Bersikap tidak dibuat-buat, jujur dan ‘terbuka’ mudah ‘dilihat’ orang lain.
  • Berorientasi pada tujuan: Senantiasa komit pada tujuan, sikap, dan nilai yang luas, dalam, serta berpiusat pada kemanusiaan. Semua perilaku yang tampil berorientasi pada tujuan.

 

 VI. PENUTUP

Tiada gading yang tak retak, masih ada lagit di atas langit yang kita pandangi setiap hari, tidaklah cukup jika dedaunan seluruh alam dikumpulkan untuk menjadi kertas, ranting-ranting pohon di seluruh alam dijadikan pena, dan lautan dijadikan tintanya, untuk menuliskan ilmuNya yang maha Sempurna. Selain ini, jika pada tulisan ini ada kebaikan yang terkandung di dalamnya maka hal tersebut berasal dari Allah SWT, dan jika ada kekurangan atau kesalahan yang kurang berkenan maka hal tersebut murni berasal dari kekurangan penulis.

Semoga tulisan ini dan beberapa link terkait dapat bermanfaat untuk memajukan kualitas sumberdaya manusia Indonesia di tengah keberagamannya, di tengah kekayaan alamnya, di tengah sudut pandang yang bebeda-beda untuk memajukan Bangsa ini.

Tak lupa pula kami berharap agar para pembaca dapat meluangkan sedikit doa untuk kebaikan bagi keluarga penulis dan ampunan atas kekhilafan yang pernah penulis lakukan.

Terimakasih banyak juga saya sampaikan atas bimbingan Kanda Fitra Jaya atas proses dan sosialisasi sertifikasi dosen gelombang-2 Tahun 2016 di Kopertis Wilayah 9 Sulawesi Selatan beserta Tim Pelaksananya. Semoga upayanya dalam sosialisasi sertifikasi dosen mendapatkan balasan yang berlipat ganda dariNya, untuk pribadi, keluarga, lingkungan kopertis 9, dan lingkungan masyarakatnya. Amin.

fitrajaya-sosialisasi-di-kopertis-9-mks-2016-1

hasil-kelulusan-serdos-gelombang-2-2016_duddy-arisandi

 

Soroako, 15-November-2016

Ir. Duddy Arisandi, S.T., M.T.

Dosen Akademi Teknik Soroako

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 15, 2016 in Pendidikan, Sistem Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

[REVISI-VI/FINAL/28-06-16] PENGUBAHAN PARADIGMA DALAM MEMPREDIKSI PASSING GRADE SMA TAHUN 2016 MELALUI BASIS DATA SEBARAN HASIL UN SMP PADA TAHUN BERJALAN (ALTERATION OF PARADIGM IN PREDICTING THE VALUE OF SENIOR HIGH SCHOOL PASSING GRADE IN YEAR 2016 THROUGH SMP DATA BASE UN-DISTRIBUTION IN CURRENT YEAR)

[REVISI-VI/FINAL/28-06-16] PENGUBAHAN PARADIGMA DALAM MEMPREDIKSI PASSING GRADE SMA TAHUN 2016 MELALUI BASIS DATA SEBARAN HASIL UN SMP PADA TAHUN BERJALAN (ALTERATION OF PARADIGM IN PREDICTING THE VALUE OF SENIOR HIGH SCHOOL PASSING GRADE IN YEAR 2016 THROUGH SMP DATA BASE UN-DISTRIBUTION IN CURRENT YEAR)

[Masukan untuk Perbaikan Pusat Data Pendidikan SMP di Kota Bandung, PPDB /Penerimaan Peserta Didik Baru Online]

Gambar-0_Pengubahan Paradigma Dalam Memprediksi Passing Grade SMA 2016

Gambar-0 Pengubahan Paradigma Dalam Memprediksi Passing Grade SMA Tahun 2016 di Kota Bandung

 CATATAN PENTING :

  1. Para warga sadaya, semangat PPDB adalah Objektivitas, Transparansi, Akuntabilitas, dan berkeadilan. Artinya, kecepatan perubahan data pendaftar harus terupgrade setiap saat. Dapat menjadi petunjuk / secercah cahaya yang akan menuntun di kegelapan andaikan terjadi kesalahan di dalam prediksi Passing Grade. Pihak sekolah dapat membantu para orang tua murid untuk menampilkan data terkininya. (Bayangkan: Gempa di Jepang, Banjir di China, Kebakaran pasar di Jakarta dapat cepat dideskripkan dengan jelas dan akurat ?)
  2. Bandingkan ANAK NEGERI & ANAK SWASTA : Peraih NUN yang tinggi dari swasta akan melenggak-lenggok milih SMAN Faforit Di Bandung.  Bandingkan dengan peraih NUN katagori cukup yang belum tentu lolos di sekolah Negeri, maka mereka akan berbondong-bondong menyerbu pendaftaran ke sekolah Swasta. Ada istilah BELI KURSI (konon bisa puluhan juta), artinya kalau keterima ke negeri uang yang telah didaftarkan akan hangus dan tidak dapat ditarik kembali ? ? ? ? SAYA TIDAK HABIS PIKIR, kenapa hal seperti ini tidak diatur secara jelas di PERWAL PPDB 2016. Kasihan orang-orang harus bayar panjar yang suatu saat bisa hangus. KALAU MAU NYARI UANG LEWAT PRESTASI dan BUKAN LEWAT AJI MUNGPUNG. Saya berharap Kang Ridwan Kamil dapat membaca tulisan di point 2 ini, karena rambu-rambu di perwal ppdb 2016 tidak memagari batasan-batasan ruang gerak yang boleh dilakukan, semisal. “Semua sekolah swasta berkewajiban untuk menerima murid pelamar. Samapai dengan dilakukannya ujian penerimaan maka murid pelamar harus membayar uang persyaratan masuk sekolah. Fihak sekolah berkewajiban mengembalikan uang pendaftaran yang disetor manakala pelamar tidak jadi/menarik diri. (jangan kwawatir kosong kelas, rasio NUN di bawah rata-rata besar sekali)
  3. Sahabat-sahabat yang memiliki nilai lebih rendah dibandingkan prediksi Passing Grade tidak usah berkecil hati. Kalaupun ingin mencoba kesempatan ambil untuk KUOTA PROTEKSI WILAYAH, dan amati perubahan laju pendaftarnya. Kita tidak bisa memastikan apakah sebaran nilai NUN yang beredar telah terkonsentrasi di pusat kota saja. Ibarat kata, walaupun SMAN 3 Bandung yang biasanya memiliki PG di atas 36.00, akan memungkinkan jatuh menjadi 31.00, 25.00, atau bahkan 20.00 (karena kuota proteksi). Walaupun dalam sejarahnya belum pernah terjadi.

Gambar---_Monitoring PPDB Online 2016

Gambar-00 Memonitor Pendaftar dan Passing Grade Sementara
  1. Sebaiknya sahabat dapat membaca : Peraturan Wali Kota Bandung No. 610 Tahun 2016 Tentang Cara Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak/Raudhatul Athfal dan Sekolah/Madrasah Walikota Bandung.
  2. Beberapa pertanyaan seputar tatacara / aturan PPDB sebaiknya ditanyakan kepada pakarnya lasngsung lewat : Blog Bicara PPDB (Sdr. Taufiq akbari Utomo)
  3. Dikarenakan keterbatasan saya dalam memahami tatacara sistem dan format seleksi PPDB 2016, maka untuk pertanyaan detail dapat langsung ditanyakan kepada Dinas Pendidikan Kota Bandung / Sekolah Asal SMP / Sekolah tujuan SMA. Ada beberapa kebijakan baru yang saya belum menguasai penerapannya semisal penerapan insentif berdasarkan jarak sekolah, adanya seleksi tahap 1 dan tahap 2, kuota proteksi, calon peserta didik katagori A, dll. Mohon dimaafkan dan dimaklumi atas keterbatasan yang ada pada saya.
  4. Tulisan ini bertujuan untuk mengenalkan suatu metoda dalam memprediksi Passing Grade, yang sama sekali belum pernah ada yang merumuskan dan menuliskannya di Blog. Kalaupun pernah ada yang mencoba memprediksinya, maka yang akan ditampilkan hanya tabel hasil prediksinya saja tanpa ada penjelasan / metodologi dari mana hasilnya diperoleh.
  5. Hasil prediksi mungkin saja benar dan mungkin saja salah dengan tingkat kepercayaan 50%. Pengambilan keputusan diserahkan kepada pembaca, dan jangan lupa untuk mengunduh (download) data-data dalam bentuk excell nya agar dapat membaca historis Passing Grade, dan keputusan akhir ada di tangan para pembaca sekalian.
  6. Khusus untuk tahun 2016 ini saya berterimakasih banyak kepada sahabat-sahabat yang mendukung terhadap pengadaan data sebaran NUN SMP 2016 dari sumber dinas pendidikan Kota Bandung melalui Sdr. Negariansyah (yang banyak membantu menyumbangkan data dan melakukan klarifikasi ke beberapa pusat Bimbel di Bandung) , dan juga Sdri Meita Mardiaty (teman seangkatan SMAN-3 Bandung 1988 yang telah menyentil Kang Ridwan Kamil via obrolan di Facebook), tentunya juga Kang Ridwan Kamil (yang saya lebih mengenalnya sebagai adik kelas di SMAN-3 Bandung, dan tentunya sekarang terkenal karena menjadi Walikota Bandung, yang menyatakan bahwa suatu dinamika bahwa PG bisa naik dan bisa turun via obrolan di Facebook, dan saya yakin sekali bahwa ada tujuan besar untuk kebaikan kota bandung melalui PerWal Bandung berkaitan dengan PPDB).

 

SEKAPUR SIRIH

Ternyata membuat prediksi passing grade sekolah merupakan suatu tantangan besar tersendiri bagi saya. Beberapa masukan dari pakar-pakar yang telah lama mengamati dan menggeluti passing grade sangat berharga sekali bagi saya, dan menunjukkan adanya titik harapan baru untuk menjelaskan apa yang menjadi seputar permasalahan manakala seorang murid baru lulus dan ingin mendaftar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Bagi saya keakurasian hasil prediksi adalah nomor yang kesekian dari tujuan penulisan ini (karena banyaknya variable yang sulit dikendalikan), mengingat tujuan utamanya adalah membangun sistem informasi terintegrasi yang akan digunakan oleh masyarakat luas dalam memprediksi passing grade, menjelaskan kepada masyarakat luas mengenai langkah apa saja yang harus dipertimbangkan untuk memilih sekolah berdasarkan nilai ujian nasional yang telah diperolehnya, dan pengambilan keputusan tidak hanya didasarkan atas isu-isu yang beredar saja namun dapat ditelaah dengan lebih cermat dan teliti lewat sebaran data-data / tulisan-tulisan yang pernah disusun pada tahun-tahun  sebelumnya.

Kenapa saya katakan bahwa keakurasian hasil prediksi adalah tujuan yang kesekian (bukan tujuan pertama/bukan prioritas penting yang) ?, mengingat terlalu banyak variable bebas yang berada di luar domain prediksi dan sulit sekali untuk mengendalikannya. Memodelkan trend yang ada menjadi model matematis supaya bisa direpresentasikan adalah tidak mudah dan membutuhkan dukungan sistem imformasi yang akurat dan terpercaya / dapat dipertanggungjawabkan. Semisal, bisakah kita menjawab beberapa pertanyaan berikut :

  1. Apa ukuran dan seberapa besar upaya setiap SMP yang ada di kota bandung untuk meningkatkan mutu pendidikannya ?
  2. Variabel-variabel apa saja yang dijadikan tolak ukur untuk menghitung keberhasilan peningkatan mutu di dalam pendidikan ?
  3. Seberapa lama sosialisasi dilakukan terhadap penerapan kebijakan baru di bidang pendidikan ? Seberapa besar inseminasi tersebut dilakukan sehingga mengakar kuat pada setiap sekolah yang ada ?
  4. Bagaimanakah distribusi hasil Ujian Nasional SMP yang dapat dipilah berdasarkan SMP yang ada, Kluster yang ada, Rayon yang ada, domisili yang ada, swasta ataukah negeri ?
  5. Sebelum Ujian Nasional dilakukan apakah Try Out menjadi persyaratan yang akan dilakukan oleh setiap SMP ? Bagaimana mengintegrasikan hasil try out yang telah dilakukan oleh sekolah-sekolah yang ada ke dalam suatu system pusat data sehingga akan membantu tingkat keakurasian prediksi passing grade ?
  6. Bagaimanakah tingkat kesulitan soal UN tahun 2016 ini ?
  7. Apakah peraih UN dengan nilai tinggi akan tetap melanjutkan sekolah yang berada dalam satu atap yayasan ataukah akan berpindah ke sekolah negeri ?

Sekali lagi saya katakan, prediksi passing grade hanya akan bisa dilakukan untuk mendekati keakurasian tertentu (memperkecil simpangan toleransi yang ada), JIKA dan HANYA JIKA nilai sebaran UN SMP segera dipublikasikan oleh fihak berwenang kepada masyarakat luas (sesaat setelah pengumuman hasil UN ke setiap murid SMP).

Kenapa hal ini sangat penting sekali ? Kita lihat hampir di semua kluster dan tingkat sekolah yang ada, bahwa kuota yang tersedia berada di bawah jumlah pendaftar. Artinya akan ada pendaftar yang tertolak untuk masuk ke suatu sekolah (ciri adanya persaingan). Namun kita berkewajiban juga menginformasikan kepada masyarakat luas, bahwa mendaftar sekolah itu memerlukan suatu metodologi yang boleh jadi berupa hasil prediksi passing grade (walaupun belum dijamin 100% kebenarannya), riwayat historis passing grade beserta karakteristiknya untuk suatu sekolah, dan data-data pendukung lainnya. Intinya, untuk mencegah supaya para orang tua dan murid tidak salah mendaftar karena ketidakatahuannya akan situasi passing grade dan korelasinya dengan sebaran hasil ujian nasional.

Berdasarkan alasan tersebut saya memberanikan diri untuk menulisnya, walaupun masih terdapat banyak kekurangan dalam diri pribadi ini. Dan saya berkeyakinan, kedepannya akan lahir generasi-generasi penerus yang lebih handal, lebih pintar, dan difasilitasi oleh teknologi yang lebih canggih dibandingkan dengan yang ada sekarang. Dan tentunya semuanya itu bertujuan agar prediksi passing grade ke depannya menjadi lebih terarah, terintegrasi, dan dapat dipertanggungjawabkan melalui suatu metoda pendekatan tertentu dalam mengolahnya (mengajak masyarakat agar mau memahami metodologinya, yang tidak hanya berorientasi kepada hasil akhir dari passing grade-nya saja). Dan harapan kedepannya, bahwa system pendidikan yang ada di Indonesia dapat dibangun melalui Jaringan Pusat Data Terintegrasi yang mudah diakses oleh masyarakat luas, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya (karena Indonesia mengakomodir juga bahwa pendaftar dapat melalui jalur luar kota).

 Gambar-1_Pengembangan PPDB Menjadi Pusat Data Terintegrasi

Gambar-1 Pengembangan Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi Pusat Data Pendidikan Terintegrasi

 

I. BELAJAR DARI DISTRIBUSI SEBARAN UN SMP DI KOTA BANDUNG (LANGKAH PERTAMA SETELAH PENGUMUMAN HASIL UJIAN NASIONAL TINGKAT SMP)

Umumnya seorang yang senang melakukan suatu percobaan ataupun senang menganalisis sesuatu akan dihadapkan dengan kualitas data masukannya yang akan diolah (apakah data tersebut tersedia, lengkap, dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, ataukah selaras dengan fenomena yang akan dianalisisnya). Data-data sebagai masukan tersebut akan diverifikasi dan divalidasi, kemudian akan diolah lebih lanjut sesuai dengan peruntukkannya.

Contoh kasus yang saya hadapi adalah kesulitan dalam menemukan data sebaran nilai hasil UN SMP untuk lima tahun ke belakang. Ada suatu data namun tidak lengkap persyaratannya sehingga dapat menimbulkan keambiguan di dalam pengolahannya. Namun jika data tersebut dibuang, akan sayang juga mengingat minimnya data yang ada secara keseluruhan. Sehingga langkah komprominya adalah mengkonversi data tidak lengkap tersebut sehingga dapat direpresentasikan menjadi lengkap (tentunya dengan resiko adanya kesalahan). Namun kesalahan yuang terjadi dapat saya abaikan mengingat saya lebih mengorientasikan kepada proses penyusunannya, dan kalaupun terjadi kesalahan pada hasil akhirnya maka dapat dimaklumi (berada di dalam rentang toleransi yang diijinkan).

 Gambar-2_Pentingnya Menentukan Posisi UN Putra-i di Dalam Sebaran Hasil Nilai UN 2016

Gambar-2 Pentingnya Menentukan Posisi UN Putra-i di Dalam Sebaran Hasil Nilai UN 2016

Saya katakan bahwa sesuatu hal yang mustahil untuk memprediksi passing grade SMA (2016) tanpa mengetahui sebaran nilai UN SMP pada tahun berjalan (2016). Sehingga jelas bagi kita bahwa langkah awal yang perlu dilakukan oleh para orangtua murid adalah berupaya keras untuk mencari sebaran nilai UN SMP tahun 2016. Hal ini akan menjadi jalan pembuka dalam langkah-langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan. Gambar-2 menunjukkan bahwa sebaran UN Tahun 2014 diperoleh dalam bentuk grafik dan tidak detail, sehingga saya berupaya untuk mendetailkan sebarannya melalui suatu prediksi yang mungkin saja didalamnya terkandung suatu penyimpangan/kesalahan. (Penyimpangan yang terjadi saya abaikan demi representasi data yang lebih bermakna dan bisa dijumpai solusi penanggulangan masalahnya).

Pada saat saya dalam melakukan proses penulisan ini, Alhamdulillah saya dikirm data Sebaran Nilai UN SMP untuk tahun 2014 oleh Saudara Taufiq Akbari Utomo. Kesempatan bagi saya untuk memperbaiki data lagi, walaupun data yang saya dapatkan belum bisa dikatakan lengkap 100% (tidak terdapatnya sebaran data detail untuk Nilai UN < 30), sehingga saya melakukan beberapa pembaruan data lagi dan ditunjukkan pada gambar berikut :

  Gambar-3_Revsisi Sebaran Data UN 2014 (Kiriman Bapak Taufiq Akbary Utomo)

Gambar-3  Revsisi Sebaran Data UN 2014 (Kiriman Bapak Taufiq Akbary Utomo)

Gambar-4 di bawah menunjukkan contoh sebaran data nilai UN. Umumnya orang tertarik dan bisa menyimpulkan kondisi realitasnya setelah melihat tampilan dalam bentuk grafik. Jika dilihat dari kecenderungannya, secara sepintas naik mulai dari tahun 2013 ke 2014 dan ke 2015. Apakah ini merupakan suatu jaminan bahwa prediksi di tahun 2016 akan naik ? ? ? Sulit sekali untuk kita putuskan mengingat varibel penentunya banyak sekali dan juga sangat sulit untuk menentukan karakteristik variabelnya. Salah satu contoh adalah sulitnya  menentukan tingkat kesulitan soal UN yang akan dimunculkan pada tahun 2016 ini, dan sulit juga untuk menentukan sebaran IQ dari murid yang ada di Kota Bandung.

 Gambar-4_Contah Data Sebaran UN Tahun 2013-2014-2015 untuk SMP di Kota Bandung

Gambar-4 Contah Data Sebaran UN Tahun 2013-2014-2015 untuk SMP di Kota Bandung

Andai dijumpai suatu kasus yang tidak disukai (Nilai Sebaran UN Tahun Berjalan / 2016) tidak dapat diperoleh, maka apa boleh buat bahwa kita harus menempuh suatu jalan yaitu lewat memprediksinya. Kita berbaik sangka terhadap pelaksanaan pendidikan yang dijalankan saat ini, bahwa semuanya melakukan peningkatan kualitas mutu pendidikan, kebijakan di bidang pendidikan sangat kondusif, maka sudah dapat ditebak bahwa sebaran hasil UN akan naik pada tahun 2016. Andai sebaran nilai UN Tahun 2016 diterbitkan oleh fihak berwenang sesaat sebelum pendaftaran ke SMA dilakukan maka Prediksi akan lebih mudah dilakukan dan hasilnya Insyaallah akan lebih akurat/mendekati kondisi aktualnya. Yang saya lakukan adalah membalik system prediksi Passing Grade yang ada sekarang dengan jalan mengawalinya dulu lewat prediksi sebaran data UN aktual (potret / lukisan sesungguhnya dari murid-murid SMP yang ada).

 Gambar-5R2_Contah Memprediksi sebaran UN Tahun 2016 (Jika sebaran Pada Tahun Berjalan Tidak Dapat Dijumpai)

Gambar-5 Contah Memprediksi sebaran UN SMP Tahun 2016 (Jika Sebaran Hasil UN Pada Tahun Berjalan Tidak Dapat Dijumpai)–> Gambar ini direvisi

Gambar-5 adalah prediksi hasil sebaran UN 2016 dengan jalan melakukan regresi terhadap sebaran nilai UN 2013, 2014, 2015 (yang awalnya tidak lengkap). Prediksi pada Gambar-5 berubah setelah saya mendapatkan data Peringkat Nilai UN SMP Kota Bandung Tahun 2016 (saya dapatkan tanggal 11-06-16)

Gambar-5b menunjukkan bahwa data peringkat UN 2016 Kota Bandung hanya memuat Nilai Rata-Rata Per Mata Ujian, Nilai Rata-Rata Total Ujian, dan Jumlah Peserta Ujian, dan Ranking. Data ini tidak memuat sebaran nilai UN yang didapat oleh seluruh peserta, dan juga oleh seluruh SMP yang ada di Kota Bandung (hanya terdapat 43 SMP). Mohon bantuan para pembaca sekalian jika mendapatkan data yang lebih lengkap lagi dan berupa sebaran nilai UN 2016 kota bandung, agar dapat mengirimkannya kepada saya untuk saya revisi lagi tulisan ini.

Gambar-5b_Perolehan Data Baru Peringkat UN SMP Kota Bandung 2016

Gambar-5b Data Peringkat Hasil UN 2016 Untuk SMP di Kota Bandung (Prediksi Sebaran UN menjadi lebih akurat, walaupun tetap diperlukan Sebaran UN Aktual SMP Untuk Tahun 2016. Gambar ini direvisi juga.

Data pada Gambar-5b harus diolah lanjut oleh saya dengan jalan melakukan Pendekatan Normalisasi (Distribusi Normal) untuk mengetahui sebaran nilai berdasarkan jumlah muridnya. Berdasarkan pengolahan data diperoleh hasil sebaran berikut (Gambar-5c) :

Gambar-5c_Pengolahan Data &amp; Sebaran UN Berdasarkan Peringkat UN SMP Kota Bandung 2016

Gambar-5c  Pengolahan Data & Sebaran UN Berdasarkan Peringkat UN SMP Kota Bandung 2016

Sekalilagi saya ingatkan bahwa fase ini bertujuan untuk memetakan posisi putra/i kita di sebaran nilai UN. Langkah berikutnya adalah memeriksa apakah jumlah murid lainnya yang mendapatkan nilai UN yang sama atau di atas putra/i kita seberapa banyak. Karena mereka akan menjadi pesaing anak kita. Kondisi yang diharapkan adalah bahwa Kuota di SMP yang tersedia lebih banyak daripada jumlah murid yang memperoleh nilai UN tersebut. Mari kita upayakan pencarian sebaran nilai UN 2016 aktual semaksimal mungkin, sehingga akan memudahkan kita untuk melakukan langkah-langkah kedepannya (Data peringkat UN SMP 2016 Kota Bandung yang saya miliki hanya no. urut 1 s/d 43 saja, masih ada beberapa SMP yang tidak termasuk di dalamnya, jika pembaca memiliki data yang lebih lengkap bisa di share ke penulis, untuk penulis sempurnakan lagi prediksinya).

Alhamdulillah, sebaran data hasil UN tahun 2016 telah penulis terima, sehingga yang saya lakukan adalah menentukan apakah prediksi-prediksi sebelumnya menyimpang dengan sangat jauh ataukah berada di dalam daerah toleransi yang dapat diterima ?

DATA-DATA APA SAJA YANG DAPAT KITA PEROLEH DAN KITA SUSUN DARI SEBARAN NUN SMP KOTA BANDUNG TAHUN 2016 :

  • SEBARAN DATA NUN SMP Kota Bandung Tahun 2016 (Perbandingan Sekolah SMP Negeri dan Swasta)

Gambar-5d_Perolehan Data Baru Sebaran NUN SMP Kota Bandung 2016 Dari Dinas Pendidikan Kota Bandung

Gambar-5d Perolehan Data Baru Sebaran NUN SMP Kota Bandung 2016 Dari Dinas Pendidikan Kota Bandung (Perbandingan perolehan SMP Negeri dan SMP Swasta)
  • SEBARAN DATA NUN SMP Kota Bandung Tahun 2016 (Sekolah SMP Negeri Kota Bandung)

Gambar-5e_Sebaran NUN Kota Bandung 2016

Gambar-5e Sebaran NUN Kota Bandung 2016
  • Menilai Prediksi Sebaran NUN 2016 berdasarkat Data Peringkat UN SMP 2016 dengan Data Aktual Sebaran NUN SMP Kota Bandung Tahun 2016

Gambar-5f_Sebaran NUN Kota Bandung 2016 &amp; Prediksi Sebelumnya Berdasarkan Peringkat NUN SMP 2016

Gambar-5f Penilaian hasil prediksi UN Berdasarkan data Peringkat SMP Kota Bandung dengan Dta Aktual Sebearan NUN SMP Negeri Kota Bandung 2016

Dalam PPDB Online 2016 akhirnya dinas pendidikan menerbitkan sebaran NUN SMP Kota Bandung 2016, dalam bentuk digaram. Terjadi perbedaan jumlah secara signifikan yang diakibatkan oleh Interval Kelas nilai NUN nya. Setelah saya lihat kembali ke belakang untuk prediksi-prediksi sebelumnya, ternyata tidak ada perubahan yang signifikan terhadap Nilai Passing Grade (artinya tidak ada perubahan)

Gambar-15_Distribusi NUN SMP Kota Bandung Online 2016

Sampai dengan saat ini dapat disimpulkan bahwa secara garis besar sebaran NUN SMP Negeri Kota Bandung Tahun 2016 mengalami Penurunan. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, apakah dengan turunnya sebaran NUN SMPN Tahun 2016 akan mengakibatkan Passing Grade Negeri akan turun pada semua SMA ? ? ? APAKAH BISA KITA MENJAMIN yang mendaftar ke SMA Negeri hanya lulusan dari SMP Negeri saja ? Dan juga kita tidak bisa menjawab bahwa sebaran peraih NUN tersebar secara merata di setiap wilayah / rayon / kecamatan ? ? ? ? Jawabannya Belum Tentu. Karena belum tentu, maka kita harus mempelajari lewat sejarah perilaku data-data pada tahun sebelumnya……………

Upaya kolaborasi untuk menghasilkan data dan berdiskusi berlanjut terus, dan pada Tanggal 20 Juni malam, sahabat saya Sdr. Negariansyah Nega mengirmkan data dan menyarankan untuk menganalisa NUN melalui sebaran wilayah. Saya putuskan, bahwa prediksi berbasis sebaran wilayah ini yang seharusnya dikembangkan lebih lanjut (Mengingat tujuan awal PPDB seperti yang tertera di Perwal 2016, dengan melengkapi karakteristik spesifik sekolah yang ada berdasarkan kluster).

Gambar-5gR3_Sebaran NUN Berdasarkan SMP Negeri Kota Bandung 2016

Gambar-5g Prediksi Sebaran UN Berbasis Wilayah SMP Kota Bandung 2016

II. LANGKAH KE-DUA (MEMPELAJARI KARAKTERISTIK JUMLAH KUOTA DAN PENDAFTAR PADA TAHUN SEBELUMNYA)

Penting untuk mengetahui kuota tersedia di setiap SMA berikut jumlah pendaftar yang ada berdasarkan historis data masa lampau. Umumnya Perubahan Kuota berjalan lambat dan tidak terlalu fluktuatif, karena bukan perkara mudah untuk menambah suatu kelas lengkap dengan sarana dan prasarananya pada suatu sekolah. NAMUN, dengan diterapkannya suatu kebijakan semisal penerimaan Jalur Prestasi, Surat Keterangan Tidak Mampu, Kuota Luar Daerah, Kuota Beda Rayon, dapat mengakibatkan perubahan jumlah Kuota dengan signifikan. Akibat yang ditimbulkannya akan berpengaruh ke Jumlah Kuota dan Pendaftar Jalur Akademis (murni berdasarkan nilai UN).

  Gambar-6_Jumlah Kuota Tersedia VS Pendaftar (Setiap Kluster)

Gambar-6  Jumlah Kuota Tersedia VS Pendaftar SMA di Kota Bandung Tahun 2009 sd 2015 (Setiap Kluster)

Hampir dapat dikatakan bahwa jumlah pendaftar selalu lebih besar dibandingkan dengan ketersediaan kuota. Andai profil keadaan tersebut ditelaah lebih lanjut, seharusnya fihak pemerintahan di Kota Bandung dapat menentukan prioritas pengembangan mana yang akan dilakukan sesuai dengan kondisi masyarakatnya di bidang pendidikan.

 Gambar-7_Rasio Ditolak Masuk SMA Di Kota bandung (Setiap Kluster)

Gambar-7 Prosentase Penolakan Pendaftar SMA di Kota Bandung Tahun 2009 sd 2015 (Setiap Kluster)

Melalui Gambar-7 ditunjukkan bahwa rata-rata penolakan terbesar adalah terjadi di Kluster-1. Artinya banyak murid dengan hasil UN yang besar mencoba bertarung di Kluster-1 dan akhirnya terjungkal. Saya membayangkan bagaimana perasaan orangtuanya manakala putra/i nya mengalami kegagalan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa nilai sebaran UN SMP Tahun 2016 berperan besar dengan terjadinya rasio penolakan tersebut (terjadi salah pilih sekolah). Sehingga sekali lagi saya utarakan, sesaat setelah hasil UN diumumkan untuk seluruh murid SMP di Bandung, maka Data Sebaran UN SMP Tahun 2016 agar dapat diterbitkan oleh fihak yang berwenang.

Data baru apa yang bisa kita peroleh dan petakan dari PPDB Online 2016 untuk kota Bandung ? ? (mengikuti peraturan wali kota bandung berkaitan dengan PPDB 2016)

Gambar-7bR3_Kuota SMA Negeri Bandung-PPDB Online &amp; Perwal 2016

Gambar-7a Kuota SMA Negeri Bandung berdasarkan PPDB Online Kota Bandung Tahun 2016 dan Perwal Kota Bandung 2016 (DIREVISI)

Berdasarkan sebaran UN berdasarkan Wilayah yang baru saya terima, maka saya merasa perlu untuk melakukan pengesetan Kuota yang Ada berbasis wilayah juga. Saya mencoba memetakan dengan lebih detail untuk kuota akademik menjadi : dalam wilayah dan gabungan wilayah)

Gambar-7aR3_Kuota SMA Negeri Bandung-PPDB Online &amp; Perwal 2016

Gambar-7b Kuota SMA Negeri Bandung berdasarkan PPDB Online Kota Bandung Tahun 2016, Perwal Kota Bandung 2016, dan Sebaran NUN SMPN 2016 Berbasis Wilayah (Kuota akademik diasumsikan)

Sampai dengan pada tahap ini, anda mulai melakukan strategi, di jalur mana putra-putri anda akan bertarung untuk memperebutkan kursi. Dengan melihat setiap kuota yang ada untuk peruntukannya, dan yang terpenting adalah domisili dimana anda berada. Ibarat kata muju kena-mundur kena bagi peraih nilai NUN tinggi tapi berdomisili di luar wilayah sekolah faforit Kluster-1 / Kluster-2 / Kluster-3. Saya memberanikan diri untuk menangkap apa maksud dari pembagian kuota tersebut di atas : Kota bandung adalah kota indah dengan masalah utama kemacetan yang luar biasa parah pada jam-jam tertentu. Timpangnya keseragaman mutu pendidikan yang ada di kota bandung, variannya begitu kental sehingga target sebagian orang tua adalah memasukkan putra-putranya di sekolah favorit, padahal ada sekolah lain di dekat rumahnya. Pernyataan ini harus dijawab oleh dinas pendidikan kota Bandung dengan upaya pengadaan program-program penyeragaman mutu di bidang pendidikan (sekolah bagus bukan hanya karena upaya civitas akademika saja, namun ditentukan juga oleh regulasi, kebijakan, dan pengambilan keputusan yang ada di bidang pendidikan).

Sampai dengan tahap ini fokus kita terlihat pada KUOTA AKADEMIK (saya lebih suka melihat pada kolom PROTEKSI ), akan menjadi masalah tersendiri bagi orangtua yang memiliki domisili rumah di luar wilayah sekolah favorit. Saya tegaskan di sini, biarlah pilihan kita mengalir apa adanya…………..

III. LANGKAH KE-TIGA (MEMPELAJARI KARAKTERISTIK RATA-RATA PASSING GRADE DI BANDUNG & MEMPREDIKSINYA UNTUK TAHUN 2016 INI / PER KLUSTER)

Dalam kondisi yang ideal sekali, pengelompokkan SMA menjadi Kluster-Kluster merupakan suatu upaya pemerataan tingkat kemajuan pendidikan yang tersebar di beberapa wilayah Kota Bandung. Sekolah-sekolah yang ada di dalam Kluster memiliki suatu entitas yang serupa yang menunjukkan bahwa mereka layak dikelompokkan pada tempat / kluster yang sama. (Arti lainnya adalah menunjukkan kesamaan sifat, hanya lokasi / wilayahnya saja yang berbeda).

 Gambar-8_Rata-Rata Passing Grade SMA Kota Bandung Tahun 2008 sd 2015 (Per Kluster)

Gambar-8 Rata-Rata Passing Grade SMA Kota Bandung Tahun 2008 sd 2015 (Per Kluster)–>Direvisi (Lihat Gambar-9)

Nilai Rata-Rata Passing Grade Per Kluster penting juga untuk diketahui, mengingat kumpulan sekolah dalam kluster yang sama akan membentuk suatu populasi yang lebih besar jika dibandingkan dengan populasi yang terdiri hanya satu sekolah saja. Karena kesamaan sifat yang spesifik tersebut maka kemungkinannya mempunyai pola yang sama, sehingga sifat bawaan tersebut akan diturunkan ke sifat-sifat bawaan yang lebih kecilnya (level-level sekolah pada kluster yang sama). Kenapa hasil prediksi untuk tahun 2016 menunjukkan bahwa hasilnya bisa naik / bisa turun bila dibandingkan dengan hasil pada tahun 2015 ? Hal tersebut diakibatkan perjalanan / riwayat sejarahnya, yang memiliki banyak variable penentu yang variasinya sangat tinggi sekali dan dimodelkan secara matematis (Sulit bahwa suatu hasil merupakan dari suatu tindakan konsisten dan berkesinambungan). Sehingga sampai dengan saat ini, barulah kita mulai menyadari bahwa penting sekali untuk mengetahui sebaran di awal-awal sebelum pendaftaran dilakukan. Pada Tanggal 11-06-2016 saya dikirimi data Peringkat Nilai UN SMP 2016 Kota Bandung, setelah diolah lebih lanjut mulai tampak hasil yang menurut saya cukup meyakinkan. Dari sebaran nilai UN yang diturunkan dari data Peringkat Nilai UN SMP Kota Bandung 2016, ditunjukkan kemungkinan adanya perubahan drastis berupa penurunan Passing Grade bagi Kluster-1 dan Kluster-2 untuk pendaftar dalam kota ( Gambar-9). Alasan saya :

  • Peringkat UN SMP Kota Bandung 2016 merupakan gabungan seluruh SMP Negeri dan swasta serta Madrasah Tsanawiyah yang ada di kota Bandung. Ada kecenderungan bahwa murid yang bersekolah di sekolah swasta umumnya akan melanjutkan pendidikan pada yayasan sekolah yang sama. Sehingga akan menurunkan lagi persaingan pendaftar yang ingin masuk ke SMA Negeri.
  • Kita tidak pernah mengetahui sebaran nilai UN tersebut berdasarkan peta geografis domisili murid (orangtua murid cenderung memilih sekolah yang dekat dengan rumahnya dan memiliki kualitas yang baik). Sehingga para peraih nilai UN yang tinggi cenderung tersebar ke beberapa daerah yang tidak hanya terkonsentrasi di satu daerah saja.
Gambar-9R2_Prediksi Nilai Rata-Rata Passing Grade SMA Kota Bandung Tahun 2016 (Per Kluster)
Gambar-9 Prediksi Nilai Rata-Rata Passing Grade SMA Kota Bandung Tahun 2016 (Per Kluster) berdasarkan Peringkat Nilai UN SMP Kota Bandung 2016 (DIREVISI)

Gambar-9R2_Prediksi Nilai Rata-Rata Passing Grade SMA Kota Bandung Tahun 2016 (Per Kluster)

Gambar-9a Prediksi Nilai Rata-Rata Passing Grade SMA Kota Bandung Tahun 2016 (Per Kluster) berdasarkan Sebaran NUN SMP Negeri 2016 Kota Bandung (KUOTA GABUNGAN WILAYAH)

 

IV. LANGKAH KE-EMPAT (MEMPELAJARI KARAKTERISTIK RATA-RATA PASSING GRADE DI BANDUNG & MEMPREDIKSINYA UNTUK TAHUN 2016 INI / PER SMA)

Langkah ke-empat merupakan langkap puncak yang paling banyak ditunggu (jika kita menonton TV merupakan acara faforit yang waktu tayangnya malam minggu jam 8 malam pada saat keluarga sedang berkumpul dan beristirahat bersama).

Sejauh ilmu yang saya pelajari adalah, sampai kapanpun tidak akan pernah dihasilkan prediksi yang akurat (menyimpang di dalam suatu toleransi yang dapat diterima), JIKA…….Data Distribusi UN Tahun 2016 ini tidak berada di tangan kita. Ibarat kata kita adalah orang buta yang diberi tugas sebagai penunjuk jalan…….Nearly Impossible (maaf : saya katakan sejago apapun anda dapat memprediksi hanya kesulitan-kesulitan saja yang anda hadapi, dan anda hanya berupaya menggabungkan angan-angan kosong saja dan mencoba untuk merangkai satu dengan yang lainnya).

Sehingga solusinya adalah bagaimana kita mencari jalan agar Nilai Sebaran UN Tahun 2016 ini dapat dipublikasikan sesaat setelah pengumuman hasil nilai UN diumumkan (Kalau saya tidak salah, Besok Hari Sabtu / 11 Juni 2016 adalah hari pengumumannya). Mari kita berbondong-bondong menanyakan nilai sebarannya kepada : Instansi Dinas Pendidikan terkait, Sekolah-sekolah asal ataupun sekolah yang dituju, atau Pusat-Pusat Bimbingan Belajar. (Saya menggunakan kalimat mengajak, karena menyadari sekali pentingnya arti dokumen tersebut bagi para lulusan murid SMP yang akan mendaftar SMA di Bandung Kota. (Gambar-10 di bawah DIREVISI menjadi Gambar-10a, setelah saya mendapatkan Peringkat Nilai UN SMP 2016 Kota Bandung)

  •  KLUSTER-I (KUOTA GABUNGAN WILAYAH)

Gambar-10R2_Prediksi Passing Grade SMA Kluster-1 di Kota Bandung Tahun 2016

Gambar-10 Prediksi Passing Grade SMA Kluster-1 di Kota Bandung Tahun 2016–> DIREVISI

Hasil Prediksi Revisi untuk Passing Grade Cluster-1 setelah mengetahui Data Peringkat Nilai UN 2016 Kota Bandung yang diturunkan untuk mendapatkan sebaran nilai :

Gambar-10aR2_Revisi Prediksi Passing Grade SMA Kluster-1 di Kota Bandung Tahun 2016

Gambar-10a Revisi Prediksi Passing Grade SMA Kluster-1 di Kota Bandung Tahun 2016 Berdasarkan Peringkat Nilai UN 2016 Kota Bandung–>DIREVISI

Gambar-10bR2_Prediksi Nilai Rata-Rata Passing Grade SMA Kota Bandung Tahun 2016 (Kluster-1)

Gambar-10b Revisi Prediksi Passing Grade SMA Kluster-1 di Kota Bandung Tahun 2016 Berdasarkan Sebaran NUN SMPN Kota Bandung 2016 (KUOTA GABUNGAN WILAYAH)
  • KLUSTER-II (KUOTA GABUNGAN WILAYAH)

Gambar-11 akan direvisi oleh Gambar-11a berkaitan dengan Passing Grade untuk kluster-2 berdasarkan Peringkat UN SMP 2016 Kota Bandung, dan oleh Gambar-11b berdasarkan sebaran NUN SMP Negeri Kota Bandung Tahun 2016

Gambar-11R2_Prediksi Passing Grade SMA Kluster-2 di Kota Bandung Tahun 2016

Gambar-11 Prediksi Passing Grade SMA Kluster-2 di Kota Bandung Tahun 2016 (DIREVISI)

Gambar-11aR2_Revisi Prediksi Passing Grade SMA Kluster-2 di Kota Bandung Tahun 2016

Gambar-11a Revisi Prediksi Passing Grade SMA Kluster-2 di Kota Bandung Tahun 2016 Berdasarkan Peringkat UN SMP 2016 Kota Bandung (DIREVISI)

Gambar-11bR2_Prediksi Passing Grade SMA Kluster-2 di Kota Bandung Tahun 2016

Gambar-11b Revisi Prediksi Passing Grade SMA Kluster-2 di Kota Bandung Tahun 2016 Berdasarkan Sebaran NUN SMPN 2016 Kota Bandung (KUOTA GABUNGAN WILAYAH)
  • KLUSTER-III (KUOTA GABUNGAN WILAYAH)

Untuk Kluster-3 awalnya tidak ada perubahan, mengingat peringkat nilai UN SMP 2016 yang saya peroleh hanya sampai dengan Rangking 43 saja. Data yang saya peroleh tidak mencukupi untuk melakukan pengubahan prediksi. Namun setelah Sebaran NUN SMPN Kota Bandung 2016 diinfokan, maka ada perubahan hasil.

Gambar-12R2_Prediksi Passing Grade SMA Kluster-3 di Kota Bandung Tahun 2016
 Gambar-12 Prediksi Passing Grade SMA Kluster-3 di Kota Bandung Tahun 2016 (DIREVISI)

Gambar-12aR2_Prediksi Passing Grade SMA Kluster-3 di Kota Bandung Tahun 2016

 Gambar-12b Prediksi Passing Grade SMA Kluster-3 di Kota Bandung Tahun 2016 Berdasarkan Sebaran NUN SMPN 2016 Kota Bandung (KUOTA GABUNGAN WILAYAH)

KEDEPANNYA, sebaran UN berdasarkan letak geografi / domisili murud menjadi penting, untuk lebih mengetahui apakah sebaran NUN SMP sebanding atau tidak dengan sebaran wilayah SMP yang ada. Khusus untuk Kluster-3, Sebagian besar naik dikarenakan kuota sebanyak 3.397 akan diperebutkan oleh 3.971 murid yang memperoleh nilai 31>NUN>29 . Terus terang kondisi prihatin ada di Kluster-3, seolah-olah menutup jalan bagi peserta didik yang memiliki NUN di bawah 29.Namun jalan tetap ada jika anda tidak menggunakan Kuota Akademik, gunakan kuota lainnya selain kuota akademik. Dan juga amati setiap perubahan data jumlah pendaftar, kuota tersedia,  dan ranking di atas / di bawah putra anda dalam durasi waktu setiap hari, mudah-mudahan masih ada kesempatan .

Apaboleh buat, kedepannya kita harapkan akan ada solusi dari Dinas Kota Bandung untuk mengatasi masalah ini.

Berdasarkan data tabel dan grafik untuk semua SMA dan semua kluster ditunjukkan bahwa Passing Grade memiliki kemungkinan untuk naik saja, atau naik/turun. Berdasarkan pengolahan data ditunjukkan ada satu kecenderungan untuk naik saja, turun saja, atau naik/turun. Kenapa hal ini terjadi ? Dan bukannya  semuanya turun atau semuanya naik ? Yang menjadi dasar adalah rasio diantara kuota yang tersedia dengan sebaran NUN yang ada, serta sistem penilaian otomatis dari tahap 1 (kuota dalam wilayah) ke tahap 2 (kuota antar wilayah), dan status limpahan dari pilihan 1 ke pilihan 2.

PREDIKSI PASSING GRADE KUOTA DALAM WILAYAH

Berdasarkan data yang saya peroleh  berkaitan dengan prediksi sebaran NUN berdasarkan wilayah, maka saya susun Prediksi Passing Grade untuk Kuota Wilayah dengan asumsi bahwa SMP dan SMA pada satu kecamatan yang sama akan memiliki sifat yang saling mempengaruhi. Pada wilayah yang sama, tendensi banyak sedikitnya pelamar dapat ditentukan oleh : lokasi sebaran murid terhadap lokasi sekolah, favoritas dari SMA yang ada (dulu dicirikan dengan kluster dan sudah dihapus di tahun 2014, namun bekas-bekasnya masih mengental)

Gambar-15R3_PG Kuota Proteksi Dalam Wilayah SMA Kota Bandung 2016

Gambar-12c Prediksi Passing Grade SMA di Kota Bandung Tahun 2016 (KUOTA DALAM WILAYAH)

KASUS KUSUS UNTUK PENDAFTAR LUAR KOTA

Ternyata memiliki NUN yang relatif tinggi namun domisili tempat tinggal berada di luar wilayah akan menyebabkan ketegangan tersendiri bagi para orang tua murid. Prediksi passing grade untuk pendaftar luar kota sangat sulit sekali untuk diprediksi, mengingat rentang variabelnya yang lebih banyak sekali, seperti :

  1. Kita tidak mengetahui bagaimana distribusi perolehan NUN bagi murid-murid yang berdomisili dekat pada perbatasan wilayah kota Bandung.
  2. Kita tidak mengetahui berapa orang di seluruh Indonesia yang akan mendaftar masuk ke sekolah-sekolah favorit di Bandungnya untuk setiap tahun ? Bisa saja naik dan bisa saja turun.
  3. Umumnya nilai-nilai murid luar kota yang akan mendaftar ke dalam kota Bandung adalah murid-murid spesial yang memiliki NUN sangat spesial pula, bahkan cenderung fantastis.

Saya katakan sangat sulit bahkan mungkin tidak dapat diprediksi (unpredictable), sehingga saya hanya dapat menampilkan historis data-datanya saja, dan Passing Grade minimun berapa yang akan diprediksi diserahkan kepada para pembaca, saya tidak dapat melakukannya dikarenakan keterbatasan saya. Bahan masukan kedepannya bahwa peserta luar kota selain dijaring lewat kuota dan Passsing Gradenya, dapat juga diverifikasi/divalidasi oleh SMA yang menjadi tujuannya melalui Ujian Saringan Lagi di SMA yang dituju………….

  • Riwayat Kuota dan Pendaftar Luar Kota

Gambar-14_Riwayat Kuota Pendaftar Luar Kota

  • Riwayat Passing Grade Pendaftar Luar Kota

Gambar-15_Riwayat Passing Grade Luar Kota

V. KESIMPULAN

Andai terjadi seperti pada beberapa kasus di atas (dua kecenderungan), yang mana data yang tersedia telah diolah oleh komputer dan telah dimodelkan secara matematik untuk menunjukkan kedua kemungkinan tersebut, maka langkah-langkah yang perlu dilakukan :

  1. Petakan posisi Nilai UN yang anda peroleh di dalam tabel Prediksi Sebaran Nilai UN 2016 (Lebih bagus lagi jika sebaran nilai UN actual tahun 2016 didapat). Andai Sebaran Nilai UN aktual 2016 anda dapatkan, maka anda dapat menarik kesimpulan sementara apakah passing grade SMA akan mengalami kenaikan atau penurunan.
  2. Periksa kuota kluster tempat SMA yang dipilih berada. Jika jumlah kuota lebih besar dibandingkan jumlah murid yang memperoleh nilai UN sama dan di atas anda, Maka pilihan SMA di Kluster-1 bagi anda adalah Aman.
  3. Periksa Historikal SMA yang menjadi tujuan pilihan anda. Jika nilai anda berada di atas nilai rata-rata prediksi maka dapat dikatakan bahwa anda cukup aman untuk memilih SMA yang bersangkutan. Namun, jika nilai anda berada di bawah nilai rata-rata hasil prediksi maka dikatakan bahwa anda tidak begitu aman, karena kemungkinan akan terlempar dikarenakan jumlah pendaftar banyak sekali (terutama pilihan pada sekolah-sekolah favorit)
  4. Jika anda di dalam point 3 dikatakan tidak begitu aman, maka langkah yang harus anda tempuh adalah mempelajari historical dari sekolah yang anda tuju : Sejarah passing grade, sejarah kuota, sejarah pendaftar, sejarah jumlah pendaftar ditolak, dan sejarah kluster.
  5. Hindari intuisi dalam memutuskan pilihan SMA (Intuisi = kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas). Perbanyak berdoa, dan jika anda seorang muslim lakukanlah shalat istiharah untuk membantu memutuskan pilihan anada. Kekuatan pilihan kita bukan hanya berasal dari daya nalar anda saja, namun semuanya berasal dari Allah SWT yang telah memberikan fikiran kepada kita.
  6. Jangan lupa check status via PPDB Online 2016 secara kontinyu karena akan membantu anda (lakukan setiap hari untuk mengetahui jumlah pendaftar, rangking NUN di atas dan di bawah putra/i anda)

Gambar-13_Check Progress PPDB Online 2016

 Gambar-12c Pengecekan Status Pendaftaran via PPDB Online 2016

 VI. STUDI KASUS PUTRA SAYA (M. HUSEUN HAEKAL)

Lulus dari SMPN 7 Bandung pada Tahun 2016 dengan perolehan nilai UN Total 34,70 (skala 10). Yang saya lakukan adalah menentukan peringkat posisi dia berdasarkan nilai yang sama dengannya dan juga ditambah nilai yang berada di atasnya (sekitar peringkat 543). Kemudian saya cek juga kuota yang tersedia di kluster-1 (rata-rata sekitar 1.832 murid), apakah ia memiliki kesempatan untuk masuk di kluster-1 ? (memiliki peluang yang sangat besar).

Gambar-13_Studi Kasus Putra Saya M Husein Haekal-Lulusan SMPN 7 Bandung Tahun 2016

 Gambar-13 Studi Kasus Putra Sulung Saya: Muhammad Husein Haekal (Lulusan SMPN 7 Bandung), dengan Nilai UN 34,7

Setelah itu saya cek historikal dan prediksi passing grade sma tahun 2016 di Kota Bandung. Insyaallah akan memungkinkan untuk diterima di SMAN 2, 4, 5, 8, 11, dan 24. Untuk ke SMAN 3 perlu sedikit keberuntungan (jika dipertimbangkan dengan jumlah distribusi UN yang jauh di bawah kuota, dan perlu perhitungan lebih detail lagi). Dan putra saya cukup berprestasi di Basket Ball Club SMPN 7, yang dalam beberapa event saya ikuti langsung sejak 2013 sampai dengan 2016 ini sering menjadi Juara I di bawah guru dan pelatih handal Bapak Ahmad. Sehingga saya juga memberikan kesempatan kepada putra saya untuk menggunakan Jalur Berprestasi.

 

Gambar-14_Analisa Studi Kasus Putra Saya M Husein Haekal-Lulusan SMPN 7 Bandung Tahun 2016

 Gambar-14 Studi Kasus Putra Sulung Saya: Muhammad Husein Haekal (Lulusan SMPN 7 Bandung)

 

VII. PENUTUP (SAMA DENGAN TULISAN SEBELUMNYA (BERKAITAN DENGAN PREDIKSI PASSING GRADE SMP 2016)

Perlu disadari bersama bahwa melakukan prediksi bukanlah hal mudah yang dapat dilakukan tanpa  data yang akurat. Semakin aktual dan akurat suatu penyajian data, maka akan semakin representatif dan dapat dipertanggungjawabkan hasil prediksinya. Kedepannya, mudah-mudahan institusi yang terkait dengan otoritas penyebaran data dapat juga menyiapkan historical data yang suatu saat dapat dipergunakan untuk masyarakat umum yang berkepentingan menggunakannya (data dalam 5-10 tahun ke belakang).

Lebih baik salah memprediksi dengan suatu metoda analisis, dibandingkan memprediksi dengan jalan melempar mata uang untuk memilih angka dan burung. Sekali lagi semuanya akan bergantung pada data awal sebaran nilai UN 2016 yang diterbitkan oleh fihak yang berwenang. Semakin cepat data tersebut di-publish, maka akan semakin membantu masyarakat luas untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, sehingga langkah antisipasinya bisa disiapkan sejak dini pula.

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, semua makhluk memiliki kelemahannya masing-masing dengan keterbatasan ilmu yang ada padanya. Sehingga akan memungkinkan juga terjadi kesalahan di dalam memprediksi hasilnya. Hal tersebut terjadi semata karena kekurangan penulis, dan penulis senantiasa berdoa untuk ditambahkan ilmu pengetahun yang bermanfaat bagi makhluk-makhlukNya oleh Yang Maha Kuasa. Kalaupun ada kebenaran di dalamnya, maka semuanya itu bersumber dari Allah SWT yang Maha Berilmu.

Mohon bantuan para pembaca sekalian juga untuk memberikan masukan yang bersifat konstruktif, dan jika berkenan dapat mengirimkan data-data terkait seputar UN dan Passing Grade SD & SMP ke alamat : duddy_arisandi@yahoo.com.

Kita tanamkan kepada putra-putri kita bahwa apapun hasilnya nanti merupakan keputusan terbaik yang telah ditakdirkanNya, manusia hanya bisa berusaha. Andai tidak diterima di sekolah impiannya, maka hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya, perjalanan panjang nan berat dibutuhkan untuk membangun bangsa ini lewat generasi-generasi muda yang beriman dan bertakwa, memiliki kepribadian atau tingkah laku yang baik, dan menguasai ilmu pengetahuan, berdayasaing tinggi dan berprestasi.

Tak lupa penulis ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para penyedia data di media sosial seperti : situs bicara PPDB (saudara Taufiq Akbari Utomo), Dinas Pendidikan Kota Bandung / PPDB, , saudara Fauzan Alfi, Inan Kito Konsultan, Jodenmot, dan lain-lainnya, yang telah membagi informasi berguna bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. Semoga silaturahim tetap terjaga walaupun hanya lewat tulisan-tulisan di media blog.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan mohon didoakan juga oleh pembaca bagi kebaikan keluarga kami, dan semoga putra sulung saya M. Husein Haekal dapat diterima di SMA Kota Bandung yang menjadi tujuannya, demikian pula dengan putra saya yang ke dua yang akan masuk ke SMP di Bandung Kota (Muhammad Bintang Aththuur).

CATATAN : Master Data Exell, Gambar, dan Tabel dapat diunduh dari sumbernya secara langsung dengan judul file :

  • 0_Data Based Persiapan Haekal Masuk SMA di Bandung 2016_FINAL [https://docs.google.com/folderview?id=0BxISOQA_AHSeMWQ1YTI4YjEtZmM1MC00ODQzLWJmYjctMWNlNWQ3YWEzZWU0&usp=drive_web&hl=in]
  • Kalau sulit dibuka via link di atas, anda dapat masuk ke menu blog “Karya Tulis dan Presentasiku” dan silahkan filenya di unduh.

 

Soroako, Sul-Sel, 10 Juni 2016, 18 Juni 2016, 20 Juni 2016, 21 Juni 2016

Ir. Duddy Arisandi, S.T., M.T.

Dosen Akademi Teknik Soroako

 
152 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 10, 2016 in Pendidikan, Sistem Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

[REVISI-1:30-06-16] MEMPREDIKSI NILAI UJIAN NASIONAL (UN) & PASSING GRADE TAHUN 2016 MELALUI MODEL ANALISA NILAI UJIAN NASIONAL (UN) TAHUN 2013 UNTUK SD NEGERI DAN SMP NEGERI DI KOTA BANDUNG / PREDICTING THE VALUE OF NATIONAL EXAM (UN ) & PASSING GRADE YEAR 2016 THROUGH VALUE ANALYSIS MODEL OF NATIONAL EXAM (UN ) YEAR 2013 FOR SDN & SMPN IN BANDUNG)

[REVISI-1:30-06-16] MEMPREDIKSI NILAI UJIAN NASIONAL (UN) & PASSING GRADE TAHUN 2016 MELALUI MODEL ANALISA NILAI UJIAN NASIONAL (UN) TAHUN 2013 UNTUK SD NEGERI DAN SMP NEGERI DI KOTA BANDUNG / PREDICTING THE VALUE OF NATIONAL EXAM (UN ) & PASSING GRADE YEAR 2016 THROUGH VALUE ANALYSIS MODEL OF NATIONAL EXAM (UN ) YEAR 2013 FOR SDN & SMPN IN BANDUNG)

 

 [Masukan untuk Perbaikan Pusat Data Pendidikan SD di Kota Bandung, PPDB /Penerimaan Peserta Didik Baru Online 2016]

Gambar-0_Cover Prediksi UN 2016 Lewat Pelajaran UN 2013

Gambar-0 Memprediksi UN 2016 Melalui Analisa Data UN 2013 untuk SD Negeri di Kota Bandung

CATATAN PENTING : 

Berapapun nilai NUN yang diperoleh oleh putra anda, daftarkan ke sekolah yang terdekat dengan domisili anda untuk menggunakan kuota proteksi. Semoga saja distribusi sebaran NUN yang ada tidak sebanding dengan distribusinya berdasarkan sebaran wilayah. Semoga beruntung.

SEKAPUR SIRIH

Masa-masa menunggu hasil nilai Ujian Nasional adalah masa-masa menegangkan bagi orangtua murid, murid sekolah, dan juga fihak sekolah. Hampir setiap tahun kejadian ini berulang terus dan umumnya memiliki tujuan agar putra-putrinya mendapat nilai yang tinggi dan juga dapat diterima di sekolah favorit. Sampai-sampai konsentrasi semua orang tertuju hanya pada selembar kertas yang disebut dengan Hasil Nilai Ujian Nasional (UN), sampai-sampai kekecewaan dan kegembiraan pada saat tersebut hanya dapat dirasakan melalui selembar kertas tersebut.

Sekolah pun berlomba-lomba agar memiliki tujuan / sasaran mutu berupa peningkatan rata-rata perolehan hasil Ujian Nasional. Padahal perlu disadari bahwa peningkatan tersebut bukanlah suatu upaya yang mudah dilakukan, namun dibangun melalui suatu rentang waktu, dengan konsisten, dan berkelanjutan. Bahkan para pendidik pun lupa bahwa hakikat tujuan pendidikan di Indonesia bukanlah hanya didasari oleh nilai semata, namun secara hierarki ditetapkan bahwa tujuan pendidikan yang pertama adalah menciptakan insan-insan yang beriman dan bertaqwa, kemudian memiliki kepribadian / perilaku yang baik / santun, baru kemudian penguasaan akan ilmu pengetahuan. Sering terdengar berita miring bahwa terjadi jual-beli soal, pendidik membantu murid pada saat mengerjakan ujian nasional, menggunakan ‘joki’ dll (mudah-mudahan berita miring ini keliru), tentunya hal tersebut akan mencemari proses pendidikan itu sendiri dan harus dihilangkan (apabila benar-benar terjadi). Pencapaian nilai rata-rata yang fantastis bukan dibangun sekejap, namun memerlukan waktu jangka panjang karena memerlukan persiapan sarana, prasarana, dan integrasi seluruh variable terkait.

Hebatnya nuansa selembar kertas tersebut telah mengakibatkan pergeseran paradigma di dalam pemenuhan kewajiban sekolah untuk menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan. Maka menjamurlah pusat-pusat bimbingan belajar, les-les privat yang dilakukan oleh guru-guru sekolah. Saya tidak habis pikir, apakah hal ini terjadi dikarenakan terlalu beratnya kurikulum pendidikan di SD ? tidak cukupnya waktu pendidikan dasar selama 9 tahun untuk mengejar penguasaan materi pembelajaran ? Ataukah ada hal lain dibalik tujuan pembelajarannya ? Yang jelas, hal tersebut telah mengubah pola pikir hampir semua orangtua yang memiliki putra-putri yang duduk di bangku sekolah.

Saya termasuk tipe orang yang berfikiran kolot / konvensional, yang selalu memberikan peluang bahwa kita akan bisa mengetahui sesuatu manakala kita dapat mengerjakan dan menyelami aktivitas tersebut sendiri. Sehingga ingin agar putra-putra saya dapat mapan belajar secara berdikari melalui bimbingan orangtuanya / belajar bersama orangtua. Namun, terpaan hebat justru datang dari ibu dan istri saya (dua perempuan yang paling saya cintai), yang katanya : Jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu, hampir setiap murid sekolah masuk bimbel dan privat dengan gurunya di sekolah……..saya pun mengalah dan merealisasikan keinginan mereka berdua……(sambil di dalam hati saya bergumam, saya ini pernah mengajar bimbel, pernah mengajar privat, bahkan mengajar tutorial semasa menjadi mahasiswa magister untuk teman-teman magister dan menjadi asisten dosen pada saat dosen berhalangan hadir di FTMD-ITB), namun saya baru menyadarinya bahwa sifat jelek saya adalah terlalu keras dan pemarah pada saat mengajar………(saya mencoba untuk menghibur diri, kenapa saya seperti itu, karena ingin agar orang-orang pintar, dapat mandiri dalam belajar, dapat menguasi ilmu sampai ke akar-akarnya, dan tidak melakukan plagiat di dalam berkarya).

Akhir kata saya utarakan beberapa hal pilu terkait dengan Ujian Nasional yang sering kita dengar di media atau bahkan telah kita alami juga :

  • Seorang ibu menangis sedih karena anaknya memperoleh nilai UN di atas rata-rata, namun tidak dapat diterima di sekolah yang dituju karena salah dalam memilih SD yang dituju.
  • Seorang anak sangat kecewa karena mengikuti keinginan orangtuanya dalam melakukan pemilihan sekolah tanpa memperhatikan keinginnya, dan berakhir dengan tidak diterimanya di sekolah yang sesuai dengan keinginannya.
  • Beberapa fihak di sekolah merasa tidak percaya dengan kemampuan murid barunya yang masuk dengan nilai UN besar, namun tidak menunjukkan prestasi sebagaimana mestinya di sekolah lanjutannya (hasilnya tidak sebanding dengan nilai UN pada saat masuk).
  • Saya alami bahwa sangat susah sekali untuk mendapatkan data lengkap terkait dengan UN dalam kurun 5-10 tahun ke belakang. Menurut saya di era “Mbah Google” ini dapat dikatakan, apasih yang kamu ingin tahu ? apasih yang ingin kamu cari ? Semuanya tinggal ketik kata/kalimat kuncinya di google maka ratusan bahkan ribuan sumber data akan tersedia.
  • Dijadikannya rumor yang cenderung menjadi issue bahwa nilai UN tahun depan akan turun / akan naik tanpa dilengkapi dengan metoda analisis yang sesuai, sehingga berpotensi mengakibatkan seorang lulusan salah dalam menentukan sekolah pilihannya.

Perlu dicatat, bahwa prediksi yang dilakukan mungkin saja salah dan mungkin saja benar (perbandingannya 50% : 50%). Apalagi memprediksi UN yang variable penentunya sangat banyak sekali, bahkan mungkin beberapa variable diantaranya memiliki kecenderungan untuk tidak dapat diprediksi (tingkat/derajat ketidakteraturan yang tinggi). Namun demikian selalu ada peluang untuk memperbaiki ketelitiannya (tidak salah) dan ketepatannya (keterulangan), melalui upaya pengadaan basis data yang lengkap, terpercaya, transparansi, dan dapat dipertanggungjawabkan. Satu hal yang sangat berpengaruh juga adalah tingkat penyajian data secara cepat dan akurat (bukan hal sulit di era komputer dewasa ini). Dalam persiapan tulisan ini, saya mengalami kesulitan di dalam hal mencari sebaran nilai UN secara rinci untuk beberapa tahun ke belakang, bahkan tidak pernah saya jumpai sebaran data yang berbasis domain Sekolah dan Geografi (letak kelompok rayon sekolah), mungkin bukan dikarenakan datanya tidak tersedia namun dikarenakan keterbatasan akses saya untuk mendapatkannya. Saya tekankan bahwa ketersediaan data-data tersebut akan sangat membantu para orang tua dan murid-murid di dalam memetakan posisinya di lingkungan pelajar setingkat, dan akan membantu/memudahkan di dalam memprediksi Passing Grade (PG) sekolah yang ditujunya. Generasi muda sekarang terlahir dengan diiringi kemajuan teknologi dan kecerdasan personal yang tinggi, sehingga kedepannya diharapkan akan banyak juga yang meneliti secara formal terkait tema ini untuk membantu dan memajukan masyarakat yang ada di Indonesia.

Saya pertegas lagi bahwa sangat mungkin kita melakukan kesalahan di dalam memprediksi sesuatu. Namun, tetap juga akan diperlukan suatu upaya atau metodologi untuk memprediksinya, biarkanlah hasilnya salah namun semuanya telah dilakukan melalui ikhtiar semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan. Perlu diingat, bahwa Allah SWT telah menakdirkan : di mana putra-putri kita akan bersekolah dan kita tidak dapat mengubah ketentuanNya. Mari kita tadaburi bahwa suatu saat nanti kita akan diuji oleh Yang Maha Kuasa dan salahsatunya melalui Putra-Putri (Anak) yang kita miliki, dan tentunya derajat tertinggi yang ingin kita peroleh adalah kesabaran dan kedekatan kepadaNya.

I. BELAJAR DARI UN 2013 (PPDB KOTA BANDUNG TAHUN 2013)

1.1 LANGKAH PERTAMA SETELAH PENGUMUMAN HASIL UJIAN NASIONAL TINGKAT SD

Setelah hasil ujian nasional dibagikan sebaiknya kita memanjatkan puji dan syukur ke Hadirat Ilahi karena putra/i kita telah mengikutinya dan mendapatkan hasilnya. Apapaun hasilnya, itu adalah ketetapan yang terbaik bagi keluarga kita.

Umumnya langkah berikutnya yang sering kita lakukan adalah mencari informasi apakah rata-rata Passing Grade SMP akan turun atau naik ? Hal ini tidaklah salah, namun perlu ditinjaklanjuti dengan lebih seksama lagi. Kita harus mencari sumber data semaksimal mungkin, dan dapat berasal dari tempat putra-putri kita melakukan bimbingan belajar (seumpama GO dan SSC), atau ke sekolah tempat dimana putra-putri kita menimba ilmu, atau ke SMP-SMP yang menjadi tujuan pendaftarannya. Data yang harus didapat adalah sebaran nilai / statistik nilai untuk wilayah Kota Bandung. Saya sebetulnya sangat berharap sekali bahwa dinas pendidikan dapat mengumumkannya secara resmi lewat media masa (tujuannya untuk membantu para orang tua dalam memilih sekolah) sesegera mungkin setelah pengumuman UN dilakukan.

 Gambar-1_Posisi Hasil UN Putra-i di Sebaran Hasil Nilai UN 2013

Gambar-1 Menentukan Posisi Hasil UN Putra/I kita di Dalam Sebaran Hasil UN SD Kota Bandung (contoh kasus: Nilai UN sebesar 6.75 atas nama M. Husein Haekal lulusan SD Banjarsari Bandung)

Pada saat melakukan pendaftaran saya hanya memperoleh sebaran data UN SD Kota Bandung untuk tahun 2011 dan 2012 yang ditempel pada saat pendaftaran di saah satu SMP terkenal di Kota Bandung. Sampai dengan tahap ini, dapat dipastikan sebagian besar orangtua akan merasa bingung karena sebaran nilai untuk tahun pendaftaran (2013) belum ada yang menerbitkannya / mempublikasikannya secara resmi. Pada Gambar-1 ditunjukkan posisi Hasil UN saya dengan memetakan sebaran nilai pada tahun 2011 dan 2012.

1.2 LANGKAH KE-DUA (MEMPREDIKSI SEBARAN NILAI HASIL UN 2013)

Sesaat setelah pengumuman hasil nilai UN, maka mulailah berkembang isu-isu yang menyatakan bahwa karena soalnya sulit maka akan terjadi penurunan Passing Grade di setiap SMP. Hal ini boleh jadi benar dan boleh jadi salah (artinya ada dua kemungkinan besar yaitu bertambat atau berkurang, bisa juga walaupun jarang terjadi bahwa nilai Passing Grade-nya tetap). Saya lebih berharap bahwa fihak dinas pendidikan dapat segera menerbitkan sebaran nilai UN untuk tahun berjalan dan juga berdasarkan letak geografis siswa tersebut (bukanlah hal yang sulit karena sekarang ini telah dikomputerisasi untuk mengolah datanya), dan penerbitan dilakukan secara resmi ke media sosial (tidak hanya ditujukan kepada sekolah-sekolah tertentu saja, ataupun lembaga-lembaga bimbel tertentu saja, atau diinfokan berdarkan kedekatan personal).

 Gambar-2_Memprediksi Sebaran Nilai UN 2013 Kota Bandung

Gambar-2 Memprediksi Sebaran Nilai Hasil UN SD Negeri Kota Bandung Tahun 2013

Pada Gambar-2 dapat dilihat bahwa jumlah murid yang akan mendapatkan nilai UN antara 27.00 sampai dengan 30.00 akan mengalami penurunan (terbukti pada saat data aktual dikeluarkan). Hal tersebut menunjukkan bahwa anak saya memiliki saingan sekitar 1.622 sd 2.808 orang (yang kalau dirata-ratakan antara jumlah minimum dan maksimum adalah 2.215 orang, dan yang hanya berasal dari Kota Bandung saja).

 

1.3 LANGKAH KE-TIGA (MEMPREDIKSI JUMLAH PENDAFTAR BERDASARKAN QUOTA YANG TELAH DITETAPKAN UNTUK JALUR AKADEMIK PADA SMP NEGERI TAHUN 2013)

Langkah ke-tiga yang dilakukan adalah melakukan prediksi sejauh mana pendaftar akan menuju SMP yang menjadi cita-citanya. Jumlah pendaftar pada tahun berjalan tidak dapat ditetapkan secara pasti, kecuali pada saat pendaftaran telah selesai dilakukan. Namun dapat dilengkapi juga sebenarnya melalui jumlah murid SD secara regional di Kota bandung, sayangnya data ini tidak tersedia di media social. Tidak ada yang bisa saya perbuat banyak mengingat data yang saya peroleh hanya untuk tahun 2012.

 Gambar-3_Memprediksi Pendaftar beserta Quota SMP Negeri 2013 di Kota Bandung

Gambar-3 Memprediksi Daya Tampung (Quota) dan Jumlah Pendaftar SMP Negeri Kota Bandung Tahun 2013

 Namun dapat diterima secara logika, jika jumlah murid yang mendapatkan hasil UN diatas nilai putra saya sebesar 1.622 sd 2.808 orang, sedangkan Quota sekolah di Kluster-1 dapat menampung 3.333 (tahun 2013) orang maka dapat diputuskan bahwa anak saya dapat bersekolah di Kluster-1 SMP Negeri di Bandung. Namun perlu dicatat bahwa setiap SMP di Klaster 1 memiliki kuota yang berbeda-beda, dengan karakteristik jumlah pendaftar yang beragam juga. Andai anak saya salah dalam memilih SMP di Klaster-1, maka akan ada dua kemungkinan yang akan dihadapi, yaitu :  ia akan dilimpahkan ke pilihan di Kluster-2, atau sama sekali terlempar dari Kluster-1 dan Kluster-2. Perlu dipahami bahwa sekolah favorit akan memberikan pengaruh besar kepada pola piker masyarakat yang ada, sehingga akan memungkinkan nilai rata-rata Passing Grade nya akan naik secara fantastis. Selain itu perlu juga dilihat pemetaan / historis jumlah pendaftar ke sekolah-sekolah di Kluster-1 ataupun lebih spesifik ke sekolah-sekolah tertentu.

 1.4 LANGKAH KE-EMPAT (MEMPREDIKSI NILAI RATA-RATA PASSING GRADE TOTAL, PER KLUSTER, UNTUK SMP NEGERI DI KOTA BANDUNG)

Andai peraih nilai UN di atas 27.00 sd 30.00 tersebar secara merata di seluruh wilayah Kota Bandung, maka akan memudahkan masyarakat dalam menentukan pilihan sekolahnya. Logikanya, walaupun nilai seseorang tinggi sekali, belum tentu ia akan mendaftar di sekolah terbaik sekalipun di Bandung mengingat letak geografis antara rumah dan sekolahnya yang sedemikian jauh. Hal ini yang patut diacungi jempol bagi Kang Ridwan Kamil (adik kelas saya di SMAN 3 Bandung, dan kakaknya sahabat sekelas saya di SMAN 3 Bandung) berkaitan dengan penerapan kebijakan jauh-dekat jarak rumah ke sekolah. Perlu dikritisi dan diterjemahkan lebih lanjut oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung, bagaimana caranya sekarang melahirkan sekolah-sekolah bagus yang merata jumlahnya di setiap rayon/wilayah Kota Bandung. Jangan hanya dipaksa bahwa masyarakat harus sekolah di dekat dengan rumahnya, tanpa adanya jaminan dan pemastian bahwa sekolah yang bersangkutan memang memenuhi stnadardisasi mutu pendidikannya.

 Gambar-4_Memprediksi Nilai Rata-Rata Passing Grade Per Kluster

Gambar-4 Memprediksi Sebaran Nilai Rata-Rata Passing Grade SMP Kota Bandung Tahun 2013

Berdasarkan Gambar-4 ditunjukkan bahwa sulit untuk melakukan prediksi bahwa nilai rata-rata Passing Grade akan naik dan turun. Kemungkinan kedua-duanya ada untuk naik maupun turun, namun kita dapat membatasi rentangnya. Perlu toleransi yang dijadikan acuan untuk membatasi seberapa besar rentang terjadinya kenaikan atau turunnya Passing Grade.  Pada gambar ditunjukkan bahwa Rata-Rata Passing Grade Kluster-1 turun di luar daerah toleransinya (26,57), tentunya ini diakibatkan oleh suatu kejadian yang boleh jadi akibat ditetapkannya suatu kebijakan berupa penghapusan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Kebalikan dengan di perguruan tinggi, institusi dengan antusias mengejar ranking atas pendidikan berstandard regional Asia kemudian kelas Dunia. Setiap orang boleh berpendapat sesuai dengan argumennya masing-masing, namun perlu disadari bahwa pengelompokkan sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Yang terpenting adalah kita mengetahui posisi kita dimana, kemudian berlomba-lomba untuk mencapai sesuatu yang terbaik. Pada tahap ini, kami sekeluarga merasa yakin bahwa nilai UN putra kami bisa disaingkan dengan yang lainnya untuk SMP yang berada di klaster-1, dan juga memilih sekolah di kluster-2 yang dekat dari rumah namun memiliki kualitas yang baik (sebagai antisipasi jika tidak diterima di kluster-1).

Pada tahap ini sebelumnya saya putuskan untuk membuang data tahun 2008 mengingat initial value-nya cukup jauh rentangnya, karena akan memicu trend kenaikan yang curam pada grafiknya.

 Gambar-5_Membuang Data Nilai Rata-Rata Passing Grade Per Kluster Tahun 2008

Gambar-5 Membuang Data Nilai Rata-Rata Passing Grade Per Kluster Tahun 2008

 

1.5 LANGKAH KE-LIMA (MEMPREDIKSI NILAI RATA-RATA PASSING GRADE SMP KLUSTER-1 DI KOTA BANDUNG)

Andai saya memaksakan kehendak saya agar anak saya bisa bersekolah di SMPN 5 Bandung, maka kejadiannya akan lain (kami sempat masuk ruangan pendaftaran dan meninggalkan nomor antrian awal di SMPN 7). Terakhir kali sebelum mengambil formulir pendaftaran di SMP 5, saya tanyakan sekali lagi bahwa AA Haekal mau masuk ke mana ? Diapun menjawab saya mau masuk ke SMPN 7. Saya Tanya kenapa ? Jawabannya, saya tidak ingin stress mikirin pelajaran di SMPN 5 dan teman-teman SD saya banyak yang daftar ke SMPN 7 dan pelatih basketnya terkenal untuk ruang-lingkup SMP di Bandung. (Dalam hati saya hanya bergumam, emangnya gua musti bilang WOW getoh), tapi yang terlontar di mulut adalah : silahkan, ayo kita kembali lagi untuk ngantri di SMPN 7.

 Gambar-6_Memprediksi Nilai Rata-Rata Passing Grade Seluruh SMP Kluster-1

Gambar-6 Memprediksi Sebaran Nilai Rata-Rata Passing Grade SMP Kluster-1 Kota Bandung Tahun 2013

Dari data ditunjukkan bahwa kluster-1 memiliki ke khasan bahwa nilai Rata-Rata Prediksi harus di atas 9.0 untuk semua mata pelajaran yang diujiankan. Lantas bagaimana dengan nasib anak saya yang berkas pendaftarannya sudah masuk ke SMPN 7 (berdasarkan prediksi ditunjukan bahwa nilai berada diantara 27.58 sd 28.57, sedangkan nilai UN nya 26.75) ? ? ? ? ? Logika apalagi yang harus diterapkan untuk menjawab ini ? Saya putuskan, bahwa kondisi naik/turun sangat dipengaruhi oleh sebaran nilai UN seluruh kota Bandung.  Jika sebaran turun, maka rata-rata Passing Grade akan turun juga. Namun pertanyaan baru muncul, sejauh mana Passing Grade tersebut akan turun ? Untuk sebaran PG SMP Kluster-1 dapat kita lihat melalui historisnya bahwa : Nilai Prediksi Rata-Rata Ambang Batas Minimum SMP di Kluster satu sebesar 26.88, dan berdasarkan historis Nilai Rata-Rata Passing Grade untuk tahun 2009-2012 sebesar 26.57. Saya berkeyakinan bahwa putra saya masih bisa lolos di SMPN7. (Namun tidak akan aman jika memilih SMPN 2 dan SMPN 5, yang memiliki historis yang berbeda dan memiliki kelebihan di atas SMPN 7).

1.6 LANGKAH KE-ENAM (MEMANTAU PROGRESS PENDAFTAR DAN PASSING GRADE SMP KOTA BANDUNG MELALUI PERANGKAT LUNAK PPDB 2013)

Data yang tersedia dari tahun tahun sebelumnya tidak memadai (hanya diperoleh jumlah pendaftar pada tahun 2012). Pada tahun 2012 yang mendaftar ke SMPN 7 Bandung sebanyak 442 orang. Dan saya tidak banyak pilihan untuk memprediksinya (karena jumlah data hanya 1), dan saya putuskan pendaftar akan naik namun tidak lebih dari 10%. Sangat bagus sekali bahwa kuota dari luar daerah dibatasi hanya sekitar 10% dari jumlah total quota yang ada. Mengingat nilai UN yang mendaftar ke kota-kota besar adalah nilai-nilai yang fantastis, dan umumnya passing gradenya dibedakan dengan pendaftar dalam kota.

 Gambar-7_Pemantauan Progress Pendaftaran ke SMPN 7 Bandung Melalui PPDB 2013 Online

Gambar-7 Pemantauan Progress Pendaftaran ke SMPN 7 Bandung Melalui PPDB 2013 Online

Pada tahap ini fokus dari pengamatan adalah seberapa besar orang yang mendaftar dengan nilai UN di atas atau di bawah nilai UN putera kita. Kenaikan jumlah pendaftar dan nilai untuk memenuhi quota hanya memerlukan waktu kurang dari 1 minggu (setiap subuh dan malam hari saya selalu mencatat pengubahan yang ada dari PPDB Online 2013 dan menyalinnya secara manual ke dalam Excell). Sebelum jam 12 malam pada tanggal penutupan dilakukan, rasa was-was masih saja ada, karena rangking putera saya di pendaftaran SMPN 7 adalah 214 dari 225 quota tersedia. Artinya, andai pendaftaran diperpanjang 1 hari lagi maka ‘bablas angine’. Namun Allah SWT berkendak lain, dan telah menggariskan bahwa putera saya dapat diterima di SMPN 7 Bandung. Alhamdulillah

 Gambar-8_Hasil Akhir Pemantauan Penerimaan SMPN di Kota Bandung Melalui PPDB Onlin 2013

Gambar-8 Hasil Akhir Penerimaan murid baru di SMPN 7 Bandung Melalui PPDB 2013 Online

II. MEMPREDIKSI PASSING GRADE SMP 2016 KOTA BANDUNG (PPDB KOTA BANDUNG TAHUN 2016)

2.1 LANGKAH AWAL (MENCARI SEBARAN / STATISTIK HASIL UN SD KOTA BANDUNG 2016)

Segera setelah pengumuman hasil UN diterbitkan, maka para orang tua sebaiknya berupaya keras untuk mendapatkan sebaran nilai UN tahun 2016. Kemungkinan data tersebut dapat diperoleh melalui dinas pendidikan yang berwenang, sekolah-sekolah SD asal putra-putrinya, sekolah-sekolah SMP yang menjadi tujan putra-putrinya, atau lembaga-lembaga pelaksana Bimbel (bimbingan belajar).

Data ini sangat penting untuk memetakan posisi putra/I kita di seluruh peserta ujian SDN Kota Bandung, dan memudahkan memprediksi manakala rentang prediksi Passing Grade atupun Pendaftar terlalu besar.

Bentuk umum sebaran data dapat berupa diagram atupun tabel. Saya pribadi berharap banyak agar data ini dapat diterbitkan sesegera mungkin setelah pengumuman nilai UN oleh lembaga / institusi yang berwenang.

 Gambar-9_ Contoh Bentuk sebaran Hasil Ujian SDN Kota Bandung

 Gambar-9 Contoh Bentuk sebaran Hasil Ujian SDN Kota Bandung

2.2. LANGKAH KE-DUA (MEMPREDIKSI SEBARAN NILAI HASIL UN 2016)

Prediksi dilakukan menggunakan metoda regresi linier (untuk melihat kecenderungannya dan bukan untuk menunjukkan benar atau tidaknya nilai yang didapat). Berdasarkan data ditunjukkan bahwa hanya kluster-3 yang memungkinkan prediksi jitu (akan terjadi kenaikan). Di sini kita melihat betapa pentingnya langkah pertama harus ditempuh.

 Gambar-10_Prediksi Sebaran Nilai UN SDN 2016 Kota Bandung

Gambar-10_Prediksi Sebaran Nilai UN SDN 2016 Kota Bandung

Berdasarkan PPDB Online 2016, telah diterbitkan sebaran nilai UN SD Kota Bandung sebagai berikut :

Sebaran NUN SD Kota Bandung 2016

Perbedaan / deviasi diantara prediksi dan status aktual ditabelkan dalam bentuk sebagai berikut :

Gambar-10R1_Prediksi Sebaran Nilai UN SDN 2016 Kota Bandung

2. 3 LANGKAH KE-TIGA (MEMPREDIKSI JUMLAH PENDAFTAR BERDASARKAN QUOTA YANG TELAH DITETAPKAN UNTUK JALUR AKADEMIK PADA SMP NEGERI TAHUN 2016)

Umumnya jumlah kuota telah ditetapkan oleh setiap SMP, namun dengan ditetapkannya kebijakan seperti penerimaan calon murid dari luar daerah, jalur prestasi, SKTM, dan lain-lain maka akan mengurangi jatah kuota dari jalur akademik. Quota di setiap SMP dapat ditetapkan jauh-jauh hari sebelum pengumunan hasil ujian nasional, dan jumlah pengubahan yang terjadi umumnya tidak signifikan karena terkait dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh institusi pendidikannya. Perlu suatu upaya dan dana yang besar untuk meningkatkan quota sekolah.

 Gambar-11_Perbandingan antara Pendaftar dan Daya Tampung SMP di Kota Bandung

Gambar-11 Perbandingan antara Pendaftar dan Daya Tampung SMP di Kota Bandung

Pada Gambar-11, dapat disepakati bahwa jumlah pendaftar lebih banyak dari daya tampung yang tersedia (secara total atupun pada setiap kluster). Disinilah peran penting persaingan secara sehat perlu dijabarkan ke dalam uraian kegiatan yang bertujuan untuk menaikan kualitas pendidikan. Perlu suatu standard baku yang dapat menguji pencapaian hasil dari keberagaman variable-variable yang ada, terlebih saat ini kita telah menerapkan kebijakan MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) / AEC (Asia Economy Community) sehingga tingkat persainganpun bukan hanya bersifat regional di Indonesia, namun bersifat Internasional. Pelaku pendidikan di tingkat dasar perlu mengetahui hal ini dengan baik.

 Gambar-12_Prediksi Jumlah Pendaftar ke SMPN Negeri 2016 di Kota Bandung

Gambar-12_Prediksi Jumlah Pendaftar ke SMPN Negeri 2016 di Kota Bandung

Pada Gambar-12, menunjukan kecenderungan jumlah pendaftar ke SMPN Kota Bandung pada tahun 2016 (menurun). Sebaiknya data tersebut telah ditentukan sejak awal melalui pencatatan jumlah murid SDN sekota Bandung ditambah prediksi pendaftar yang berasal dari luar Kota Bandung setiap tahunnya (jumlahnya lebih sedikit dibandingkan pendaftar yang berdomisili di Bandung).

 Gambar-13_Prediksi Jumlah Pendaftar yang ditolak SMPN Negeri 2016 di Kota Bandung

Gambar-13 Prediksi Jumlah Pendaftar yang ditolak SMPN Negeri 2016 di Kota Bandung

Gambar-13 menunjukkan prosentasi jumlah pendaftar yang ditolak saat mendaftar SMPN di Kota Bandung. Andai data ini tersedia dengan lengkap maka untuk tahun 2016 ini, variable yang diprediksi hanya pendaftar yang berasal dari luar kota bandung, karena hampir dapat dipastikan bahwa semua tamatan SDN akan melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Berdasarkan data PPDB Online 2016, tersedia jatah kursi (kuota ) berdasarkan peraturan walikota Bandung 2016.

Gambar-11R1_Kuota SMPN Kota Bandung 2016

2.4 LANGKAH KE-EMPAT (MEMPREDIKSI NILAI RATA-RATA PASSING GRADE TOTAL, PER KLUSTER, UNTUK SMP NEGERI DI KOTA BANDUNG TAHUN 2016)

Saya utarakan sekali lagi mengenai pentingnya sebaran hasil UN tahun 2016 yang harus diperoleh oleh para orangtua murid selepas pengumuman hasil UN 2016. Melalui Gambar-14 kemungkinan terbesar yang terjadi adalah turunnya nilai rata-rata Passing Grade untuk Kluster-1. Sedangkan dua kluster lainnya berikut total kluster dapat saja naik dan dapat saja turun yang bergantung pada sebaran nilai UN 2016.

 Gambar-14_Prediksi Rata-Rata Passing Grade Total &amp; Setiap Kluster SMPN Negeri 2016 di Kota Bandung

Gambar-14_Prediksi Rata-Rata Passing Grade Total & Setiap Kluster SMPN Negeri 2016 di Kota Bandung

2.5 LANGKAH KE-LIMA (MEMPREDIKSI NILAI RATA-RATA PASSING GRADE SMP KLUSTER-1 DI KOTA BANDUNG TAHUN 2016)

Setelah rata-rata prediksi Passing Grade 2016 untuk setiap kluster dilakukan, maka langkah berikutnya melakukan prediksi Passing Grade Setiap SMPN untuk setiap kluster di Kota Bandung. Hasil prediksi menunjukan adanya kecenderungan yang kuat untuk turun, dan sebagian besar memiliki kecenderungan yang bisa naik dan bisa turun. Data yang dapat membantu prediksi adalah Sebaran UN 2016, dan historikal rata-rata total setiap SMP (untuk Kluster 1) yang dapat dilihat pada tabel berikut.

 Gambar-15R1_Prediksi Rata-Rata Passing Grade SMPN Kluster-1 2016 di Kota Bandung

Gambar-15 Prediksi Rata-Rata Passing Grade SMPN Kluster-1 2016 di Kota Bandung

Pada Gambar-16 ditunjukan bahwa secara umum prediksinya akan naik, ada 4 buah SMP yang memiliki kecenderungan kuat untuk turun jika dilihat berdasarkan histrorisnya sejak 2009 sampai dengan 2015.

Gambar-16R1_Prediksi Rata-Rata Passing Grade SMPN Kluster-2 2016 di Kota Bandung

Gambar-16 Prediksi Rata-Rata Passing Grade SMPN Kluster-2 2016 di Kota Bandung (DIREVISI–>GAMBAR 18)

Pada Gambar-17 ditunjukkan pola untuk SMP di kluster-3. Dari grafik ditunjukkan kemungkinannya akan naik, namun secara regresi pada tabel bahwa memiliki juga dua kemungkinan yaitu dapat naik dan juga dapat turun. Data penguat untuk memprediksi ditunjukkan juga melalui historikal nilai rata-ratanya mulai tahun 2009 sampai dengan 2015.

 Gambar-17R1_Prediksi Rata-Rata Passing Grade SMPN Kluster-3 2016 di Kota Bandung

Gambar-17 Prediksi Rata-Rata Passing Grade SMPN Kluster-3 2016 di Kota Bandung (DIREVISI–>GAMBAR 18)

Berdasarkan kuota dan sebaran nilai UN yang diperoleh maka prediksi Passing Grade SMP ditabelkan dalam data berikut :

Gambar-12R1_Prediksi Passing Grade SMPN Kota Bandung 2016

 

2.6 LANGKAH KE-ENAM (SEKALIGUS PENUTUP TULISAN INI)

Perlu disadari bersama bahwa melakukan prediksi bukanlah hal mudah yang dapat dilakukan tanpa  data yang akurat. Semakin aktual dan akurat suatu penyajian data, maka akan semakin representative dan dapat dipertanggungjawabkan hasil prediksinya. Kedepannya, mudah-mudahan institusi yang terkait dengan otoritas penyebaran data dapat juga menyiapkan historical data yang suatu saat dapat dipergunakan untuk masyarakat umum yang menggunakannya (dalam 5-10 tahun ke belakang).

Lebih baik salah memprediksi dengan suatu metoda analisis, dibandingkan memprediksi dengan jalan melempar mata uang untuk memilih angka dan burung. Sekali lagi semuanya akan bergantung pada data awal sebaran nilai UN 2016 yang diterbitkan oleh fihak yang berwenang. Semakin cepat data tersebut di-publish, maka akan semakin membantu masyarakat luas untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, sehingga langkah antisipasinya bisa disiapkan sejak dini pula. Tulisan ini dapat dijadikan model analisa yang dapat dikembangkan lebih lanjutlagi melalui penerapan teknik statistik advanced, perangkat lunak yang lebih canggih, dan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki potensi untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia.

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, semua makhluk memiliki kelemahannya masing-masing dengan keterbatasan ilmu yang ada padanya. Sehingga akan memungkinkan juga terjadi kesalahan di dalam memprediksi hasilnya. Hal tersebut terjadi semata karena kekurangan penulis, dan penulis senantiasa berdoa untuk ditambahkan ilmu pengetahun yang bermanfaat bagi makhluk-makhlukNya oleh Yang Maha Kuasa. Kalaupun ada kebenaran di dalamnya, maka semuanya itu bersumber dari Allah SWT yang Maha Berilmu.

Mohon bantuan para pembaca sekalian juga untuk memberikan masukan yang bersifat konstruktif, dan jika berkenan dapat mengirimkan data-data terkait seputar UN dan Passing Grade SD & SMP ke alamat : duddy_arisandi@yahoo.com.

Kita tanamkan kepada putra-putri kita bahwa apapun hasilnya nanti merupakan keputusan terbaik yang telah ditakdirkanNya, manusia hanya bisa berusaha. Andai tidak diterima di sekolah impiannya, maka hal tersbut bukanlah akhir dari segalanya, perjalanan panjang nan berat dibutuhkan untuk membangun bangsa ini lewat generasi-generasi muda yang beriman dan bertakwa, memiliki kepribadian atau tingkah laku yang baik, dan menguasai ilmu pengetahuan.

Tak lupa penulis ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para penyedia data di media social seperti : situs bicara PPDB, saudara Fauzan Alfi, saudara Rinaldi Munir, dan lain-lainnya, yang telah membagi informasi berguna bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. Semoga silaturahim tetap terjaga walaupun hanya lewat tulisan-tulisan di blog.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan mohon didoakan juga untuk kebaikan keluarga kami, dan semoga putra pertama saya (Muhammad Husein Haekal dapat diterima di SMA Kota Bandung, dan Muhammad Bintang Aththuur dapat diterima di SMP Kota Bandung)

CATATAN : Untuk Gambar atau tabel yang tidak jelas, dapat diunduh dari sumbernya secara langsung dengan judul file :

For my belove sons :

NUN Bintang

 

Soroako, Sul-Sel, 01 Juni 2016, 30-06-16

Ir. Duddy Arisandi, S.T., M.T.

Dosen Akademi Teknik Soroako

 

 

 

 

 

 

 

 
23 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 2, 2016 in Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

PERUBAHAN PARADIGMA DALAM MENYUSUN / MEREKONSTRUKSI KURIKULUM TEKNIK MESIN BERDASARKAN KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI), SNPT (STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI), DAN LSP-LMI (LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI-LOGAM DAN MESIN INDONESIA), [Studi kasus D3 Teknik Mesin, Program Studi Teknik Pemeliharaan/Perawatan dan Perbaikan Mesin]

PERUBAHAN PARADIGMA DALAM MENYUSUN / MEREKONSTRUKSI KURIKULUM TEKNIK MESIN BERDASARKAN KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI), SNPT (STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI), DAN LSP-LMI (LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI-LOGAM DAN MESIN INDONESIA), [Studi kasus D3 Teknik Mesin, Program Studi Teknik Pemeliharaan/Perawatan dan Perbaikan Mesin]

 

I. PENDAHULUAN

Riwayat pengembangan kurikulum telah melalui tiga fase sejak tahun 1994 (Kurikulum Nasional), tahun 2000/2002 (Kurikulum Inti dan Institusional), kemudian yang terakhir pada tahun 2012 (Kurikulum Pendidikan Tinggi). Tentunya perubahan yang ada merupakan suatu dinamika untuk suatu tujuan mulia yaitu menyiapkan generasi yang professional di bidangnya dan memiliki daya saing global.

Bagi perguruan tinggi yang lahir sebelum tahun 1994 maka akan mengalami 3 fase perubahan tersebut. Suatu upaya yang tidak mudah untuk mentransformasikan kurikulum dari suatu ke bentuk ke bentuk lainnya (sebagian lainnya mengatakan bahwa transformasi kurikulum adalah sangat mudah karena hanya fokus pada format atau narasi dalam penyusunannya). Walaupun dalam penyusunannya telah melibatkan beberapa stakeholder / fihak-fihak yang berkepentingan. Toh, pada akhirnya mata kuliahnya tidak banyak berubah dan perlu penyesuaian sedikit saja (kata sebagian orang).

Namun, pernahkan terfikirkan oleh kita selaku pengajar, atau pengelola perguruan tinggi, atau pengambil keputusan bahwa kurikulum bukanlah hanya secarik kertas yang bisa dihapus atau disusun ulang mengikuti format baru yang ada, ia merupakan seperangkat alat pembelajaran yang mengintegerasikan berbagai sumberdaya untuk mengolah masukan menjadi luaran yang memiliki nilai tambah. Sehingga ada konsekwensi di dalam pemberlakuannya. Apakah kita semua bisa menjawab bahwa dengan pemberlakuan kurikulum baru maka akan meningkatkan daya serap lulusan oleh lapangan pekerjaan ? Ataukah, dapat menaikan Indeks Prestasi Kumulatif lulusan mahasiswanya ? Ataukah, dapat memetakan posisi perguruan tinggi kita dengan rumpun ilmu sejenis ? Tentu semua pertanyaan tersebut akan sulit kita jawab, karena tidak ada patokan resmi untuk mengukurnya secara numeris. Yang ada hanyalah patokan normatif yang tertera pada butir penilaian borang akreditasi perguruan tinggi. (mudah-mudahan pendapat saya tidak salah).

Dapat dikatakan juga bahwa acuan baku isi kompetensi pada kurikulum yang diterjemahkan ke dalam perangkat pembelajaran tidak sepenuhnya ada, sehingga apa yang terjadi adalah bahwa pengubahan kurikulum akan tergantung dari pengalaman dan pemahaman team penyusun kurikulum saja, atau akan tergantung juga dari para pemangku kepentingan yang ada, ataupun mencontek dari program studi yang telah lahir duluan (tanpa mempertimbangkan aspek-aspek yang mempengaruhinya). Tidak jarang pemunculan atau penghilangan suatu mata kuliah demi tujuan prestise saja (karena issue nasional ataupun melebarkan sayap kompetensi tanpa fokus pada program studi yang ada). Bahkan tidak jarang, muatan inti pembelajaran yang ada telah bergeser jauh dari program studi yang ada. Hal ini terjadi karena beberapa faktor eksternal dan faktor internal di institusi pendidikan yang ada, walaupun rambu-rambu normatif telah ada.

Konsorsium perguruan tinggi yang ada lahir karena kesamaan sifat rumpun ilmu. Karena sifatnya sama maka budaya tiru-meniru kurikulum pun terjadi (bukan merupakan kekeliruan), namun jika ditilik lebih detail lagi maka akan berbeda karakteristik program studinya karena fasilitasnya berbeda, dosennya berbeda, mahasiswanya berbeda, perbedaan budaya dan pendanaannya. Yang terjadi adalah bukannya saling mengisi kekosongan untuk membangun negara lewat pengayaan program studi, namun persaingan normatif, yang menurut hemat saya akan sulit untuk mengejar perbedaannya karena beberapa karakteristik dan parameter yang berbeda. Sehingga pola pendekatan yang saya usulkan adalah keanekaragaman program studi dalam satu rumpun ilmu melalui penguatan karakteristik kompetensi lokalnya. Pola pendekatan ini tidaklah baru karena jalur pendidikan SMK telah memulainya terlebih dahulu (padahal dari sejarah lahirnya yang seharusnya menerapkannya terlebih dahulu adalah jalur pendidikan diploma). Pola pendekatan ini tidak bersifat slogan atau normatif, karena bisa diukur melalui suatu nilai numeris untuk memetakannya. Alat ukurnya sudah ada di Indonesia melalui LSP-LMI, yang secara kebetulan sudah saya ikuti sejak tahun 2001 lewat proyek IAPSDP / Indonesia Australia Partership for Skill Development Program  (merupakan team kecil yang ada di Politeknik Manufaktur Bandung). [Dapat dibuka pada menu kompetensi blog ini] :

https://drive.google.com/drive/folders/0BxISOQA_AHSeNzI3YjBlZTktNDU4Ni00Y2EyLTgxODAtMTI2MzdjZWE1NDgz].

Gambar-00_Standar Kompetensi Bidang Keahlian Logam dan Mesin

Gambar-0 Standar Kompetensi Bidang Keahlian Logam dan Mesin

Pernah saya mendapat suatu pertanyaan dan sulit untuk menjawabnya. Apa perbedaan SMK dan Tingkat D3 untuk kualifikasi kompetensinya ? padahal mesin yang dimiliki sama canggihnya, beberapa pelajaran memiliki pola yang sama, jumlah praktikumnya pun hampir sama. Bahkan kondisi tragis yang terjadi adalah penghargaan yang sama bagi lulusan SMK dan lulusan D3 untuk rumpun sejenis pada beberapa perusahaan. Sekarang pertanyaan tersebut mudah-mudah-sulit dijawabnya, karena berdasarkan level KKNI sudah jelas posisinya berbeda, namun apakah sama halnya secara level kompetensi ? Tidak mudah untuk dijawab dan perlu pembuktian yang benar lewat suatu alat yang disebut dengan kurikulum.

Hal tersebutlah yang menyemangati saya untuk menulisnya, memberanikan diri walaupun dengan pengalaman dan pengetahuan seadanya yang jauh dari kemampuan para pakar-pakar di bidang kurikulum. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan tidak lupa saya haturkan terimakasih banyak kepada para pembaca yang telah memberikan masukan pada tulisan sebelumnya yang bertemakan “Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi”, demikian juga harapan yang sama agar pembaca dapat memberikan masukan yang membangun untuk tulisan ini.

 

II. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN PARADIGMA

II.1 KONDISI INDUSTRI DAN TEKNOLOGI YANG ADA DI INDONESIA

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia, dengan jumlah penduduk nomor 4 terbanyak di dunia. Disisi lainnya, negara ini merupakan negara ke-3 dalam urutan terbanyak pemakai sepeda motor. Namun sampai dengan saat ini, belum seluruh sektor transportasi darat, laut, dan udara yang menggunakan produk andalan bangsa ini. Akankah kita menjadi tuan rumah produk buatan Indonesia di negeri sendiri ? Sejauh manakah keterlibatan unsur-unsur terkait di negara ini yang serius untuk membicarakan dan merealisasikannya ? Kapankah program studi teknik mesin yang ada di Indonesia akan memberikan solusi dan bahkan dapat menempati peringkat terbaik di dunia di bidang teknik mesin ?

 Gambar-01_Kondisi industri alat transportasi di IndonesiaGambar-1 Kondisi industri alat transportasi di Indonesia

Penulis pernah membaca suatu buku yang berjudul “Makalah dari Bumi Cipulir” yang dibuat oleh Perwira-Perwira TNI-AL (disusun puluhan tahun ke belakang). Yang isinya lengkap menyangkut Ideologi, Politik, Sosial, Ekonomi, Pertahanan dan Keamanan Nasional. Melalui makalah tersebut dijelaskan potensi kekayaan alam yang dimiliki oleh bangsa ini, demikian juga ancaman-ancaman menyangkut integritas bangsa Indonesia dari dalam dan luar negeri. Sampai dengan saat ini penulis melihat bahwa beberapa ancaman tersebut memang benar adanya. Namun yang penulis sayangkan adalah langkah antisipasi apa yang dapat kita lakukan ? Kita bukanlah merebut kekayaan orang lain, namun kita menjaga apa yang menjadi hak milik kita. Karena menyangkut integritas bangsa dan negara, sudah selayaknya abdi bela negara dilakukan oleh seluruh elemen bangsa, yang notabene di dalamnya adalah perguruan tinggi yang dapat berkontribusi melalui pengembangan teknologi tepat guna. Gambar di bawah menunjukkan permasalahan yang ada di sektor industri ‘alutsista’ di Indonesia.

 Gambar-02_Kondisi industri militer-alutsista di IndonesiarGambar-2 Kondisi industri militer / alutsista di Indonesia berikut ancaman negeri

Indonesia memiliki keanekaragaman kekayaan hasil tambang. Namun jika dilihat sebagian besar perusahaan yang ada adalah milik asing. Untuk membangun pabrik, bahkan beberapa alat operasi yang digunakan masih berasal dari luar. Kontrak karya pertambangan umumnya memakan waktu puluhan tahun, dan selama masa itu pula teknologi yang digunakan untuk berproduksi berikut pemeliharannya diserahkan kepada penyelia produk-produk asing. Karena yang umum berlaku adalah bendera siapa yang masuk, maka ia akan membawa perusahaan-perusahaan sekutunya untuk mendukung kegiatannya (termasuk di dalamnya produk dan teknologi). Tentunya kita menginginkan bahwa pasokan sukucadang yang berasal dari luar dapat diputus mata rantainya, dan menggantinya dengan menggunakan produk-produk lokal yang notabene bisa dibuat di dalam negeri. Alih teknologi dapat diadaptasi dengan suatu kecepatan melalui sentuhan-sentuhan teknologi yang lahir dari perguruan tinggi.

 Gambar-03_Kondisi industri pertambangan di IndonesiaGambar-3 Kondisi industri pertambangan di Indonesia

Dewasa ini issue yang sedang hangat adalah mengenai energy terbarukan dan ramah lingkungan. Beberapa pembangkit listrik dimiliki oleh bangsa ini dan memerlukan mesin-mesin pendukung untuk menjalankan operasinya. Umumnya, mesin-mesin penunjang yang ada masih menggunakan produk buatan luar negeri. Salah satu contoh kasus adalah penggunaan turbin. Banyak sekali perguruan tinggi di Indonesia melakukan rekayasa peniruan atau merancang untuk merealisasikannya, bahkan beberapa diantaranya rela menelitinya di luar koridor kompetensi program studi yang ada. Namun dapat kita lihat sendiri sampai dengan saat ini, adakah produk turbin karya anak bangsa yang menjadi kebangkaan dan digunakan secara menyeluruh, minimal untuk lingkungan PLN (Perusahaan Listrik Negara) ? Para investor lebih suka menggunakan produk buatan luar negeri dengan alasan, lebih simpel, dapat dihandalkan, layanan purna jualnya, dan mungkin ‘management vee-nya’. Merupakan suatu tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi, bahwa apa-apa yang diteliti melalui TA, Thesis, Disertasi ternyata belum banyak yang memiliki nilai layak jual dan dapat digunakan secara ekonomis untuk kebutuhan masyarakat di dalam negeri.

Gambar-04_Kondisi industri energy di IndonesiaGambar-4 Kondisi industri energy di Indonesia

Sektor industri manufaktur merupakan sektor industri yang paling ramai di bangsa ini. Hasil kerjanya digunakan untuk melayani seluruh kebutuhan sukucadang ataupun jasa bagi industri-industri lainnya. Namun, sampai dengan saat ini, mulai dari kebutuhan pompa air yang ada di rumah tangga sampai dengan kelas industri manufaktur pembuat kapal terbang masih didominasi oleh merk-merk luar negeri. Pernah ada suatu mesin CNC-5axis yang dibuat oleh karya anak bangsa bernama Ahmadi (ITB) yang menurut saya adalah suatu mesin yang lahir dengan teknologi amat canggih, namun ujung-ujungnya belum bisa juga untuk menguasai pasar manufaktur yang ada di Indonesia. Berbeda kondisinya dengan di luar negeri, para raksasa-raksasa mesin bersatu untuk meraih pangsa pasar dunia dengan kombinasi teknologi canggihnya. Salah satu contohnya adalah dengan lahirnya perusahaan DMG-Mori seperti yang terlihat pada Gambar-5 di bawah.

 Gambar-05_Kondisi industri manufaktur di IndonesiaGambar-5 Kondisi industri manufaktur di Indonesia

Di jaman pemerintahan orde lama, pembangunan jangka panjang diterjemahkan menjadi Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Arah dan kebijakan pembangunan ini jelas sekali dan sangat terarah. Namun apa daya, untuk merealisasikannya ternyata tidak semudah apa yang dibayangkan. Keterlibatan pendidikan tinggi lewat tridharma perguruan tingginya sampai dengan saat ini masih belum bisa menunjang sektor pertanian dan industry yang ada. Masih sering kita lihat saudara-saudara kita yang ada di pedesaan, bekerja ala kadarnya menggunakan otot dan tidak tersentuh oleh teknologi yang ada di perguruan tinggi. Kenapa inseminasi teknologi yang lahir dari perguruan tinggi terasa amat berat untuk menyusup di kegiatan keseharian masyarakat kita ? Terlalu jauhkan gap yang terjadi antara perguruan tinggi dan masyarakat kita ?

 Gambar-06_Kondisi industri pertanian di IndonesiaGambar-6 Kondisi industri pertanian di Indonesia

 

II.2 PERLUNYA REGULATOR DI BIDANG PENDIDIKAN DAN TEKNOLOGI

Melihat kondisi sektor-sektor industri yang ada ada serta permasalahan umum yang terjadi di Indonesia, maka diperlukan suatu regulator yang akan membuat kluster-kluster di bidang teknologi sesuai dengan peta industri yang ada. Hal yang berat bagi suatu program studi baru untuk bersaing secara teknologi dengan program studi yang lebih dahulu berdiri. Berbagai penyebab yang secara umum terjadi adalah berkaitan dengan sumber dana bagi institusi pendidikan yang berasal dari pemerintah ataupun industri itu sendiri. Tidak dapat disalahkan bahwa penyerapan dana yang berasal dari pemerintah beberapa diantaranya diperoleh dengan sistem kompetisi (prasyarat jenjang pendidikan), dengan beberapa persyaratan yang belum tentu dimiliki oleh program studi yang berumur muda. Sehingga suatu hal yang arif bagi perguruan tinggi yang telah mapan dapat mengelompokkan diri dengan melibatkan perguruan tinggi lainnya, unsur pemerintah daerah, dan unsur industri. Untuk tertibnya regulator kluster yang ada, pertanyaan berat muncul, siapakah yang berkewajiban menjadi regulator ? apakah setiap perguruan tinggi yang ada dibiarkan secara sendiri-sendiri untuk melakukan pengembangannya ? Bagaimana jika pengembangan yang ada tidak terstruktur dan terjadi secara acak ? Akankah kondisi ini dapat menjawab permasalahan kondisi industri dan teknologi yang ada di Indonesia ?

 Gambar-07_Perlu regulator kluster-kluster pendidikan di bidang kompetensi dan teknologiGambar-7 Perlu regulator kluster-kluster pendidikan di bidang kompetensi dan teknologi

 II.3 SULITNYA MENDAPATKAN PETA KEBUTUHAN KARYAWAN DI INDUSTRI

Pengubahan besar terjadi di bidang pengolahan data yang ada di DIKTI, melalui Pusat Pangkalan Data Perguruan Tinggi, sesuatu hal yang terkait dengan kondisi tridarma perguruan tinggi telah tersedia termasuk di dalamnya data lulusan perguruan tinggi. Namun kondisi sebaliknya terjadi di dunia ketenagakerjaan. Demikian sulitnya untuk menemukan data kompetensi dan rencana kebutuhan sumberdaya manusianya. Kalaupun ada, data tersedia secara parsial dan tidak terintegrasi secara nasional. Padahal data tersebut kita perlukan untuk melakukan penyelarasan dengan piranti pendidikan yang ada di perguruan tinggi.

 Gambar-08_Timpangnya data jumlah lulusan dan kebutuhan lulusanGambar-8 Timpangnya data jumlah lulusan dan kebutuhan lulusan

 

II.4 MASTER PLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI) WILAYAH SULAWESI

Tertulis bahwa kooridor pengembangan di Sulawesi adalah terkait dengan Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan, serta Pertambangan Nikel nasional. Dengan adanya koridor ini maka memberikan peluang kepada program studi untuk melakukan pengembangan yang disesuaikan juga dengan kooridor kompetensi program studi yang ada. Tidaklah mudah melakukan pengembangan terhadap kurikulum untuk mengantisipasi tuntutan yang ada, namun hal tersebut tetap harus dilakukan, karena sudah tergambar secara umum mengenai deskripsi tuntutan kebutuhan lulusan yang diperlukan. Hal lain yang menjadi penting adalah sejauh mana program studi yang ada melibatkan diri atau mengaitkan diri di master plan tersebut. Perlu upaya serius dari institusi yang bersangkutan untuk menggaungkan keberadaan dan kesiapan program studi yang ada untuk menjadi bagian dan berperan aktif di master plan tersebut. Suatu hal yang perlu dipertimbangkan bahwa peran aktif tersebut tidak hanya sebatas oleh satu perguruan tinggi yang ada saja, tetapi lebih geratif merupakan peran dari kluster-kluster yang ada untuk saling melengkapi kompetensinya.

 Gambar-09_Master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi (MP3EI) wilayah SulawesiGambar-9 Master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi (MP3EI) wilayah Sulawesi

 

III. PEMAHAMAN KARAKTERISTIK BIDANG LOGAM DAN MESIN

Kompetensi di bidang logam dan mesin erat kaitannya dengan Sistem Produksi atau lebih luas lagi dengan Sistem Manufaktur. Secara generik aktivitas di bidang teknologi manufaktur terdiri atas : mengumpulkan informasi dan melakukan analisa, merancang, merencanakan proses, proses pengecoran logam, pemesinan, pembentukan dan pengelasan logam, perakitan (mekanik, listrik, pneumatic-hidrolik, kontrol), pengujian akhir, memasarkan dan menjual, membuat laporan. Secara umum yang disebut dengan lulusan teknik mesin (apapun jenjang pendidikannya) harus mengetahui alur tersebut, yang dijabarkan pada ranah terendah kedalaman pembelajaran berupa ‘pengetahuan’. Program studi-program studi yang ada dapat menggelutinya menjadi ciri spesifik suatu program studi berdasarkan kedalaman kompetensi yang ditujunya sesuai dengan salah satu atau beberapa aktivitas tersebut. Namun perlu disadari juga, bahwa pemilihan ciri program studi tersebut akan membawa konsekwensi serius, yaitu terkorelasi atau tidaknya kompetensi yang dituju melalui deskripsi mata kuliah yang ada. Tidak banyak program studi rumpun mesin yang melakukan verifikasi berdasarkan LSP-LMI, sehingga penulis akan melakukan simulasi model untuk membuktikan apakah suatu program studi fokus terhadap kompetensi yang ingin dicapainya.

 Gambar-10_Aktivitas bidang manufaktur sebagai penciri program studiGambar-10 Aktivitas bidang manufaktur sebagai penciri program studi

Disisi lainnya teknologi proses berkembang pesat juga, berbeda dengan sistem yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa sistem pada gambar di bawah memiliki ciri kental pada penguasaan teknologi pemrosesan, atau teknologi sistem produksi yang digunakannya. Sebagai salah satu contoh adalah pada pemrosesan nikel yang memiliki alur proses tersendiri dan menggunakan beberapa mesin spesifik yang tidak terdapat pada jenis pemrosesan lainnya. Program studi dapat mengeset kompetensi berbasiskan proses yang spesifik, namun disisi lainnya perlu dipertimbangkan juga apakah ada suatu jaminan bahwa lulusan pasti diserap oleh industri yang bersangkutan ? Jika ragu, maka program studi yang bersangkutan akan merentangkan (melebarkan) kompetensi mahasiswanya dengan mengurangi tingkat kedalaman pencapaian pembelajarannya, supaya lulusannya memiliki peluang yang lebih lebar untuk diserap di industri sejenis semisal pemrosesan timah, pemrosesan emas, yang memiliki bentuk generik teknologi pemrosesan namun berbeda di dalam hal kespesifikan pemrosesannya.

 Gambar-11_Skema sederhana pemrosesan nikelGambar-11 Skema sederhana pemrosesan nikel

Karakteristik teknologi produk dan teknologi proses yang ada akan dibuat spesifik oleh program studi melalui penjabaran mata kuliah untuk mencapai kompetensinya. Secara kasat mata kespesifikan program studi dapat dilihat dari jumlah pencapaian kompetensi sesuai dengan mata ajar yang diperolehnya. Seringkali terjadi bahwa penamaan suatu program studi ternyata tidak sesuai dengan kespesifikan kompetensi yang ingin dicapai lewat pembelajaran mata kuliahnya. Suatu hal yang perlu dicatat bahwa dengan banyaknya ragam materi ajar yang diberikan akan berdampak terhadap kedalaman pencapaian kompetensi. Sehingga untuk pengembangan kurikulum kedepannya perlu dilakukan suatu kajian yang seragam terhadap bidang logam dan mesin.

 Gambar-12_Konsentrasi dan penamaan program studi terhadap kespesifikan jenis kompetensinyaGambar-12 Konsentrasi dan penamaan program studi terhadap kespesifikan jenis kompetensinya

 

IV. PEMAHAMAN KARAKTERISTIK PERAWATAN/PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN MESIN (SUB BIDANG KOMPETENSI LOGAM DAN MESIN)

Untuk mendukung pengembangan di teknologi produk ataupun teknologi proses, maka diperlukan aktivitas pemeliharaan mesin. Beragam jenis teknologi produk ataupun proses, namun beberapa diantaranya memiliki keterkaitan dalam hal elemen mesin yang digunakan sebagai pembentuk atau penunjangnya (bentuk generiknya sama). Secara umum pola aktivitas pemeliharaan mesin adalah : mengumpulkan data dan informasi pemeliharaan mesin, membuat jadwal rencana pemeliharaan tahunan, membuat jadwal rencana pemeliharaan bulanan atau mingguan, melakukan pemeliharaan mekanik, melakukan pemeliharaan listik/control, melakukan pemeliharaan pneumatic/hidrolik, melakukan perbaikan terhadap mesin/komponen yang rusak, melakukan pengujian akhir, melakukan pemasaran dan penjualan jasa pemeliharaan, membuat laporan. Setiap aktivitas utama tersebut memiliki beberapa persyaratan kompetensi seperti yang dapat dilihat pada Gambar

 Gambar-13_Urutan kegiatan pemeliharan-perawatan dan perbaikan mesin berikut persyaratan kompetensi turunannyaGambar-13 Urutan kegiatan pemeliharan/perawatan dan perbaikan mesin berikut persyaratan kompetensi turunannya

Mengingat rentang teknologi di bidang pemeliharaan/perawatan dan perbaikan mesin luas sekali, maka pengklasifikasian dapat juga dilakukan berdasarkan peralatan produksi. Sebagai salah satu contoh pengklasifikasian dilakukan oleh HP Gaarg (judul bukunya ‘Industrial Maintenance’) : mesin perkakas, alat angkat / pemindah, mesin pengecoran logam, mesin dan perlengkapan hidrolik, mesin dan perlengkapan listrik. Tentunya teknologi ini akan berkembang terus seiring dengan pengembangan di bidang teknologi produk dan teknologi proses. Pertanyaan kita sekarang adalah sejauh mana kesanggupan program studi untuk menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru dengan rentang waktu penghasilan lulusan yang terbatas (untuk D3 setara dengan 3 tahun masa perkuliahan).

 Gambar-14 Pengklasifikasian mesinalat produksi untuk kegiatan pemeliharan-perawatan dan perbaikan mesinGambar-14 Pengklasifikasian mesin/alat produksi untuk kegiatan pemeliharan/perawatan dan perbaikan mesin

Berdasarkan kondisi yang ada tersebut, maka akan terjadi interaksi multi dimensi bagi seorang mahasiswa selama terlibat di dalam kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi. Ia akan berinteraksi sesuai dengan aktivitas proses yang dilakukan, dengan dosen, dengan sesama mahasiwa, dengan karyawan, dan dengan Sang Penciptanya juga. Disisi lainnya kita lihat perkembangan dahsyat terjadi di berbagai bidang keilmuan, seperti : diciptakannya mesin-mesin untuk kebutuhan medis. Tentunya hal tersebut adalah trend yang ada di bangsa ini. Di satu sisi, lahirnya teknologi baru perlu diketahui oleh mahasiswa, dan di sisi lainnya untuk mengisemenasikannya ke dalam kurikulum bukan perkara mudah. Negoisasi yang dilakukan adalah tercermin di dalam arah pengembangan program studi melalui pengembangan kurikulumnya (kata kuncinya : fokus).

 Gambar-15_Interaksi Mahasiswa dan adaptasi teknologi mahasiwa program studi teknik  pemeliharan-perawatan dan perbaikan mesinGambar-15 Interaksi Mahasiswa dan adaptasi teknologi mahasiwa program studi teknik pemeliharan/perawatan dan perbaikan mesin

Pada saat pengembangan terhadap program studi teknik perawatan/pemeliharaan dan perbaikan mesin dilakukan, umumnya tidak ada acuan baku untuk melakukannya. Perbedaan mencolok hanya didasari oleh perbedaan jumlah dan jenis mata kuliahnya. Seringkali dijumpai bahwa pengembangan tersebut didasari oleh produk apa atau teknologi apa yang sedang menjadi trend saat itu, seharusnya pengembangan tersebut dilakukan secara jangka panjang, berkesinambungan, dan jelas kompetensi apa yang hendak dituju. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan transformasi kurikulum sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, dan persiapan terhadap perangkat-perangkat turunan lainnya yang dibutuhkan. Selain itu tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada lulusan D3 teknik pemeliharaan/perawatan dan perbaikan mesin yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Program studi harus dapat juga mengantisipasi kompetensi apa yang harus disiapkan melalui pembelajaran mata kuliahnya, jangan sampai lulusan yang melanjutkan kuliah tidak dapat mengikuti sama sekali pembelajaran mata kuliah di tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Pengembangan program studi yang ada sebaiknya diprogramkan pada rencana strategis perguruan tinggi, sehingga memudahkan penyusunan program kerja dan anggaran untuk mencapainya. Pengembangan yang ada dapat saja berupa pembuatan program studi baru, menaikan jenjang pendidikan yang ada, atau kespesifikan kompetensi mahasiswa lulusannya. Pemetaan program studi lainnya dalam satu rumpun ilmu perlu ada, untuk meratakan dukungan terhadap industri yang ada di wilayah geografisnya. Rumor yang beredar adalah membuat program studi baru yang murah biaya pengadaannya (walaupun hal ini tidak salah), namun mari kita berfikir dalam kerangka pemetaan industri global yang ada di Indonesia. Kedepannya akan memungkinkan bahwa penyelarasan program tersebut bersumber dari biaya pemerintah dengan tujuan memperkuat MP3EI (tentunya melibatkan DIKTI)

 Gambar-16_Pengembangan program studi teknik pemeliharaan-perawatan dan perbaikan mesin mengacu pada rumpun ilmuGambar-16 Pengembangan program studi teknik pemeliharaan/perawatan dan perbaikan mesin mengacu pada rumpun ilmu

 

V. PROFIL LULUSAN D3 TEKNIK MESIN TERHADAP TUNTUTAN JABATAN LAPANGAN PEKERJAAN

Pada saat pemberlakuan kurikulum versi KKNI dan SN DIKTI ditetapkan, hampir dalam waktu yang bersamaan juga direspons oleh seluruh Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. Mereka berupaya melakukan transformasi/rekonstruksi kurikulum yang ada untuk memenuhi tuntutan perundang-undangan, selain itu untuk persiapan persyaratan akreditasi seperti yang dilakukan oleh BAN PT. Terlihat bahwa inseminasi suatu kebijakan baru dilakukan secara serius dan intensif di bidang pendidikan.

Namun tidak demikian halnya yang terjadi dengan standardisasi jabatan ataupun persyaratan kompetensi yang umumnya dicantumkan pada lowongan pekerjaan, sebagai salah satu contoh yang diterbitkan oleh Kerangka Kualifikasi Sertifikasi Logam dan Mesin yang membagi level kualifikasi menjadi enam tingkatan (I sampai dengan VI). Hal tersebut terjadi untuk berbagai jenis lapangan pekerjaan, baik sektor swasta ataupun BUMN. Apakah hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya koordinasi diantara bagian-bagian yang terkait (pendidikan, ketenagakerjaan, sertifikasi profesi) ? Saya ingat betul bahwa yang boleh menerbitkan sertifikat profesi adalah lembaga-lembaga kredibel termasuk diantaranya Tempat Uji Kompetensi yang tersertifikasi. Dikarenakan tidak semua perguruan tinggi memiliki legalisasi untuk menerbitkan sertifikat kompetensi maka dibuatlah padanannya yaitu Surat Pendamping Ijazah. Hal ini tentunya menjadi masukan bagi fihak-fihak terkait di Indonesia seperti lembaga pendidikan, lembaga ketenagakerjaan, lembaga sertifikasi profesi untuk menyinergikannya.

Tabel-1 Deskripsi lowongan pekerjaan dan jenis lapangan kerja D3 Teknik Mesin Tabel-1_Deskripsi lowongan pekerjaan dan jenis lapangan kerja D3 Teknik Mesin

Peluang kerja yang tersedia untuk lulusan teknik mesin beragam dan berbagai jenis jabatan yang ditawarkan. Andai suatu perusahaan dapat memastikan bahwa setiap lulusan suatu program studi akan diterima langsung bekerja di perushaan tersebut, maka program studi yang bersangkutan tidak akan memiliki masalah untuk menyusun kurikulum berdasarkan kompetensi yang diinginkan perusahaan. Namun sayangnya kondisi tersebut jarang atau bahkan hampir tidak pernah dijumpai, sehingga program studi yang ada akan berupaya keras untuk memetakan kemungkinan profil lulusan sesuai keanekaragaman jabatan yang ada, kemudian berusaha dengan keras juga untuk menentukan kompetensi (Capaian Pembelajaran) yang ada, kemudian berupaya dengan keras juga untuk menerjemahkannya ke mata kuliah yang ada (upaya kerja keras yang berlapis-lapis).

Tabel-2 Peluang kerja lulusan teknik mesin pada bursa online [Apri Nuryanto, UPN, 2007] Tabel-2_Peluang kerja lulusan teknik mesin pada bursa online [Apri Nuryanto, UPN, 2007]

 Seperti kondisi sudah jatuh tertimpa durian itulah yang terjadi dengan kondisi industri yang ada di Indonesia. Pada awal tulisan telah dijelaskan berkaitan dengan sektor-sektor industri yang ada serta permasalahannya, sehingga suatu peumpamaan sarkasme saya tuangkan : “Kita Negara yang kaya akan sumberdayanya yang ada, Namun, kekayaan tersebut dikelola oleh perusahaan milik negara asing, menggunakan sebagian besar mesin atau fasilitas yang berasal dari negara asing, bahkan menggunakan sukucadang yang umumnya buatan negara asing. Pertanyaan bagi saya, apa yang disisakan untuk bangsa yang memiliki kekayaan yang melimpah ? sanggupkah anak cucu kita menanggung beban berat yang diakibatkan kondisi yang ada saat ini ?

Namun demikian kita harus tetap optimis, biarlah yang tersisa bagi kita adalah sumberdaya manusianya untuk mengisi perkerjaan yang ada. Namun dewasa ini, ancaman juga mengarah ke sumberdaya manusia bangsa ini, yang tidak boleh mengerem laju sumberdaya asing yang akan ikut bekerja di Indonesia. Salah satunya adalah dengan disepakatinya MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) / AEC (Asean Economy Community). Suka atau tidak suka kita harus menjalankannya, mengingat nota kesepakatan kerjasamanya telah disetujui. Dengan adanya KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) / IQF (Indonesian Qualifications framework) berikut kerangka Kualifikasi negara-negara lainnya, maka terjadilah kesetaraan pemetaan kompetensi tenaga kerja. Persaingan berat terjadi pada sektor-sektor penghasil kompetensi lulusan.

Gambar-17_Implementasi AEC (Asean Economy Community) 2015 dan berbagai National Qualifications Framework Gambar-17 Implementasi AEC (Asean Economy Community) 2015 dan berbagai National Qualifications Framework

Siapkah kita untuk menerapkannya ? Jawabannya adalah mau tidak mau harus siap. Namun sejauh manakah peran BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) untuk mengantisipasi kondisi yang ada ? Saya masih belum jelas mengenai ketergantung industri-industri yang ada di Indonesia terhadap BNSP. Apa buktinya ? Saya belum pernah melihat bahwa industri yang membutuhkan tenaga kerja (lulusan siap pakai) tersebut benar-benar berani memasang patokan Level Qualifikasi untuk bidang logam dan mesin. Para industri hanya tertarik memasang persyaratan Indeks Prestasi di atas 3.00, TOEFL di atas 450 (sebagai contoh saja), dan kualifikasi jenjang pendidikannya. Jangan-jangan industri sendiri tidak mengetahui level kualifikasi di bidang logam dan mesin. Tentunya hal ini akan menyulitkan perumusan kurikulum berikut penerjemahannya di dalam kegiatan belajar mengajar.

Namun saya tetap optimis dengan melihat satu pola yang diterapkan oleh sektor MIGAS berkaitan dengan SKKNI Bidang Perawatan Mekanik (Gambar-18). Hal tersebut akan sangat membantu dunia pendidikan dalam merumuskan kurikulumnya, dikarenakan terdeskripsi dengan jelas berkaitan dengan kompetensi ataupun elemen kompetensi untuk suatu level kualifikasi tertentu di bidang perawatan mekanik. Sebaiknya hal ini menjadi program kerja BNSP atau fihak-fihak lainnya yang berhubungan dengan dunia pendidikan sebagai penghasil lulusan.

 Gambar-18_Contoh implementasi SKKNI sector Migas untuk bidang perawatan mekanikGambar-18 Contoh implementasi SKKNI sector Migas untuk bidang perawatan mekanik

Dengan melihat berbagai permasalahan yang ada, bagaimanakah suatu program studi dapat memformulasikan kurikulum berdasarkan rambu-rambu yang telah ditetapkan sebelumnya ? Sampai dengan saat ini kita hanya bisa mendeskripsikan (lebih tepatnya membayangkan) apa yang diinginkan oleh industri berkaitan dengan kompetensi yang harus dimilikinya. Tentunya ada rambu-rambu yang jelas dan bersifat mutlak, dan ada yang sifatnya ‘abu-abu’ yang banyak ditentukan oleh team perumus kurikulum di program studi. Kedepannya yang kita inginkan adalah sosok deskripsi yang jelas, tepat, mudah dilakukan (bukan berdasarkan karangan atau daya nalar semata).

Andai uraian kompetensi yang dibutuhkan oleh industri lengkap, maka hal tersebut akan membantu program studi di dalam menyusun kurikulumnya. Tidak mengawang-awang atau tidak mencoba mereka-reka apa yang dibutuhkan sesungguhnya oleh industri. Di sisi lainnya juga, jika pengalaman team penyusun kurikulum sangat mahir di bidangnya dan memiliki wawasan yang sangat luas, maka kondisinya bisa terbalik karena boleh jadi tuntutan kompetensi yang ideal lahir dari institusi pendidikan. Pada Gambar-19 ditunjukkan salah satu jabatan, elemen kompetensi, dan batasan penilaian kompetensi yang ada.

 Gambar-19_Contoh peta kompetensi yang dibutuhkan program studiGambar-19 Contoh implementasi SKKNI sector Migas untuk bidang perawatan mekanik

VI. PENYUSUSUNAN / REKONSTRUKSI KURIKULUM YANG ADA BERDASARKAN KKNI, SNPT, dan LSP-LMI

VI.1 PENETAPAN PROFIL LULUSAN

Namun demikian, regulasi telah ditetapkan dan kita berkewajiban untuk mengikutinya. Saya mencoba memetakan profil lulusan bagi program studi D3 pemeliharaan/perawatan dan perbaikan mesin berdasarkan kondisi riil yang pernah saya hadapi dan beberapa informasi tingkat jabatan yang ada. Sangat disayangkan sekali bahwa level kualifikasi sertifikasi untuk bidang logam dan mesin tidak ada yang bisa saya peroleh satupun karena keterbatasan akses saya. Kemudian ada satu ketidaklaziman yang saya tambah pada baris bawah yaitu profil lulusan kembali sebagai Mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataannya banyak sekali yang setelah lulus dari suatu jenjang pendidikan kemudian akan melanjutkan lagi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi (sebagai contoh adalah diri saya sendiri yang telah mengikuti pendidikan D3-S1-S2). Hal ini tetap harus diakomodir di dalam penetapan profil lulusan, mengingat kita harus mengantisipasi keadaan juga dimana lulusan akan melanjutkan kuliah lagi dan mudah untuk menyesuaikan diri dengan pembelajaran di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kita tidak boleh menutup mata karena beberapa kualifikasi jabatan yang lebih tinggi di industri ada yang mempersyaratkan bahwa entry point nya ditinjau dari level pendidikan (walaupun bukan tujuan utama kita bahwa lulusan diploma akan melanjutkan studi yang lebih tinggi). Karena tuntutan tersebutlah, Dikti membatasi pelaksanaan pola perkuliahan jarak jauh.

 Gambar-20_Profil Lulusan D3 Teknik Pemeliharaan Mesin Gambar-20 Profil Lulusan D3 Teknik Pemeliharaan Mesin

Kenapa kita harus mengaitkannya dengan LSP-LMI ? Merupakan suatu tujuan BNSP bahwa lulusan-lulusan perguaruan tinggi pada saat lulus tidak hanya dilengkapi ijazah dan transkrip nilai, namun harus dilengkapi juga dengan sertifikasi profesi yang valid. Sayangnya belum banyak perguruan tinggi yang menjadi Tempat Uji Kompetensi, dan untuk menerbitkan sertifikat kompetensi tidak sembarangan bahkan dipayungi oleh Undang-Undang yang memberikan sangsi terhadap pelanggarannya. Karena itu muncullah inisiatif membuat Surat Keterangan Pendamping Ijazah (masalah yang timbul menurut saya dikarenakan aspek legalitas). Surat Pendamping Ijazah yang dibuat oleh perguruan tinggi pun bukan asal-salan dengan menonjolkan kompetensi yang diperoleh karena kepemilikan fasilitas atau aktivitas yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lainnya (seumpama menggunakan alat ukur dan mesin yang canggih / berharga mahal). Tetap surat pendamping ijazah harus dibuat mengacu pada suatu standar profesi tertentu yang diakui secara nasional ataupun internasional, dan jika saatnya datang maka akan otomatis surat tersebut akan berfungsi sebagai sertifikasi profesi yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang (walaupun menurut saya masih lama karena membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang tidak sedikit).

 

VI.2 MODIFIKASI LANGKAH PENETAPAN CAPAIAN PEMBELAJARAN

Rambu-rambu untuk menetapkan capaian pembelajaran telah distandarkan oleh KKNI dan SN DIKTI untuk lulusan pendidikan D3. Terjadi integrasi penetapan capaian pembelajaran seperti yang ditunjukkan pada Gambar-21. Saya nyatakan bahwa tidak mudah untuk membuat capaian pembelajaran, karena harus bersumber dari data-data yang akurat yang nota bene sebaiknya distandarkan untuk rumpun bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya kode-kode jabatan yang ada yang mengacu kepada LSP-LMI. Jika kita mencoba menerjemahkannya tidak secara serius, maka efek kesalahannya akan fatal, yang akan merembet seperti efek domino ke proses pembuatan kurikulumnya berikut proses-proses turunan yang ada di dalamnya.

Saya berpendapat bahwa perumusan capaian pembelajaran tidak dilakukan secara parsial per profil lulusan, namun harus secara integral yang melingkupi seluruh profil lulusan yang ada. Kenapa hal ini saya utaran ? mengingat pola pendidikan yang ada di D3 umumnya merupakan sistem paket / block dan rentang waktu penyelesaian studi tepat waktu 3 tahun (walaupun mungkin ada di beberapa perguruan tinggi lainnya yang membebaskan Mahasiswa untuk mengambil mata kuliah pilihan sehingga memiliki konsekwensi lulus lebih dari 3 tahun). Ada juga satu program studi yang menetapkan beberapa jalur spesialisasi berdasarkan sasaran profil lulusannya. Hal tersebut sah-sah saja, namun harus dipertanggungjawabkan dengan muatan mata kuliah yang berbeda secara kental (bukan beda-beda tipis ji).

 Gambar-21_Rambu-rambu Capaian Pembelajaran untuk lulusan D3 versi KKNI dan SN DIKTIGambar-21 Rambu-rambu Capaian Pembelajaran untuk lulusan D3 versi KKNI dan SN DIKTI

Parameter deskripsi sikap dan ketrampilan umum telah dinyatakan, dan program studi harus mematuhinya. Ruang gerak diberikan pada parameter ketrampilan khusus dan pengetahuan (ada suatu kewajiban tertulis yang dijadikan panduan untuk melakukan analisis). Jika ditilik secara cermat, kewajiban tersebut sangat berat sekali namun harus dilakukan oleh program studi. Kekuatan utama ada pada wawasan dan ketajaman fikiran program studi (termasuk team kurikulum). Khusus untuk satu hal, saya mengutarakan apakah yang telah disepakati oleh kolegium/konsorsium keilmuan/prodi sejenis ? Apakah ada event-event nyata yang dilakukan saat ini sampai dan menghasilkan butir-butir kesepakatan ? Siapakah yang bertanggungjawab atas hal ini ? Saya lebih melihat bahwa banyak prodi-prodi sejenis berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya kolaborasi. Yang sering terjadi adalah budaya copy-paste terhadap penentuan kurikulum untuk prodi sejenis (dengan sedikit modifikasi), dan bahayanya adalah manakala yang dicopy-paste salah maka kesalahan tersebut akan menjalar kemana-mana, dan sejujurnya perlu disadari bahwa berbagai sumber daya dan sistem yang dimiliki oleh setiap program studi adalah berbeda. Seharusnya konsep yang dianut adalah keberagaman yang memiliki tujuan sama dalam ruang lingkup bidang logam dan mesin, untuk mengisi kekosongan gap antara prodi-prodi yang ada dalam pembangunan industri di bangsa ini.

Sebelum capaian pembelajaran ditentukan, ada baiknya kita mengevaluasi kondisi kesesuaian jenis program studi terhadap tuntutan kompetensi berdasarkan bidang logam dan mesin (LSP-LMI). Kita akan mengetahui korelasi antara profil lulusan, capaian pembelajaran, dan kurikulum yang telah dijalankan. Kenapa ini dilakukan di awal ? Andai nantinya dijumpai suatu penyimpangan di dalam kenyataannya, maka perbaikan dapat dilakukan secara sekaligus mulai dari penetapan profil lulusan, capaian pembelajaran, sampai dengan turunannya. Bahkan program pengembangan jangka panjang dan jangka pendek program studi dapat diukur secara numeris berdasarkan capaian pembelajaran yang ada. Saya mengistilahkannya dengan kombinasi antara forward dan backward evaluation.

Kata kuncinya adalah Capaian Pembelajaran sebaiknya fokus, tidak lari kemana-mana. Kemampuan isi kepala mahasiswa terbatas. Boleh merupakan suatu strategi pilihan bahwa : banyak pengetahuan dengan kedalaman kajian sedikit, atau fokus dengan jumlah pengetahuan yang terbatas namun kedalaman kajian sampai ke akarnya, dan juga perlu disadari bahwa rentang waktu pembelajaran dibatasi oleh jumlah SKS dan waktu kuliah. Sehingga dalam penyusunannya berjenjang tidak bisa sekaligus jadi, perlu waktu karena akan terlibat dengan anggaran biaya, perencanaan program pengembangan untuk mengantisipasi dinamika kuat terhada tuntutan yang cepat berubah-ubah.

Sebaiknya industri / perusahaan harus dilibatkan secara nyata dalam hal penentuan kompetensi penyerapan tenaga kerjanya, tidak hanya institusi pendidikan saja yang melakukan perubahan. Ingat kalimat Bapak Bernard Sihite (Politeknik Manufaktur Bandung) di depan pemilik perusahaan besar pada saat monitoring OJT (on the job training) tahun 1993-an : “You sebagai pemilik perusahaan jangan mau enaknya saja ingin telur yang bulat (maksudnya kualitas mahasiswa yang bagus), bantu kami-kami dong di bidang pendidikan untuk membuat telur tersebut bulat.”

Sebagai suatu ilustrasi bahwa prodi teknik mesin sama dengan bangun struktur mesinnya itu sendiri (bukan merupakan sastra mesin), terdiri dari berbagai jenis teknologi mesin, ada tahapan dalam membuat mesin, dan ada perkembangan teknologi pembuatannya. Bagus kalau pengadaannya dikaitkan dengan rencana pengembangan pemerintahan, untuk mendukung sentra-sentra BUMN atau sektor swasta yang ada di Indonesia (dengan melihat kondisi dan permasalahan yang ada di sektor industri di Indonesia). Sehingga pemilihan mesin tersebut umumnya bukan ditentukan dari dalam institusi kita saja, namun lebih ditentukan oleh market, yang umumnya di Indonesia menerapkan asas ekonomi “dengan uang sesedikit untuk mendapatkan keuntungan sebesar mungkin” (tugas kita adalah meluruskan falsafah berikut mengingat bahwa harga mesin akan sebanding dengan kualitas yang akan dibeli)

 

VI.3 EVALUASI KURIKULUM YANG ADA MENGGUNAKAN ALAT “LSP-LMI”

Bidang logam dan mesin telah memfokuskan kompetensinya menjadi 18 cabang bidang keahlian yang masing-masing memiliki unit dan pembobotan kompetensi. Setiap program studi terkait teknik mesin wajib untuk mengetahuinya, sehingga dapat mengukur sendiri apakah penamaan program studi telah sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Alat ini akan berfungsi juga untuk mengukur kekhasan suatu program studi.

Sebelum evaluasi dilakukan ada baiknya dibuka link berikut karena akan mempermudah pemahaman di dalam penyusunannya :

  1. Analisa unit kompetensi (https://drive.google.com/open?id=0BxISOQA_AHSeWnRXZk5GZW1GU0U)
  2. Evaluasi kurikulum Akademi Teknik Soroako(https://drive.google.com/open?id=0BxISOQA_AHSea3VrUGhCSE80VzA)

Gambar-22_SKKNI Bidang Logam dan MesinGambar-22 Standar Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Logam dan Mesin

Bidang industri dan logam memiliki karakteristik level kualifikasi menjadi 6 level dengan persyaratan pembobotan yang harus dicapainya. Suatu kewajiban bagi prodi teknik mesin untuk memetakannya dengan jalan membandingkan kesepadanan bobot kompetensi dengan mata kuliah yang ada. Tentunya untuk mencapai kualifikasi tertinggi yaitu Level 6 akan memerlukan suatu perencanaan yang sangat matang, dan kesemuanya itu tertuang di dalam kurikulum.

 Gambar-23_Karakteristik level kualifikasi Bidang Logam dan Mesin

. Gambar-23 Karakteristik level kualifikasi Bidang Logam dan Mesin

Karena istilah karakteristik level kualifikasi bidang logam dan mesin tidak popular diakibatkan tidak intensnya inseminasi ke perguruan tinggi maka jarang institusi pendidikan yang mencanangkannya sebagai visi atau misi atau tujuan yang harus ditempuh (tertulis secara nyata dalam dokumen institusi). Andai DIKTI mempersyaratkannya, maka setiap institusi akan berlomba untuk mencapainya dan hasilnya dapat dibayangkan berupa lahirnya lulusan dengan kompetensi yang bagus dan siap bersaing di bursa bebas. Evaluasi ini dilakukan dengan jalan mengecek butir per butir terhadap elemen kompetensi yang harus dicapai berdasarkan SKKNI bidang logam dan mesin terhadap TIU / TIK yang ada pada setiap mata kuliah. Dengan munculnya profil seperti gambar di bawah, maka akan jelas posisi setiap program studi teknik mesin yang ada di Indonesia. Sehingga langkah perencanaan kedepannya mudah dilakukan mulai untuk tujuan program studi, institusi pendidikan, sampai dengan kerangka nasional.

 Gambar-24_Skema Pengembangan Kurikulum berdasarkan SKKNIGambar-24 Skema Pengembangan Kurikulum berdasarkan SKKNI

Gambar berikut merupakan hasil analisa melalui penggunaan matriks-1 dan matriks-2 untuk kurikulum yang ada di Akademi Teknik soroako.

 Gambar-25_Matiks yang harus dibuat untuk evaluasi kurikulum berdasarkan SKKNI. Gambar-25 Matiks yang harus dibuat untuk evaluasi kurikulum berdasarkan SKKNI

 Hasil akhirnya diperoleh matriks rekonstruksi kurikulum untuk program studi di Akademi Teknik Soroako

Tabel-3 Hasil evaluasi kurikulum program studi Akademi Teknik Soroako Tabel-3_Hasil evaluasi kurikulum program studi Akademi Teknik Soroako

 VI.4 MENENTUKAN CAPAIAN PEMBELAJARAN (HASIL ANALISA)

Strategi CP umumnya ditetapkan terhadap bursa tenaga kerja yang ada dan masukan berdasarkan tracer study yang dilakukan. Unsur lainnya perlu ditambahkan mengingat tujuan kita melakukan pendidikan salah satunya adalah agar lulusan mudah dan cepat diserap oleh pengguna lulusan (Gambar-26 dan 27). Tahap ini telah dijelaskan secara detail dan secara rinci oleh DIKTI.

  Gambar-26_Rumusan Capaian Pembelajaran Sikap dan Tata Nilai Lulusan D3 Teknik Perawatan MesinGambar-26 Capaian Pembelajaran Sikap dan Tata Nilai untuk lulusan program studi D3 Perawatan Mesin

 Gambar-27_Rumusan Capaian Pembelajaran Ketrampilan Umum Lulusan D3 Teknik Perawatan MesinGambar-27 Capaian Pembelajaran Ketrampilan Umum untuk lulusan program studi D3 Perawatan Mesin

 Khusus untuk capaian pembelajaran ketrampilan khusus, kita peroleh dari hasil analisa yang telah dilakukan sebelumnya

 Gambar-28_Rumusan Capaian Pembelajaran Ketrampilan Khuhus Lulusan D3 Teknik Perawatan MesinGambar-28 Capaian Pembelajaran Ketrampilan Khusus untuk lulusan program studi D3 Perawatan Mesin

Capaian pembelajaran pengetahuan untuk program studi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan trend teknologi yang sedang berkembang sesuai dengan ciri program studi atau untuk menerjemahkan profil kompetensi di luar bidang logam dan mesin.

  Gambar-29_Rumusan Capaian Pembelajaran Pengetahuan Lulusan D3 Teknik Perawatan MesinGambar-29 Capaian Pembelajaran Pengetahuan untuk lulusan program studi D3 Perawatan Mesin

 Gambar berikut menunjukkan Capaian Kompetensi keseluruhan untuk D3 Teknik Mesin Program Studi Perawatan mesin. Sasaran dibuat general untuk memperluas pasar tenaga kerja, tidak difokuskan terlalu spesifik, karena belum ada jaminan dari industry untuk menerima sejumlah karyawan dalam waktu tertentu. (https://drive.google.com/open?id=0BxISOQA_AHSeeVdiTEc4OXNUdTA)

Gambar-30_Profil Lulusan &amp; Capaian Pembelajaran D3 Teknik Pemeliharaan Mesin

Gambar-30 Profil Lulusan & Capaian Pembelajaran D3 Teknik Perawatan Mesin

VI.5 MENGEMBANGKAN DAN REKONSTRUKSI BAHAN AJAR DAN MATA KULIAH

Setelah capaian pembelajaran ditetapkan, maka langkah berikutnya adalah melakukan rekonstruksi atau pengembangan terhadap kurikulum yang ada berdasarkan analisa yang telah dilakukan sebelumnya. Rekonstruksi dapat berupa : penyesuaian jumlah jam, mata kuliah yang harus dihilangkan/diadakan, menambahkan/menghilangkan pokok bahasan, distribusi mata kuliah dan lain-lain. Sebagai salah satu contoh adalah :

  • Mata kuliah terkait bidang otomotif dan pengantar sistem kendali ditiadakan,
  • Mata kuliah thermodinamika dan pengantar sistem kendali diganti dengan mata kuliah terkait dengan sistem pemeliharaan hidrolik
  • Mengadakan mata kuliah terkait dengan Hukum Perburuhan dan ketenagakerjaan
  • Menambah mata kuliah terkait dengan penguatan Ipoleksosbudhankamnas seperti yang telah dipersyaratkan oleh Undang-Undang
  • Mengadakan mata kuliah berkaitan dengan tantangan bidang perawatan mesin kedepannya seperti Distributed Control System, Retrofit System, CNC Maintenance System, Total Quality Management, Maintenance Control System
  • Lihat catatan pada matrik maka kuliah untuk rekonstruksi detail yang harus dilakukan.

Khusus di bidang perawatan mesin, pengembangan telah dirintis sejak tahun 1990 an, hal ini tidak lepas dari sosok Bapak Kokok Haksono (Pejabat DIKTI untuk jalur vokasi). Beliau telah memfasilitasi program studi serumpun di bidang perawatan mesin agar seragam di Indonesia. Mulai dengan mendatangkan Mr. Feldman dari Swiss Contact yang menelorkan buku Manajemen Pemeliharaan sebagai pengganti Hand Book of Maintenance untuk Politeknik se Indonesia. Hal lainnya adalah kerjasama antara P5D dan lembaga Fontys dari Belanda yang merencanakan bahawa modul untuk basic skill maintenance harus seragam untuk politeknik sejenis di Indonesia, termasuk adalah pembuatan beberapa media ajar standard yang telah diditribusikan ke beberapa politeknik yang ada di Indonesia. Alhamdulillah, saya ikut terlibat di kedua projek tersebut dan mendapatkan pengalaman berharga yang menjadi bekal saya sampai dengan sekarang.

 Gambar-31_Bahan Kajian dan Mata Kuliah Teknik Pemeliharaan Mesin Gambar-31 Bahan Kajian dan Mata Kuliah Teknik Pemeliharaan Mesin

 VI.5 BELAJAR DARI METODA PEMBELAJARAN DI BIDANG PEMESINAN DARI ORANG AMERIKA

 Ada satu perubahan mendasar yang terjadi di dunia D3 teknik mesin yang berdampak kurang baik terhadap pengembangannya. Yaitu adanya asumsi jika kita akan melakukan praktik pemesinan atau yang lainnya, maka hal tersebut dapat dilakukan setelah mesin ada, benda kerja ada, pelaku ada, dan buku ada. Hal tersebut diakibatkan sempitnya pandangan para pelaku pendidikan dan pelaku industry yang ada di Indonesia. Hal ini terjadi secara turun temurun dan sulit untuk memutuskan rantainya.

Kenapa terjadi penurunan kualitas terhadap Mahasiswa lulusan D3 teknik mesin ? Hal ini diakibatkan karena tidak seragamnya metoda pendidikan yang ada. Tanpa berpanjang lebar, mari kita bandingkan dengan pola pembelajaran pemesinan yang dilakukan oleh Negara Amerika Serikat jaman dulu (sumber : Basic Fundamental Machining). Sebelum seseorang melakukan praktik langsung pada area pemesinan, beberapa tahap berikut dilakukan :

  1. Mahasiswa atau pekerja harus mengetahui jenis pekerjaan, ruang lingkup, dan tanggungjawabnya.

 Gambar-32a_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Klasifikasi Pekerjaan Gambar-32A Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Klasifikasi Pekerjaan

  1. Mahasiswa atau pekerja harus mengerti gambar teknik dan ruang lingkup keselamatan dan kesehatan kerja yang ada di area kerjanya.

 Gambar-32b_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Gambar Teknik &amp; Keselamatan Kerja Gambar-32B Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Gambar Teknik & Keselamatan Kerja

  1. Mahasiswa atau pekerja harus mampu melakukan pengukuran dimensi dan geometri, serta dapat melakukan penandaan/tata letak komponen.

Gambar-32c_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Pengukuran dan Tata Letak Gambar-32C Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Pengukuran dan Tata Letak

  1. Menguasai penggunaan beragam perkakas tangan.

Gambar-32d_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Perkakas Tangan

Gambar-32D Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Perkakas Tangan

  1. Mahasiswa atau pekerja harus mengetahui seluk beluk ilmu yang terkait dengan proses pemesinan tersebut seperti : klasifikasi mesin, spesifikasi geometric dan ketelitian mesin, komponen mesin berikut fungsinya, mekanisme transmisi, perhitungan, dan lain-lainnya seperti ditunjukkan pada gambar.

  Gambar-32e_Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Pemesinan dan FabrikasiGambar-32E Tips-1 Belajar dari Orang Amerika Generasi Dulu-Pemesinan dan Fabrikasi

Kita melihat bahwa tahap sesungguhnya terkait proses pemesinan baru dilakukan pada tahp ke-7 setelah semuanya terpenuhi, dan di tahap ke-7 banyak cakupan pembelajaran yang harus dipenuhi. Dan saya sekarang mengerti mengapa bangsa Amerika bisa mendaratkan manusia di bulan. Contoh bagus buat kita sebagai warga teknik mesin, sehingga dapat menerapkan pola yang sama pada setiap kegiatan mata kuliah praktik sejenis bagi Mahasiswa.


VI.5 BELAJAR DARI PENGALAMAN MASA LALU : PERKEMBANGAN JALUR PENDIDIKAN VOKASI TEKNIK MESIN DAN INTEGRASI PENILAIAN KOMPETENSI

Tentunya semua program studi yang ada berkeinginan agar seluruh fasilitas turunan dari kurikulum lengkap untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Namun perlu disadari juga bahwa dalam pengadaannya akan membutuhkan biaya yang besar (berbeda dengan program studi non teknik). Sehingga inovasi di dalam pengadaannya diperlukan, terlebih untuk menjamin sustainability suatu institusi pendidikan.

Program studi yang ada harus mulai jeli untuk melihat peta kemampuan yang ada untuk menerjemahkan kompetensi Mahasiswa lewat pengadaan produk terintegrasi (dapat mengukur banyak elemen atau bidang kompetensi lewat suatu mata kuliah pembelajaran). Akan lebih terasa lagi maknanya jika produk yang digunakan sebagai praktik Mahasiswa memiliki nilai jual yang laku di pasaran. Pola pendidikan semacam ini dikenal dengan nama Pendidikan Berbasis Produksi / Production Based Education.

 Gambar-33_Product melalui Pendidikan Berbasis Produksi-PBE

Gambar-33 Product melalui Pendidikan Berbasis Produksi / Production Based Education

Karena muncul tuntutan Surat Pendamping Ijazah, maka konsekwensinya akan berdampak juga kepada penilaian yang dilakukan. Seorang dosen / instruktur harus mampu melakukan penilaian secara komprehensif terhadap persyaratan kompetensi, bidang kompetensi, dan elemen kompetensi. Dengan kata lain, fihak yang memiliki othorisasi untuk menerbitkan sertifikat kompetensi akan convidence bahwa lulusan yang dihasilkan benar-benar telah memenuhi sertifikasi jenjang tertentu, dan minimal ditunjukkan kesetaraannya pada Surat Pendamping Ijazah..

 Gambar-34_Metoda Penilaian Berbasis Kompetensi

Gambar-34 Penilaian berbasis kompetensi

Media pendidikan ataupun buku ajar yang digunakan untuk mengecek kompetensi tidak bisa dibuat secara umum, harus spesifik dan mendukung terhadap pencapaian kompetensi yang dihaerapkan melalui media tersebut. Beberapa contohnya dapat dilihat pada link : https://drive.google.com/drive/folders/0BxISOQA_AHSeMWQ1YTI4YjEtZmM1MC00ODQzLWJmYjctMWNlNWQ3YWEzZWU0

 Gambar-35_Fasilitas Pembelajaran-Modul ajar dan Media AjarGambar-35 Buku ajar atau modul berbasis kompetensi

 Langkah berikutnya adalah menerjemahkan mata kuliah menjadi turunan perangkat pendidikan. Penulis sangat menekankan agar mulai menerapkan standard pembelajaran DIKTI : Pekerti, Applied Approach, Pengukuran dan Test. Kenapa hal ini saya tekankan ? Menyampaikan isi pembelajaran berbeda dengan menyampaikan teknologi. Seringkali calon dosen yang baru pulang dari luar negeri dating langsung mengajar tanpa dibekali dengan ilmu pedagogi / metodic-ditactic. Kita harus menyadari bahwa ilmu yang mempelajari bagaimana cara kita mengajar sangat penting, dan boleh jadi kualitas pendidikan di bangsa ini sedang turun diakibatkan hal ini. Beberapa literature terkait ini dapat dilihat pada link berikut (bersumber dari team pengajar Kopertis IX), dan dapat dilihat pada link berikut.

https://drive.google.com/open?id=0BxISOQA_AHSeMDdiNGIzMWMtMTg5ZC00ZDk5LTk1ZTUtMjFlMWE1MjY3ZWM3

Pola selanjutnya dapat dilihat pada tulisan saya sebelumnya terkait “Pegembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi”.

 VII PENUTUP

Tiada gading yang tak retak, penulis mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika ada isi yang tersurat ataupun tersirat telah menyinggung perasaan beberapa fihak. Mengingat keterbatasan pengetahuan yang ada di bidang kurikulum, dan banyak rekan-rekan yang lebih mengasainya. Mohon dimaafkan. Penulispun berkeinginan untuk berdiskusi dengan rekan-rekan lain dari prodi sejenis dan tidak sejenis untuk membangun pendidikan bangsa ini lewat perbaikan kurikulum. Tak tak lupa penulis ucapkan terimakasih yang tak berhingga kepada Bapak Suryadi (sesudah pensiun dari Politeknik Manufaktur bandung bergabung di Politeknik Indorama) dan Bapak Toto Sukmanto (sesudah pensiun dari Politeknik Manufaktur Bandung bergabung di SMK Prakarya Internasional Bandung) atas pengajarannya di bidang kurikulum, kompetensi, dan Lembaga Sertifikasi Profesi), dan juga kepada Bapak Jasman selaku Direktur Akademi Teknik Soroako yang menugaskan saya selepas selesai sekolah Magister untuk melakukan evaluasi terhadap kurikulum versi 2012 ATS.

 

Soroako, 19 Februari 2016

Dosen Akademi Teknik Soroako

Ir. Duddy Arisandi, S.T., M.T.

 

 

 

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 20, 2016 in Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

PENGUKURAN EFEKTIFITAS dan EFISIENSI BERDASARKAN BIAYA BERBASIS AKTIVITAS (ACTIVITY BASED COSTING) PADA RUANG LINGKUP TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI (atau P3KR : Pendidikan, Pelatihan, Produksi, Rekayasa, dan Konsultasi)

PENGUKURAN EFEKTIFITAS dan EFISIENSI BERDASARKAN BIAYA BERBASIS AKTIVITAS (ACTIVITY BASED COSTING) PADA RUANG LINGKUP TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI (atau P3KR : Pendidikan, Pelatihan, Produksi, Rekayasa, dan Konsultasi)

SEKAPUR SIRIH

Mengintegrasikan Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat merupakan suatu hal mutlak yang diperlukan dewasa ini ditinjau dari kacamata ekonomi dan pendidikan. Sampai dengan saat ini, belum didapat suatu formulasi pas yang dapat membagi berapakah idealnya prosentase yang diperlukan suatu institusi/industri atau bahkan suatu dosen/pelaku pendidikan/pelaku industri dalam menjalankan fungsi Tridharma Perguruan Tinggi / fungsi Industri Manufaktur. Selain itu, evaluasi berkesinambungan perlu dilakukan yang tidak hanya pada tahap perencanaan ataupun pada hasil akhir saja, namun ditekankan juga pada fase pelaksanaan, fase pemantauan, fase pengendalian dan fase evaluasi pasca selesainya. Sehingga perlu menentukan objek apa yang akan diukur, bagaimana cara mengukurnya, bagaimana cara mengolah data, merepresentasikan, menganalisa, dan menarik kesimpulannya.Tentunya hal tersebut dilakukan untuk tujuan continuous improvement.

Dalam era globalisasi tujuan tersebut umumnya diukur berdasarkan parameter efektivitas dan efisiensi, namun pada akhirnya tetap akan bermuara pada tujuan ekonomi berupa ‘margin profit’ dan ‘cash flow’ (dikaitkan dengan fungsi biaya, selain tujuan di luar aspek ekonomi lainnya berupa benefit). Penerjemahan Tridharma PT dewasa ini meluas seperti dikenal dengan istilah P3KR (Pendidikan, Pelatihan, Produksi, Konsultasi, dan Rekayasa). Perluasan makna tersebut diakibatkan bahwa keterlibatan dunia pendidikan tidak dapat berdiri sendiri tanpa ditopang oleh aktivitas lainnya berupa pelatihan, produksi, konsultasi, dan rekayasa, serta tanggungjawab kepada masyarakat sosial ataupun industri.

Perluasan makna tersebut memiliki konsekwensi bahwa pelaksanaan Tridharma PT / P3KR harus dilakukan secara terintegrasi, dan harus dapat mengukur obyek aktivitas maupun obyek lainnya sampai satuan terkecil melalui suatu pusat data yang tersebar di dalam struktur organisasi pada suatu institusi pendidikan ataupun industri. Sebagai persyaratan untuk mewujudkannya, maka diperlukan suatu sistem lainnya yang disebut dengan COST CENTER (Pusat Biaya) yang dapat mengelompokkan atau mengalokasikan biaya sampai ke obyek terkecil yang terkait secara langsung ataupun tidak langsung ke obyek yang akan diukur.

Kompleksnya pengelolaan Tridharma Perguruan Tinggi yang ada akan mengakibatkan bahwa Model Pengelolaan di Industri Manufaktur (baik produk maupun layanan jasa) telah terwakilkan olehnya (karena merupakan sub dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi). Untuk menguji keberhasilan kompleksitas tersebut dapat dilakukan melalui beberapa standardisasi yang berlaku dewasa ini seperti BAN PT / ISO 9001:2008 / SNI / TQM / Kurikulum KKNI /SNPT. Jika beberapa parameter yang telah distandardkan dapat diukur dan direpresentasikan dengan cepat, tepat, dan akurat, maka dapat disimpulkan bahwa Integrasi basis data yang diterapkan telah menunjang Implementasi ABC untuk menjalankan tugas Tridharma Perguruan Tinggi / Industri Manufaktur.

Seringkali kita mendengar pembicaraan / bahan guyonan berikut :

  • “Jumlah karyawan yang ada di kantor kita kurang sehingga perlu dilakukan perekrutan karyawan baru” dan “jumlah karyawan yang ada di kantor kita terlalu banyak sehingga perlu dilakukan pengurangan jumlah karyawan”
  • “Santai saja dalam bekerja, toh walaupun kerja keras ataupun kerja santai sama saja, tidak akan berdampak pada kenaikan gaji, pemberian insentif, dan bonus”
  • “Kenapa saya yang bekerja keras dalam menuangkan ide dan melaksanakannya, kok dia yang mendapatkan penghargaan ? Padahal dia menggunakan jurus ‘Taichi’ alias mendelegasikan pekerjaannya kepada bawahannya.
  • Ditinjau dari cash flow perusahaan, kondisi kita baik sekali, tetapi kenapa bonus yang diberikan tidak sebanding dengan prestasi kerja yang kita lakukan ? Kemanakah profit dan benefit yang telah diupayakan perusahaan ?
  • Perguruan tinggi kita dalam kondisi baik sekali dan bahkan telah terakreditasi dengan predikat ‘A’, tapi kenapa ada masalah dalam penerapan Tridarma Perguruan Tinggi yang selalu dikeluhkan oleh Dosen dan Tenaga Penunjang lainnya ? Kenapa masih saja ada ‘kecemburuan’ diantara dosen, tenaga pengajar, dan unsur tenaga penunjang lainnya ?
  • Apa saja sih tugas dia ? Mentang-mentang jadi pejabat bisanya hanya menyuruh saja ? Adakah strategi yang dia terapkan untuk memajukan institusi ini ?
  • Kenapa dosen di perguruan tinggi lain terbiasa di luar (bukan dosen luar biasa), sedangkan di institusi kita harus 40 jam dalam satu minggu full bekerja ? Apakah ada jaminan selama 40 jam akan digunakan dengan efektif dan efisien ? Padahal kerjaannya hanya ‘main internet saja’ dan terekam dlam sehari delapan jam koneksi internet terhubung terus.
  • Saya duluan bekerja di tempat kerja ini, tetapi kenapa dia memiliki peluang naik jabatan dan terbuka kesempatannya ? Diakan karyawan baru di Institusi ini ?
  • Kita berikan penghargaan terhadap karyawan ataupun unit yang dapat menekan biaya pengeluaran sebesar-besarnya (konsep pelit), padahal kita mengetahui bahwa ada batasan toleransi untuk menjalankan suatu aktivitas, perlu dicatat perbedaan diantara profit dan benefit.
  • Mau menggunakan sistem yang mana lagi ? Terlalu rumit dan susah mengimplementasikannya, terlalu berbelit-belit, tidak user friendly, dll.

Alternatif obat penawarnya

Sudah banyak sistem yang dikembangkan, dibeli, dan diimplementasikan dengan memakan biaya, waktu, dan pengorbanan yang tidak dapat dihitung. Sudah banyak buku, literatur, materi pelatihan, hasil penelitian yang diterbitkan untuk menjawabnya. Namun sebagian besar bersifat parsial atau hanya berlaku untuk suatu institusi saja dan tidak bersifat general, minimal bentuk generiknya.

Namun ada suatu model yang disebut dengan PUSAT BIAYA (COST CENTER) yang menurut saya akan menjadi obat penawar untuk menjawab saripati yang sulit dijawab di atas. Model dan sistem ini dibangun sudah sejak lama dengan pendekatan penerjemahan Tridharma Perguruan tinggi ke dalam aktivitas : PENDIDIKAN, PRODUKSI, PELATIHAN, KONSULTASI dan REKAYASA. Seperti layaknya pendidikan di luar sana yang menjadikan Institusi Pendidikan sebagai ujung tombak untuk melahirkan teorema-teorema baru atau teknologi-teknologi baru tepat guna. Oleh karenanya saya mencoba untuk pemaparkan tulisan ini.

Sebagai ilustrasi pengukuran : untuk mengukur satuan panjang bisa digunakan mistar plastik (kecermatan 1 mm), atau bisa menggunakan mistar ingsut (kecermatan 0.02 mm), atau bisa menggunakan micrometer (kecermatan 0,001 mm). Yang jelas semakin cermat alat ukur yang digunakan, maka harga pengadaannya semakin mahal karena kerumitan mekanismenya, ketepatan pengukurannya, kecermatan dalam pemakaiannya.

DEFINISI DAN BENTUK PENERAPAN SISTEM ACTIVITY BASED COSTING / BIAYA BERBASIS AKTIVITAS

Konsep dasar ABC berkembang pesat dan ahli manajemen biaya telah banyak mendefinisikannya. Melalui beberapa buku literatur telah dijelaskan pula manfaat atau kebaikannya, serta keberatan-keberatan terhadap penggunaan metoda ABC. Dari sekian banyak definisi yang ada maka saya utarakan definisi berikut :

Horngren, George Foster, dan Srikant Datar [Cos Accounting-A Managerial Emphasis (1993), hal 939, mendefinisikan ABC sebagai suatu pendekatan kalkulasi biaya yang fokus pada aktivitas sebagai obyek biaya yang fundamental. ABC menggunakan biaya pada aktivitas tersebut sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya ke obyek biaya yang lain seperti produk, jasa, atau pelanggan.

Kata kunci berdasarkan definisi tersebut terletak pada ‘fokus pada aktivitas’ dan ‘pengalokasian biaya ke obyek biaya’. Pemaparan kedepan merupakan langkah-langkah / persyaratan-persyaratan yang sebaiknya dipenuhi dalam menerapkan ABC.

Kata pakar ekonomi dan keuangan lainnya, ABC didefinisikan sebagai suatu metoda untuk mengukur biaya dan unjuk kerja proses yang berhubungan dengan aktivitas proses dan objek biaya; atau Penetapan biaya aktivitas berdasarkan sumberdaya yang digunakan dan penetapan biaya atas objek biaya seperti pada produk atau pelanggan berdasarkan aktivitas yang dilakukan; atau Pengakuan atas hubungan kausal pemicu biaya terhadap aktivitas, atau dll …………………

Seringkali ‘tolok ukur’ pencapaian tujuan didasarkan atas satuan mata uang (profit), dan sangat jarang memperhatikan satuan lainnya (nilai tambah selain uang) yang disebut dengan benefit. Hal tersebut terjadi dikarenakan uang mudah dihitung dan satuan lainnya sulit dikonversikan ke dalam nilai mata uang karena mungkin tidak berhubungan sama sekali. Sayangnya, keberhasilan suatu institusi ditetapkan berdasarkan profit dan benefit, sehingga perlu menerjemahkannya ke dalam bentuk alat ukur yang digunakan. Analoginya sederhana, bahwa semua alat ukur memiliki tingkat kecermatan, dan tentunya semakin cermat alat ukur umumnya harganya semakin mahal karena menggunakan teknologi yang canggih, dan kemampuannya lebih tinggi karena umumnya dapat mengukur sesuatu yang kompleks yang tidak dapat diukur oleh alat ukur biasa.

 Gambar-01_Analogi Pengukuran Geometrik vs ABC

Gambar 1. Analogi pengukuran geometric dengan biaya berbasis aktivitas (activity based costing)

Pada kondisi lainnya seringkali dijumpai bahwa uraian aktivitas tidak didefinisikan dan dibakukan dengan jelas. Sehingga menjadi bias manakala seseorang duduk di depan komputer, akan timbul pertanyaan : apakah yang sedang ia lakukan ? apakah yang ia lakukan merupakan kewajibannya sebagai seorang karyawan ? apakah yang bersangkutan dalam waktu yang sama dapat mengerjakan beberapa pekerjaan secara sekaligus waktunya ? apakah porsi waktu seorang karyawan telah dideskripsikan secara jelas dalam bentuk prosentase waktu ataupun satuan lainnya ? Pertanyaan yang terakhir adalah bagaimana cara mengukur efektivitas dan efisiensi karyawan tersebut ? (padahal semua parameternya telah dituliskan dalam kontrak kerja atau dalam peran dan akuntabilitas). Tentunya pengukuran tersebut berbeda dengan pengukuran aktivitas yang menuntut fisik kita hadir di tempat aktivitas tersebut.

 Gambar-02_Mengukur Kinerja di Depan Komputer

Gambar 2. Mengukur kinerja di depan komputer

Tidak sedikit juga institusi yang dalam memutuskan sesuatu seringkali diawali dengan rapat-rapat yang panjang. Tujuannya baik bahwa musyawarah dilakukan untuk mufakat dan mendistribusikan tanggungjawab bahwa keputusan yang diambil telah dibicarakan dan dibahas sebelumnya dengan melibatkan seluruh unsur institusi. Namun perlu dicatat apakah pencapaian tujuan rapat tersebut telah menghasilkan suatu keputusan yang tepat dan teliti ? Apa yang menjadi tolak ukur keberhasilannya ? Apakah pengukuran telah dilakukan dengan membandingkan profit dan benefit yang akan diperoleh ?

 Gambar-03_Efektivitas dan Efisiensi Rapat Kerja

Gambar 3. Efektivitas dan efisiensi rapat kerja

Banyak Institusi-institusi besar yang menyandarkan penilaian keberhasilan didasarkan hanya atas ‘selisih anggaran perencanaan dan selisih anggaran pengeluaran’ sehingga jalan yang sering ditempuh adalah upaya pengurangan biaya untuk seluruh unit pelaksana tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lainnya (manajer yang berhasil adalah manajer yang dapat menekan biaya sampai sekecil mungkin, bahkan terlihat tidak rasional ?). Pengukuran yang dilakukan pun seringkali dilakukan secara rata-rata total dalam kurun waktu tertentu, dan umumnya disandingkan dengan anggaran / budget yang telah ditetapkan. Prinsip subsidi silangpun dihilangkan dengan asumsi bahwa perencanaan yang dibuat telah matang dan tidak terpengaruh faktor eksternal.

Dewasa ini penilaian atas suatu kinerja perlu didasari berdasarkan pembagian fase-fase perencanaan, pemantauan, dan pengendalian. Yang berarti ada ukuran untuk menentukan efektivitas dan efisiensi yang diukur pada saat fase perencanaan, pemantauan, dan pengendalian. Pengukuran yang dilakukan harus dapat memisahkan kebutuhan-kebutuhan berdasarkan : mesin, tenaga kerja, departemen, kegiatan, order, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang beragam jumlahnya.

Pengukuran yang dilakukan secara detail akan memerlukan sumber basis data dan sistem pengklasifikasian umum yang berlaku di dalam dunia industri manufaktur. Rancangan sistem basis data harus cermat dan mewakili tahapan-tahapan perencanaan, pemantauan, dan pengendalian yang dilakukan yang terkait satu-sama lainnya dan menjadi pemicu munculnya biaya yang akan dihitung. Rancangan basis data yang dibuat akan mengikuti alur prosedur ‘business process’ yang akan, sedang, ataupun pengembangan kedepannya yang akan dilakukan.

Tidak jarang suatu ukuran tertentu dihasilkan melalui penggabungan beberapa aktivitas tertentu yang dilakukan oleh berbagai personal dengan pengklasifikasian yang berbeda, dan berada pada beberapa departemen yang berbeda, bahkan menggunakan beberapa sumberdaya berbeda (sangat kompleks). Penggabungan beberapa data tersebut tidak akan pernah berhasil dilakukan jika rancangan tidak dibuat berdasarkan kode/penomoran unik yang dapat mewakili seluruh elemen-elemen terkait/pembentuknya.

 Gambar-04_Pemilihan Alat Ukur

Gambar 4. Pemilihan alat ukur untuk menentukan efektivitas dan efisiensi

Setelah rancangan tersebut dibuat, perlu untuk melakukan sosialisasi berkaitan dengan implementasi sistem yang akan dijalankan. Tidak jarang untuk mengimplementasikan suatu sistem yang baru, selalu diiringi dengan gejolak-gejolak yang dikaitkan atas : rumitnya menjalankan sistem tersebut, usaha dan dampak dalam menjalankan sistem baru tersebut (riak-riak dalam suatu organisasi adalah biasa).

Namun, kita semua sepakat bahwa : untuk mendapatkan pengukuran efektivita dan efisiensi yang teliti, maka pengukurannya pun harus dilakukan secara cermat dan teliti juga. Melalui sistem yang akan diimplementasikan berikut akan menjawab tantangan tersebut (setidaknya penulis telah membuktikannya di Politeknik Manufaktur Bandung pada saat menerapkan sistem manufaktur terintegrasi yang melibatkan aktiviatas : Pendidikan, Produksi, Pelatihan, Konsultasi, dan Rekayasa/penterjemahan Tri Dharma Perguruan Tinggi ke dalam P3KR) selama tahun 2001-2004. Demikian pula penulis berkeyakinan bahwa implementasi yang dilakukan dengan benar dan tepat, dapat menjawab / penjadi obat penawar bagi penyakit kangker ganas berupa KORUPSI yang tengah marak menghiasi wajah negeri ini (yang telah menggerogoti hampir semua organ tubuh atau struktur pembentuk yang ada di negeri tercinta ini). Dan untuk menanggulanginya perlu komitment tertulis yang tegas terhadap institusi dan terlebih kepada sang Khalik tempat kita kelak akan kembali.

 Gambar-05_Komitmen Penerapan Biaya-Cost Center

Gambar 5. Komitmen tertulis dan terjemahan peta kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi

Sebelum tahapan-tahapan detil pelaksanaannya dipaparkan, saya utarakan penyakit kangker ganas yang sering hadir pada suatu institusi, yaitu menganggap bahwa bagiannya lebih penting dari bagian lainnya di dalam suatu organisasi, sehingga program pengembangan, hak-hak karyawan ingin lebih diutamakan dibandingkan dengan bagian lainnya. Ingat bahwa di dalam suatu organisasi bahwa keberadaan seluruh unsur penting (tidak akan ada aku jika dia tidak ada), dan pemberdayaan seluruh unsur merupakan suatu hal mendasar yang perlu diperhatikan (ingat teorema : indirect maintenance cost dan availability capacity for equipment). Perlu juga untuk menyadari posisi kegiatan inti, kegiatan pendukung, dan bagian mana yang berfungsi sebagai penarik/puller dari suatu kegiatan di dalam suatu institusi. Ketidaktahuan yang menyebabkan sesuatu dilakukan dan terlanggar adalah suatu bentuk kewajaran / manusiawi, namun sesuatu yang tidak dilakukan karena tahu akan dampaknya adalah sesuatu yang tidak wajar / tidak manusiawi.

 

TAHAPAN DALAM MERANCANG DAN MENGIMPLEMENTASIKANNYA:

I. PEMETAAN BAGIAN/DEPARTEMENT TERKAIT AKTIVITAS UTAMA YANG DILAKUKAN

Dalam suatu institusi, struktur organisasi akan bergantung kepada business process yang dijalankannya. Semua bagian memiliki derajat kepentingan yang sama untuk menjalankan sistem di dalam suatu institusi, dan secara garis besar dapat dipilah juga berdasarkan karakteristik unsur aktivitasnya. Berdasarkan contoh kasus maka kegiatan institusi dipisahkan menjadi dua jenis yaitu aktivitas kegiatan utama dan aktivitas kegiatan penunjang. Boleh jadi kedua aktivitas utama tersebut dilakukan oleh orang yang sama ataupun oleh departemen yang sama, begitu juga sebaliknya. Kegiatan utama tersebut dapat dipisah lagi berdasarkan bagian / departemen yang melakukannya, atau terdiri atas urutan aktivitas turunannya. Pengklasifikasian ini penting dilakukan mengingat target terhadap pengukuran efektivitas dan efisiensi tidak hanya ditujukan bagi individu pelaksananya saja, melainkan dapat juga dilakukan terhadap suatu bagian/departemen, untuk keseluruhan institusi, untuk suatu aktivitas tertentu, untuk suatu mesin/fasilitas tertentu/proyek tertentu. Penting untuk dicatat, bahwa pengadaan suatu bagian/departemen diperlukan karena ada tuntutan aktivitasnya, dan boleh jadi juga dalam rangka pendistribusian beban pekerjaan berdasarkan aktivitas yang ada pada suatu institusi.

 Gambar-06_Diagram Kegiatan Politeknik Manufaktur Bandung

 Gambar 6. Diagram kegiatan Politeknik Manufaktur Bandung

Dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, Politeknik Manufaktur Bandung mendefinisikan Kegiatan menjadi ‘Kegiatan Inti’ dan ‘Kegiatan Pendukung dan Penunjang’.

Kegiatan Inti diklasifikasikan menjadi :

  1. Pendidikan (Sub : Jurusan Mekanik, Jurusan Gambar dan Perancangan, Jurusan Pengecoran Logam, dan Jurusan Otomasi Manufaktur)
  2. Pelatihan (Sub : Tailor-Made, Modular Based)
  3. Produksi (Sub : Komponen, Perkakas, dan Mesin ; Pola dan Produk Pengecoran Logam; Gambar dan Rancangan; Mekatronika, Otomasi dan Sistem Kendali)
  4. Konsultasi (Sub : Diklat, Teknologi, Bisnis)
  5. Rekayasa/Penelitian (Sub : Rekayasa Manufaktur, Rekayasa Bisnis, Penelitian Terapan, Pengembangan Pendidikan, Pengembangan Institusi, Publikasi & HAKI)

Kegiatan Pendukung dan Penunjang diklasifikasikan menjadi :

  1. Pelayanan Administrasi (Sub : Kependidikan, Kepegawaian, Umum, Keuangan, Logistik)
  2. Pelayanan Teknis (Sub : Multimedia, Komputer, Pemeliharaan, Jaminan Mutu, Perpustakaan, Bahasa)
  3. Pelayanan Masyarakat (Sub : Pemasaran, Penjualan, Rendalprod, Humas, e. Commerce)
  4. Manajerial (Sub : Renstra & Renop, Pengembangan Manajemen, Evaluasi Kinerja, Sisinfo Manajemen)
  5. Kursus (Sub : Diklat Pegawai, Pertemuan Ilmiah, Satgas/Panitya, Perayaan)

 

II. MENENTUKAN SISTEM PENOMORAN PUSAT BIAYA.

Sistem penomoran dirancang untuk mempermudah identifikasi dan pengolahan data menggunakan perangkat lunak yang dibuat. Sistem penomoran terdiri atas:

  • Kode pusat biaya yang merupakan bagian / department yang ada pada suatu institusi
  • Kode kegiatan utama yang terdiri atas kegiatan inti dan kegiatan penunjang/pendukung.
  • Kode kelompok kegiatan yang merupakan penjabaran dari kegiatan utama. Seperti kegiatan utama pendidikan terdiri atas kode kelompok kegiatan : persiapan, pelaksanaan teori, pelaksanaan praktik, bimbingan, evaluasi, ektra kurikuler / kemahasiswaan.
  • Kode jenis kegiatan merupakan penjabaran detail dari kelompok kegiatan seperti pada kelompok kegiatan perencanaan dan pengendalian produksi (PPC) yang dijabarkan menjadi kegiatan : analisis spesifikasi / fabrikasi; estimasi harga dan waktu; perencanaan bahan, alat/mesin, proses, personil, jadwal; pengendalian/kontrol proses.

Kegiatan dapat diklasifikasikan juga berdasarkan aktivitas operasi yang dilakukan pada suatu mesin/fasilitas tertentu.

 Gambar-07_Penomoran Pusat Biaya

Gambar 7. Penomoran pusat biaya

Pada pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, akan memungkinkan terjadi beberapa kondisi berikut :

  1. Suatu kegiatan utama yang sama dilakukan oleh beberapa unit pelaksana yang berbeda.
  2. Beberapa kegiatan berbeda dilakukan oleh unit kegiatan yang sama.
  3. Beberapa pelaksana melakukan beberapa aktivitas dalam suatu rentang waktu tertentu yang sama atau bahkan berbeda dalam suatu kelompok tertentu seperti kegiatan fungsional dosen.
  4. Suatu kegiatan utama dapat ditunjang pelaksanaannya dengan melibatkan berbagai jenis fasilitas atau mesin tertentu.

Semakin detail penjabaran suatu aktivitas dilakukan maka akan semakin cermat kita dalam melakukan pengukuran efektivitas dan efisiensi, sehingga semakin besar pula peluang kita untuk melakukan perbaikan yang dapat ditinjau dari berbagai aspek. Tujuan akhir kita adalah terkait dengan profit dan benefit. Tidak selamanya benefit yang kita inginkan akan sejalan dengan profit yang diinginkan. Hal tersebut terjadi dikarenakan nilai tambah yang ada dari pengolahan suatu bahan baku tidak selamanya dapat dinyatakan dalam bentuk satuan rupiah, terkadang untuk memenuhi suatu persyaratan legal aspek maka akan dikeluarkan biaya untuk mengadakannya. Sebagai salah satu contoh benefit adalah : dihasilkannya lulusan yang siap kerja, siap bersaing di bursa tenaga kerja. Ukuran keberhasilan adalah jumlah mahasiswa yang diterima bekerja setelah lulus (sulit untuk dikonversikan menjadi rupiah), dan yang mudah dihitung adalah biaya-biaya melalui program yang telah direalisasikannya, sehingga tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa lembaga pendidikan hanyalah beban pemberat bagi suatu institusi penyandang dana (karena tidak terlihat profitnya). Tantangan kita kedepannya adalah bagaimana mengkonversikan sehingga profit dan benefit akan sejalan (walaupun berat dan tidak sama untuk semua kasus yang terjadi). Minimal memenuhi persyaratan peran dan akuntabilitas yang ada, bahwa benar untuk suatu posisi tertentu dengan uraian aktivitas yang telah ditentukan, semuanya telah dilakukan berdasarkan uraian aktivitas yang ada. Semuanya terekam dengan jelas, tidak mengada-ngada dan tidak dibuat dalam sesaat saja (seumpama 1 x untuk satu tahun aktivitas yang telah dilakukan). Demikian juga dengan pencapaian program kerja, terutama yang menyangkut legal aspect (statutory dan mandatory)

 Gambar-08_Daftar Kegiatan

Gambar 8. Daftar kegiatan

Pada pelaksanaannya, ‘Penomoran Pusat Biaya’ belum mampu untuk memisahkan kode secara spesifik berbasis jenis objek yang akan diukur, sehingga diperlukan pelengkap berupa identitas nomor order yang secara spesifik menunjukkan ciri suatu obyek tertentu, seperti :

  1. Pengkodean Mata Kuliah tertentu sebagai nomor order. Kode tersebut dapat memisahkan : semester pemberian mata kuliah, jumlah SKS mata kuliah bersangkutan, dan pengelompokkan mata kuliah.
  2. Pengkodean Nomor Order berdasarkan Kode Kegiatan Utama seperti contoh berikut:
  •  Permintaan penawaran harga dari pemesan yang dilakukan secara tertulis ke POLMAN di bawah tanggung jawab Unit Pemasaran dan Penjualan (UP2) yang merupakan bagian dari Pusat Pelayanan Masyarakat (PPM). Permintaan penawaran harga tersebut didukung dengan spesifikasi/kriteria, dan/atau contoh produk, dan/atau gambar kerja, dan/atau data CAD (Computer Aided Design). Setiap permintaan penawaran harga yang diterima oleh UP2 diberi nomor kode unik melalui tatacara tertentu.
  • Tidak semua penawaran harga akan sesuai dengan yang diharapkan pelanggan, sehingga akan ada beberapa penawaran harga yang ditolak oleh pemesan ataupun ada beberapa penawaran harga dalam status diterima pemesan (conform). Tata cara penomoran untuk status penawanan yang conform telah distandardkan juga untuk tracking history, seperti :
  • Jenis Pekerjaan, yang diklasifikasikan berdasarkan kegiatan yang dilakukan POLMAN. Klasifikasi tersebut adalah: Production (P), Training (T), Engineering (E), Consultancy (C).
  • Pelaksana, yang diklasifikasikan berdasarkan nama divisi / jurusan pelaksana yang akan melakukan kegiatan tersebut. Divisi pelaksana diklasifikasikan menjadi: Gambar dan Perancangan (G), Foundry (F), Mekanik (M), Otomasi (O), Unit Kerja Lain (L).
  • Nomor oder, yang merupakan nomor permintaan penawaran harga. Nomor tersebut dapat sama dengan nomor permintaan penawaran harga jika untuk satu permintaan penawaran harga terdapat satu jenis produk pesanan ataupun berbeda dengan nomor permintaan penawaran harga. Perbedaan tersebut terjadi jika untuk suatu permintaan penawaran harga terdapat beberapa jenis pesanan.
  • Klasifikasi, berdasarkan huruf kependekan jenis kegiatan ataupun jenis pesanan. Klasifikasi tersebut adalah: General (G), Laboratorium (L), Training (T), Benda tuangan (F), Pola (O), Jig/Fixture (J), Design (D), Konsultasi (K), Mould (M), Dies / Presstool (P), Repair (R), Standarting (S).

 

III. SISTEM PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Merancang sistem yang baru akan mudah dilakukan oleh ahli-ahli yang terdapat di institusi, namun dalam mengimplementasikannya tidak semudah membalikan telapak tangan. Perlu pemahaman dan kesadaran yang komprehensip, ke arah mana pengukuran akan dilakukan, dan siapkah perangkat yang kita miliki untuk menerjemahkan hasil pengukuran yang kita lakukan. Ingat bahwa tujuan pengukuran adalah untuk menentukan apakah suatu objek ukur berada di dalam daerah toleransi yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika didapat produk jelek apa yang harus dilakukan, dan sebaliknya jika didapat produk bagus maka apa yang harus dilakukan.

Berdasarkan pengalaman penulis tidak sulit untuk mengumpulkan seluruh data yang berasal dari seluruh karyawan “A” sampai dengan “Z”, termasuk didalamnya mahasiswa dan peserta magang (karena terkait dengan kediplinan). Sistem informasi dapat dirancang dengan mudah termasuk dalam implementasi pengumpulan data dan pengolahannya. Yang jelas perangkat lunak yang akan digunakan dapat mengintegrasikan kebutuhan institusi yang multi dimensi dan terkait erat satu sama lainnya. Pengolahan data berikut representasinya harus dapat mengungkap status kegiatan pada fase perencanaan, pemantauan, dan pengendalian. Upaya pencegahan dan tindakan koreksi memungkinkan dilakukan jika didapat suatu aktivitas telah menyimpang dari apa yang telah ditetapkan di awal.

 Gambar-09_Skematik Pengukuran

 Gambar 9. Skema pengukuran terintegrasi

IV. UJICOBA IMLEMENTASI (STUDI KASUS PROFIT SUATU AKTIVITAS)

Dewasa ini sustainability menjadi salah satu kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu institusi pendidikan untuk menjamin keberlangsungan pelaksanaan kedepannya. Kita sadari bahwa subsidi yang berasal dari pemerintah sangat terbatas dan sampai kapankun pemerataan tidak akan pernah tercapai tujuannya mengikat variasi yang kental di dunia pendidikan. Sehingga salah satu alternative adalah menjadikan institusi pendidikan menjadi profit center selain benefit center (mohon dibedakan antara profit untuk dosen dan untuk institusi)

Berbagai aktivitas dilakukan oleh institusi pendidikan untuk mendapatkan income tambahan untuk memenuhi biaya operasional dan pengembangan institusi. Umumnya aktivitas yang dilakukan terkait dengan pendidikan, pelatihan, produksi, rekayasa, dan konsultasi. Setiap institusi yang ada memiliki peta kekuatannya masing-masing yang dikaitkan dengan peta kondisi industri dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Core business akan ditetapkan oleh institusi pendidikan dengan mempertimbangkan berbagai hal. Layaknya budaya industri akan ada aktivitas unggulan yang akan dijadikan inti untuk mendapatkan profit.

Namun sayangnya, budaya industri yang ada tidak diikuti semuanya (salah satu yang kental adalah pengukuran terhadap efektivitas dan efisiensi kegiatan yang dilakukan). Mungkin hal tersebut diakibatkan dana yang diperlukan untuk pengukuran cukup besar (umumnya industry karena core activitynya sudah jelas tidak akan sungkan untuk mengimplementasikan perangkat lunak dengan biaya yang besar, sedangkan institusi pendidikan masih berfikir seratus kali untuk pengadaannya dikarenakan kebingungan akan mencari sumber dana dari mana).

Akibatnya adalah seringkali aktivitas unggulan di institusi pendidikan bukannya menjadi unggulan seperti yang telah direncanakan sebelumnya, bahkan menjadi cost expensive besar yang harus ditanggung oleh seluruh karyawan yang ada di institusi pendidikan. Untuk menghindari hal tersebut maka dirancangkah pengukuran yang cermat yang suatu saat dapat dilakukan pada fase perencanaan, pemantauan, pengendalian, dan pasca aktivitas tersebut dilakukan.

Seringkali mata hanya tertuju pada sesuatu yang dapat dinilai secara rupiah seperti pembelian mesin, alat bantu, fasilitas, dan material. Sedangkan aktivitas sangat jarang diukur, kenyataannya bahwa biaya pemrosesan akan memakan biaya yang besar. Sehingga penting dilakukan pengukuran terhadap aktivitas suatu kegiatan yang kelak akan dikalikan dengan rate activity per hour. Sehingga di akhir tujuan, profit dan benefit dari suatu kegiatan dapat disimpulkan hasilnya, dan sebagai bahan untuk perbaikan dikemudian hari.

  Gambar-10_Contoh Kasus Post Calculation

Gambar 10. Contoh kasus pengukuran profit pada post calculation

 V. UJICOBA IMLEMENTASI (STUDI KASUS BENEFIT SUATU AKTIVITAS)

Peran seorang dosen, guru, dan tenaga pengajar sangat penting untuk menghasilkan mutu lulusan yang kompeten. Dalam proses pembelajaran, mutu / kualitas mahasiswa ditentukan dalam bentuk assessment berupa pemberian quiz, test, tugas, midterm examination, final examination. Pengukuran dilakukan secara berjenjang, terstruktur untuk memastikan kualitas mahasiwa. Mahasiswa dengan predikat lulusan terbaik diberi penghargaan, sedangkan yang berpredikat kurang baik diberikan pembinaan untuk menjadi baik. Kualitas mahasiswa yang baik merupakan cerminan dari institusi yang baik dalam pengelolaannya.

Namun seringkali dijumpai bahwa cerminan pengukuran terhadap kualitas mahasiswa bukan merupakan tipikal dari dosen yang membentuknya. Mahasiwa sering menjadi objek pengukuran (untuk kelulusan), namun tidak demikian dengan dosen, terkadang marah dan merasa waktunya terbuang pada saat mempersiapkan data pengukuran, padahal sudah jelas fungsi dan tanggungjawabnya (terlebih bagi yang sudah disertifikasi dosen). Padahal dikti sudah menyiapkan perangkat terintegrasi untuk menilainya, tinggal kesiapan institusi pendidikan masing-masing untuk menerjemahkannya yang disesuaikan dengan kondisi lokal institusi yang ada. Sehingga penting bagi institusi pendidikan yang ada untuk meningkatkan budaya efektif dan efisiensi melalui suatu rancangan sistem yang terintegrasi, yang dapat melakukan pengukuran secermat dan seteliti mungkin.

Bagi institusi yang telah tersertifikasi ISO tentunya faham benar, bahwa alat ukur yang digunakan harus dikalibrasi oleh badan yang berwenang. Kalibrasi suatu alat ukur dilakukan dengan jalan menggunakannya untuk mengukur suatu acuan / master kalibrasi yang memiliki grade lebih tinggi. (Silahkan disimpulkan, akan dikalibrasi terhadap apakah alat-alat pengukur efektivitas dan efisiensi suatu aktivitas yang diterapkan di suatu institusi pendidikan ? ? ?)

 Gambar-11_Rekam Jejak 1991-2004_Duddy Arisandi

Gambar 11. Contoh kasus pengukuran benefit post Activity

 PENUTUP

Gaung ketrampilan menjelang 2020 dan isu MEA 2015 (Masyarakat Ekonomi Asia) sudah pas berhadapan di depan kita. Ini merupakan perjalanan dan strategi jangka panjang. Jauh-jauh hari DIKTI telah mengingatkan kita dan menyiapkan strategi panduan bagi kita, namun belum semuanya siap seperti sesuai yang telah direncanakan. DIKTI akan berjalan seperti kereta cepat yang tidak akan menoleh kepada penumpangnya yang terlambat, dan memiliki senjata ampuh dan canggih berupa multy layer policy yang akan diterapkan berlapis, berjenjang, dan terintegrasi. Tentunya kita berharap bahwa upaya-upaya kecil yang dilakukan per individu atau berkelompok akan membangunkan bangsa yang sedang tertidur ini lewat upaya revolusi mental dan kerja keras. Termasuk kesiapan institusi pendidikan untuk berperan aktif melalui penyiapan program kerja dan rencana penganggarannya. Apapun wujudnya akan memiliki esensi yang sama, alias itu-itu juga ji. Namanya keris pusaka, yang akan semakin tajam dan mengkilap apabila diasah. Walaupun terkubur lama dan berkarat tetaplah namanya keris pusaka yang memiliki petuah, dan siapapun yang akan menemukannya kelak tetap akan mengasahnya dan mempertajamkannya kembali, karena ia adalah keris pusaka berpetuah.

UCAPAN TERIMAKASIH

Tulisan ini dibuat untuk tujuan berbagi karena penulis telah mencerna benar apa manfaat yang terkandung di dalamnya. Penulis menghaturkan terimakasih yang tak terhingga kepada :

  1. Bapak M. Iskandar Nataamijaya (Direktur Politeknik Manufaktur Bandung thn 2001) yang telah menugaskan penulis untuk ‘Membangun Sistem PPC Terintegrasi’ lewat secarik kertas note tulisan tangan yang masih penulis simpan sampai saat ini.
  2. Seluruh jajaran peserta Rapat Pimpinan Politeknik Manufaktur Bandung yang selalu setia rapat Setiap Hari Rabu dengan peserta lebih dari 20 orang.
  3. Teman-teman di seluruh jurusan dan unit yang membantu dengan langsung ataupun dengan kritis terhadap proyek ini, termasuk team penghasil buku cost center.
  4. Bapak Agus Widarsa, Bapak Yoyok, Bapak Budi, Bapak Pramudia Hartadi, Ibu Wiwiek Djunaedi, Ibu Yanti, atas kemudahan untuk mengakses data-data yang diperlukan untuk kebutuhan proyek ini.
  5. Bapak Indra Djodikusumo yang telah memberikan ilmu dan kesempatan mempelajari Sistem Produksi khususnya Perencanaan dan Pengendalian Produksi.
  6. Teman-teman seperjuangan di Bungker FTI-ITB yang menggeluti sistem produksi : Hidayat Rudyanto, Boni, dan Ampala Kharyatun.

Tiada gading yang tak retak, penulis menyadari kelemahan yang ada pada diri penulis sehingga tetap perlu diberi masukan yang membangun. Dan penulis dengan senang hati jika suatu saat diperlukan sebagai rekan diskusi terkait topic yang dibahas. Jika diperlukan, buku cost center Polman dapat didownload pada menu Sistem Manajemen Mutu Pendidikan.

 

Wassalam

Soroako, 25 Desember 2015

Duddy Arisandi

Akademi Teknik Soroako

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 25, 2015 in Pendidikan, Sistem Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

POLITEKNIK MASA DEPAN (POLYTECHNIC, THE FUTURE), Dari GTM (Gambar Teknik Mesin) Menuju TRIZ (Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadach) / TIPS (Theory of Inventive Problem Solving)

POLITEKNIK MASA DEPAN (POLYTECHNIC, THE FUTURE), Dari GTM (Gambar Teknik Mesin) Menuju TRIZ (Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadach) / TIPS (Theory of Inventive Problem Solving)

SEKAPUR SIRIH “PARADIGMA dan HARAPAN BARU”

Menapaki jalan melalui rangkaian institusi pendidikan yang berbeda telah menyadarkan saya bahwa ada keterkaitan diantara jalur pendidikan professional dan jalur pendidikan akademik. Keduanya saling melengkapi dengan sifat mutualis simbiolisma untuk menghasilkan terobosan baru di bidang pendidikan teknik mesin. Ternyata pemikiran yang bersifat parsial dapat mengakibatkan kaburnya pandangan dan bahayanya dapat mengakibatkan kesalahan arah dalam penentuan kebijakan pendidikan tinggi. Sudah selayaknya kolaborasi dan sifat integralistik yang menembus dimensi ke-empat dilakukan secara nyata untuk membangun negara ini. Mari kita berkaca terhadap kondisi aktual yang terjadi di lingkungan pendidikan tinggi (khususnya teknik mesin) berikut :

  • Seberapa banyak karya cerdas mahasiswa yang dituangkan dalam bentuk tugas akhir, thesis, ataupun disertasi dapat menjadi produk inovatif yang berjaya saing di negeri ini sehingga nilai tambahnya dapat dirasakan dengan nyata ?
  • Seberapa banyak karya tersebut yang dapat diteruskan menjadi produk masal yang digunakan oleh masyarakat bangsa ini dan bernilai jual ? Hampir dapat dikatakan bahwa sebagian besar karya tersebut tertata rapi di rak pada ruang perpustakaan institusi pendidikan, dan tanpa ada kelanjutannya, dan hanya berupa torehan di katalog perpustakaan bahwa penelitian tersebut pernah dilakukan.
  • Seberapa banyak produk rancang bangun atau hasil rekayasa peniruan yang dapat dipatentkan (Hak Atas Kekayaan Intelektual) ? Jangan-jangan karena ketidakberdayaan sistem pendidikan atau dosen pembimbing, produk yang dihasilkan tersebut merupakan jiplakan dari produk yang telah beredar di masyarakat. Bukankah disebut dengan karya intelektual ? (yang seharusnya originalitasnya tidak hanya dilihat dari karya tulisnya semata namun originalitasnya dilihat juga dari sisi apakah melanggar patent yang ada). Dan seberapa banyak produk yang dihasilkan memenuhi gudang untuk siap dibuang atau bahkan di jual dengan harga kiloan (tidak ada added value) ? Jangan-jangan mahasiswa diajak menjalani alur berfikir bahwa pembuatannya hanya ditujukan untuk mendapatkan nilai mata kuliah saja.
  • Bukankah bahasa komunikasi seorang mechanical enginer berupa gambar tenik ? Namun kerapkali dijumpai bahwa bahasa tersebut hanya merupakan bahasa pemanis saja untuk menghadirkan produk hasil rancang bangun ataupun rekayasa peniruan (silahkan dibuktikan sendiri dengan mengambil sekumpulan gambar dan lakukan pengecekan terhadap kondisi datum feature, datum reference frame, pengendalian geometrik, dan lain-lainnya), yang seharusnya mengikuti suatu kaidah seperti Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan ? Kenapa permasalahan ini begitu serius dan terjadi pada multi disiplin ilmu, multi perguruan tinggi, dan multi industri. Dimanakah letak permasalahannya ? Bukankah bahasa tersebut bersifat universal dan menembus tatanan antar bangsa ?
  • Seringkali dijumpai bahwa terjadi segmentasi fungsi pekerjaan bahwa untuk urusan pembuatan serahkan saja pada lulusan diploma, dan untuk urusan perhitungan ataupun analisis serahkan saja pada lulusan akademik. Padahal melalui hasil rancang bangun ataupun rekayasa peniruan yang dilakukan kedua jenis lulusan tersebut memiliki alur proses yang pasti sama (manufacturing process), dan timbul pertanyaan : dimanakah letak garis perbedaannya ? Apakah pengelola pendidikan memahaminya bahwa lulusannya kelak akan berstatus sebagai mechanical engineer ?
  • Sangat memungkinkan terjadi bahwa beberapa spesialisasi program studi akan tertarik pada suatu topik pengembangan produk. Saya jumpai kasus dalam rancang bangun atau rekayasa peniruan terhadap turbin, dimana spesialisasi konversi enerji menghasilkan suatu kajian produk, spesialisasi fluida dinamik menghasilkan suatu kajian produk, spesialisasi perancangan menghasilkan suatu kajian produk, spesialisasi produksi menghasilkan suatu kajian produk. Yang mana semua kajian produk tersebut sama, hanya kedalaman pokok kajiannya yang berbeda, terbesit di dalam fikiran saya : andai kolaborasi itu dilakukan dengan saling mengayakan maka akan lahir suatu produk inovatif yang kompetitif dan menjadi kebanggaan bangsa ini.

Ternyata masalah tersebut dapat dicari penyebab dan penawarnya, dan salah satunya saya dapati pada tulisan lama yang akan saya paparkan berikut : (ditulis oleh beliau yang berjasa bagi pertumbuhan dan perkembangan pendidikan jalur profesional di Indonesia, dan saya selalu menyebutnya dengan Bapak Politekniknya Indonesia yaitu Bapak Hadi Waratama). Semoga pemaparannya dapat bermanfaat dan membuka paradigm / pola fikiran baru yang akan menyadarkan atau mengembangan pendidikan tinggi di Indonesia (yang terkadang tertidur lelap dibuai mimpi-mimpi indah).

POLITEKNIK MASA DEPAN / POLYTECHNIC, THE FUTURE

(ORASI ILMIAH)

Oleh

Ir. Hadiwaratama, M.Sc.

PENGANTAR

Saya tidak akan mengulangi lagi mengapa Politeknik didirikan di Indonesia sejak Politeknik manufaktur Bandung (POLMAN Bandung) dibuka pada tahun 1975 yang lalu, karena khalayak sudah mafhum adanya. Yang lebih penting adalah bagaimana Politeknik akan menapaki masa depannya.

Dengan diundangkannya UU Pendidikan Tinggi No.12 tahun 2012, maka kita semua wajib memaknainya secara visioner dan konsepsional yang komprehensip dan tajam dalam mereka masa depan kita. Tak ayal lagi, pengalaman nyata dalam perjalanan karyanya selama 37 tahun Politeknik, akan merupakan modal yang paling berharga dalam menoreh lintasan dan capaian kurva masa depannya.

Undang Undang Pendidikan Tinggi tersebut membukakan pintu bagi Politeknik untuk menentukan dan membangun kurva barunya yang bukan merupakan kelanjutan, apalagi linier, dari kurva sebelumnya.

Gambar-1_Kurva Masa Depan PoliteknikGambar 1 (kurva masa depan politeknik)

Belum lama kita menyaksikan di Australia, bagaimana TAFE College (~Politeknik Indonesia saat ini) beralih dari suatu model kurva ke model kurva berikutnya, sampai model kurva baru yang ditapakinya saat ini. Mereka ini awalnya merupakan TAFE College, kemudian berubah status jadi College of Advanced Education, yang bermula dari menyelenggarakan pendidikan S1 dan dikemudian hari juga berlanjut sampai jenjang S2 dan dimana akhir-akhir ini berubah status sebagai full university sampai penyelenggaraan pendidikan S3, dengan identitas University of Applied Science, dari yang sebelumnya Institute of Technology.

Gambar-2_Model Kurva TAFE CollegeGambar 2 (perubahan model kurva pendidikan TAFE College)

POLMAN ini juga pernah dicibir sebagai STM+ , karena mungkin ada STM-, tapi dengan tegarnya jalan terus, karena itu yang dikendaki dunia ekonomi.

MIT-Massachusetts Institute of Technology di AS yang merupakan Top-Markotop nya Pendidikan Tinggi Teknologi dunia juga berawal seperti POLMAN ini, dicibir sebagai craft school pula. Kalau saja di AS saat itu ada STM, mungkin dibilang STM+ juga ? Disiplinnya juga sekeras Polman !

Gambar-3_Model Kurva MITGambar 3 (perubahan model MIT)

Seorang insinyur manca Negara, lupa dari mana, saat berkunjung ke POLMAN pernah mengatakan “Suatu saat kelak, Politeknik anda ini pasti akan menjadi Institut Teknologi”. Anda pasti tahu MIT, orang di Negara mana pun pasti tahu, MIT pada awalnya juga persis seperti sekolah anda ini. Saya hanya jawab “terima kasih”, karena hal itu belum pernah terlintas di benak saya. Saya hanya teringat motto POLMAN, Presisi Ciri Kami, itu melambangkan sikap dan hasil sebuah karya, yang ternyata terbukti dan teruji.

Dalam perwujudan apakah itu ? Learning by doing ! Tepatlah Adigium Ki Hajar Dewantara, tokoh kalau bukan Bapak Pendidikan nasional Indonesia : Ilmu tanpa laku/terapan……kosong, Laku/terapan tanpa ilmu…….kerdil. Aslinya dalam Bahasa Jawa : Ngelmu tanpa laku khotong, Laku tanpa ngelmu cupet.

Gambar-4_Learning by DoingGambar 4 (Learning by doing)

GERBANG MENUJU KURVA BARU

UU Pendidikan Tinggi No.12 tahun 2012 merupakan pintu gerbang bagi Politeknik untuk membangun kurva dan lintasan barunya, yang bukan kelanjutan linier dari kurva yang selama ini ditapakinya. UU tersebut secara umum memberikan kesempatan bagi politeknik untuk mengubah statusnya menjadi full university seperti yang terjadi di Australia, yang sebenarnya juga diikuti oleh lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi Fachhochschule di negara-negara berbahasa Jerman di Eropa, bahkan di Inggris telah lebih lama mendahuluinya, politeknik-politeknik yang sekarang berstatus sebagai universitas penuh. Di AS mungkin sedikit berbeda, kita sulit membedakan antara yang namanya University of Politechnic dan Polytechnic Institute dengan University lainnya, bahkan sebagian berperingkat kelas atas dunia, seperti Rensselaer Polytechnic, Brooklin Polytechnic (Polytechnic Institute of New York University), dll. Yang di Australia dan Negara-negara berbahasa Jerman, termasuk Belanda, menyebut perguruan-perguruan tinggi tersebut sebagai University of Apllied Science. Bisa saja di Indonesia juga akan seperti di AS, yang fokus seperti POLMAN ini akan disebut Institut Politeknik, sedang yang melebar multi program sampai ilmu-ilmu non keteknikan disebut Universitas Politeknik. Kapankah itu akan terjadi ? tergantung kesiapan masing-masing, baik dari tenaga dosen maupun infrastruktur yang diperlukan, terutama fasilitas laboratorium, bengkel maupun studionya.

Gambar-5_Negara-Negara dengan Kurva BaruGambar 5 Negara-negara yang memanfaatkan kurva baru

Seperti yang sekarang telah dilakukan dengan program-program D4-nya yang terkesan sebagai lanjutan linier D3 yang add on sifatnya, selama memenuhi jumlah sks (satuan kredit semester) sebanyak 144-160 sebagai persyaratan kelulusan pendidikan D4 yang berhak menyandang gelar SST (Sarjana Sains Terapan). Bilasaja nanti politeknik akan betul-betul membangun kurva barunya, maka sudah selayaknya mendefinisikan ulang visi-misi kedepannya secara visioner-konseptual-dan saksama dalam menerjuni penghidupan masyarakat dunia yang semakin berlandaskan ilmu pengetahuan dengan dinamika perubahan yang semakin cepat saja. Ini benar-benar masalah yang amat sangat serius bila Negara bangsa ini mau maju, dimana Politeknik akan ikut berperan didalamnya, jangan sampai tergoda oleh sekedar jumlah angka sks yang membuat terlena dari hakiki tujuannya. Dengan kurva baru tersebut, masih akan mampukah, lebih tepatnya maukah politeknik menyelenggarakan program D3 secara fokus dan serius penuh dedikasi seperti sampai saat ini ? Sayang dan maafkan kalau saya meragukannya ! Sejarah membuktikan, lembaga-lembaga yang telah berubah statusnya menjadi Universitas penuh seperti di Australia, pendidikan diplomanya menjadi kegiatan halaman belakang dengan mesin-mesin dan peralatan lamanya, yang hampir-hampir tiada technology updating, bahkan tak ada kaitan atau hubungannya sama sekali dengan kegiatan program-program di kurva barunya.

Mereka membangun identitas dan kebanggaan baru sesuai kurva yang ditapakinya. Mari kita bersikap jujur terhadap motivasi kita sebagai manusia berakal dan berjiwa sehat, tak perlu penuh kepura-puraan. Tetapi selama kita masih di kurva yang lama, mari kita lakukan secara bertanggungjawab, fokus penuh dedikasi. Jangan terlena, mentang-mentang ada gerbang baru !

AKADEMI KUMUNITAS

Mungkin sekali nama Akademi Komunitas yang telah diundangkan dalam UU Pendidikan Tinggi tersebut memang terinspirasi oleh Community College di AS, yang saat ini bahkan telah menyelenggarakan program-programnya dari 2 tahun menjadi 3 tahun, seperti D3 Politeknik kita saat ini, bahkan menjadi gerakan nasional yang dimotori oleh pemerintahan Presiden Barack ObamaIndustri Asosiasi Profesi dan unsur-unsur masyarakat lainnya. Ini disebabkan kenyataan bahwa dalam menghadapi persaingan global, industry-industri AS semakin kekurangan teknisi mahir, sehingga industri-industri mereka semakin off-shoring ke negara-negara lain yang melimpah tenaga terampilnya, di samping mendekati pasar produk-produknya. Untuk menarik kembali off shored industries tersebut dilakukan reonshoring, sehingga untuk bisa memberikan kembali kepada rakyatnya, maka AS menggalakkan pendidikan Community College-nya. Beda dengan AS, Australia tetap mempertahankan dan memperkuat TAFE College nya (Technical and Further Education) sebagai sumber pasok teknisi-teknisi mahir sampai D3, terlepas sama sekali dari domain Pendidikan Tinggi, sekalipun mereka mengadopsi seamless education system. Di TAFE College itulah investasi-investasi dan updating teknologi dilakukan untuk pendidikan Diploma, bukan di tempat-tempat yang sudah menjadi Universitas penuh, dimana memerlukan investasi massif yang berbeda.

Gambar-6_Contoh Gerakan Nasional Pendidikan di AmerikaGambar 6 Contoh Community Colege di Amerika

Haruskah khawatirkah kita bila memilih kurva baru kelak ? Tidak…..! Selama Akademi Komunitas bersosok seperti TAFE College atau Politeknik Kurva lama saat ini. Yang justru pantas kita khawatirkan adalah konotasi Akademi itu, yang orang dapat saja memaknainya sebagai kegiatan teoritis akademis-yang penting memberikan D2 ! Pada hal itu harusnya bersosok Community College AS atau TAFE College Australia ! Mudah-mudahan bangsa ini mampu memaknai system yang diciptakannya, dan mampu mencegah tergesernya Akademi Komunitas ke kegiatan halaman belakang rumah tanpa bobot identitas dan kebanggaan. Jer basuki mawa beya ! Tak ada kesejahteraan tanpa biaya. Legitimasi saja tidak cukup. Akademik dan Terapan, agak abu-abu, kalau akademik itu dipisahkan dari terapan, terlebih untuk engineering dan technology, keduanya merupakan kesatuan utuh antara mind dan doing, mind saja ngalamun (kosong), doing saja kerdil, sekalipun paling tidak ada hasil nyatanya yang bermanfaat, tapi sulit untuk berinovasi kompetetif untuk tatanan antar bangsa.

Inilah yang saya maksud Politeknik harus mendefinisikan kembali visi-misi dan tujuannya, manakala kelak mau menapaki kurva barunya, menganalisa kembali kekuatan dasarnya-budaya laku/doing yang sudah solid dimiliki sepanjang sejarahnya, kelemahan yang harus diatasi, kesempatan dan tantangan yang perlu diantisipasi, penuh kecermatan perhitungan, tak perlu nggege mongsa, tergesa-gesa seolah-olah dunia akan berakhir besok.

KURVA BARU POLITEKNIK

Saya pernah menulis Birupun semakin putih – yang biru semakin biru, maknanya pekerjaan-pekerjaan yang tadinya mengandalkan kemahiran tangan itu semakin bergeser ke arah mengandalkan kecerdasan, scientific mind, sedang yang tersisa memerlukan kemahiran atau ketrampilan yang semakin tinggi pula. Lantas di kurva baru nanti, Politeknik pilih yang mana ? Dua-duanya ! Bangun identitas dan kebanggaan baru yang kompetitif-berani tampil beda ! Itulah hakikat kompetitif. Perkuat budaya penalaran/mind dan pertahankan budaya Laku/hand doing.

Gambar-7_Fase Kurva Baru Polman BandungGambar 7 Jenis kurva baru politeknik

Bila demikian halnya, maka apapun yang kita bicarakan di kelas, harus terverifikasi dalam kegiatan experimental laboratorium atupun bengkel, yang selanjutnya diterapkan dalam karya nyata. Karena hanya dari akumulasi ilmu dan lakulah maka inovasi akan terjadi, yang takkan datang tiba-tiba bagai angin lalu di kehampaan ! Politeknik harus selalu berada di bidang pertemuan induktif dan deduktif, itulah makna kedua-duanya di atas. Jadi kurikulum Politeknik di kurva barunya, harus mengacu pada falsafah di atas, jangan sampai hanya merupakan tempelan-tempelan mosaik mata-mata kuliah sebanyak sks yang disyaratkan. Mampukah demikian ? Harus mampu, dulu juga diciptakan dari tiada menjadi ada ! Itu berlaku baik yang untuk S1, S2, maupun S3 Politeknik. Jangan bedakan putih saja dan biru saja, dua-duanya menyatu bila POLMAN ingin tampil beda dalam karyanya. Itulah karakter MIT ! Jeli dalam melihat kecenderungan masa depan industri dan teknologinya, terlebih-lebih bagi POLMAN yang fokus pada ranah manufaktur. Material baru yang dikembangkan pesat itu akan semakin besar perannya dalam sektor manufaktur dan memerlukan teknik-teknik manufaktur baru, substracting technology akan semakin dikurangi perannya oleh additive manufacturing, demikian pula di sektor foundry akan menghadapi paduan-paduan dan sifat-sifat baru. Demikian pula di sektor otomasinya yang akan membuat pemesinan semakin cerdas, cepat, dan flexible dengan precise netshape dan nyaris zero downtime. Tantangan-tantangan ke depan ini tentu memerlukan antisipasi terlebih-lebih dalam kemampuan inovasi. POLMAN harus bersemangat dan berjuang keras untuk tidak hanya menjadi leader dalam manufacturing engineering and technology di tanah air, tapi juga dalam tatanan antar bangsa. Dan itu harus fokus dan tekun, tidak melebar kemana-mana. Semoga !

Wassalam

Hadiwaratama

Disampaikan pada Sidang Terbuka

Senat Politeknik Manufaktur Negeri Bandung

Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2012/13

Bandung, 28 agustus 2012

ANTISIPASI MASALAH SEJAK DINI MELALUI PENGENALAN METODA BARU

Masalah utama yang pertama : Sudah umum terjadi dalam dunia teknik mesin di Indonesia, bahwa rancang bangun / rekayasa peniruan produk ditujukan terhadap pemenuhan fungsi semata, tanpa memperhatikan kaidah tata bahasa / pedoman acuan didalam pembuatan gambar teknik (silahkan dibuktikan apakah betul di dalam gambar produk yang diajarkan / dihasilkan terdapat suatu proses optimasi terhadap kebutuhan pengendalian geometriknya). Kondisi bertambah parah pada saat menular ke dunia industri juga (silahkan dibuktikan sendiri). Gambar teknik merupakan kaidah bahasa yang akan digunakan untuk berkomunikasi bahkan sampai dengan ke tatanan antar bangsa. Bentuk komunikasi ini dijalin mulai fase tahap awal pendisainan, proses analisa, proses manufaktur, proses inspeksi, proses perakitan, sampai dengan uji coba. Sebelum diproduksi secara massal, maka diperlukan gambar teknik yang benar bahkan untuk tujuan yang sama akan terdapat beberapa jenis gambar teknik untuk produk yang sama.

Gambar-8_Masalah Gambar TeknikGambar 8 Masalah Gambar Teknik

Masalah utama yang kedua : Seringkali terjadi bahwa pembuatan produk / rekayasa produk ataupun system dilakukan dengan mencontek apa yang telah ada (entah itu sistemnya, mekanismenya, fungsinya, strukturnya, dan lain-lain). Seolah-olah dinyatakan bahwa solusi teknik mesin akan berasal dari teknik mesin itu sendiri (kita terpaku oleh solusi yang berasal dari domain kita kesehariannya sebagai mechanical engineer). Metoda Inovasi dan Kreativitas hanya didasari oleh apa yang ada di kepala dosen pembimbing ataupun mahasiswa, bahkan system pendidikan pun tidak mengarahkannya (akan sulit berdebat dengan orang yang berpengalaman jika tidak menggunakan suatu metodologi, dan berdebat bukan berarti hanya mengeluarkan apa yang ada di dalam kepala). Akhirnya, produk yang dihasilkan mati suri, tidak layak untuk diproduksi massal bahkan tidak layak untuk dipatentkan (alias sia-sia belaka, kalaupun bermanfaat hanya sebatas bagi urusan nilai akademik semata-mata). Belum pernah terbayangkan oleh mahasiswa (bahkan dosen sekalipun) bahwa solusi dari masalah bisa berasal dari luar bidang teknik mesin, semisal : pemanfaatan pulsanisasi, pemanfaatan gelombang elektromagnetik, perforasi dan lain sebagainya (yang sudah dibuktikan keampuhannya oleh beberapa perusahaan besar seperti : Samsung, P&G, Boeing, Mitsubishi, Toyota, VW BWM dan lain-lainnya). Yang mulai dari kita bangun tidur dikala subuh sampai dengan tidur lagi dikala malam, dibanjiri oleh produk-produk yang menggunakan metoda Inovasi dan Kreativitas.

Gambar-9_Contoh Penerapan TRIZGambar 9 Metodologi Kreativitas dan Inovasi

SOLUSI MASALAH UTAMA YANG PERTAMA

Perbaikan Kualitas Gambar Teknik Sebagai Bahasa Komunikasi antar tatanan bangsa

Akan panjang dan membutuhkan waktu lama untuk menjelaskan tahapan yang perlu dilakukan, untuk menyingkatnya kita mulai dari pemahaman mengani pentingnya gambar teknik bagi suatu organisasi dan tahapan silahkan diunduh di menu blog : Karya Tulisku–>Paper & Slide pemakalah SNTTM 2015.

Gambar-10_Pentingnya Gambar Teknik Bagi OrganisasiGambar 10 Pentingnya Gambar Teknik Bagi Organisasi

SOLUSI MASALAH UTAMA YANG KEDUA

Permasalahan yang kedua akan dipecahkan menggunakan metoda TRIZ (Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadach) atau TIPS (Theory of Inventive Problem Solving), suatu metode yang menjelaskan bagaimana menjadi kreatif dan inovatif dalam pemecahan masalah, yang dikembangkan oleh Genrich Alltshuller dan kelompoknya. Dengan menggunakan teori kontradiksi kita akan dituntun oleh TRIZ ke arah 40 Solusi Inventif. Dan sebagai salah satu contoh, akan saya paparkan salah satu tugas mata kuliah magister FTMD-ITB (MS6069/TRIZ : Creativity and Innovation) yang pernah saya lakukan. Saya masih memerlukan waktu banyak untuk mempelajarinya dan lebih memahaminya sehingga dapat mengaplikasinya di kemudian hari untuk perbaikan di bidang apapun. Tak lupa saya haturkan terimakasih yang tak berhingga kepada bapak Dr.Ir. Taufiq Rochim dan Dr. Ing. Indra Djodikusumo yang telah mengenalkan dan mengajarkannya kepada kami. Saya paparkan contoh kasus sederhana sebagai berikut :

METODA ANALISIS FUNGSI

  • LANGKAH 1 (Mendefinisikan model yang cocok bagi suatu sistem)

LATAR BELAKANG :         Pada saat beroperasi selama 1 tahun terjadi penggantian bantalan bola (deep groove ball bearing single row 6008) sebanyak 4 kali dan terjadi kebocoran pelumas dari dalam kepala tetap mesin bubut (head stock).

PICCO-450 :                       

 Gambar 11_Mesin Bubut Piccolo_PMS Picco-450

Gambar 11 Mesin Bubut Piccolo / PMS Picco-450

MENENTUKAN BATAS – BATAS SISTEM : (Kepala tetap mesin bubut / head stock) :

 Gambar 12_Batas Sistem Kepala Tetap Mesin Bubut

Gambar 12 Batas sistem (kepala tetap mesin bubut / head stock)

 Gambar 13_Gambar Susunan Sistem Transmisi Kepala Tetap

Gambar 13 Gambar susunan (poros transmisi pada head stock)

MENENTUKAN BATAS – BATAS SUB SISTEM : (bagian ujung poros transmisi) :

Gambar 14_Sub Sistem Poros TransmisiGambar 14 Sub sistem poros transmisi

  • LANGKAH 2 (Membuat matriks interaksi fungsi)

Gambar 15_Matriks Interaksi FungsiGambar 15 Matriks interaksi fungsi

  • LANGKAH 3 (Membuat diagram interaksi secara grafis)

 Gambar 16_Diagram Interaksi Fungsi Secara Grafis

Gambar 16 Diagram interaksi fungsi secara grafis

  • LANGKAH 4 (membuat daftar masalah)

DAFTAR MASALAH KEBOCORAN PELUMAS DAN KERUSAKAN PADA BANTALAN :

  1. Terjadi kerusakan pada bearing sebanyak 4 x dalam 1 tahun (berbahaya).
  2. Pelumas yang ditampung di rumah head stock berkurang (berbahaya).
  3. Pelumas keluar dari celah pada bantalan bola dan mengalir keluar rumah head stock (berbahaya).
  4. Penutup yang berfungsi sebagai pelindung bagian dalam rumah head stock terhadap kotoran dari luar, menjadi celah bagi keluarnya pelumas dari dalam rumah head stock ke luar (tak cukup).
  5. Tekanan pada saat pengikatan baut yang tidak seragam dapat mengakibatkan pelumas mengalir ke luar rumah head stock (tak cukup)
  • LANGKAH 5 (mengurutkan daftar masalah)

Tabel 1 Urutan daftar masalah

Tabel-1_Urutan Daftar Masalah

  • LANGKAH 6 (penyelesaian masalah)

 MODEL SUBSTANSI DAN MEDAN : 

Gambar 17_Model Materi dan MedanGambar 17 Model substansi dan medan

ANALISIS SUBSTANSI DAN MEDAN :

 Gambar 18_Analisis Substansi dan Medan Gambar 18 Analisis substansi dan medan (substances-field analysis)

 

 TRIZ 76 STANDAR INVENSI :        

Gambar 19_76 Standard Invensi TRIZGambar 19 Tujuh puluh enam (76) Standar invensi TRIZ (76 Inventive standard)

 

KESIMPULAN (penyelesaian masalah)

  • Mengganti nomor seri bantalan bola sehingga memiliki pelumas mandiri dan penyekat mandiri di dalam bantalan tersebut. Fungsi melumasi bantalan tetap terpenuhi dan dapat mencegah bocornya pelumas pada jenis bantalan sebelumnya.

Gambar 20_Modifikasi Jenis Bantalan BolaGambar 20 Modifikasi jenis bantalan bola

  • Menambah seal / penyekat yang ditempatkan pada penutup rumah head stock. Bantalan akan tetap terlumasi oleh pelumas yang ditampung di rumah head stock, dan pelumas yang melalui bantalan tersebut dapat dihambat oleh seal/penyekat sehingga tidak bocor keluar dari rumah head stock.

Gambar 21_Modifikasi Penutup Sistem TransmisiGambar 21 Modifikasi penutup sistem transmisi

 

 METODA ROOT CONFLICT ANALYSIS (RCA+)

  • LANGKAH 1 (Uraian efek negatif)

Gambar 22_Uraian Sub Sistem TransmisiGambar 22 Sub sistem transmisi

Dengan menggunakan bantalan bola yang dilumasi menggunakan metoda percikan, maka geseekan diantara poros dan rumah kepala tetap dapat dihindarkan, namun bantalan bola tersebut menjadi tempat laluan pelumas dan mengalirkannya ke luar rumah head stock.

Gambar 23_Efek Negatif Penggunaan Bantalan BolaGambar 23 Efek negatif penggunaan bantalan bola

  • LANGKAH 2 (Uraian penyebab efek negatif)

Bagian sisi bantalan bola tidak tertutup, sehingga celah diantara elemen bola menyebabkan pelumas dapat mengalir ke sisi lainnya.

Gambar 24_Penyebab Laluan Pelumas Melalui Bantalan BolaGambar 24 Penyebab laluan pelumas melewati bantalan

  • LANGKAH 3 (Memeriksa kemungkinan penyebab lainnya)

 Gambar 25_Dua Penyebab Efek Negatif (hubungan AND)

Gambar 25 Dua penyebab efek negatif (hubungan AND)

  • LANGKAH 4 & 5 (Mencari penyebab efek positif , penyebab pasangannya atau penyebab pada rantai berikutnya)

 Gambar 26_Efek penyebab positif, Pasangannya, atau Rantai berikutnya

Gambar 26 Efek penyebab positif, pasangannya, atau rantai berikutnya

  • LANGKAH 6 (Memerikas apakah ada penyebab ‘-‘ yang harus dijadikan penyebab pasangan ‘+’ untuk hal lain, atau dicari penyebab pada tingkat di bawahnya)

Gambar 27_Pemeriksaan Pasangan Penyebab atau Mencari Penyebab di Tingkat BawahnyaGambar 27 Pemeriksaan pasangan penyebab atau mencari penyebab di tingkat bawahnya

  • LANGKAH 7 (Membuat table daftar penyebab)

Table 2 Daftar penyebab berdasarkan diagram RCA + (root cause analysis)

 Tabel 2_Daftar penyebab berdasarkan diagram RCA +

 

  • LANGKAH 8 (Penentuan cara penyelesaian akar masalah)

Pada diagram RCA terdapat :

  1. Penyebab Negatif yang memiliki pasangan positif (hubungan AND)à salah satu penyebab dihilangkan maka efek negative dapat dihilangkan.
  2. Penyebab negative yang tidak memiliki pasangan positif dan merupakan penyebab rantai pasangan. Jika penyebab yang berada di atasnya teratasi maka penyebab yang berada dibawahnya akan juga teratasi.
  • LANGKAH 9 (Menggunakan metoda TRIZ untuk menghilangkan kontradikasi)

Table 3 Matriks kontradiksi (contradiction matrix) dan Usulan Solusi (tataran abstrak) Tabel 3_Matriks kontradiksi dan Usulan Solusi (tataran abstrak)

Untuk contoh kasus di atas yang sering muncul adalah Prinsip No. 40. [KOMPOSIT]

Benda padat dari suatu jenis material yang homogeny bias digantikan dengan benda padat berongga yang terdiri atas inti yang dilapis dengan beberapa lapis bahan yang berbeda orientasi/arah serat-seratnya.

Benda komposit selain lebih ringan juga lebih kuat dalam menahan beban daripada benda massif dari suatu jenis bahan.

Permukaan benda (bagian dari benda, atau komponennya) dilapisi dengan membrane atau lapisan yang memiliki sifat seperti yang diinginkan terhadap lingkungan untuk melindungi benda melaksanakan fungsinya dalam suatu sistem.

Gambar 28_Solusi Akhir untuk Mencegah Kebocoaran PelumasGambar 28 Solusi akhir untuk mencegah kebocoran pelumas

Demikian tulisan ini disusun dengan kekurangan dan kelebihannya untuk tujuan memperbaiki diri penulis dan menyongsong hari esok di bumi pertiwi dengan lebih bersemangat lagi dan keinginan untuk berkolaborasi. Penulis tambahkan ilustrasi gambar pada dokumen orasi ilmiah untuk mempermudah mempelajari maknanya bagi penulis. Semoga bermanfaat, dan mohon dimaafkan bila ada kekhilafan yang tersurat atupun yang tersirat yang menyinggung pembaca sekalian.

Bandung, 18 Oktober 2015

Duddy Arisandi

23113030

Teknik Produksi

Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara

Institut Teknologi Bandung

(FTMD-ITB)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 19, 2015 in Pendidikan

 

Tag:

PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (COMPETENCY BASED CURRICULUM DEVELOPMENT) SEBAGAI PERSIAPAN PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) dan SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi) di Indonesia

PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (COMPETENCY BASED CURRICULUM DEVELOPMENT) SEBAGAI PERSIAPAN PENGEMBANGAN KURIKULUM  BERBASIS KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) dan SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi) di Indonesia

SEKAPUR SIRIH ‘BENANG KUSUT DAN HARAPAN KITA’

Apakah yang menyebabkan kebijakan pengubahan kurikulum dilakukan dalam tempo yang sangat cepat sekali? Bukankah kebijakan seharusnya menjadi rujukan dalam penerapannya? (bukankah tinjauan terhadap pengembangan kurikulum dilakukan dalam tempo 5-10 tahun ?)

Kenapakah reaksi keras terhadap kebijakan pemberlakuan kurikulum baru datang dari segenap lapisan masyarakat ? (dimulai dari murid/siswa, orangtua, guru, kalangan akademis dan non akademis, bahkan sampai pada tingkatan pengambil keputusan ? (bukankah sudah ada mekanisme/prosedur yang mengaturnya ?)

Apakah tidak terjadi komunikasi yang sejalan diantara unsur-unsur yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung terhadap pemberlakuan kurikulum baru ? (sampai-sampai masuk ke ranah politik, dan orang yang tidak berkompetenpun angkat bicara untuk mempengaruhi keputusan terhadap arah kebijakannya)

Dunia pendidikan telah mengenal segmentasi berdasarkan rumpun teknologi dan peringkat (kita lihat rangking perguruan tinggi Indonesia dan berhasil masuk ke peringkat dunia), namun sejauh manakah rangking tersebut dapat mewujudkan pemerataan yang berkeadilan di Bangsa ini ?

Di saat era teknologi berkembang pesat (segala sesuatunya dapat diperoleh dengan cepat melalui mbah Google), masih saja ada perguruan tinggi ‘berkelas-mapan’ yang sungkan untuk berbagi dengan perguruan tinggi ‘berkelas-berkembang’. Beberapa perguruan tinggi yang ada dengan masalahnya sendiri harus memulai sesuatu dengan tertatih-tatih untuk menuju mapan, dan terkadang memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bukankah pendidikan yang sama rasa, sama rata, dan berkeadilan tidak mengenal pengkotakan ? (akankah sekolah yang maju akan semakin maju, dan yang sedang berkembang akan berjalan tertatih-tatih bahkan harus menutup perguruan tinggi / jurusan / program studi-nya ?

Anggaran pendidikan itu terbatas dan berumber dari pembiayaan Negara dan dari rakyat, bukankah sudah sewajarnya perguruan tinggi / jurusan yang sudah mapan dapat membiayai dirinya sendiri ? Sehingga alokasi biaya pendidikan dapat disalurkan kepada yang lebih berhak mendapat perhatian penuh ? (sudah sejak lama dirintis bahwa perguruan tinggi mapan akan menjadi BHP dll, sayangnya………………..)

Kekayaan yang dimiliki bangsa kita membuat iri bangsa-bangsa lainnya, namun relakah kita akan kenyataan bahwa pengelolaannya tidak dilakukan oleh anak bangsa dengan alasan ‘tidak kompeten’ atau ‘tidak bisa bersaing di pasar global ketenagakerjaan’ ? Semua anak bangsa berhak mendapatkan pekerjaan yang layak, walaupun ia tidak bersekolah atau terputus sekolah di tengah jalan, atau tamatan SD sekalipun. Pekerjaan rumah terbesar kita adalah memikirkan jalan keluar bagi mereka (bukan salah mereka dan juga bukan keinginan mereka untuk tidak bersekolah setinggi mungkin)

Bukankah telah diajarkan kepada kita bahwa kejadian alam semesta dan tubuh kita diciptakan secara bertahap ? Bukankah telah diketahui bahwa perjalanan dalam diri manusia juga dilalui secara bertahap dalam wujud jasmani dan rohani ? (Tetap saja melaui media yang ada kita disuguhkan tayangan media berupa santapan kejadian : korupsi, pelanggaran hak hidup manusia, perkelahian antar pelajar, dampak minuman keras dan obat-obatan terlarang, suguhan sex bebas, hiburan lawakan dan gossip artis setiap hari. Bukankah ironis bahwa para pelaku adalah orang-orang yang pernah mengenyam dunia pendidikan ? Bahkan kerapkali pelaku berasal dari orang-orang terpandang di negeri ini ? Bahkan beberapa diantaranya adalah pelaku yang berkecimpung di dunia pendidikan ? Apakah kondisi tersebut merupakan hal lumrah yang dapat kita tolerir sebagai konsekwensi di saat kita sedang belajar berdemokrasi dan bertoleransi ?

Apakah terjadi diskontinyuitas di dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia ? (yang terjadi pada terminal-terminal tingkat satuan pendidikan TK/TPA-SD/Madrasah-SMP/Tsanawiyah-SMU/SMK/Aliyah-PT). Apakah terputusnya ‘jalur benang pendidikan’ di Indonesia mengakibatkan : kita lupa akan jati diri bangsa kita, kita lupa dimana kita berpijak, kita lupa akan kewajiban dan hak sebagai anak bangsa, kita lupa bahwa kekayaan bangsa ini untuk seluruh rakyat kita, dan terakhir kita telah lupa bahwa pada saatnya nanti kita akan kembali kepada Yang Maha Memiliki ? (kata ‘lupa’ sejalan dengan tidak tahu atau tidak sengaja)

Semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini dapat menggugah kita untuk melakukan revolusi mental dan bekerja lebih keras lagi. Minimal menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air dengan segala permasalahan yang ada di Bangsa ini. Baik atau Buruk, kita hidup di bumi tercinta ini, dan keberlangsungannya akan tergantung kepada kita sebagai anak bangsa.

Kenapa penulis memilih tema berkaitan dengan kurikulum ? Karena saya takut dengan label profesi yang saya emban sebagai seorang dosen, dikala masih banyak kekurangan sebagai seorang pribadi yang belum dapat memberikan teladan yang baik sebagaimana mestinya, terlebih sebagai seorang muslim. DAN, saya merasa sektor kurikulumlah yang dapat mengakibatkan deviasi besar yang dapat mengakibatkan bangsa ini terpuruk.

BAGIAN I
DEFINISI TENTANG KURIKULUM DAN KOMPETENSI

Percaya atau tidak percaya, masih banyak diantara kita sesama anak bangsa yang masih belum tepat dalam menginterpretasikan kurikulum. Terlebih jauh terjadi tumpang tindih dan saling mendisposisikan tugas terkait dengan pembuatan dan penerapannya. Setiap orang boleh-boleh saja berbicara dan bersilang pendapat mengenai kurikulum, namun kita semua sepakat bahwa KUALITAS KURIKULUM merupakan faktor penting untuk mencapai keberhasilan mutu pelaksanaan pendidikan dan pencapaian mutu kompetensi lulusan.

• Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman kegiatan belajar mengajar, yang terdiri atas unsur-unsur : Mata kuliah, Kompetensi berdasarkan kebutuhan pelanggan, Bobot (sistem kredit semester) setiap mata kuliah, Deskripsi mata kuliah (sinopsis), yang dilengkapi dengan kepustakaan, Pengelompokkan mata kuliah berdasarkan jenis dan tujuannya, Penyebaran mata kuliah setiap setiap semester, Pengkodean mata kuliah.
• Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan, ketrampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut di tempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

Dalam pandangan modern, kurikulum merupakan sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Pada proses belajar mengajar akan terjadi interaksi antara siswa/murid yang merupakan pengalaman belajar (interaksi sosial maupun fisik). Sehingga kurikulum akan memiliki tujuan, isi, pola belajar mengajar dan evaluasi.

Suatu cita-cita bahwa kurikulum dapat diakses oleh seluruh anak bangsa dan dikelola melalui piranti teknologi informasi yang canggih. Dan tidak hanya dimonopoli oleh diknas, pengguna lulusan, dan institusi pendidikan tertentu, atau dosen dan para pengajar. Semua lapisan berhak untuk mengetahui, dapat mempelajarinya, dapat berbagi bersama, dan dapat memberikan masukan. Tidak semua orang berkesempatan untuk melakukan benchmark, mengikuti pelatihan, ataupun mengikuti proyek terkait kurikulum, dikarenakan keterbatasan waktu, biaya, dan tempat, sehingga dengan kemudahan akses tersebut akan mereduksi waktu dan biaya di dalam pengembangannya bagi siapapun yang berkepentingan dan dimanapun dia berada.

01_Skematik Kurikulum dan Pengelolaan untuk Akses Publik_DA
Gambar 1 Skematik kurikulum dan pengelolaannya untuk akses publik

Umumnya pengembangan kurikulum diawali dengan menentukan kompetensi apa yang akan dicapai. Masalah yang sering terjadi adalah menentukan kompetensi berikut turunan kompetensi (sejauh dan sedalam apa kebutuhannya oleh pengguna lulusan. Tentunya kita ingin mengkolaborasikan juga bahwa pengguna lulusan memiliki rasa tanggungjawab dalam membentuk kompetensi (tidak hanya untuk mendapatkan lulusan terbaik dengan Indeks prestasi tertentu).

Faktor berpengaruh lainnya adalah sejauh mana kita dapat menentukan, mengkolaborasikan kompetensi beserta turunannya untuk menghadapi bursa global ketenagaakerjaan. Pembentukan kompetensi dilakukan secara kontinyu dan bertahap mulai dari tingkat satuan pendidikan terendah sampai dengan tertinggi. Hal tersebut dilakukan secara kontinyu mengingat hasil lulusan pada suatu tingkatan akan menjadi persyaratan awal bagi pendidikan di jenjang berikutnya. Satu pertanyaan yang timbul di benak saya adalah siapakah bagian yang berwenang untuk merajut kekontinyuan kompetensi tersebut ? Jangan-jangan setiap satuan pendidikan memiliki konsep kompetensi yang terpisah, saling tumpah tindih, dan terjadi diskontinyuitas di dalam pelaksanaannya.

02_Kontinyuitas Keterkaitan Kompetensi vs Materi Ajar_DA
Gambar 2 Kontinyuitas keterkaitan kompetensi vs materi ajar

Terkadang suguhan informasi mengakibatkan bias yang kontra tujuan, dan bahayanya jika telah mengakar di masyarakat kita seperti :
• Pelajaran matematika dimulai sejak TK sampai pendidikan tinggi, namun saya pernah mendapatkan bahwa mahasiswa pada tingkat pendidikan tinggi masih sulit untuk menyelesaikan operasi pecahan (padahal selama 12 tahun waktu yang diperlukan untuk belajar matematika).
• Pelajaran Bahasa Inggris dimulai sejak TK sampai pendidikan tinggi, namun saya pernah mendapatkan juga bahwa mahasiswa pada tingkat pendidikan tinggi tidak dapat membaca ataupun minimal menulis untuk kebutuhan laporan (padahal selama 12 tahun waktu yang diperlukan untuk belajar bahasa Inggris).
• Di sisi lainnya kita mendapatkan hasil bahwa berdasarkan Ujian Nasional Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2009 diperoleh hasil sebagai berikut :

03_Hasil Nilai UN 2008-9_Lap BSNP 2009_DA
Gambar 3 Hasil Nilai Ujian Nasional Tahun 2008/9 (Laporan BSNP 2009)

BAGIAN II
PENGEMBANGAN KURIKULUM

BIAYA YANG BESAR DAN WAKTU YANG LAMA

Kurikulum memiliki kandungan tekstual (format) dan kontekstual (isi). Format kurikulum bangsa kita dikenal mayarakat pendidikan dunia dan banyak pengakuan atas kehandalannya. Kehandalannya berupa parameter yang dimilikinya sehingga cross check terhadap berbagai fungsi dan sisi penerapannya sulit untuk dibohongi (baca Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008, Panduan Penilaian BAN-PT, Panduan BSNP).

Esensi dari pengubahan kurikulum dapat ditinjau melalui kedua jenis kandungan di atas, apakah secara tekstual ataupun secara kontektual. Umumnya pengembangan kurikulum dilakukan secara parsial. Apapun perubahannya, wujudnya tetap sama yaitu kurikulum, namun wajahnya dapat berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi yang ada. Walaupun wajahnya berubah-ubah, tetap harus dapat mengakomodir persyaratan dan tujuan dari kurikulum tersebut, yang merupakan perangkat utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Namun kedalaman kajiannya dapat berbeda disesuaikan dengan kadar kemampuan pengelolaan di lapangan.

Pada awalnya akan terasa rumit dengan format yang ada, redundasi penulisan, banyaknya form yang harus dibuat, dan lain-lain (terlebih bagi seseorang yang baru mengetahuinya), namun seiring berkembangnya sistem informasi maka bukannya mustahil untuk mengelolanya secara sederhana dan mudah. Siapapun dapat mengikuti formatnya, namun kandungan isinya perlu pemahaman yang dalam tentang kurikulum untuk menerjemahkannya, terlebih berkaitan dengan kompetensi lulusan.

04_Model Pengembangan Kurikulum Ideal S1-ACS-2000_DA
Gambar 4 Model pengembangan kurikulum ideal bagi S1 di Indonesia

Sebagai salah satu model pengembangan dapat dilihat pada gambar 4, yang dihasilkan oleh program Academic Consultancy Services (ACS) melalui proyek Engineering Education Development Project yang didanai oleh Asian Development Bank (ADB) pada laporan tahun 2000. Laporan lengkap dibukukan dengan judul “Curriculum Development – S1 Engineering Programs in Indonesia” (Dr. Malcom J. Jones/Editor). Dalam salah satu sub-bab, dijelasakan sebagai berikut :

Suatu model kurikulum ideal di Indonesia harus memunuhi beberapa kriteria berikut:
1. Harus dapat melayani kedua pengelompokkan perguruan tinggi dalam katagori ‘mapan/establish’ dan ‘berkembang/developing’.
2. Harus dapat memperbaiki kualitas pendidikan teknik di Indonesia.
3. Harus memperbaiki relevansi pendidikan teknik di Indonesia, Internasional, nasional, dan lokal.
4. Harus memperbaiki akses ke pendidikan teknik di Indonesia.
5. Harus memperbaiki efisiensi pendidikan teknik di Indonesia.

Kata kunci melalui gambar 4 adalah:

1. BAN akan melakukan pengesetan terhadap Kriteria Kurikulum Teknik Nasional dalam bentuk buku pedoman, dan menyediakan contoh bagi kurikulum teknik nasional berdasarkan pedoman yang dibuat. Catatan : Seluruh fungsi terlebih dulu diajukan kepada Engineering Quality Assurance Commission (EQAC), dan sebagai hasil diskusi diantara DGHE dan ADB, harus dilakukan juga oleh BAN (Badan Akreditasi Nasional).
2. Pedoman tersebut kemudian dapat digunakan oleh institusi pendidikan tinggi untuk mengembangkan kurikulum yang dimilikinya dan mengajukannya kepada lembaga akreditasi. Perlu dicatat bahwa akreditasi dilakukan terhadap program dan bukan bagi institusi.
3. Perguruan tinggi dalam tahap pengembangan akan didukung oleh lembaga National Resource Center yang akan mengsupervisi perguruan tinggi tersebut dalam pengembangan kurikulum, silabus detail, sumber daya laboratorium, sumberdaya pengajar, implementasi teknologi baru dan lain sebagainya.

Dalam suatu bentuk model transisi, maka masalah yang akan timbul adalah untuk menjumpai solusi sementara, yaitu untuk berkembang dari kondisi yang ada sekarang menuju bentuk yang lebih kurang mendekati Model Kurikulum Nasional (bergerak ke arah model yang lebih efektif, yang akan memerlukan pertimbangan waktu untuk mengimplementasikannya).

Tiga alternatif utama bagi format Kurikulum Nasional tersedia dalam bentuk :

1. Menggunakan Kurikulum Nasional yang ada, tetapi mengembangkan silabus untuk setiap mata kuliah dengan sedikit lebih dalam.
2. Menyalin kurikulum nasional yang lebih berorientasi kepada kandungan isi dibandingkan dengan subjek mata kuliah, sebagai contoh Panduan Kurikulum Nasional.
3. Model hybrid yang akan mengeset pedoman, tetapi juga termasuk contoh kurikulum berdasarkan pedoman tersebut.

Model yang ketiga direkomendasikan karena akan melayani perguruan tinggi dalam kelompok taraf mapan/establish dan berkembang/development.

Dalam perjalanannya, aturan BAN telah berkembang, termasuk pengembangan Pedoman Kurikulum Nasional untuk individu setiap universitas dan untuk menyediakan program akreditasi. Hal ini akan menyemangati pengembangan kurikulum bagi setiap universitas.

Pendapat saya : Sejauh mana diknas dan BAN telah menyiapkan template kurikulum nasional bagi pendidikan di Indonesia ? Penekanan lebih ditujukan ke format kurikulum atau ke isi kurikulum ? Seringkali, perguruan tinggi berkembang secara sendiri-sendiri dan disesuaikan dengan kapasitas yang dimilikinya. Padahal dalam laporan buku tersebut telah dituliskan dengan sangat bijaksana bahwa template kurikulum itu harus ada, baik berhubungan dengan format penulisan maupun dengan isi. Kenapa sulit sekali dalam melakukan penyeragamannya ? Mari kita mulai dengan penyeragaman format dulu baru ke isi, atau kedua-duanya kita lakukan secara sekaligus bersamaan. Di sisi lain, jiwa terbuka dari setiap perguruan tinggi perlu dibangun untuk menyeragamkan kurikulum, karena tujuan terpenting bangsa ini adalah pembangunan seutuhnya dan merata bagi seluruh anak bangsa.
INSTRUMENT KURIKULUM YANG HANDAL

Berbagai standar acuan telah kita miliki, bahkan pembanding dari sumber luar negeri pun dapat kita akses dengan mudah. Satu hal yang perlu kita fahami, bahwa pengembangan kurikulum yang kita lakukan tidak hanya berpedoman kepada buku panduan penyusunan kurikulum belaka, kita harus melihat beberapa faktor/parameter lainnya yang bersumber dari beberapa badan/institusi yang ada. Silahkan dibuka Standar isi pada BSNP, Standar 5 pada BAN-PT, Bagian 5-Effective Learning & Teaching pada buku TQM in Education. Kita semua dapat melihat bahwa bentuk generic kurikulum adalah sama, dan perbedaan kecil yang ada akan saling melengkapi. Janganlah kita katakan bahwa perbedaan yang ada sebagai pertentangan, namun sebagai suatu kekuatan yang saling mendukung (asalkan kita pandai meramunya).

05_Standarisasi Pendidikan Terkait Kurikulum_DA
Gambar 5 Standarisasi Pendidikan terkait kurikulum

Bagaimanapun keadaannya, pendidikan akan tetap dan terus berjalan. Lantas dengan ketidak sempurnaan yang ada, apakah akan kita biarkan ? Tentunya banyak upaya yang dapat dilakukan untuk memajukan generasi ke depan. Yang sudah terjadi biarlah berlalu, yang terpenting adalah apa yang harus kita siapkan sekarang ini ?

KEMANAKAH KOMPETENSI KITA AKAN BERKIBLAT ?

Dalam pengembagan kurikulum, yang dijadikan acuan adalah sejauh mana kompetensi yang akan dihasilkan bagi seorang lulusan, sejauh mana elemen-elemen pembentuk kompetensi tersebut akan dihasilkan melalui pembelajaran suatu mata kuliah. Bak pepatah ‘gantungkanlah cita-cita mu setinggi langit’, maka dalam merumuskan kompetensi yang diharapkan pun demikian (kita sebagai manusia merupakan suatu titik koordinat yang dapat ditinjau secara institusi, local, nasional, dan internasional). Suatu hal yang fantastis jika kita dapat melakukan pengubahan bertaraf internasional, namun tidak jarang (bahkan sudah merupakan suatu keharusan) bahwa kondisi-kondisi yang berlaku secara internasional lah yang akan memaksa kita untuk melakukan pengubahan (seperti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, naiknya harga bbm, dan bursa tenaga kerja global). Kita tidak bisa lari dari percaturan dunia internasional, dan mau tidak mau kita harus menyiapkan peserta didik kita agar mereka mampu bersaing secara global. Untuk hal tersebut, maka sudah selayaknya dalam menentukan kompetensi dapat kita tinjau bagan berikut:

06_Menentukan Kompetensi & Interaksi Kompetensi_DA

Gambar 6 Menentukan Kompetensi & Interaksi Kompetensi

Sudah selayaknya dalam menentukan kompetensi mempertimbangkan kompetensi-kompetensi lainnya yang berasal dari bidang ilmu lainnya. Karena boleh jadi pada suatu saat tertentu akan terjadi keterkaitan/saling berinteraksi. Salah satu contoh, penerapan teknologi implant di bidang kedokteran yang terkait dengan perkembangan teknologi di bidang teknik mesin. Siapakah yang akan mendisain dan membuat robot camera yang dapat masuk ke pembuluh darah? Apakah piranti tersebut murni didisain dan dibuat oleh lulusan sekolah kedokteran ? Banyak kasus lainnya yang kita hadapi, bahwa suatu saat nanti lulusan di bidang teknik akan saling berinteraksi dengan berbagai disiplin ilmu, dan kita sebagai seorang pengajarpun harus memikirkannya dan menyiapkan suatu kurikulum yang dapat membantu lulusan kita untuk beradaptasi dengan multi disiplin ilmu.

Seringkali perumusan kompetensi hanya dibatasi pada kondisi sebagai berikut : hanya berdasarkan kompetensi yang kita ketahui, atau hanya berdasarkan masukan dari beberapa industri yang kita ketahui, atau hanya berdasarkan bidang studi serumpun. Khusus untuk kasus di Indonesia, pemetaan bidang ketenaga kerjaan belum terinseminasi dengan baik dan secara meluas, sehingga lulusan yang diminati oleh industri adalah lulusan dengan Indeks Prestasi akademis yang tinggi dan harus segala bisa (hanya didasari pertimbangan ekonomis, padahal banyak tujuan-tujuan mulia lainnya untuk membangun bangsa ini). Sebagai contoh pembanding akan dipaparkan penentuan beberapa kompetensi yang telah mapan/diakui banyak lembaga :
INTERNATIONAL STANDARD CLASSIFICATION OF OCCUPATION – ILO

07_Standarisasi Kompetensi-ILO_DA
Gambar 7 Standarisasi Kompetensi-ILO

Memang beda, untuk menjadi seorang pembantu rumah tanggapun, perlu disiapkan kompetensi apa yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya. Karena di negara kita belum memayunginya secara serius, maka kompetensi seorang pembantu banyak sekali dan bahkan melebihi kapasitas yang dimilikinya.

Merekakah yang salah karena tingkat pendidikannya ?, atau Para majikannya kah yang benar karena dia yang membayar upahnya ? (sehingga majikan dapat berlaku semena-mena, bahkan terjadi kasus sampai-sampai melanggar hak asazi manusia). Mungkin inilah yang disebut dengan Negara ½ Demokrasi. Apapun sindiran terhadap bangsa kita, tidak membuat kita patah hati untuk membangunnya, terlebih melalui apa yang disebut dengan kompetensi dan kurikulum. Karena dengan mengetahuinya, maka kita sebagai orang pintar akan pandai menghargai hak-hak orang lain, bukan sebaliknya memintar-mintari orang lain (memiliki konotasi negatif).

TPC TRAINING SYSTEM

08_TPC Training System-Skill Requirement_DA
Gambar 8 TPC Training System – Skill requirement

Dalam perumusan kompetensi beserta turunannya, perlu dipertimbangkan juga karier dari pengemban profesi tersebut. Di sini kita ingin mendudukkan persoalan secara jelas sesuai dengan posisi jabatan yang diemban, berikut kewajiban-kewajiban apa saja yang harus dipenuhi. Suatu kondisi wajar yang dijumpai bahwa pengemban jabatan memiliki kompetensi di bawah persyaratan yang ditentukan, maka sudah selayaknya kita dapat memberikan jalan untuk pemenuhannya. Berdasarkan kompetensi yang diperlukan pada suatu jabatan, maka kompetensi turunan dapat kita peroleh dan akhirnya dapat dirancang mata kuliah pembelajarannya.

METAL & ENGINEERING INDUSTRY COMPETENCY STANDARD

09_Standarisasi Kompetensi-IAPSD_DA
Gambar 9 Standarisasi Kompetensi-IAPSD

Mengingat bursa tenaga kerja global sudah dihadapan mata kita, maka kita harus menyiapkan sumberdaya yang dapat bersaing di pasar global. Tentunya, para penyedia lapangan kerja telah menentukan parameter kompetensi yang harus dipenuhi oleh pelamar pekerjaan.

Tugas kita di bidang pendidikan adalah untuk mendekati parameter kompetensi tersebut dan menerjemahkannya ke dalam system kurikulum yang akan kita kembangkan. Umumnya tidak sedikit dana dan waktu yang dicurahkan untuk melakukan bench marking, pelatihan, atau penelitian bersama (hanya untuk segelintir personal). Maka kedalaman kita untuk mengaji dan mengkaji kompetensi merupakan persyaratan mutlak yang harus dilengkapi (setidaknya penulis pernah membuktikannya bahwa kompetensi dasar di bidang pemeliharaan mesin / Politeknik Manufaktur Bandung, lebih unggul dibandingkan institusi pendidikan atau lembaga pelatihan di Australia dan Belanda).

10_Standarisasi Kompetensi-Metal & Engineering Industry_Duddy Arisandi

Gambar 10 Standarisasi Kompetensi-Metal & Engineering Industry

MASALAH-MASALAH DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM

Pengembangan kurikulum umumnya dilakukan secara sporadis dan dalam waktu singkat, sehingga hasilnya pun sadah dapat ditebak, masa berlaku yang singkat dan seringkali dilakukan tambal sulam untuk menyempurnakannya.

Beberapa prosedur telah ditetapkan berkaitan dengan pengembangan kurikulum (untuk skala nasional maupun institusional). Namun, sebaik apapun kurikulum yang telah kita tetapkan belum tentu pada saat penerapannya akan sesuai dengan apa yang diharapkan. Merupakan tantangan bagi kita semua bahwa pedoman yang kita buat akan dapat diimplementasikan sesuai dengan yang direncanakan, dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Umumnya terdapat hambatan-hambatan dalam pengembangan kurikulum yang diakibatkan oleh ketidaklengkapan perangkat kurikulum yang digunakan dan panduan/arahan dalam pelaksanaannya, seperti :

1. Tidak tersedianya prosedur tertulis bagi suatu institusi untuk mengembangkan kurikulum.
2. Pengembangan kurikulum merupakan tanggungjawab institusi, sehingga keterlibatan seluruh bagian yang terkait secara langsung ataupun tidak langsung, internal maupun ekternal institusi merupakan suatu sistem yang terintegrasi, yang tercermin dalam visi, misi, tujuan, dan sasaran mutunya.
3. Kompetensi yang ditentukan bersifat statis, hanya merujuk kebiasaan yang ditetapkan oleh pengguna lulusan. Kapankah kompetensi sertifikasi profesi yang berlaku secara internasional atau nasional dapat diinsemenasikan secara komprehensif di jantung pendidikan bangsa ini ?
4. Tumpang tindihnya tugas, tanggungjawab, dan wewenang antara jabatan fungsional dosen dan jabatan structural institusi. Sudah sepatutnya seorang dosen taat dan tunduk pada hierarki pendidikan program studi (walupun yang menjabat adalah orang muda yang baru menapak karir di bidang edukasi)
5. Kurikulum hanya didefinisikan dan diterjemahkan dalam selembar kertas distribusi mata kuliah selama mahasiswa mengikuti perkuliahan.
6. Jumlah jam mata kuliah pada suatu silabus dapat berubah-ubah, dan perubahan yang terjadi diakibatkan karena tidakjelasan cakupan tujuan instruksional pembelajaran dan pokok bahasan perkuliahannya.
7. Tujuan instruksional dan pokok bahasan diimplementasikan berdasarkan kemampuan dan kemauan dosen untuk melakukan pengubahan tanpa ada pelaporan yang terdokumentasi.
8. Dalam penentuan pokok bahasan, terjadi ketidaksesuaian yang bersumber dari dosen dan/atau instruktur pengampu mata kuliah yang melakukan rekonstruksi mata kuliah.
9. Terjadi redundan pemberian pokok bahasan pada beberapa mata kuliah dan sub mata kuliah, sehingga terjadi pengulangan materi pada tingkat yang sama maupun pada tingkat yang tidak sama.
10. Beberapa mata kuliah belum memiliki kerangka tujuan instruksional yang jelas, sehingga dosen pengampu mata kuliah melakukan rekonstruksi masing-masing tanpa pertimbangkan keterkaitan antar mata kuliah (jejaring mata kuliah). Selain itu beberapa dosen pengampu mata kuliah melakukan rekonstruksi dengan meningkatkan kedalaman materi perkuliahan yang tidak sesuai dengan predikat satuan tingkat pendidikan yang diemban.
11. Standardisasi jumlah jam perkuliahan memiliki varian yang besar dan belum seluruh mata kuliah mengacu pada penerapan SKS murni.
12. Jadwal perkuliahan tidak baku (setiap tahun ajaran) berubah diakibatkan penyesuaian terhadap kapasitas, pengaruh rekonstruksi materi perkuliahan, dan beberapa faktor pertimbangan lainnya.
13. Terjadi ketidaksesuaian pada saat pengumpulan nilai akhir semester, dimana pengelompokkan sub mata kuliah dapat berubah-ubah dengan tidak menginduk pada inti mata kuliahnya.
14. Untuk satu mata kuliah standard dapat diterjemahkan menjadi beberapa tujuan instruksional yang disesuaikan dengan jenis spesialisasinya.
15. Tidak terintegrasinya mata kuliah praktik yang mendukung penerapan sistem pendidikan berbasis produksi.
16. Tidak stabilnya kapasitas / fasilitas pembelajaran yang diakibatkan bertambahnya jumlah siswa maupun penambahan spesialisasi pada progam studi yang ada.
17. Penerjemahan sistem 1 tahun yang tidak tepat sehingga mengakibatkan tidak memungkinkannya dilakukan evaluasi kenaikan di semester ganjil.
18. Implementasi dari penyusunan kurikulum untuk melaksanakan proses pembelajaran belum konsisten, yang dimulai dari tahap perencanaan awal pendidikan sampai dengan evaluasi akhir dilakukan.
Beberapa ketidakkonsistensian yang terjadi tersebut akan mempengaruhi mutu pelaksanaan pendidikan, mutu kompetensi yang dihasilkan, dan efektivitas serta efisiensi pelaksanaan proses belajar dan mengajar.
BELAJAR DARI AUSTRALIAN COMMITTEE FOR TRAINING CURRICULUM

Secara sepintas dapat kita lihat model sederhana yang diterapkan oleh ACTRAC berikut:

11_Standarisasi Kurikulum-Kompetensi-ACTRAC_DA
Gambar 11 Standarisasi Kurikulum-Kompetensi Actrac

Dari gambar 11 dapat dilihat bahwa kurikulum bersifat komprehensif dan tidak partial. Dia berjujud seperangkat yang terintegrasi.
KOMPETENSI ITU DIMULAI SEJAK DINI DAN SECARA KONTINYU

Dan akhirnya, perlu dicermati bahwa pengembangan kurikulum yang dialakukan harus ditinjau secara Integralistik. Bahwa betul luaran kompetensi akan banyak ditentukan oleh pengguna lulusan, namun kita harus melihat juga bahwa beberapa kompetensi telah dipersiapkan/didapat sejak seorang mulai sekolah dari tingkat TK / TPA sampai dengan perguruan tinggi. Sehingga kontinyuitas penghasilan kompetensi harus dilihat sejak awal dan tidak ditentukan hanya pada muara akhir yaitu setelah luslus perguruan tinggi saja (Pekerjaan Rumah terberat bagi diknas dan terkait dengan sistem teknologi informasi).

12_Kontinyuitas Kelompok Mata Kuliah Sejak Dini_DA

Gambar 12 Kontinyuitas Kelompok Mata Kuliah dimulai sejak dini

Suatu hal yang mustahil bahwa kita dapat mencetak tenaga-tenaga professional dengan hanya menitikberatkan di pendidikan tinggi saja, sementara sifat-sifat bawaan yang mempengaruhinya lebih banyak atau lebih dominan dilalui dalam waktu yang lebih lama yaitu selama mengenyam tingkat pendidikan TK/TPA sampai dengan SMU/SMK/Aliyah (sederhana dapat dihitung berapakah waktu salam satuan tahun yang dihabiskan seorang siswa untuk menamatkan pendidikannya pada satu satuan unit pendidikan).
JANGAN LUPAKAN PERAN GURU/INSTRUKTUR/PENGAJAR/DOSEN

Faktor terpenting lainnya yang tidak kalah perannya (sangat dominan) adalah Dosen/Instruktur/Guru/Tenaga pengajar. Konsep yang ingin kita terapkan adalah Pendidikan Maju secara Sistematik (pergantian orang dikarenakan usia atau pensiun tidak akan berpengaruh banyak terhadap maju/mundurnya dunia pendidikan).

Perlu kita sadari bahwa kepakaran seseorang di bidangnya tidak hanya didapat melalui tingkat pendidikan saja, namun sebagaian besar diperoleh melalui pengalaman keseharian di bidangnya, dan hal tersebut belum tentu sama untuk semua orang (memiliki kesempatan yang sama). Perlu dipahami apa yang menjadi hak, kewajiban, tanggungjawab, dan wewenang seorang pengajar di dalam mengemban tugasnya.

Jika kompensi lulusan siswa yang kita harapkan berkualitas tinggi, maka sudah sewajarnya hal tersebut akan diperoleh melalui bimbingan pengajar yang memiliki kompetensi berkualitas tinggi juga. Kita pahami bersama bahwa tiada gading yang yak retak, namun kalaupun retak sesedikit mungkin, dan tidak merasa hidup bagaikan di menara gading. Kenapa IKIP berubah nama menjadi UPI, dan kenapa persyaratan mengajar AKTA dihilangkan ? Kenapa tidak semua pengajar diwajibkan untuk mengikuti pelatihan PEKERTI, APPLIED APPROACH, dan PENGUKURAN & TEST ? (aku cinta KAU dan DIA)

13_Kompetensi Dosen-BSNP_DA
Gambar 13 Kompetensi Dosen (sumber laporan BSNP 2009)

Sekalilagi ditegaskan bahawa hal ini merupakan Pekerjaan Terbesar Bangsa Ini, dan mari kita mulai dengan apa yang bisa kita mulai dengan KERJA KERAS (jangan pedulikan kekurangan-kekurangan yang ada pada kita, di sekitar kita, atau pada sistem yang ada di kita). Tahun depan adalah tahun dimulainya uji coba atas tulisan ini, dan semoga berbeda dengan apa yang penulis bayangkan dampaknya. Dan, Insyaallah jika penulis diberikan umur panjang untuk menyaksikannya, penulis akan melihat kebenaran pada salinan tulisan sebelumnya berkaitan dengan Indonesia Emas 2020. Waulahu’alaum Bishshsowab.

BAGIAN III
STUDI KASUS
EVALUASI KURIKULUM 2007 Akademi Teknik Soroako

Kurikulum merupakan jalur pacu atau kendaraan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan kompetensi suatu program studi. Kompetensi lulusan dan kurikulum program studi perlu dirumuskan sesuai dengan tujuan pendidikan dan tuntutan kompetensi lulusan, sehingga lulusan program studi tersebut memiliki keunggulan komparatif di bidangnya.

Kurikulum bersifat khas untuk suatu program studi, sebagaimana kekhasan tujuan pendidikan dan kompetensi lulusannya, sehingga diharapkan lulusannya dapat saling melengkapi dan bekerjasama dengan lulusan lainnya yang berasal dari program studi yang berbeda.

Kurikulum memuat 3 pokok pikiran, yaitu:
• Apa yang dirancang untuk mahasiswa,
• Apa yang diberikan kepada mahasiswa, dan
• Pengalaman apa yang akan diperoleh mahasiswa.

Kurikulum juga mengandung 4 elemen pokok, yaitu:

• Isi (content)
• Strategi pembelajaran (teaching-learning strategies)
• Proses penilaian (assessment processes)
• Proses evaluasi (evaluation process)

Analisis dilakukan terhadap penerapan kurikulum berbasis kompetensi di Akademi Teknik Soroako melalui tahapan berikut:

1. Analisis terhadap langkah awal penyusunan kurikulum berupa analisis SWOT dan Tracer Study serta Labor Market Signal.
2. Analisis profil lulusan, yang merupakan peran yang diharapkan agar dapat dilakukan oleh lulusan program studi.
3. Analisis kompetensi lulusan, untuk menentukan apa saja yang harus dimiliki oleh lulusan program studi sebagai outputnya.
4. Analisis kandungan elemen kompetensi.
5. Analisis pemilihan bahan kajian yang akan dipelajari mahasiswa dalam rangka mencapai kompetensi yang telah ditetapkan sebelumnya.
6. Analisis perkiraan dan penetapan beban (SKS) dan pembentukan mata kuliah.
7. Analisis pembentukan mata kuliah. Peta kaitan bahan kajian dan kompetensi ini secara simultan juga digunakan untuk analisis pembentukan sebuah mata kuliah.
8. Analisis penyusunan struktur kurikulum.
9. Analisa pembelajaran dalam kurikulum berbasis kompetensi.
3.1 ANALISIS SWOT SEBAGAI LANGKAH AWAL PENYUSUNAN KURIKULUM
Berdasarkan analisis SWOT yang dilakukan, diperoleh data sebagai berikut:

• Strength (Kekuatan):

1. Kurikulum disusun berdasarkan visi, misi, sasaran, dan tujuan, serta relevansinya dengan tuntutan kebutuhan stakeholder.
2. Kurikulum disusun berdasarkan peraturan pemerintah dengan pengayaan pada empat spesialisasi.
3. Kurikulum mengakomodasi kebutuhan kelompok mahasiswa putri.
4. Kurikulum bersifat general sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri secara luas.
5. Evaluasi kemajuan mahasiswa dilakukan pada proses belajar dan dievaluasi secara berkala.
6. Program praktikum berbasis produksi didukung tersedianya unit produksi ATS.
7. Proses pembelajaran ditunjang perangkat teknologi informasi yang memadai.
8. Adanya kegiatan di mana interaksi antara dosen dan mahasiswa dan tenaga pendukung dapat dilakukan secara rutin.
9. Adanya Buku Panduan Akademik (BPA), peraturan kemahasiswaan, dan peraturan keselamatan kerja menjadi perangkat untuk mengatur interaksi komunitas kampus.
10. Dibentuknya UKM sebagai wadah untuk mengembangkan organisasi minat dan bakat mahasiswa.
11. Pembelajaran dilakukan dengan sistem paket selama 6 semester sehingga mahasiswa dapat lulus tepat waktu dalam 3 tahun.
12. Hampir seluruh dosen telah mengikuti pelatihan Pekerti dan AA.

• Weakness (Kelemahan):

1. SKS mata kuliah praktikum belum terdistribusi secara seragam sesuai jam praktikum.
2. Masih ada mata kuliah teori yang hanya memiliki 1 SKS.
3. Penamaan mata kuliah yang diterapkan belum mengikuti standar untuk kebutuhan konversi mata kuliah ke perguruan tinggi dengan jenjang yang lebih tinggi.
4. Kurangnya sumber daya manusia ATS yang memiliki kompetensi yang baik dalam pengembangan kurikulum.
5. Belum semua dosen menerapkan metode Student-Centered Learning (SCL) dalam perkuliahan.
6. Mahasiswa kurang memahami isi empat spesialisasi yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran.
7. Kemampuan belajar mandiri mahasiswa, terutama mahasiswa baru, masih kurang.
8. UKM sebagai wadah kegiatan mahasiswa masih kurang optimal.

• Oportunity (Kesempatan)

1. Kebersediaan stakeholder dan alumni untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum.
2. Tersedianya Konsorsium Manufaktur sebagai wadah komunikasi dalam penyusunan kurikulum.
3. Bahan ajar dan referensi mudah diperoleh melalui perangkat teknologi informasi.
4. Kesempatan mengikuti kompetisi ilmiah yang diselenggarakan oleh lembaga lain.
5. Kebersediaan Kopertis Wil. IX dalam menyediakan pelatihan bagi dosen.

• Treat (Ancaman)

1. Adanya kebutuhan peralatan praktikum berbasis teknologi tinggi sesuai tuntutan kebutuhan stakeholder yang belum dipenuhi.
2. Tuntutan dunia industri di mana tenaga kerja dituntut mampu belajar mandiri agar tidak tertinggal akibat perubahan teknologi yang cepat.
3. Lingkungan pergaulan di luar kampus dapat mempengaruhi suasana akademik di kampus.

Berdasarkan kekuatan, peluang, kesempatan, dan ancaman berkaitan dengan analisis kurikulum, maka diperlukan strategi untuk memfaatkan kondisi-kondisi tersebut. Strategi tersebut dibuat untuk:

• Menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang (strategi “S”-“O”)
• Menghindari ancaman (strategi “S”-“T”)
• Memanfaatkan peluang yang ada dengan jalan mengatasi kelemahan yang dimiliki (strategi “W”-“O”)
• Meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman (strategi “W”-“T”)
Strategi tersebut dapat dilihat pada gambar 14

Berdasarkan matriks tersebut dapat dilihat bahwa pengembangan kurikulum yang dibuat telah berdasarkan analisis SWOT. Berdasarkan observasi yang dilakukan terdapat prioritas kegiatan yang harus segera ditindaklanjuti. Prioritas tersebut adalah:

1. Kedepannya pengembangan kurikulum perlu mempertimbangkan masukan-masukan dari stakeholder ataupun alumni.
2. Penyeragaman waktu perkuliahan standar baik teori ataupun praktik.
3. Peningkatan kemampuan softskill mahasiswa.
4. Meningkatkan inisiatif dosen untuk memotivasi mahasiswa agar lebih mandiri dan lebih giat dalam proses pembelajaran.

Untuk menjawab tantangan terkini, maka evaluasi diri sebaiknya dilakukan setiap tahun oleh program studi. Hal tersebut dilakukan sebagai tindakan preventif dan korektif terhadap penerapan kurikulum berbasis kompetensi.

14_Strategi SWOT-Pengembangan Kurikulum-ATS_DA

Gambar 14 Strategi SWOT terhadap Pengembangan Kurikulum
(Sumber : Analisis SWOT Program Studi 2010)

3.2 ANALISIS PROFIL LULUSAN

Profil lulusan merupakan peran yang diharapkan dapat dilakukan oleh lulusan program studi di masyrakat/dunia kerja. Melalui penetapan profil ini, perguruan tinggi dapat memberikan jaminan pada calon mahasiswa berkaitan dengan peran yang bisa dijalani setelah mengikuti seluruh proses pembelajaran di program studi.

• Strength (Kekuatan):
1. Lulusan memiliki kompetensi mekanikal dan ditempa dengan disiplin tinggi serta penerapan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja menjadi nilai lebih.
2. Lulusan telah dibekali kompetensi sesuai spesialisasinya.
3. Institusi ATS memberikan layanan uji kompetensi bagi para alumni ATS.
4. Program studi dan bagian kemahasiswaan menyediakan layanan bimbingan akademik dan non-akademik bagi mahasiswa.
5. Institusi ATS memiliki unit penyaluran lulusan Kemitraan & Graduate Placement Center (GPC).
6. Institusi ATS menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri untuk program On The Job Training (OJT) / Program Praktik Lapangan (PPL).

• Weakness (Kelemahan):
1. Profil kompetensi disusun belum sesuai dengan penduan kurikulum berbasis kompetensi.
2. Kegiatan mahasiswa di bidang kajian ilmiah belum optimal.
3. Belum optimalnya kerjasama dari pihak SMA/SMK untuk program promosi kampus.
4. Belum optimalnya pelaksanaan layanan bimbingan akademik dan non-akademik bagi mahasiswa.
5. Persentase drop-out mahasiswa tinggi.
6. Penggunaan perangkat teknologi informasi untuk promosi lulusan belum optimal.
7. Kompetensi bahasa Inggris lulusan masih rendah sehingga menurunkan daya saingnya.
8. Lulusan memiliki minat rendah untuk berkompetisi di luar propinsi Sulawesi Selatan.

• Oportunity (Kesempatan)
1. Peluang kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri untuk mendapatkan beasiswa.
2. Peluang kerjasama penelitian dengan institusi di dalam dan luar negeri.
3. Kebutuhan tenaga lulusan ATS terbuka luas di dalam dan luar negeri.
4. Banyak perusahaan besar di Kawasan Timur Indonesia.
5. Kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri untuk program OJT.

• Treat (Ancaman)
1. Penetapan profil lulusan belum mempertimbangkan seluruh kebutuhan kalangan profesi.
2. Calon-calon mahasiswa baru yang bermutu tinggi terserap oleh perguruan tinggi lain.
3. Turunnya minat pelamar yang terlihat dari jumlah pendaftar.
4. Gencarnya promosi perguruan tinggi swasta lain dalam menjaring mahasiswa.
5. Penghapusan subsidi oleh Yayasan sehingga mahasiswa harus membayar SPP secara penuh.
6. Persentase lulusan dengan IPK di bawah 2,75 yang akan sulit bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lain`masih cukup besar.
7. Tuntutan sertifikasi kompetensi dari perusahaan pengguna lulusan.
8. Persaingan alumni secara global terhadap lapangan kerja yang tersedia.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka disusun matriks strategi SWOT berikut:

15Strategi SWOT-Kompetensi Lulusan-ATS_DA
Gambar 15 Strategi SWOT terhadap Profil Lulusan
(Sumber: Analisis SWOT Program Studi 2010)

Berdasarkan matriks tersebut dapat dilihat bahwa pengembangan kurikulum yang dibuat pada kurikulum ATS versi 2007 belum memuat Profil Lulusan sebagai bagian dari penyusunan kurikulum.

Namun, berdasarkan tracer study yang dilakukan oleh Bagian GPC-ATS (sampai dengan 14-Agustus 2012), diperoleh hasil bahwa lulusan bekerja pada beberapa ruang lingkup area pekerjaan berikut: Instruktur di Bidang Pendidikan dan Pelatihan, Juru gambar (drafter), Juru las (welder), EHS, Kontraktor, Teknisi (mekanik), Penyelia mekanik, Operator, Perencana proses, Penyelia, Logistik. Penulis menyarankan agar GPC-ATS melakukan tracer study dengan dilengkapi dengan deskripsi dan ruang lingkup pekerjaan yang ada, mengingat berdasarkan data tersebut, sebagian besar data hanya menunjukkan bahwa lulusan hanya bekerja pada suatu departemen atau bagian tertentu saja dari suatu perusahaan.
3.3 ANALISIS KOMPETENSI LULUSAN

Profil lulusan merupakan peran yang diharapkan dapat dilakukan oleh lulusan program studi di masyrakat/dunia kerja. Melalui penetapan profil ini, perguruan tinggi dapat memberikan jaminan pada calon mahasiswa berkaitan dengan peran yang bisa dijalani setelah mengikuti seluruh proses pembelajaran di program studi. Struktur kompetensi lulusan dideskripsikan dalam bentuk berikut:

16_Struktur Kompetensi Lulusan-ATS-MM Polman_DA
Gambar 16 Struktur kompetensi lulusan
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Struktur penjabaran kompetensi lulusan pada kurikulum ATS versi 2007 memiliki ciri berikut :
• Keterampilan teknologi (technological skill): Merancang konstruksi mekanik, Merencanakan proses, Melakukan pemeliharaan dan perbaikan mesin, Mengetahui sistem pengendalian pada mesin, Memilih material yang sesuai untuk membuat sukucadang, Memeriksa kualitas produk pada fase proses dan fase produk jadi.
• Pemahaman kemanusiaan (humanistic skill): Berkomunikasi, Menggunakan teknologi komputer, Kemampuan kultur, Bekerjasama,
• Keahlian bisnis (business skills)

17_Penjabaran Struktur Kompetensi Lulusan ATS-MM Polman_DA
Gambar 17 Penjabaran Struktur Kompetensi Lulusan
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Berdasarkan struktur kompetensi tersebut, maka diperlukan penyesuaian berdasarkan tabel matriks hubungan antara Profil dan Kompetensi Lulusan seperti dapat dilihat pada tabel berikut:
Gambar 18 Format Matriks Hubungan antara Profil dan Kompetensi Lulusan
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.4 ANALISIS PENGKAJIAN KANDUNGAN KOMPETENSI

Pada langkah ini akan dikaji untuk mengetahui apakah rumusan kompetensi yang telah disebutkan telah mengandung kelima elemen kompetensi seperti yang diwajibkan berdasarkan Kepmendiknas No. 045/U/2002 & No.232/U/2000. Pada tahap ini, kompetensi lulusan dianalisis untuk mengetahui apakah mengandung satu atau lebih elemen-elemen kompetensi tersebut.

Pada penyusunan kurikulum versi 2007, pemeriksaan dilakukan menggunakan tabel sebagai berikut:

17_Penjabaran Struktur Kompetensi Lulusan ATS-MM Polman_DA
Gambar 19 Matriks Kompetensi Lulusan Program Studi Perawatan dan Perbaikan Mesin (KEPMEN 232/U/2000 & KEPMEN 045/U/2002)
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Pada matriks tersebut dapat dilihat bahwa unsur pemeriksaan dilakukan langsung terhadap pengelompokkan mata kuliah. Matriks tersebut menunjukkan bahwa kurikulum yang diterapkan telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan berdasarkan KEPMEN 232/U/2000 dan KEPMEN 045/U/2002.

Berdasarkan panduan format penyusunan kurikulum berbasis kompetensi, pengelompokkan yang dilakukan harus dapat menunjukkan keterkaitan rumusan kompetensi terhadap pemenuhan legal aspek yang ada. Sehingga penulis menyarankan, bahwa perlu dilakukan revisi dan pengembangan mengikuti format yang mengandung keterkaitan rumusan kompetensi dengan elemen kompetensi, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 20.

20_Matriks Rumusan Kompetensi vs Elemen Kompetensi_KBK PT_DA
Gambar 20 Matriks antara Rumusan Kompetensi dengan Elemen Kompetensi
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.5 ANALISIS PEMILIHAN BAHAN KAJIAN

Bahan kajian merupakan bangunan ilmu, teknolgi atau seni, objek yang dipelajari, yang menunjukkan ciri cabang ilmu tertentu, atau dengan kata lain menunjukkan bidang kajian atau inti keilmuan suatu program studi. Pilihan bahan kajian sangat dipengaruhi oleh visi keilmuan program studi.
Berdasarkan kurikulum program studi perawatan dan perbaikan mesin yang ada :

21_Bidang Keahlian Program Studi PPM-ATS-MM Polman_DA
Gambar 21 Bidang Keahlian Program Studi Perawatan dan Perbaikan Mesin
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Penulis menyarankan agar program studi dapat menetapkan bahan kajian sesuai dengan ciri program studi melalui studi literatur dan sesuai dengan mata kuliah yang diberikan kepada mahasiswa, seperti: Proses pemesinan dan Produksi, Teknologi pembentukan dan material, Konstruksi dan Perancangan, Teknik Pengukuran, Keselamatan & Kesehatan Kerja, Keilmuan dasar (basic science), Keilmuan Teknik (engineering science), Pendidikan Umum (general education component), selain dari Pemeliharaan dan Perbaikan Mesin.

Berdasarkan kurikulum program studi perawatan dan perbaikan mesin, penulis menyarankan agar format pemilihan bidang kajian dapat disusun melalui matriks berikut:

22_Matriks Rumusan Kompetensi vs Bahan Kajian-KBK-PT_DA
Gambar 22 Matriks Hubungan antara Rumusan Kompetensi dengan Bahan Kajian
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.6 ANALISIS PERKIRAAN BEBAN (SKS) dan PEMBENTUKAN MATA KULIAH

Banyak program studi yang hanya menerima SKS dari tahun ke tahun tanpa mengetahui cara penetapannya. Umumnya perkiraan besarnya SKS sebuah mata kuliah lebih banyak ditetapkan atas dasar pengalaman dan terutama menyangkut banyaknya bahan kajian yang harus disampaikan. Akibatnya, besarnya SKS suatu mata kuliah menjadi hak dosen pengampunya, yaitu berdasarkan pada materi yang ia kuasai dan yang harus ia ajarkan. Melalui penerapan KBK, maka penetapan SKS dikaitkan dengan kompetensi yang harus dicapai. Sehingga untuk menetapkannya perlu dilakukan analisa secara simultan melalui beberapa variabel, yaitu:

1. Tingkat kemampuan/kompetensi yang ingin dicapai,
2. Tingkat keluasan dan kedalaman bahan kajian yang dipelajari
3. Cara/strategi pembelajaran yang akan diterapkan.
4. Posisi (letak semester) suatu kegiatan pembelajaran dilakukan.
5. Perbandingan terhadap keseluruhan beban studi di suatu semester.

Sehingga, harus dipahami bahwa: SKS merupakan waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mencapai kompetensi tertentu, dengan melalui suatu bentuk pembelajaran dan bahan kajian.
,
Dalam kurikulum program studi perawatan dan perbaikan mesin versi 2007, belum dicantumkan keterkaitan diantara rumusan kompetensi dengan bahan kajian yang menjadi kerangka kurikulum. Penulis menyarankan agar perlu dibuatkan analisa keterkaitan tersebut mengikuti format berikut:

23_Matriks Bahan Kajian vs Kompetensi-KBK-PT_DA
Gambar 23 Matriks Kaitan Rumusan Kompetensi Dengan Bahan Kajian
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.7 ANALISIS PEMBENTUKAN MATA KULIAH

Proses merangkai beberapa bahan kajian menjadi suatu mata kuliah dapat dilakukan melalui beberapa pertimbangan:

1. Adanya keterkaitan yang erat antara bahan kajian yang bila dipelajari secara terintegrasi diperkirakan akan lebih baik hasilnya.
2. Adanya pertimbangan konteks keilmuan, artinya mahasiswa akan menguasai suatu makna keilmuan dalam konteks tertentu.
3. Adanya metode pembelajaran yang tepat yang menjadikan pencapaian kompetensi lebih efektif dan efisien serta berdampak positif pada mahasiswa bila suatu bahan kajian dipelajari secara komprehensif dan terintegrasi.

Dengan demikian pembentukan mata kuliah mempunyai fleksibelitas yang tinggi, sehingga suatu program studi sangat dimungkinkan mempunyai jumlah dan jenis mata kuliah yang sangat berbeda, karena dalam hal ini mata kuliah hanyalah bungkus serangkai bahan kajian yang dipilih sendiri oleh sebuah program studi.

Untuk menyempurnakan kurikulum versi 2007 yang ada maka perlu dibuat matriks hubungan bahan kajian terhadap kompetensi dalam bentuk mata kuliah seperti yang ditunjukkan pada gambar 24.

24_Matriks Hubungan Bahan Kajian vs Mata Kuliah KBK-PT_DA
Gambar 24 Matriks Hubungan Bahan Kajian dan Kompetensi dalam Bentuk mata kuliah
(Sumber: Buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi 2008)

3.8 ANALISIS PENYUSUNAN STRUKTUR KURIKULUM

Permasalahan yang sering muncul adalah siapa yang harus membuat hubungan antar mata kuliah antar semester? Mahasiswa atau dosen ? Jika mahasiswa, mereka belum memiliki kompetensi untuk memahami keseluruhan kerangka keilmuan tersebut. Jika dosen, tidak ada yang menjamin terjadinya kaitan tersebut, mengingat antara mata kuliah satu dengan yang lain diampu oleh dosen yang berbeda dan sulit dijamin adanya komunikasi yang baik antar dosen-dosen yang terlibat.

Oleh karenanya, kurikulum tidak hanya sekedar dilihat dari dokumen dan struktur kurikulum saja, namun perlu diikuti dengan pembelajarannya. Perubahan kurikulum berarti juga perubahan pembelajaran terutama perubahan perilaku dan pola pikir dari peserta serta pelaku pembelajarannya, agar outcome yang ditetapkan benar-benar tercapai.

Dalam pola penyusunanya ATS telah mempertimbangkan beberapa hal berikut seperti:

1. Taxonomy Skill:

Penentuan berdasarkan:

• Penguraian kompetensi ke dalam kelompok/aspek teknologi, kemanusiaan, dan kewirausahaan.
• Gradasi / tingkat pencapaian kompetensi yang dapat diukur.

Sehingga melalui gradasi tersebut dapat ditentukan: waktu, durasi, dan metode perkuliahan, berikut materi dan fasilitas pendukung yang diperlukan. Taksonomy Skill pada kurikulum ATS 2007 dapat dilihat pada gambar 25.

25_Skill Taxonomy PPM-ATS-MM Polman_DA
Gambar 25 Skill Taxonomy pada Kurikulum ATS 2007

2. Jejaring Mata Kuliah

Jejaring mata kuliah merupakan susunan/urutan pengajaran mata kuliah tiap semester. Pada pelaksanaannya pemberian mata kuliah yang saling terkait dilakukan secara berurutan.

Dalam urutan pemberian mata kuliah akan terlihat / akan ditunjukkan input/prasyarat dan output dari suatu mata kuliah. Jejaring mata kuliah digunakan oleh ATS sebagai dasar penyusunan struktur program pendidikan dan perkuliahan, dan diuraikan berdasarkan sequensial mata kuliah. Maksud dari sequensial tersebut adalah:

• Penyusunan mata kuliah dimulai dari yang bersifat umum menuju spesialisasi
• Mulai dari mata kuliah yang memiliki tingkat kesulitan terendah hingga yang lebih tinggi.
• Mata kuliah yang diberikan berkesinambungan dan terintegrasi satu dengan lainnya.

26_Jejaring Mata Kuliah PPM-ATS-MM Polman_DA
Gambar 26 Jejaring Mata Kuliah spesialisasi Perawatan Mekanik berdasarkan Kurikulum ATS 2007

3. Struktur Program:

Berdasarkan jejaring mata kuliah yang telah ditentukan sebelumnya, maka disusunlah struktur program menurut semester pemberian, dan penentuan durasi serta waktu pemberiannya pun telah sesuai.

. 27_Struktur Program ATS 2007_DA
Gambar 27 Struktur Program spesialisasi Perawatan Mekanik pada Kurikulum 2007

4. Pembobotan mata kuliah:

Pada kurikulum 2007, pembobotan dikonversikan kedalam jumlah jam pembelajaran teori maupun praktik. Berdasarkan data yang diperoleh ditunjukkan terjadi deviasi / ketidakseragaman dalam penentuan jam pembelajaran teori. Terjadi variasi untuk menerjemahkan 1 SKS teori setara dengan 16-19 jam perkuliahan tatap muka, 1 SKS praktik setara dengan 40-80 jam aktual di laboratorium/bengkel. Hal tersebut diakibatkan karena pola pembobotan disesuaikan dengan jumlah minggu perkuliahan dalam 1 semester (dalam hal ini dalam 1 semester terdiri atas 7 minggu perkuliahan teori)

28_Daftar MK Spesialisasi Perawatan Mekanik-ATS 2007_DA
Gambar 28 Daftar MK spesialisasi Perawatan Mekanik (Sumber: Kurikulum ATS 2007)

5. Deskripsi Perkuliahan:

Melalui Deskripsi Mata Kuliah yang pada kurikulum ATS 2007, pembobotan jam perkuliahan dalam satuan jam tidak secara spesifik menjelasakan apakah perkulihan mengikuti MK teori atau MP praktikum. Pada pelaksanaannya, beberapa MK praktik diberikan pada jam perkuliahan teori, hal tersebut didasari asumsi efisiensi proses pembelajaran. Hal tersebut harus dikoreksi.

29_Deskripsi Mata kuliah Program Studi PPM-ATS 2007
Gambar 29 Contoh Deskripsi Mata kuliah Program Studi Perawatan dan Perbaikan Mesin
(Sumber: Kurikulum ATS 2007)

Di satu sisi, tujuan perkuliahan dan pokok bahasan bersifat general untuk setiap spesialisasi yang ada, di sisi lainnya pembobotan SKS nya ada yang berbeda walaupun jumlah jam pemberian mata kuliahnya sama. Hal ini akan mengakibatkan bias dalam pencapaian kompetensi untuk seluruh spesialisasi. Dan hal ini akan berdampak ke proses pelaksanaan pendidikan, berikutnya pada saat pembuatan jadwal perkuliahan.

6. Jadwal Perkuliahan:

• Kalender Akademik

Dalam penyusunan jadwal perkulihan, dimulai dengan Kalender Akademik yang memuat Master Schedule Perkuliahan. Kalender Akademik dibuat untuk 1 tahun ajaran pendidikan.

30_Kalender Akademik ATS_DA

Gambar 30 Kalender Akademik 2009/10 (Sumber ATS)

• Jadwal Induk (Master Schedule) Pendidikan

Sistem jadwal perkulihan ATS dibuat berdasarkan sistem Blok. Secara garis besar terdiri atas Minggu Teori (T) dan Minggu Praktik (P). Dalam pembuatan jadwal induk ini, perlu diperhatikan:

i. Keserumpunan mata kuliah antara seluruh spesialisasi yang ada di program studi perawatan dan perbaikan mesin. Kelas paralel (penggabungan 2 spesialisasi pada minggu teori akan memungkinkan untuk diterapkan).
ii. Jumlah fasilitas perkuliahan seperti ruang perkuliahan yang ada dapat dioptimalkan penggunaannya. Dalam 1 semester dapat didistribusikan pelaksanaan perkuliahan teori untuk seluruh kelas atau tingkatan mahasiswa yang ada.
iii. Jumlah fasilitas praktikum seperti mesin. Jika dalam suatu minggu perkulihan terdapat beberapa kelas untuk tingkat mahasiswa yang sama, atau untuk tingkat mahasiswa yang berbeda, maka akan memungkinkan bahwa semua mahasiswa tersebut akan menggunakan mesin pada suatu laboratorium yang sama. Sehingga, pada penyusunan jadwal induk ini, perlu memerhatikan distribusi beban yang terjadi untuk seluruh tingkatan yang ada. Kondisi terburuk yang terjadi adalah penggunaan 1 mesin untuk 5-6 mahasiswa, dimana pencapaian kompetensi individu akan sulit untuk dicapai.

31_Master Schedule Pendidikan ATS_DA

Gambar 31 Master Schedule Kegiatan Akademik TA 2010-2011 (Sumber ATS)

• Jadwal Praktikum

32_Jadwal Praktikum ATS_DA

Gambar 32 Jadwal Praktikum Tahun Akademik 2009-2010 (Sumber ATS)

Jadwal praktikum merupakan penjabaran dari pembelajaran mata kuliah praktikum untuk mencapai suatu kompetensi tertentu. Jadwal ini dibuat berdasarkan pembobotan mata kuliah berikut deskripsi mata kuliah yang ada. Pengecekan dilakukan terhadap kondisi ketersediaan fasilitas mesin / alat praktikum. Pada penyusunannya harus dilakukan secara sequensial bagi beberapa mata kuliah yang memiliki persyaratan awal. (kaitkan dengan analisa beban untuk setiap spesialisasi)

• Jadwal Teori

33_Jadwal Teori ATS_DA
Gambar 33 Jadwal Teori Semester Gasal Tahun Akademik 2010-2011

Jadwal teori merupakan penjabaran dari pembelajaran mata kuliah praktikum untuk mencapai suatu kompetensi tertentu. Jadwal ini dibuat berdasarkan pembobotan mata kuliah berikut deskripsi mata kuliah yang ada. Pengecekan dilakukan terhadap kondisi ketersediaan ruang kelas, dan materi perkuliahan / bahan pembelajaran. Jika pembobotan SKS yang ada tidak seragam (16-19 jam per 1 SKS), maka dapat dikatakan bahwa yang menjadi acuan untuk pembobotan tidak didasari oleh penurunan dari kompetensi yang ingin dicapai, namun lebih bersifat subjektif yang mana target perkuliahan hanya didasari oleh materi ajar yang harus tersampaikan dan bukannya harus dipahami. Pada TA 2009/10 terjadi beberapa penyimpangan dalam penjadwalan teori berupa tidak tercantumnya MK Teori pada jadwal perkuliahan, atau pada kasus lainnya MK Praktik diberikan pada jadwal perkuliahan teori. Hal ini terjadi dikarenakan ketidakjelasan yang terjadi pada deskripsi / sinopsis mata kuliah.

7. Distribusi Beban Perkuliahan terhadap ketersediaan fasilitas:

Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapat bahwa pembobotan mata kuliah (SKS) terhadap jumlah jam teori ataupun praktik, terjadi ketidaksesuaian terhadap acuan yang berlaku. Beberapa deskripsi mata kuliah tidak menunjukkan secara spesifik jumlah jam pengajaran untuk materi perkuliahan yang ada. Sehingga mengakibatkan kesulitan dalam hal penjadwalan, pendistribusian kapasitas. Hal tersebut akan berdampak terhadap mutu lulusan yang dihasilkan.

34_Analisa Ketersediaan Fasilitas ATS_DA
Gambar 34 Tabel Pengecekan Ketersediaan Fasilitas

3.9 ANALISIS RANCANGAN PEMBELAJARAN DAN METODE PEMBELAJARAN

Rancangan pembelajaran dan metode pembelajaran dilakukan mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh program studi. Pendekatan yang dilakukan mengadopsi PEKERTI dan APPLIED APPROACH. Hal tersebut telah diatur melalui suatu prosedur, namun pelaksanaannya terjadi beberapa deviasi seperti yang akan dipaparkan berikut:

1. Pembuatan Tujuan Instruksional

35_Tujuan Instruksional Pembelajaran ATS_DA
Gambar 35 Tujuan Instruksional Pembelajaran

Belum semua Mata Kuliah yang ada dilengkapi dengan Tujuan Instruksional Pembelajaran. Deskripsi mata kuliah yang tercantum di kurikulum 2007 belum memetakan mata kuliah berdasarkan tujuan instruksional pembahasan. Akibatnya seorang dosen / instruktur akan mungkin melakukan rekonstruksi mata kuliah keluar dari ranah kompetensi yang ingin dicapai..

2. Pembuatan Analisis Instruksional

Belum semua dosen dan instruktur memahami pentingnya keterkaitan diantara analisis instruksional dengan pencapaian kompetensi mahasiswa melalui perkuliahan. Pada beberapa mata kuliah terjadi tumpang tindih dalam pokok bahasan perkuliahannya. Sequensial urutan pemberian materi tidak dimulai dari yang mudah ke tingkatan yang lebih sulit (mengingat alur pencapaian kompetensi dimulai dari ranah yang terendah yaitu ‘mengetahui’)

36_Analisis Instruksional ATS_DA

Gambar 36 Analisis Instruksional

3. Pembuatan GBPP

Pada pelaksanaannya, GBPP belum dipandang sebagai acuan pada saan tujuan instruksional khusus akan dicapai. Dosen dan instruktur sering memandang bahwa prosedur pengaturan GBPP hanya persyaratan dokumentasi yang harus dipenuhi saja. Pada sisi lainnya, sangat sulit untuk melakukan revisi atas GBPP dikarenakan acuan pada kurikulum 2007 belum menyatakan dengan spesifik atas Tujuan Instruksional yang ingin dicapai.

37_GBPP-ATS_DA

Gambar 37 Garis-Garis Besar Program Pengajaran

4. Pembuatan SAP

Beberapa dosen masih menganggap bahwa SAP dibuat oleh Pengelola Program Studi dan bukan oleh Dosen pengampu mata kuliah yang bersangkutan. Hal tersebut tidak semata-mata diaibatkan oleh keengganan dosen yang bersangkutan untuk membuatnya, namun dirasakan bahwa sistem dokumen yang diterapkan tidak sistematis. Berdasarkan analisis yang penulis lakukan, keberagaman pandangan tersebut diakibatkan oleh ketidakpahaman fungsi dan tugas sebagai seorang dosen/instruktur, bahwa penerapan KBK sangat dipengaruhi oleh metode dan strategi pembelajaran yang akan diterapkan oleh dosen kepada mahasiswa.

38_SAP-AP-ATS_DA
Gambar 38 Satuan Acara Pengajaran

5. Pembuatan Kisi-Kisi Test

Pembuatan Kisi-Kisi Test tidak berjalan dengan baik, hampir seluruh mata kuliah yang ada belum memiliki kisi-kisi test. Beberapa dosen berpendapat bahwa bentuk pengujian terhadap mahasiswa merupakan hak preogratif dosen sehingga dosen bebas untuk menentukan metoda penilaian yang ia anggap benar. Verifikasi dan validasi terhadap form ini seringkali dimaknai bahwa program studi mengintervensi hak otoritas dosen dalam melakukan penilaian.

39_Format Kisi-Kisi Test ATS_DA
Gambar 39 Format Kisi-Kisi Test

6. Pembuatan Strategi Instruksional

Pembuatan strategi Instruksional Test tidak berjalan dengan baik, hampir seluruh mata kuliah yang ada belum memilikinya. Beberapa dosen berpendapat bahwa bentuk strategi pemberian cukup diberikan melalui metoda tatap muka saja. Sehingga pada perkuliahan diperoleh data bahwa sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa sebaiknya dilakukan pengkajian terhadap cara mengajar dosen. Disisi lainnya, Dosen berpendapat bahwa metoda merupakan hak dosen dalam penentuannya.

40_Strategi Instruksional ATS_DA
Gambar 40 Strategi Instruksional

7. Pembuatan Pedoman Penyekoran

Panduan penilaian telah diatur pada Buku Pedoman Akademik dan Prosedur Pengukuran dan Penilaian Hasil Diklat Program Studi, namun sangat sulit untuk melakukan sosialisasinya. Pencapaian kompetensi melalui ranah tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional belum dipahami secara komprehensif. Pada kenyataannya tidak semua bentuk pencapaian elemen kompetensi tersebut dapat dinilai dalam bentuk test essay, tidak semua elemen kompetensi dapat dicapai menggunakan teknik pengukuran test ataupun ujian. Pedoman yang dijadikan acuan berkaitan dengan nilai akhir kelulusan mahasiswa saja, belum menjadi kebiasaan bagi dosen untuk melakukan analaisa melalui suatu butir soal untuk menilai ketercapaian kompetensi dan tujuan pembelajarannya.

41_Pedoman Penyekoran ATS_DA
Gambar 41 Pedoman Penyekoran

8. Acuan Pemberian Nilai Praktik

Secara umum penilaian kualitas praktikum telah distandardisasikan berdasarkan kurikulum versi 2005 (penilaian praktik bengkel). Namun pada kurikulum versi 2007, panduan ini tidak dicantumkan / mengubah bagian dari kurikulum 2007. Sehingga prodi mengaturnya kembali menjadi suatu prosedur pelaksanaan. Setiap dosen memiliki pola penilaian yang lengkap disesuaikan dengan ciri mata kuliah yang diampuhnya. Namun beberapa elemen penilaian seperti yang dideskripsikan pada bagian berikut sudah tidak dilakukan lagi (sebagai contoh: tidak dijadikannya geometri bentuk dan geometri posisi sebagai bagian dari elemen penilaian praktik).

Acuan Penilaian dijabarkan sebagai berikut:

42_Panduan Penilaian Praktik ATS_DA
Gambar 42 Panduan Penilaian Praktik

9. Kontrak Perkuliahan

Jatuh hati pada pertemuan pertama merupakan konsep yang ingin diterapkan. Kejelasan seluruh piranti pada proses pembelajaran untuk suatu mata kuliah disampaikan. Lebih singkatnya adalah untuk memahami aturan main sesuai tujuan yang ditetapkan oleh mata kuliah. Mahasiswa akan dirangsang untuk belajar dan menyiapkan diri sejak awal mengenai apa-apa yang diperlukan dan menjadi topic pembelajarannya. Dan peserta didik pun pada saatnya nanti akan dimintai pertanggungjawaban berkaitan dengan penilaiannya terhadap dosen pengampu mata kuliah (sesuai dengan persyaratan bagi seorang dosen yang akan mengambil sertifikasi dosen)

43_Kontrak Perkuliahan ATS_DA
Gambar 43 Kontrak Perkuliahan

10. Pedoman lainnya

On The Job Training dan Tugas Semester Akhir merupakan bagian dari mata kuliah, dan pada saat mengimplementasikan akan memerlukan perhatian yang lebih besar daripada sekedar pelaksanaan mata kuliah lainnya, karena akan ada interaksi secara langsung dengan luar institusi pendidikan. Konsep dasar yang ingin diterapkan adalah bagaimana mengaplikasikan dan mengintegrasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh pada tahun sebelumnya. Yang benar adalah menilai ‘tahapan proses apa saja yang telah mereka lakukan’ bukannya ‘produk apa yang telah mereka hasilkan’. Ingat, bahwa kualifikasi pendidikan yang dihasilkan adalah pada jenjang Diploma III (walaupun mereka mampu untuk melakukan beberapa jenis pekerjaan pada tahapan pendidikan yang lebih tinggi).

44_Contoh Pedoman Pelaksanaan OJT-ATS_DA
Gambar 44 Contoh buku pedoman pelaksanaan On The Job Training

Yang terakhir adalah panduan pengembangan kurikulum institusi. Tidak kalah penting dan menjadi dasar bagi integrasi bagian-bagian yang saling terkait dan berkepentingan dengan pengembangan kurikulum.

45_Contoh Prosedur Pengembangan Kurikulum ATS_DA
Gambar 45 Contoh prosedur pengembangan kurikulum institusi

SEBAGAI PENUTUP

  • Jangan pernah menanyakan apa yang akan bangsa berikan kepada kita, baertanyalah pada diri kita sendiri, sumbangsih apa yang bisa kita berikan untuk membangun bangsa ini.
  • Dan sempurnakanlah UKURAN (takaran) bila kamu MENGUKUR, dan TIMBANGLAH dengan TIMBANGAN YANG BENAR. Itulah yang paling utama dan paling baik akibatnya. (Al-Qur’an, surat Al-Isra / Perjalanan Malam, ayat 35)
  • Give FULL MEASURE when ye MEASURE, and WEIGH with a BALANCE that is STRAIGHT. That is the most fitting and the most advantageous in the final determination. (The Holy Qur’an, surah Al-Isra / the Night Journey, verse 35)

Bandung, 28 Desember 2014
Duddy Arisandi / ISTC-88
23113030
Magister Student Smt-3
FTMD-ITB (Solidarity Forever)

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 29, 2014 in Sistem Pendidikan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: